Friday, March 06, 2009

Reorientasi Filsafat Keilmuan

REORIENTASI FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
pokok-pokok pemikiran tentang etika keilmuan

Bahan Diskusi Etika Keilmuan LIPI, 1 Juli 2002
oleh Armahedi Mahzar
Kita kini berada di awal abad ke-21 milenium III dihadapkan pada sejumlah perkembangan revolusioner yang berpangkal pada keterjalinan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat erat. Di satu pihak perkembangan ilmu pengetahuan mendorong kemajuan teknologi, di lain pihak kemajuan teknologi mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Hubungan timbal-balik yang saling mendukung itu juga terdapat antara teknologi dan ekonomi. Oleh karena itu kita dihadapkan pada perkembangan super-eksponensial teknologi menuju sebuah titik singularitas di mana kendali manusia pada lingkungan teknologinya bisa terlepas sementara teknologi telah mencapai tingkat penetrasi yang sangat dalam pada proses kehidupan kita yaitu pada taraf biologis.
Titik singularitas teknologi itu sendiri diramalkan oleh para pakar robotika terjadi pada dasawarsa-dasawarsa menjelang berakhirnya pertengahan abad ini, ketika kapasitas penyimpanan dan pengolahan informasi chip IC mencapai kapasitas otak manusia. Hal itu diramalkan berdasarkan hukum Moore yang meramalkan pelipat-duaan kapasitas mikroprosesor setiap delapan belas bulan. Dengan perkembangan sepesat itu, kira-kira tahun 2020 manusia telah dapat menciptakan robot dengan kecerdasan setara dengan kecerdasan manusia, dan setiap tahun berikutnya kecerdasan robot-robot itu meningkat sesuai dengan hukum Moore. Bahkan pakar komputer Artificial Intelligence Ray Kurzweil meramalkan pada akhir abad ini kecerdasan manusia akan menjadi sepermilyar kecerdasan mesin.
Tentu saja kita bisa berdebat panjang lebar untuk membantah ramalan teknolog yang monolitik itu dengan mengatakan bahwa peningkatan kemampuan informasi mesin secara fisik, belum berarti kemampuan intelektualnya yang non-fisik juga meningkat secara proporsional. Di lain pihak dari sudut keagamaan kita bisa juga berargumen bahwa kemampuan intelektual manusia bersumber pada rohnya yang bersifat immaterial, bukan pada otaknya. Namun merupakan sebuah kenyataan bahwa dengan percepatan peningkatan kemampuan teknologi itu, upaya peramalan manusia secara proyektif tentang selesainya pemetaan genom manusia ternyata selalu meleset karena terlalu lambat. Penggandaan sistematis kapasitas komputer yang digunakan dalam usaha ini merupakan faktor terpenting menyebabkan melesetnya ramalan futuristik tersebut.
Sementara itu suksesnya Proyek Genom Manusia, sebagai upaya manusia untuk mengetahui blueprint kode genetik biologi manusia, hanyalah merupakan awal untuk melakukan rekayasa genetik total terhadap manusia pada khususnya dan makhluk hidup pada umumnya. Dengan demikian pada awal milenium ini kita menghadapi titik kritis di mana untuk pertama kalinya manusia bisa merekayasa evolusi, mempercepatnya dan mengarahkannya sesuai dengan tujuan-tujuan manusia. Apakah tujuan-tujuan itu memang bisa tercapai tentu merupakan hal yang lain, karena kompleksitas dan non-linieritas proses-proses biologis kemungkinan besar membelokkan hasil rekayasa itu ke arah yang tak mungkin diramalkan oleh kecerdasan setingkat manusia.
Bagaimanapun, potensi intervensi teknologi pada evolusi biologi memberikan tanggung jawab yang sangat berat pada para ilmuwan dan rekayasawan se dunia di manapun dia berada. Oleh karena, mereka harus melakukan introspeksi intelektual, memeriksa kembali sosok ilmu pengetahuan sebagai produk dari komunitas ilmuwan melalui proses penelitian dengan metoda keilmuan. Metoda keilmuan itu biasanya dijalankan berdasarkan sejumalah asumsi filosofis yang implisit di dalamnya yaitu paradigma ilmu pengetahuan. Membuat asumsi-asumsi itu menjadi eksplisit mungkin akan menolong kita untuk membuat paradigma baru dan menyusun etika keilmuan baru yang antisipatif akan perubahan-perubahan radikal yang dibawa oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan penerapannya.
Untuk itu marilah kita periksa terlebih dahulu masalah-masalah apa yang dibawa oleh perkembangan dan pemaanfaatan ilmu pengetahuan selama ini.

