Friday, May 10, 2013

PENGARUH TASAWWUF
DALAM KABA CINDUR MATO


Dari Perbendaharaan Lama
Prof. Dr. HAMKA



Orang Minangkabau yang masih asyik dengan adatnya, sangatlah dipengaruhi oleh hikayat "Cindur Mato". Dalam hikayat ini nampak pula betapa pujangga-pujangga istana mencari sumber dari dalam telaga Tasawuf sesuatu yang "keramat" yang akan dibanggakan kepada raja. Anggapan kepada Bunda Kandung bagi orang Minang, sama pula dengan anggapan orang Bugis yang mengatakan bahwa Ratu mereka yang mula-mula, Siti Malangkai adalah keturunan Ratu Bulqis dalam perkawinannya dengan Nabi Sulaiman, dan kemudiannya menurunkan Sawirigading. Dan Sawirigading dianggap sebagai Dewa.

Dalam kata pendahuluan seketika membaca "Cindur Mato" disusunlah perkataan meminta ampun kepada "Daulat Tuan Kita", sebab keadaan baginda akan diperkatakan dan kebesaran baginda akan dipaparkan.

"Ampun beribu kali ampun, ampunlah kami mengabarkan, sedang di raja perempuan, di dalam Ulak Tanjung Bungo, di dalam Koto Pagarruyung, di dalam jorong Kampung Dalam. Bukanlah raja yang meminta, bukanlah raja yang membeli, Raja berdiri sendirinya! Sama tajalli dengan alam. Timbalan raja benua Ruhum, timbalan raja benua Cina, timbalan raja di lautan."

Kemudian itu disebutkan pula bahwasanya Bunda Kandung memerintahkan kepada si "Kembang Bendahari" supaya segera membangunkan Dang Tuanku yang sedang beradu di atas anjung peranginan. Maka berdatang sembahlah si Kembang, memohon diberi ampun karena dia tidak berani membangunkan Dang Tuanku, sebab baginda itu sangat keramat.

"Kalau disebut namanya lidah menjadi kelu, kalau ditentang matanya, mata sendiri jadi buta, kalau terlintas sedang baginda tidur, kakipun lumpuh,"- demikian benarlah tuah dan keramat baginda, "niscaya Bunda juga yang akan kehilangan."

Lalu disebutkan bahwasanya tiga orang raja besar dahulunya telah datang meminang Bunda Kandung. Pertama Raja Ruhum (Rum), kedua Raja Cina, ketiga Raja Aceh. Raja Rum datang membawa hadiah hantaran kawin ialah kapal sebuah yang penuh isinya. Pinangan itu telah diterima. Tetapi setelah kapal dan isinya diterima, Raja Rum itupun mati, sehingga Bunda Kandung menjadi kaya-raya. Demikian juga Raja Cina membawa pelang seisinya. "Pelang tertanda raja mati". Raja Aceh membawa hantaran perahu gurap lengkap dengan isinya. "Gurap teranda rajapun mati". Di situ mengertilah orang bahwasanya ketiga raja yang besar-besar itu bukanlah jodoh baginda!

Maka diperintahkanlah Bujang Selamat, pesuruh istana yang sangat setia memanjat pohon kelapa yang bernama "Nyiur Gading", karena Bunda ingin benar hendak memakan buahnya. Demikian lamanya memanjat pohon kelapa itu. "Hari Khamis naik memanjat, hari Arbaa baru sampai turun ke bawah. "Buah kelapa itu hanya dua saja. Yang satu, karena sangat hausnya memanjat, telah dimakan oleh si Selamat di atas pohon itu juga. Setelah isinya habis diminum, buah itu dilemparkannya ke bawah. "Sabutnya dimakan oleh kerbau, itulah asal si Benuang!" Sebagian sabut lagi dimakan oleh seekor kuda, "itulah asal si Gumarang," dan isi kelapanya dimakan oleh seekor ayam jantan. "Itulah asal si Kinantan." Dan setelah si Selamat turun ke bawah membawa buah yang sebuah lagi, diserahkannyalah kepada Bunda Kandung, lalu baginda makan. "Itulah asal Daulat Tuan Kita, nama sanan gelarpun sanan, bernama Sutan Rumandung. "Dan air kelapa yang diminum si Selamat, itulah yang menjadi "Cinder Mato", dengan istrinya si Kembang Bendahari. Oleh sebab itu maka Dang Tuanku, Cinder Mato, Si Kinantan, (seekor ayam jantan sabungan Dang Tuanku), si Gumarang (kuda kendaraan Dang Tuanku), si Benuang (kerbau pelihara Dang Tuanku), semuanya itu datang dari satu asal, bangsa dewa! Atau Indrajati.