Problem Ilmu Pengetahuan:
Dampak-dampak Negatif

Masih terbayang di benak kita bahwa, di paruh kedua abad ke-20 yang lalu, kita dihantui oleh ancaman terjadinya perang nuklir yang akan menghancurkan planet bumi ini. Bahkan jika semua hulu-ledak nuklir dalam semua rudal yang dibangun selama perang dingin itu secara sekaligus, maka bumi akan hancur puluhan kali. Ledakan itu akan membuat ledakan bom atom sekutu di Hiroshima dan Nagasaki pada akhir pewrang dunia kedua bagaikan mercon anak-anak. Dan semua itu bersumber pada surat rahasia ilmuwan Albert Einstein pada presiden Amerika Serikat untuk membuat bom atom, mengingat Nazi Jerman pada waktu itu diketahui sedang mengusahakan bom yang sama.
Sejarah mencatat bahwa surat itu mencetuskan Proyek Manhattan yang berhasil membuat bom atom pertama di dunia. Eskalasi perlombaan senjata nuklir pasca Perang Dunia II merupakan konsekuensi politik militer global dari aplikasi fisika nuklir di akhir Perang Dunia II itu. Inilah dampak negatif ilmu pengetahuan yang pertama: pemanfaatannya untuk keperluan senjata pemusnah masal. Kini masalah perang nuklir itu mungkin sudah mereda dengan runtuhnya Blok Timur yang dipimpin oleh negara adikuasa Uni Soviet Rusia. Namun, senjata pemusnah masal yang berdasarkan ilmu kimia dan biologi terus dikembangkan di berbagai negara. Aplikasi ilmu pengetahuan untuk pemusnahan masal masih merupakan dampak negatif yang harus dipertimbangkan.
Para ilmuwan biasanya berlindung terhadap kritik dari luar terhadap ilmu pengetahuan yang berdasarkan penggunaan ilmu pengetahuan menjadi senjata pemusnah dengan mengatakan ilmu pengetahuan itu netral, begitu juga teknologi yang merupakan penerapan ilmu pengetahuan. Teknologi itu bagaikan pisau: di tangan pembunuh dia menjadi senjata yang mematikan, di tangan dokter bedah dia menjadi penyelamat manusia. Begitu juga teknologi, misalnya teknologi nuklir bisa digunakan untuk penghancur, namun dia bisa digunakan untuk sumber energi pengganti teknologi energi yang menggunakan bahan bakar fosil. Namun bencana kebocoran radiasi dari reaktor-reaktor nuklir, seperti di Chernobyl misalnya, membuat kritikus memperluas wilayah serangannya: polusi.
Polusi radiasi nuklir yang berasal dari reaktor nuklir hanyalah sebagian dari polusi industri yang berbahaya terhadap lingkungan hidup. Pada umumnya industri merupakan penerapan ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan manusia, akan tetapi limbah beracun industri menembus rantai kehidupan dan menumpuk secara perlahan-lahan sehingga pada suatu waktu daya peracunnya menjadi efektif. Jika waktu itu tiba, maka akan banyak spesies makhluk akan musnah, dan pada suatu waktu manusia akan mendapat gilirannya.
Namun perusakan lingkungan hidup, bukan hanya melalui rantai makanan ekologis, tetapi juga melalui melalui lingkungan fisik secara langsung. Perusakan lingkungan hidup oleh percobaan nulir, pertambangan yang menggaruk permukaan bumi adalah kenyataan sehari-hari masyarakat industri. Sementara itu akumulasi molekul CO2 di atmosfer akibat penggunaan bahan bakar fosil berjalan sangat cepat sehingga melampaui daya serap lautan dan hutan-hutan membuat pemanasan global melalui efek rumah kaca. Sebagai akibatnya, sebagian es dari kutub utara dan selatan mencair secara perlahan menambah tinggi permukaan laut.
Efek yang lain dari pemanasan global adalah penguapan metan yang selama ini membeku di tundra di Kanada dan Rusia. Padahal peningkatan kuantitas gas metan di atmosfer hanya akan meningkatkan efek rumah kaca sehingga timbul lingkaran umpan-balik positif yang tak terkendali.
Lingkaran umpan balik positif ini bukan hanya berlaku untuk gas metan, tetapi juga untuk uap air yang meningkat karena pemanasan air laut secara global. Peningkatan kadar uap air udara juga merupakan penyebab efek rumah kaca menjadi-jadi. Pemanasan laut, terutama di daerah tropis menyebabkan bertambahnya jumlah dan kuatnya badai sehingga terjadi perubahan cuaca yang tak teramalkan. El Nino dan La Nina mengacak-acak pola tanam para petani dan produktivitas pangan dunia. Bencana alam kemarau panjang di khatulistiwa dan kebekuan di daerah subtropis menjadi tak teramalkan.
Namun kesengsaraan lingkungan hidup bukan hanya berasal dari pembuangan gas karbon dioksida saja, akan tetapi juga oleh pembuangan gas karbonfluorokhlorida atau CFC yang bersumber pada gas freon alat pendingin untuk lemari es dan AC, di rumah-rumah dan dikendaraan. Molekul-molekul CFC merusak lapisan ozon di stratosfer yang selama ini berfungsi sebagai pelindung kehidupan bumi dari sinar ultraviolet yang berlebihan. Perluasan lobang ozon dikutub utara dan selatan secara cepat merupakan bahaya lain yang mengancam kehidupan di bumi.
Efek sinar ultraviolet pada kulit dan mata manusia merupakan ancaman yang menyakitkan, namun efek pada makhluk-makhluk hidup lain sangat memprihatinkan. Lebah-lebah yang matanya rusak akan merupakan polinator tanaman yang tidak efektif. Sementara itu efek sinar ultraviolet pada ujung tunas tumbuh-tumbuhan sungguh mengenaskan. Tunas tanaman tidak akan mencapai kematangannya sehingga tidak bisa membiak. Begitu juga efeknya pada fitoplankton di laut juga luar biasa, karena mereka tidak memiliki kulit pelindung. Kehancuran mereka akan mengakibatkan pemotongan lingkaran makanan ekologis bumi.
Tampaknya dampak-dampak yang menyakitkan ini tidak seharusnya dituduhkan pada ilmu pengetahuan itu sendiri kecuali pada teknologi yang merupakan penerapannya, namun seharusnya pada proses industrialisasi yang bersumber pada keserakahan manusia sebagai produsen dan konsumen. Ilmu pengetahuan justru dapat menyumbangkan penelitiannya untuk mencari bahan-bahan substitusi bagi bahan bakar dan bahan pendingin industri. Namun ilmu pengetahuan dan teknologi adalah dua komponen yang tak terpisahkan dari sistem ekonomi masyarakat. Loloh balik positip antara teknologi dan ilmu pengetahuan di satu pihak di samping hal sama antara teknologi dan ekonomi merupakan kenyataan yang tak dapat dibantah. Karena itu para ilmuwan harus ikut bertanggung jawab atas bencana lingkungan yang dibawa oleh kemajuan teknologi dan ekonomi.
Akan tetapi bencana lingkungan hidup biologis bukanlah satu-satunya dampak negatif tak langsung dari perkembangan ilmu pengetahuan. Belakangan banyak kritikus ilmu pengetahuan memusatkan perhatiannya pada aspek-aspek sosial yang dirusak oleh perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan ekonomi. Industrialisasi telah mendorong urbanisasi yang mengundang penduduk desa untuk berbodong-bondong pindah ke kota.
Urbanisasi itu sendiri bukanlah hal yang negatif, namun tak dapat dibantah bahwa urbanisasi menimbulkan sejumlah masalah. Individualisasi yang dipicu oleh tata pemukiman dan pola kerja manusia urban, membuat masyarakat menjadi terfragmentasi dan teralienasi. Fragmentasi dan alienasi di keluarga di satu pihak, dan kompetisi yang berat di lain pihak. menimbulkan ketegangan psikologis yang sering berujung pada penyalah-gunaan obat-obatan yang dibuat oleh industri kimia.
Penyalahgunaan obat-obatan narkotik dan psikotropik, tentunya tak dapat dituduhkan pada pembuat obat-obatan itu sendiri, karena hal itu dipicu oleh tuntutan psikologi para pemakai dan tutuntan ekonomis para pengedarnya. Namun kenyataan bahwa kedua tuntutan itu bersumber pada industrialisasi yang pada gilirannya bersumber pada kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan, membuat para kritikus ilmu pengetahuan menjadi lebih kritis terhadap ilmu pengetahuan dan membuat para ilmuwan yang prihatin mulai mempertanyakan: apa yang salah pada ilmu pengetahuan itu sendiri.
Pada abad yang lalu kritikus-kritikus ilmu pengetahuan dari kalangan ideologis mulai menguliti ilmu pengetahuan untuk mendapatkan intisari ilmu pengetahuan yang dianggap buruk atau jahat. Kita tak dapat bersikap acuh-tak-acuh pada mereka dan menghindarinya. Menara gading para ilmuwan telah runtuh dihajar badai teknologi informasi, kini kita berada ditengah mereka. Karena itu marilah kita sendiri memeriksa ilmu pengetahuan secara rasional sebelum menghadapi mereka. Mungkin filsafat merupakan alat yang berguna untuk itu.

Filsafat Ilmu Pengetahuan:
Sebuah Introspeksi

Menurut sejarah, ilmu pengetahuan modern bermula dengan lahirnya mekanika Newton yang kemudian menjadi model untuk cabang-cabang ilmu lainnya. Pada awalnya ilmu pengetahuan alam adalah cabang filsafat dan disebut filsafat alam. Judul buku Isaac Newton yang berisi teorinya tentang gerak benda-benda berjudul Principia Mathematica Philosophiae Naturalis atau Prinsip Matematis Filsafat Alam.
Sebelum terbitnya buku itu terjadi perdebatan filosofis di abad XVII antara aliran empirisme Francis Bacon dan aliran Rasionalisme Rene Descartes. Bacon mengatakan bahwea ilmu pengetahuan modern harus bermula pada fakta-fakta empiris yang bisa diamati, sedangkan teori dibuat berdasarkan generalisasi dari fakta-fakta tersebut. Sementara itu Descartes mengatakan ilmu pengetahuan harus dibangun seperti geometri Euklides yang terbentuk dari sejumlah aksioma, definisi dan penurunan teorema-teorema secara deduktif dengan menggunakan logika.
Ketika menulis bukunya, Newton mengikuti contoh metoda matematik yang diberikan Descartes. Apa yang dilakukan Newton adalah menambahkan aksioma-aksioma tentang gerak yang dianggapnya melengkapi aksioma-aksioma geometri Euklides. Namun, berbeda dengan Descartes, Newton tidak menganggap aksiomanya sebagai pernyataan yang harus diterima benar dengan sendirinya seperti aksioma-aksioma geometri Euklides.
Aksioma-aksioma baru itu, bagi Newton, adalah hipotesa-hipotesa sementara yang konsekuensi-konsekuensinya harus bisa sesuai dengan pengamatan-pengamatan empiris. Dengan demikian, dia menyelesaian pertikaian fikosofis antara empirisme Francis Bacon dan rasionalisme Rene Descartes dengan mengajukan metoda hipotetiko-deduktif yang dikawinkan dengan metoda eksperimental-induktif. Artinya ilmu pengetahuan modern bukan sekedar rasional ataupun empiris saja. Hakekat ilmu pengetahuan adalah pengetahuan rasional empiris atau pengetahuan rasional obyektif.
Tujuan ilmu pengetahuan modern yang rasional obyektif itu adalah untuk pemanfaatan alam bagi peningkatan kesejahteraan manusia. Ia bersifat rasional karena ilmu pengetahuan memiliki komponen pengetahuan teoritis dan sifatnya obyektif menunjukkan bahwa komponen lainnya adalah pengetahuan faktual yang diperoleh melalui eksperimen terhadap obyek-obyeknya.
Pengetahuan faktual terdiri dari dua komponen. Yang pertama adalah metoda eksperimen kuantitatif yang reprodusibel sehingga menjamin obyektivitas data-datanya. Yang kedua adalah fakta-fakta eksperimental yang diperoleh melalui analisis statistik data-data yang diperoleh dari eksperimen. Fakta-fakta itulah yang mencerminkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta
Pengetahuan teoritis terdiri dua komponen. Yang pertama adalah perumusan hukum-hukum alam yang diasumsikan ada pada gejala-gejala alam. Yang kedua terdiri dari prinsip-prinsip logis matematis yang harus dipenuhi oleh hukum-hukum alam itu. Gabungan antara kedua komponen itu membentuk teori mengenai gejala-gejala alam yang direpresentasikan oleh pengetahuan faktual.
Keempat komponen pengetahuan ilmiah menjadi satu ketika terjadi kesesuaian antara ramalan-ramalan teoritis fakta-fakta eksperimental. Proses pengujian kebenaran pengetahuan teoritis melalui hasil-hasil eksperimen disebut proses verifikasi teori. Proses penemuan kesalahan suatu teori melalui percobaan-percobaan eksperimental disebut proses falsifikasi.
Ilmu pengetahuan tumbuh dengan semakin luasnya pengetahuan faktual yang memverivikasinya. Ilmu pengetahuan berkembang setelah terjadi pembangunan kembali teori yang difalsifikasi oleh pengamatan-pengamatan eksperimental. Teori berkembang jika digantikan oleh teori baru yang menjadikan teori lama sebagai hal khusus dari teori yang baru tersebut. Jadi ilmu pengetahuan tumbuh kembang melalui benturan antara pengetahuan teoritis yang rasional dan pengetahuan eksperimental yang obyektif.
Kedua komponen besar pengetahuan ilmiah mempunyai fungsinya masing-masing. Pengetahuan teoritis berfungsi untuk melukiskan menjelaskan dan menfasirkan pengetahuan faktual. Sedangkan pengetahuan faktual berfungsi untuk mengamati dan melukiskan semua fenomena alam yang obyektif.
Keempat fungsi pengetahuan ilmiah tersebut memungkinkan manusia melakukan prakiraan-prakiraan terhadap apa yangterjadi jika manusia mengintervensi gejala-gejala alam. Hal ini diperlukan untuk mengendalikan dan mengaturnya sehingga mencapai tujuan-tujuan yang menguntungkan manusia. Hal inilah yang dilakukan oleh teknologi sebagai penerapan ilmu pengetahuan.
Begitulah. Tujuan, hakekat, struktur, metoda, proses dan fungsi ilmu pengetahuan yang diuraikan di atas itulah yang secara informal diajarkan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Semuanya tak ada yang aneh, sampai pada paruh kedua abad yang lalu muncul berbagai kritik dari berbagai pihak di luar kalangan ilmuwan yang bersumber pada keresahan akan dampak-dampak negatif penerapan ilmu pengetahuan yang mulai merebak di paruh kedua abad yang lalu.