Tetapi sebagaimana disebutkan di atas tadi, yang Bunda Kandung sendiri bukan saja baginda dewa, bahkan lebih dari dewa, "sama tajalli dengan alam "dan "raja berdiri sendirinya".

Tentang Bunda Kandung dengan amat halus masuklah "salah satu Pokok penting dari pegangan kaum Tasawuf, yaitu tentang "Insan Kamil".

"Al Insan Al Kamil", manusia yang maha sempurna, menurut ahli Tasawuf ialah Allah Ta' ala sendiri yang menyatakan dirinya, dan itulah Nur Muhammad atau "Al Haqiqatul Muhammadiyah", "dialah permulaan ujud, tetapi dia pula kesudahan Nabi." Insan Kamil tidaklah mati, selama Dia hidup. Mungkin dia menyatakan dirinya dengan bentuk yang berlain-lain, seumpama menjadi tubuh Nabi Adam, atau Nabi Isa, atau yang lain. Tetapi kesempurnaan mazh'harnya ialah pada tubuh Nabi Muhammad s a w. Dan jika Nabi Muhammad wafat, hanya tubuh Muhammad yang wafat. Adapun Insan Kamil terus menjelma dalam tubuh yang lain. Menurut kepercayaan setengah mereka, Insan Kamil itu menjelma pada diri Sayidina Ali bin Abi Thalib. Dan menurut kepercayaan setengahnya lagi, Insan Kamil itu terus menjelma dalam tubuhnya Wali-wali (Aulia) yang tinggi martabatnya yang disebut juga Ghaust atau Quthub. Di antara Insan Kamil itu ialah Sayid Abdulkadir Jailany, "yang kakinya di atas pundak segala Wali."

Tidak perlu diragukan bahwasanya "Pelajaran" seperti ini sekali-kali tidaklah berasal daripada Islam. Dia adalah inti-filsafat Hinduisme yang bernama "Atman", yang masuk pengaruhnya ke dalam Tasawuf Islam. Dia adalah "Panteisme" yang terdapat juga dalam "Neo Platoisme" dan berpengaruh juga ke dalam Agama Kristen, yang bahkan dijadikan dasar kepercayaan agama Nasrani tentang "Ketuhanan Nabi Isa".

Rupanya pengarang Cindur Mato, tentu saja pujangga istana, mendapat "inspirasi" buat mensucikan raja atau mendewakannya, dengan memakai kepercayaan demikian terhadap kepada Raja Minangkabau.

"Insan Kamil" adalah Tasawufnya Al Hallaj, di "Filsafat" kan oleh Ibnu Arabi dan dilanjutkan oleh Abdulkadir Jailany dalam bukunya yang bernama "Al Insan Al Kamil". Abdulkarim Jailany, keturunan Sayid Abdulkadir Jailany itu meninggal pada tahun 813 Hijriyah, atau 1410 Miladiyah, di zaman mulai berdirinya Kerajaan-Islam Melayu Malaka.

Disebutkanlah dalam kitab itu bahwasanya:

"Insan Kamil adalah Khalifah daripada Allah. Padanyalah tajalli Ketuhanan. Dan di setiap zaman ada saja insan tempat Allah mentajallikan diri-Nya. Sesudah Nabi ialah Wali. Dan Wali itu bertingkat-tingkat. Adapun tingkatnya yang di atas sekali ialah Quthub." Dan disebut juga bahwasanya "Wali yang Kamil ialah Insan yang Kamil".

Oleh sebab itu dijelaskanlah pada permulaan hikayat "Cindur Mato" itu bahwasanya Raja Minangkabau itu bukanlah sembarang raja, dia "adalah berdiri sendirinya, sama tajalli dengan alam."

Kemudian diceriterakan pula bahwasanya telah terjadi peperangan di antara Raja Negeri Sungai Ngiang yang bernama "Raja Imbang Jaya" dengan Raja Minangkabau, karena memperebutkan Puteri Bungsu, sehingga negeri Minangkabau diserang oleh Sungai Ngiang. Minangkabau dibakar, rumahnya yang besar-besar dimusnahkan dengan "cermin terus". Maka di waktu yang sangat genting itu datanglah perahu Nabi Nuh dari langit, datang menjemput Bunda Kandung, Dang Tuanku dan Puteri Bungsu istri Dang Tuanku. Berhentilah perahu itu di halaman istana besar dan dipersilakanlah mereka naik ke dalamnya. Setelah naik semuanya, perahu itu terbang kembali ke udara, membawa baginda semuanya ke atas langit. Yang tinggal di antara mereka di bumi ini hanya seorang raja, yaitu Cindur Mato sendiri yang disuruh menyingkir ke Indrapura dan menjadi raja di sana.

Bertahun-tahun di belakang, setelah Cindur Mato sendiri menjadi tua, barulah datang seekor burung, turun dari langit, bernama burung "Nuri Bayan", membawa dua orang putera-puteri di dalam "keranda-kaca" yaitu Sutan Alam Dunia dan Puteri Sri Dunia, anak daripada Dang Tuanku dan Puteri Bungsu, buat menjadi Raja di Minangkabau . . . .

Di sekeliling Raja Alam Minangkabau itu ada lagi dua raja, yaitu Raja Adat di Bua dan Raja Ibadat di Sumpu Kudus. Dan ada lagi empat orang besar negara, yaitu Bendahara di Sungai Tarap, Makhudum di Sumanik, Indomo di Suruaso dan Tuan Kadhi di Padang Ganting. Dan seorang lagi orang besar di dalam peperangan, yaitu Tuan Gadang di Batipuh.

Nyata benar bahwasanya Hikayat Cindur Mato itu ditulis setelah Agama Islam masuk. Huruf yang dipakai ialah Huruf Arab bahasa Melayu, langgam cara Minangkabau.

Akan ragulah orang menolak dongeng ini, karena demikian indah susunannya, bagus khayalnya, pandai benar penyusunnya, sehingga bercampur aduklah yang benar dengan yang khayal. Sebab Raja Tiga Sela, dan Besar Empat Balai memang ada. Kubur mereka masih dapat dilihat, tetapi raja-raja yang berasal dari anak "Indra Jati", turun dari buah kelapa nyiur bali dan mengirab (mi'raj) ke langit dengan perahu Nabi Nuh, memang tidak diketahui pabila datangnya dan pabila perginya dan pabila tahunnya.

Kepercayaan Tasawuf Iran, diseludupkan ke dalam legende Minangkabau, sehingga menjadi salah satu bentuk kepercayaan Indonesia ....

Barulah kalah pengaruh ceritera atau "mithos" ini setelah pergerakan kaum Paderi, atau kaum Ulama di permulaan abad kesembilan belas, yang telah menurunkan martabat dewa atau wali itu ke dalam gelanggang kemanusiaan dan dituntut di muka mahkamah segala keturunan raja yang tidak patuh mengerjakan hukum syari' at Islam!

No comments :