Kritik Eksternal Terhadap Ilmu Pengetahuan:
Agama, Filsafat dan Ideologi

Kita dapat mengelompokkan kritik-kritik itu berdasarkan pandangan dunia yang mereka yakini. Mereka itu terdiri dari para agamawan, para filsuf dan para ideolog. Karena itu kritik-kritik mereka kita kelompokkan menjadi kritik teologis, kritik filosofis dan kritik ideologis. Marilah kita periksa kritik-kritik mereka itu satu persatu. Bagaimana mungkin ilmu pengetahuan yang pada dasarnya bertujuan baik itu dianggap sebagai sumber semua dampak negatif teknologi. Kita mulai dengan kritik teologis.
Para agamawan melihat bahwa ilmu pengetahuan mempunyai sebuah kesalahan besar. Dampak-dampak negatif itu muncul karena kesalahan ini. Kesalahan ini adalah pengabaian realitas-realitas spiritual dari pembahasan pengetahuan ilmiah. Tuhan Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur itu dibuang dari wacana ilmu pengetahuan kealaman dan kemasyarakatan. Begitu juga alam gaib dan roh manusia sama sekali tidak diperhatikan. Dengan perkataan lain ilmu pengetahuan itu bersifat materialistis. Singkatnya, landasan filsafat ilmu pengetahuan adalah materialisme yang atheistik.
Para filosof juga mempunyai kritik mereka sendiri. Para fenomenolog yang diikuti oleh para eksistensialis, melihat ilmu pengetahuan sebagai sumber petaka sosial karena pandangan reduksionisme yang menyamaratakan manusia dengan benda-benda alam lainnya. Padahal, menurut mereka, pengetahuan manusia mengenai dirinya bersifat langsung dan kaya yang menjadi miskin ketika direduksi menjadi sekumpulan pembacaan angka-angka hasil pengamatan eksperimental. Jadi tidak mengherankan jika kesengsaraan manusia timbul begitu ilmu pengetahuan diterapkan menjadi teknologi.
Tentu saja kritik para filosof itu bersifat akademis dan jarang didengar oleh ilmuwan secara langsung, namun kritik para ideolog adalah suara lantang di tengah masyarakat. Kaum ideolog adalah mereka yang menjadikan filsafat tertentu menjadi dasar untuk melakukan gerakan sosial. Kritik-kritik mereka lebih sulit ditangkis ketimbang kritik-kritik para teolog dan para filsuf. Mereka itu dapat kita kelompokan menjadi kaum neomarxis, kaum ekologis, kaum feminis dan kaum etnoreligius.
Kaum neo-marxis melihat ilmu pengetahuan yang dikatakan rasional itu sebagai sebuah kekeliruan, karena ilmu pengetahuan itu tidak seluruhnya rasional. Rasionalitas ilmu pengetahuan bersifat terbatas karena rasionalitas ilmu pengetahuan hanya bersifat instrumental. Rasionalitas instrumental ilmu pengetahuan cenderung untuk mencari apa yang dibutuhkan oleh teknologi yang pada gilirannya diarahakan oleh kepentingan-kepentingan politik ekonomi kapitalisme. Padahal disamping rasionalitas instrumental terdapat rasionalitas komunikatif yang diperlukan proses demokrasi dalam rangka melihat realitas sosial kemanusiaan secara lebih utuh menyeluruh.
Kritik kaum neomarxis ini diperkuat oleh kritik kaum feminis. Kaum feminis juga membongkar asumsi-asumsi dibalik asumsi-asumsi ilmu pengetahuan. Kesalahan ilmu pengetahuan bukan hanya pada rasionalitas yang terbatas, tetapi pada rasionalitas itu sendiri. Penekanan pada rasionalitas itu sendiri merupakan bias patriarki yang melandasi kapitalisme yang diabdi oleh teknologi sebagai penerapan ilmu pengetahuan. Rasionalisme yang bersifat analitis dan reduksionis itu mengabaikan fakultas pengetahuan manusia yang bisanya lebih banyak dimiliki oleh kaum perempuan yaitu intuisi. Intuisi yang relasional dan holistik itu telah ditinggalkan oleh para ilmuwan. Tak heran jika kecendrungan dominatif patriarki membayang-bayangi setiap gerak langkah ilmu pengetahuan.
Demikianlah, gerak langkah kapitalisme yang patriarkis itu melihat alam sebagai obyek yang harus ditaklukkan. Tak heran jika suku primitif Indian Amerika melihat gerak langkah ekono-teknologis kaum kapitalis barat sebagai pemerkosaan terhadap alam atau bumi. Tak mengherankan pula jika kerusakan lingkungan merupakan dampak yang tak dapat dihindarkan dari ilmu pengetahuan modern. Sejumlah spesies makhluk hidup musnah sebagai akibat perambahan hutan, gunung dan laut. Dari fakta ini kaum pencinta lingkungan hidup melihat sumber filosofis dari kegagalan ilmu pengetahuan untuk sepenuhnya mencapai tujtuannya. Kaum ekologis melihat bahwa ilmu pengetahuan bukan saja bersifat rasional yang merupakan ciri manusia sebagai makhluk hidup tertinggi, tetapi ilmu pengetahuan itu bersifat antroposentris seperti terlihat dari definisi tujuannya. Netralisme ilmu pengetahuan adalah sebuah ilusi belaka.
Jadi antroposentrisme rasionalistis para kapitalis yang patriarkis itulah yang tersembunyi dalam praktek sehari-hari ilmu pengetahuan seperti yang ditemukan oleh kaum neomarxis, feminis dan ekologis. Penemuan mereka ini dipertajam oleh kaum etnoreligius yang menggabungkan kritik-kritik ideologis tersebut dengan kritik teologis dan filosofis. Antroposentrisme rasionalis dan kapitalisme patriarkis itu merupakan ciri dominan peradaban barat modern sekularistik yang merupakan ibu kandung ilmu pengetahuan modern yang meninggalkan agama dari kehidupan budaya sehari-hari. Oleh karena itu ilmu pengetahuan Barat yang disebut sebagai ilmu pengetahuan modern itu harus diganti oleh ilmu-ilmu pengetahuan etnoreligius tradisional seperti ilmu pengetahuan Cina, ilmu pengetahuan Hindu, ilmu pengetahuan Islam dan lain sebagainya.

Re-orientasi Paradigma Ilmu pengetahuan:
Sintesa Holisme sebagai Solusi

Tentu saja kritik-kritik dari luar kalangan ilmu pengetahuan pada rasionalitas dan obyektivitas sebagai jantung ilmu pengetahuan modern tidak bisa diabaikan begitu saja. Rasionalisme dan empirisme itu merupakan asumsi filosofis di bidang pengetahuan atau epistemologi. Filsafat yang lebih menyeluruh melibatkan ontologi, yaitu filsafat wujud mengenai obyek-obyek pengetahuan dan aksiologi, yaitu filsafat nilai-nilai yang dianut oleh manusia yang mengetahui sebagai subyek.
Sebenarnya di dasar ilmu pengetahuan modern, sebagai salah satu cabang dari peradaban, terdapat seperangkat asumsi-asumsi filosofis lain, juga implisit, yang mendampingi asumsi-asumsi epistemologis ilmu pengetahuan. Keseluruhan asumsi-asumsi filosofis itulah yang disebut sebagai paradigma. Dengan demikian, sesuai dengan struktur filsafat secara umumnya, paradigma ilmu pengetahuan mempunyai tiga aspek, yaitu aspek-aspek ontologis, epistemologis dan aksiologis.
Aspek epistemologis itulah yang telah kita periksa dalam introspeksi yang kita lakukan pada awal pembahasan. Aspek-aspek ontologis dan aksiologis baru muncul ke permukaan setelah kita membaca kritikus-kritikus ilmu pengetahuan dari luar kalangan ilmuwan. Bagi para ilmuwan yang tak terlatih berfikir mendasar, mengakar dan menyeluruh, kritik-kritik seperti itu cenderung dipandang sebagai serangan terhadap eksistensi ilmu pengetahuan
Itulah sebabnya, kenapa sebagian besar dari ilmuwan cenderung untuk bersikap reaktif terhadap kritik-kritik radikal itu. Pada dasarnya mereka yang konservatif itu akan menyangkal semua tuduhan itu sebagai suatu yang tak berdasar yang diada-adakan. Untungnya tidak semua ilmuwan berpikiran seperti itu. Sebagian kecil dari mereka mencari solusi yang mengakomodasi kritik-kritik tersebut. Mereka itu adalah kaum ilmuwan holistik.
Kaum ilmuwan holistik misalnya, melihat bahwa kritik kaum teologis itu ada benarnya. Ilmu pengetahuan telah mengabaikan aspek-aspek nonmaterial dalam studinya yaitu informasi dan nilai-nilai. Padahal, aliran dan tumpukan informasi adalah aspek non-fisik dari materi telah cenderung menjadi lebih besar dan kompleks dalam evolusi jagatraya. Evolusi kosmologi memang hanya menyangkut restrukturisasi dan resirkulasi materi dan energi.
Akan tetapi, dalam evolusi biologi, sebagai kelanjutan evolusi kosmologi, proses restrukturasi dan resirkulasi informasi menjadi dominan. Dalam evolusi antropologi yang kultural, kelanjutan evolusi biologi, peran proses-proses informasi menjadi dominan dan mulai melibatkan nilai-nilai. Nilai-nilai itu berkembang dari yang partikularistik menuju yang universal. Jadi wawasan evolusioner yang sistemik bisa menggantikan materialisme mekanistik sebagai komponen ontologis paradigma baru ilmu pengetahuan. Wawasan evolusi semesta yang sistemik kreatif juga juga bisa menggantikan prinsip atomisme reduksionistik dalam paradigma ontologis ilmu pengetahuan modern.
Begitu diterimanya paradigma evolusioner sistemik yang holistik ini, paradigma epistemologis yang lama itupun harus ditinggalkan. Semakin kompleks suatu sistem semakin sulit untuk direduksi menjadi sesuatu yang material dan energetik belaka. Evolusi antropologi kultural pada dasarnya merupakan proses peningkatan kesadaran manusia mengiringi perkembangan kompleksitas institusional masyarakat mengikuti evolusi teknologi sebagai organ-organ eksosomatis manusia yang semakin lama semakin kompleks.
Kesadaran manusia, seperti kata kritikus fenomenolog eksistensialis, hanya bisa diketahui secara langsung oleh kesadaran itu sendiri. Oleh karena itu, pengalaman mistikus dan para nabi di seluruh penjuru dunia, sebagai puncak kesadaran kemanusiaan, dapat digunakan sebagai model, untuk menyusun ilmu pengetahuan tentang manusia yang lebih utuh dan menyeluruh, mengantikan perilaku organisme-organisme subhuman, apa lagi mesin-mesin inorganik. Dengan demikian pengetahuan intuitif eksperiensial manusia dapat ditambahkan sebagai pelengkap pengetahuan rasional empiris manusia. Dengan demikian didapat penyempurnaan paradigma epistemologi ilmu pengetahuan seperti yang diharapkan kaum feminis dan para kritikus filsafat eksistensialisme fenomenologis.
Lebih dari itu, bentuk intuisi tertinggi manusia adalah pengalaman mistik yang menangkap Kesatuan Realitas di balik segala bentuk benda dan kehidupan yang sebenarnya merupakan manifestasi Kehidupan Sadar yang Tunggal. Dengan demikian dimensi keagamaan seperti itu dapat dikembalikan ke dalam komponen aksiologis paradigma ilmu pengetahuan, di mana antroposentrisme digantikan biosentrisme yang lebih meluas berdasarkan suatu teosentrisme yang lebih mendalam. Oleh karenanya nilai-nilai universal, yang diajarkan semua nabi dan mistikus sepanjang zaman di seluruh dunia, dapat diintegrasikan kedalam paradigma aksiologis ilmu pengetahuan. Oleh karena itu tak perlu dilakukan pemunduran paradigma sains modern ke sains tradisional yang religius seperti yang diharapkan oleh kritikus etnoreligius.
Disamping itu peradaban manusia, dalam pandangan holistik evolusioner, merupakan bentuk kehidupan yang lebih tinggi di mana ilmu pengaetahuan adalah bagian dari kesadaran kolektifnya dan teknologi adalah organ kehidupan transhuman baginya. Oleh karena itu terkandung didalamnya tanggung jawab yang besar untuk menunjang keanekaragaman dan kesalingbergantungan bentuk-bentuk kehidupan di muka bumi sebagai bagian dari keberlangsungan sistem kehidupan planet bumi yang menyatu. Ilmu pengetahuan merupakan bagian kesadaran kolektif planeter bumi. Dengan demikian loyalitas implisit ilmuwan pada sistem kapitalisme global, seperti yang diungkapkan oleh para kritikus neomarxis, dapat digantikan dengan loyalitas pada sistem kehidupan planeter bumi yang lebih menyeluruh.
Dengan demikian dapatlah disimpulkan sekarang bahwa, untuk menghadapi tantangan-tantangan multidimensional multiskala dengan peningkatan kecepatan, kompleksitas dan daya jangkau teknologi di masa depan ini, paradigma sains modern lama yang biasanya dihayati para ilmuwan secara implisit itu perlu diperluas dan diperdalam dan dihayati secara eksplisit.
Paradigma sistemik evolusioner kreatif holistik, yang sedang tumbuh kembang di kalangan ilmuwan mancanegara, mungkin dapat diberi kesempatan menjadi paradigma alternatif yang tentunya masih harus disempurnakan lebih lanjut. Salah satu bentuk implementasinya adalah merumuskan etika ilmu pengetahuan yang lebih utuh menyeluruh sebagai penegas dan pengarah tanggung jawab profesional ilmuwan, rekayasawan dan akademisi Indonesia.

Menuju Ilmu Pengetahuan Baru di Milenium Baru:
Etika Ilmu Pengetahuan sebagai Implementasi Solusi

Etika pada dasarnya adalah filsafat moral yang membicarakan apa yang dianggap sebagai kebaikan atau kebenaran moral dan keburukan atau kesalahan moral. Biasanya yang diberi predikat moral itu adalah perbuatan.
Umumnya sesuatu perbuatan baik jika tujuannya baik. Namun tujuan baik tidak selalu dicapai dengan perbuatan yang baik. Soalnya, ada kriteria lain yang menentukan baik-buruknya suatu perbuatan yaitu caranya. Tujuan baik harus dicapai dengan cara yang baik dan menghasilkan sesuatu yang baik. Yang jadi persoalan, kriteria apa yang menentukan cara yang baik. Cara yang baik adalah cara yang tidak menghasilkan dampak atau hasil samping yang tidak baik.
Jadi ada beberapa parameter yang menentukan kebaikan suatu perbuatan: tujuan, cara, hasil dan dampak. Namun timbul pertanyaan apa yang dimaksud dengan baik atau buruk? Secara normatif, kebaikan keburukan diukur dari kesesuaiannya dengan sejumlah prinsip moral atau moralitas. Moralitas adalah prinsip-prinsip yang menentukan nilai kebaikan dari tujuan, cara, hasil dan dampak suatu perbuatan.
Prinsip-prinsip moral sangat banyak namun semuanya berkaitan dengan hak dan kewajiban individu dan kelompok, karena itu etika pada umumnya bersifat sosial atau interpersonal. Akan tetapi dalam beberapa agama besar etika sosial itu diperluas menjadi etika universal yang memperhitungkan semua makhluk hidup dan etika transendental yang menyangkut Tuhan Yang Maha Pencipta.
Semua prinsip-peinsip itu dapat dikelompokkan menjadi:
  1. Prinsip moralitas pribadi
  2. Prinsip moralitas antarpribadi
  3. Prinsip moralitas masyarakat
  4. Prinsip moralitas semesta
  5. Prinsip moralitas adisemesta
Jika kelima prinsip itu dilihat dari sudut pandangan sistemik holistik evolusioner, ketiga prinsip yang disebut terdahulu bersifat antroposentrik, yang keempat bersifat biosentrik dan yang keempat bersifat teosentrik. Maka dapatlah kita simpulkan sebenarnya terdapat tiga prinsip moral yaitu antroposentrisme, biosentrisme dan teosentrisme atau prinsip kemanusiaan, prinsip kehidupan dan prinsip ketuhanan.
Prinsip-prinsip moralitas itu bersifat sangat umum, oleh karenanya perlu dijabarkan menjadi kode etik atau aturan tatalaku sesuai dengan institusi sosial yang bersangkutan dengan lingkungan kerja manusia. Institusi-institusi sosial dalam pandangan sistemik evolusioner adalah organ eksosomatik sosial manusia disamping organ eksosomatik material berupa sistem-sistem teknologi. Dalam sejarahnya, kedua organ eksosomatik itu telah berevolusi secara beriringan dalam suatu ko-evolusi sosio-teknologi.
Ko-evolusi sosio-teknologi telah menghantarkan manusia pada suatu peradaban global yang terjalin melalui pertukaran ekonomi, teknologi dan budaya global yang berbasiskan informasi dan pengetahuan. Ilmu pengetahuan sebagai cabang dari pengetahuan yang lebih menyeluruh mempunyai peranan penting sebagai mata bagi superorganisme sosial peradaban yang terus berevolusi menuju peradaban global yang lebih adil, damai dan bersatu. Taraf akhir perkembangan evolusioner manusia bersifat intensif yang meliputi ketersambungan (connection), keterhubungan (communication) dan kesadaran (comprehension).
Dalam perspektif evolusioner holistik ini maka kini dapatlah disimpulkan bahwa kode etik keilmuan hendaknya meliputi prinsip-prinsip kemanusiaan, kehidupan dan ketuhanan. Seperangkat kriteria metaetis telah dirumuskan oleh sejumlah ilmuwan yang berkumpul pada tahun 1994 di Toronto. Dengan reorganisasi dan reformulasi seperlunya maka kita peroleh pedoman perumusan kode etik keilmuan sebagai berikut:
DASAR-DASAR METAETIS
  1. Kode etik keilmuan hendaknya mencantumkan secara jelas semua landasan pemikiran di balik setiap pedoman tatalaku dan prinsip-prinsipnya

  2. Kode etik keilmuan hendaknya menunjukkan secara tegas upaya-upaya yang perlu dilakukan agar ditaati oleh semua pelaku yang terlibat kode etik keilmuan hendaknya cukup luas sehingga mencakup semua karya ilmiah dan penelitian dasar, terapan dan teknologi serta semua tindakan para pelaku yang terlibat dalam berbagai disiplin dan profesi keilmuan dan keteknikan.
PRINSIP MORALITAS PRIBADI

  1. Kode etik keilmuan hendaknya menentang semua prasangka kemanusiaan berdasarkan jenis kelamin, agama, kebangsaan dan kesukuan atauan cacat fisik atau mental.

  2. Kode etik keilmuan hendaknya melarang penelitian yang diarahkan pada pengembangan dan penggunaan metoda penyiksaan dan perlsatan dan teknik yang mengancam dan melanggar hak-hak asasi manusia secara individual maupun kolektif.
PRINSIP MORALITAS ANTARPRIBADI

  1. Kode etik keilmuan hendaknya mengarahkan kegiatan akademis dan keilmuan kepada penyelesaian damai konflik antar manusia dan pelucutan senjata secara umum;

PRINSIP MORALITAS MASYARAKAT

  1. Kode etik keilmuan hendaknya mewajibkan, bagaimanapun sulitnya meramalkan semua konsekuensi sebuah penelitian, para ilmuwan, peneliti dan rekayawan untuk bertanggungjawab, secara pribadi maupun bersama, untuk berupaya memperkirakan dan senantiasa memperhatikan dampak penerapan karya-karya mereka

  2. Kode etik keilmuan hendaknya mewajibkan para ilmuwan dan rekayasawan untuk memilih, mengarahkan dan mengoreksi pengembangan dan penerapan disiplin ilmu pengetahuan yang mereka tekuni sesuai dengan pengetahuan mereka tentang dampak-dampak tersebut.

PRINSIP MORALITAS SEMESTA

  1. Kode etik keilmuan hendaknya mengingatkan para ilmuwan akan potensi kemiliteran penelitian mereka dan berupaya menyelesaikan masalah etis yang berkaitan dengannya, dan mendorong pemanfaatannya untuk kesejahteraan manusia bukan untuk merusak planet dan isinya dalam persiapan dan pelaksanaan perang.

  2. Kode etik keilmuan hendaknya menyadarkan para ilmuwan dan rekayasawan bahwa tindakan-tindakan yang dirancang hanya dengan mempertimbangkan kepentingan manusia mempunyai kemungkinan mengancam kelangsungan hidup semua spesies, karena ekosistem merupakan jala-jala kehidupan tak bertepi.
PRINSIP MORALITAS ADISEMESTA

  1. Kode etik keilmuan hendaknya menyadarkan para ilmuwan dan rekayasawan bahwa tindakan-tindakan yang dirancang tidak bertentangan dengan nilai-nilai universal kemanusiaan yang diajarkan oleh agama-agama besar dunia.

REGULASI
  1. Kode etik keilmuan hendaknya mendorong para ilmuwan untuk mentaati prosedur baku peninjauan etis sesama rekan untuk penerbitan hasil karyanya.

  2. Kode etik keilmuan hendaknya mendorong para ilmuwan untuk mengungkapkan semua hasil penelitiannya seluas-luasnya kepada publik.
  1. Kode etik keilmuan hendaknya mendorong para ilmuwan untuk saling mengawasi dan melaporkan setiap pelangaran butir-butir etika keilmuan kepada majelis kehormatan profesi keilmuan dan keteknikan
  1. Kode etik keilmuan hendaknya menjamin perlindungan terhadap rekan sesamanya dari hukuman yang salah dari sesama ilmuwan, perhimpunan-perhimpunan keilmuan atau kepakaran dan badan-badan hukum.

REPLIKASI
  1. Kode etik keilmuan hendaknya mewajibkan penyebaran dan pemasyarakatan kode etik keilmuan itu melalui kurikulum sekolah dan universitas untuk calon-calon ilmuwan dan forum-forum diskusi terbuka bagi para akademisi dan ilmuwan

DAFTAR PUSTAKA

Armahedi Mahzar, Integralisme: sebuah Rekonstruksi Filsafat Islam, Pustaka Salman Bandung 1983
Armahedi Mahzar, Transcending Technology, Part 3 e-book draft 2000 dapat diperoleh di internet di http://integralism.faithweb.com .
Armahedi Mahzar, Menyingkap Koevolusi Sosioteknologi, Menembus Paradoks teknologi, MISYKAT prosiding LPI, YPM Salman ITB Bandung, Juni 1983
Fritjof Capra, The Web of Life: A New Synthesis of Mind and Matter, Flamingo Harper-Collins, London 1997
Fritjof Capra, The Turning Point: Science, Society, and the Rising Culture, Bantam New Age Book, New York 1983
Irvin Laszlo, Milenium ke-3 Tantangan dan Visi: Klub Budapest Laporan mengenai Jalur Kreatif Evolusi Manusia, Penerbit Abdi Tandur, Jakarta 1999
Irivin Laszlo, Human Evolution in the Third Millenium, dapat diperoleh di sciencedirect.com
Irvin Laszlo, An Ecological Ethics for the 21-st Century, dapat diperoleh di internet sebagai file eco_ethics.pdf
---, “Ethics in Science and Scholarship: the Toronto Resolution” dalam Accountability in Research, vol 3 (1994) 69-72, e-version ada di internet sebagai http://www.math.yorku.ca/sfp/sfp2.html

Thursday, March 05, 2009

Menuju Paradigma Baru 2





Menuju Paradigma Baru 1















bersambung ke posting berikutnya

Peradaban & Filsafat Teknologi

SEJARAH & FILSAFAT TEKNOLOGI

Armahedi Mahzar

Kita mengenal teknologi dalam pengertiannya yang modern sebagai aplikasi atau penerapan sains. Namun sains dalam pengertiannya yang modern berakar pada revolusi Copernicus pada abad ke 16 masehi yang berujung pada penemuan mekanika Newton yang memandang alam sebagai sebuah mesin raksasa. Pandangan mekanistik Newtonian tentang alam itu sendiri merupakan penggantian pandangan organismik Aristotelean yang mendominasi pemikiran manusia selama lebih dari seribu tahunan. Pandangan organismik Aristoteleian itu sendiri adalah pandangan filosofis yang menggantikan pandangan mitologis yang melihat alam bukan sebagai organisme, tetapi sebagai sebuah kerajaan dengan para dewa sebagai pemerintahnya.

Penggantian-penggantian sudut pandang itu sendiri sebenarnya dipicu oleh penemuan-penemuan teknologi yang kemudian mendominasi era peradaban pasca penemuan teknologis tersebut. Pandangan organismik Aristoteleian itu dipicu oleh lahirnya pemikiran logis yang dimungkinkan oleh ditemukannya huruf alfabetik sebagai teknologi komunikasi informasi yang revolusioner. Begitu juga penggantian pandangan organismik Aristoteleian dengan pandangan mekanistik Newtonian dipicu oleh penemuan revolusioner berikutnya dibidang komunikasi informasi: revolusi Gutenberg. Revolusi Gutenberg bermula dengan ditemukannya mesin cetak tipografis manual oleh Gutenberg. Revolusi teknologi inilah yang memicu lahirnya sains modern.

Tampak dari uraian di atas bahwa lahirnya teknologi pada dasarnya jauh mendahului kelahiran sains modern. Namun, dengan kelahiran sains modern terjadilah sebuah hubungan timbal balik positif antara sains, teknologi dan ekonomi yang memungkinkan revolusi-revolusi sains dan teknologi berikutnya. Sains mekanistik deterministik Newtonian memang melahirkan revolusi industri atau revolusi Watt, namun revolusi Faraday yang melihat dunia sebagai lautan ether elektromagnetik melahirkan revolusi industri kedua setelah ditemukannya generator dan motor listrik. Begitu pula revolusi sains kedua yang dipicu oleh lahirnya teori kuantum dan relativitas, mendorong revolusi industri ketiga dengan ditemukannya mikroprosesor yang merupakan jantung bagi komputer. Itulah sebabnya revolusi industri ketiga ini lebih dikenal sebagai revolusi informasi.

Kini, kita dalam era peradaban informatik, dan Indonesia masih belum mampu menjadi negara industri yang tangguh. Hal ini disebabkan oleh karena tidak terdapatnya lingkaran positif yang baik antara lembaga pengembangan sains dan lembaga pengembangan teknologi dan lembaga pengembangan ekonomi. Padahal keterjalinan ketiga lembaga itulah yang merupakan akselerator bagi perkembangan ekonomi di negara-negara maju. Ketiadaan jalinan ini tercermin pada kenyataan bahwa di Indonesia sains dan teknologi di pandang sebagai barang asing bagi kebudayaan. Padahal hanya dengan melihat sains dan teknologi sebagai cabang budaya dan peradabanlah, maka keterkaitan antara sains, teknologi dan ekonomi itu dapat dijalin dengan erat sehingga akselerasi perkembangan ekonomi dapat menjadi kenyataan.

Berikut ini diajukan sebuah pandangan filosofis tentang teknologi yang berdasarkan pengamatan tentang sejarah teknologi ditinjau sebagai sebuah koevolusi: evolusi teknologi yang berjalan beriringan dengan evolusi peradaban. Dalam pandangan ini peradaban dunia bergerak maju dengan adanya revolusi-revolusi teknologi yang telah terjadi selama ini. Sebagai perspektif diambil sudut pandang yang melihat koevolusi peradaban teknologi tersebut sebagai kelanjutan dari evolusi biologis sementara evolusi biologis dilihat sebagai pengembangan teknologi natural prahumanistik. Dengan pandangan filosofis historis seperti ini, diharapkan kita dapat mengembalikan teknologi ke dalam pangkuan budaya seperti sebagaimana mestinya. Di lihat dari sudut luar, maka proses pengembalian ini merupakan proses pembudayaan teknologi. Hanya dengan pembudayaan teknologi ini lah mesin akselerator pengembangan ekonomi dapat dijalankan dengan sempurna.

Posisi Teknologi dalam Peradaban

Membudayakan teknologi, berarti melihat teknologi sebagai bagian dari budaya manusia. Budaya manusia itu sendiri dapat dipandang sebagai kesatuan organik yang integral yang meliputi empat strata eksistensial yaitu stratum material, stratum energetik, stratum informatik dan stratum normatif. Keempat strata ini berkaitan dengan kategori-kategori materi, energi, informasi dan nilai-nilai. Eksistensi keempat kategori itu menjadi lebih mudah disadari dengan melihat komputer sebagai sistem integral. Jantung komputer itu adalah mikroprosesor yang dirangkai dengan elemen-element lain membentuk sebuah sistem materi. Komputer itu sendiri tak mungkin berfungsi tanpa pasokan energi dari luar. Dia pun tidak berfungsi tanpa adanya program sistem operasi dan program-program aplikasi yang merupakan sistem informasi. Sementara itu program-program itu tak akan berfungsi tanpa penentuan tujuan dari luar yaitu manusia dengan sistem nilai-nilai.

Dilihat dengan perspektif integralis tersebut maka dapatlah kita melihat budaya sebagai sebuah komputer yang merupakan perpanjangan otak manusia beserta organ-organ biologis lainnya. Dalam pandangan ini kebudayaan, dan peradaban sebagai perluasannya, dapat ditinjau sebagai teknologi humanistik yang merupakan perpanjangan bagi teknologi naturalistik organisme manusia sebagai diri pribadi. Manusia sebagai pribadi juga merupakan kesatuan integral yang menyangkut tubuh material dengan segala organnya, prilaku energetik yang menggerakkan organ-organ itu, kesadaran informatik yang mengarahkan perilaku tersebut dan keyakinan normatif yang menyatukan kesadaran itu dalam suatu kesatuan subyektif yang personal.

Tata nilai sebuah peradaban adalah perpanjangan dari keyakinan individual. Khazanah pengetahuan termasuk sains dan filsafat dalam suatu peradaban adalah perpanjangan dari kesadaran manusia. Sementara itu tata lembaga, seperti misalnya sistem politik, sosial dan ekonomi, adalah kepanjangan dari prilaku manusia individual. Akhirnya semua habitat dan peralatan material manusia dapatlah dipandang sebagai tubuh peradaban yang merupakan perpanjangan dari tubuh manusia secara individual. Dengan demikian peradaban sebagai sebuah sistem integral memiliki keempat strata eksistensial integralis. Begitu pula teknologi dalam pengertian sebuah tekno-sistem memiliki stratifikasi yang sama seperti yang terlihat dalam tabel 1.

Dalam tabel ini tampak terdapat pelapisan atau stratifikasi peradaban pada kuadran-kuadran kiri yang individual dan kuadran-kuadran kanan yang kolektif. Stratifikasi itu sesuai dengan kategori-kategori eksistensial integralis yaitu materi (raga dan tatasarana), energi (perilaku dan tatalembaga), informasi (kesadaran dan pengetahuan) dan nilai-nilai (keyakinan dan tatanilai). Oleh karena itu, teknologi, sebagai komponen sentral suatu peradaban, juga terstratifikasi secara sama seperti yang kita lihat pada tabel 1.

Tabel 1
Eksistensi teknologi sebagai pusat peradaban

PRIBADI

TEKNOLOGI

PERADABAN

Keyakinan

Teknosofia

Tatanilai

Kesadaran

Teknologika

Pengetahuan

Perilaku

Teknostruktur

Tatalembaga

Raga

Teknosfera

Tatasarana

Teknologi, dilihat sebagai produk-produk material yang berkaitan satu sama lainnya, membentuk teknosfera yang merupakan lingkungan buatan menjembatani manusia dengan lingkungan hidup seutuhnya yaitu biosfera. Teknosfera ini tidak akan terbentuk dan bergerak tanpa adanya teknostruktur berupa formasi sosial yang memproduksi, mendistribusi dan mengkonsumsi elemen-elemen teknosfera tersebut. Teknostruktur ini tidak akan terkendali, jika tidak ada teknologika sebagai ilmu yang mengaturnya. Teknologika sendiri diarahkan oleh teknosofia atau filsafat teknologi yang implisit di dalam teknologika sebagai ilmu.

Jika dilihat dengan seksama, maka tabel 1 itu menunjukkan adanya tiga fungsi teknologi yaitu sebagai ekstensi, medium dan milieu. Sebagai ekstensi, teknologi merupakan perpanjangan organ-organ tubuh atau sarana internal pribadi manusia. Sebagai medium, teknologi merupakan medium yang mengantarai pribadi manusia dengan lingkungannya baik yang sosiokultural maupun yang fisik biologis. Sebagai milieu, teknologi merupakan sarana atau organ bagi peradaban sebagai bagian dari biosfera.

Sebenarnya, baik teknologi maupun peradaban, keduanya adalah lingkungan atau supersistem bagi manusia sebagai pribadi. Okeh karena itu koevolusi sosioteknologi itu mendorong perkembangan kejiwaan manusia di mana manusia seperti halnya teknologi dan peradaban berkembang dalam caranya menangani perubahan dan perkembangan lingkungan hidupnya.

Lingkungan hidup material manusia meliputi lingkungan alamiah atau formasi biotik dan lingkungan buatan atau formasi teknik. Sedangkan Lingkungan hidup sosial berupa formasi sosial dan lingkungan hidup kultural berupa formasi mental. Dari keempat formasi itu, yang paling cepat berubahnya adalah formasi teknik. Formasi sosial berubah mengikuti perubahan formasi teknik dan diikuti perubahan formasi mental yang mendukungnya.

Perubahan-perubahan formasi sosial dan mental itu telah membuka cakrawala-cakrawala baru di luar diri manusia dan mengaktualisasikan kapasitas-kapasitas tersembunyi di dalam diri manusia secara bertahap. Dengan demikian proses koevolusi peradaban teknologi dapat dikatakan sebagai sebuah proses berkesinambungan yang panjang manusia dalam memanusiakan manusia. Melalui proses itu, manusia mendapat peluang untuk mengaktualisasikan semua potensi yang ada dalam dirinya.

Sejarah Peradaban Teknologi

Dalam perjalanan sejarah, teknologi dan peradaban berkembang beriringan. Keduanya mengalami koevolusi seperti yang ditampilkan dalam tabel 2. Koevolusi itu berkembang dengan cara bertahap yang menunjukkan perubahan karakteristik teknologi yang berkaitan secara umpan balik positip dengan tujuh perubahan revolusiner peradaban menuju suatu keseimbangan baru. Dari peradaban prateknik terdapat tujuh revolusi sosial yang didorong oleh diciptakannya jenis-jenis teknologi dengan karakteristik yang baru. Kedelapan fase peradaban teknologi itu ditampilkan pada Tabel 2.

Teknologi berkembang dari awal berupa teknologi organik yaitu penggunaan anggota tubuh manusia secara langsung, diikuti oleh tujuh tahap evolusioner teknologi baru. Tahap-tahap teknologi itu memperluas organ-organ tubuh manusia dengan perpanjangan kolektif berupa barang-barang ciptaan manusia yang memperkuat kapasitas organ tersebut.

Pada mulanya, diciptakan perkakas-perkakas, pada zaman teknologi suborganik, yang memperpanjang tangan manusia sebagai suborgan yang berada di luar tubuhnya. Kemudian, perkakas-perkakas itu dihubungkan satu sama lainnya, pada zaman teknologi paraorganik, sehingga gerakannya dapat disesuaikan dengan kepentingan manusia. Ketiga tahap peradaban itu --peradaban prateknik, peradaban prototeknik dan peradaban eoteknik-- menyangkut teknologi material praindustri.

Sesudah itu, manusia menemukan sumber energi alam yang menggantikan tenaga manusia atau hewan, dalam bentuk teknologi anorganik, yaitu tiupan angin dan aliran air dalam berbagai jenis kincir. Ini adalah revolusi protoindustri. Selanjutnya, manusia menemukan cara untuk menggantikan tenaga aliran alamiah itu dalam bentuk teknologi semiorganik dengan tenaga api yang diubah menjadi tenaga uap. Inilah yang dikenal dengan nama revolusi industri pertama atau revolusi Watt.

Tabel 2
Koevolusi Peradaban Teknologi

TEKNOLOGI

PERADABAN

ORGANIK
(tangan)

PRATEKNIK
(perburuan paleolitik)

SUBORGANIK
(perkakas)

PROTOTEKNIK
(revolusi pertanian)

PARAORGANIK
(pesawat)

EOTEKNIK
(revolusi perkotaan)

EKSTRAORGANIK
(kincir)

PALEOTEKNIK

(revolusi Gutenberg)

SEMIORGANIK
(mesin uap)

ARKEOTEKNIK
(revolusi Watt)

SUPERORGANIK
(motor listrik)

NEOTEKNIK
(revolusi Faraday)

MEGAORGANIK
(media elektronik)

MEGATEKNIK
(revolusi Marconi)

METAORGANIK

(jaringan telematik)

METATEKNIK

(revolusi Von Neuman)

Akhirnya manusia menemukan cara untuk mengubah satu bentuk energi luar tubuh manusia menjadi energi luar tubuh lainnya sehingga bisa mendistribusikannya ke banyak tempat dalam bentuk teknologi superorganik. Inilah intisari revolusi Faraday yang pertama kali menciptakan generator listrik yang pada prinsipnya dapat diubah menjadi motor listrik. Revolusi Faraday adalah revolusi energi ketiga, juga dikenal sebagai revolusi industri kedua. Ketiga revolusi teknologi energi itu masing-masing melahirkan peradaban paleoteknik, peradaban arkeoteknik dan peradaban neoteknik.

Kini, kita telah mengalami dua revolusi informasi pasca industri yang tahap-tahapnya dapat kita identifikasikan dengan nama-nama pencipta teknologi yang menjadi dominan pada waktunya. Yang pertama adalah revolusi Marconi yang untuk pertama kalinya berhasil menciptakan mesin komunikasi yang menggunakan tenaga listrik dalam teknologi megaorganik. Revolusi ini diikuti pada akhirnya oleh penemuan komputer praktis pertama oleh von Neuman yang memungkinkan lahirnya teknologi metaorganik yang membentuk masyarakat informasi pascamodern sekarang ini. Kedua teknologi informasi itu melahirkan peradaban megateknik dan peradaban metateknik.

Paralelisme teknologi biologi

Dari pengamatan kita tentang sejarah peradaban teknologi tersebut, kita melihat bahwa teknologi bersama peradaban yang mengiringinya berkembang dalam sebuah pola yang jelas. Pola itu mengulangi pola perkembangan evolusioner kehidupan di muka bumi: dari yang material, melalui yang energetik, menuju yang informatik dan berakhir di dunia normatif. Hal ini kita peroleh jika melihat sebuah organisme sebagai sistem peralatan atau organ yang dapat dipandang sebagai sistem teknologi biologis.

Secara evolusioner, makhluk satu sel muncul sebagai makhluk hidup pertama membentuk sebuah teknologi material yang terbuka memanfaatkan bahan pangan yang ada di lingkungannya. Koalisi makhluk-makhluk satu sel tersebut kemudian membentuk makhluk multiseluler bernama tetumbuhan yang berhasil mengembangkan teknologi energi matahari untuk memanfaatkannya dalam metabolisme kehidupannya. Belakangan muncul makhluk multiseluler hewan yang memanfaatkan energi yang dikumpulkan tanaman itu dan mengembangkan teknologi informasi internal yang memanfaatkan sinyal-sinyal akustik dan optik dilingkungannya dalam bentuk jaringan syaraf dan organ-organ indra.

Tabel 3
Kesejajaran evolusi biologi teknologi

KATEGORI EKSISTENSIAL

EVOLUSI
BIOLOGI

TUMBUH-KEMBANG
MANUSIA

EVOLUSI
TEKNOLOGI

EVOLUSI PERADABAN

Materi

Amuba

Janin

Pertanian

Agrikultural

Energi

Tumbuhan

Bayi

Industri

Industrial

Informasi

Hewan

Anak

Informasi

Informatik

Nilai-nilai

Manusia

Dewasa

Budaya

Kultural

Bahkan kemudian, muncul sejenis organisme multiseluler yang berhasil menggenerasi sinyal-sinyal akustik sebagai teknologi komunikasi dan informasi eksternal secara efisien yaitu bernama bahasa lisan. Dengan teknologi informasi eksternal ini, maka terjadi koordinasi interorganisme. Organisme itu adalah manusia dan dan koordinasi interorganisme itu adalah peradaban. Dengan demikian peradaban itu sendiri dapat dilihat sebagai teknologi kolektif manusia untuk mempertahankan dan mengembangkan dirinya sebagai individu dan sebagai spesies. Dilain pihak dapat diibaratkan peradaban sebagai mega-organisme multi-organismik.

Tampaknya, tumbuh-kembang peradaban manusia sebagai mega-organisme ini mengikuti pola tumbuh-kembang organisme manusia sebagai individu yang mengulangi pola evolusioner biosfera secara keseluruhan. Pada mulanya manusia hidup sebagai makhluk satu sel yang terus memperbanyak diri menjadi janin multiseluler dengan teknologi penyerapan pangan didalam rahim sebagai lingkungannya. Kemudian dia lahir sebagai bayi yang mengembangkan organ luarnya sebagai teknologi penyaluran energi internalnya menjadi gerak terkoordinasi. Lalu dia tumbuh sebagai anak-anak yang belajar berbicara mengembangkan teknologi komunikasi natural dan menulis sebagai teknologi informasi kultural.

Akhirnya, manusia sebagai individu dewasa belajar mengembangkan pola-pola koordinasi kerja-sama dalam bentuk asimilasi nilai-nilai kelompok-kelompok sosial multi-organismik secara berjenjang dari keluarga, sekolah, kantor, pasar, negara dan dunia manusia beradab menyeluruh yang meliputi seluruh muka bumi. Dilihat dari sisi ini etika keluarga, peraturan sekolah, kode etik profesional, hukum dan undang-undang negara serta hukum internasional dan agama dapat dilihat sebagai bagian dari teknologi normatif kolektif yang dimiliki manusia melengkapi teknologi informatik kultural yang dikembangkan manusia sebagai sel peradaban. Dengan demikian teknologi material, teknologi energi, teknologi informasi dan teknologi nilai-nilai dikembangkan secara bertahap dalam tumbuh kembang individu manusia.

Tampaknya, jika kita melihat teknologi sebagai organ bagi peradaban manusia dipandang sebagai mega-organisme, maka sejarah teknologi yang mendominasi setiap zaman dalam tumbuh-kembang peradaban akan mengulangi pola tumbuh-kembang individu manusia maupun pola evolusioner biosfera. Revolusi-revolusi teknologi yang mencirikan lahirnya suatu zaman sebagai fase tumbuh kembang peradaban, menunjukkan pola dasar yang sama dengan pola perkembangan evolusi biosfera dan pola tumbuh-kembang manusia.

Zaman teknologi organik dan perkakas sub-organik, pesawat para-organik merupakan teknologi-teknologi material. Sedangkan teknologi kincir ekstra-organik, teknologi mesin semi-organik dan teknologi motor superorganik merupakan teknologi-teknologi energetik. Sedangkan zaman-zaman berikutnya dicirikan oleh teknologi media megaorganik dan teknologi jaringan telematika metaorganik merupakan teknologi-teknologi informatik. Semua itu menunjukkan adanya paralelisme antara teknologi secara keseluruhan dan biologi secara keseluruhaan pula.

Dinamika Teknologi

Adanya paralelisme perkembangan teknologi dan evolusi biologi ini memungkinkan kita melihat kemungkinan adanya kesejajaran antara dinamika yang mendorong dan mengarahkan kedua jenis perkembangan evolusioner tersebut. Hal itu dapat dilihat dengan jelas apa bila kita mengetahui bahwa kekuatan penggerak evolusi biologis adalah replikasi, variasi dan seleksi lingkungan. Tampaknya evolusi teknologis bergerak didorong oleh kekuatan-kekuatan serupa.

Replikasi teknologi berlangsung melalui pendidikan dan pengajaran yang pada hakekatnya adalah sebuah peniruan satu generasi pada generasi sebelumnya. Penemuan (invensi) dan pembaruan (inovasi) suatu generasi pada teknologi yang diwarisinya dari generasi sebelumnya merupakan analogi dengan variasi genetik dalam evolusi biologis yang disebabkan oleh mutasi dan rekombinasi. Adopsi dan adaptasi masyarakat pada variasi teknologi itu merupakan analogi dari seleksi lingkungan pada proses evolusi biologis. Salah satu strategi adaptasi organisme pada seleksi lingkungan adalah integrasi dan sentralisasi. Hal yang sama terjadi dalam evolusi teknologis.

Evolusi peradaban berkembang beriringan secara ketat dengan evolusi teknologi karena peradaban itu sendiri adalah teknologi normatif yang saling beradaptasi dengan teknologi materi-energi-informasi manusia yang dibentuknya. Sebagai akibatnya peradaban dan teknologi mempunyai ciri-ciri perkembangan yang sama. Ciri-ciri itu adalah (1) ekspansi atau perluasan wilayah, (2) diversifikasi atau pengane-karagaman bentuk, (3) kompleksifikasi atau peningkatan kerumitan, (4) universalisasi atau penyebaran pemakaian dan (5) unifikasi atau penyamaan dan penggabungan proses dan metoda.

Sebagai akibatnya, skala teknologi berkembang dari yang mikroskopik pada era prateknik dan prototeknik ke skala mesoskopik pada era eoteknik, yang bersumber pada revolusi perkotaan, dan era paleoteknik yang dipicu oleh revolusi Gutenberg. Ia pun berkembang dari mesoskopik menjadi makroskopik pada era arkeoteknik, yang dipicu oleh revolusi Watt dan era neoteknik, yang dipicu oleh revolusi Faraday. Akhirnya dia berkembang dari skala makroskopik menjadi megaskopik pada era megateknik, yang dipicu oleh revolusi Marconi, dan metateknik yang dipicu oleh revolusi von Neumann.

Transformasi skala teknologi itu pada gilirannya menghasilkan transformasi fungsional teknologi. Teknologi dalam skala mikroskopik merupakan perpanjangan dari organ biologis manusia. Sedangkan dalam skala mesoskopik teknologi menjadi pengantara antara manusia dan manusia lain dalam masyarakat. Selanjutnya dalam skala makroskopik teknologi berubah fungsinya dari organ bagi peradaban sebagai mega-organisme. Akhirnya pada skala megaskopik, teknologi berubah fungsinya menjadi lingkungan baru bagi peradaban yang terintegrasi dengan lingkungan hidup ekologis manusia. Sebagai akibatnya peradaban sebagai teknologi normatif yang mengendalikan manusia dan teknologi secara sekaligus harus mengalami transformasi pula.

Sebagai akibat dari transformasi skala dan fungsi teknologi itu, maka tak dapat dihindarkan berbagai dampak yang ditimbulkannya dalam peradaban manusia: positif maupun yang negatif. Dampak positif teknologi dapat dilihat dari kenyataan bagaimana teknologi telah memudahkan kehidupan manusia, mempercepat pemenuhan kebutuhan manusia, menghemat energi organik manusia dalam memenuhi kebutuhannya dan memberdayakan potensi-potensi manusia secara maksimal. Sedangkan dampak negatif teknologi tampak dari kenyataan bahwa adanya senjata pemusnah massal, adanya kerusakan lingkungan hidup, keterpecahan kehidupan bermasyarakat serta keterasingan pribadi dari alam, lingkungan dan teknologi itu sendiri.

Dengan demikian, tak dapat dihindari pula keharusan bagi negara dan masyarakat untuk mengendalikan perkembangan teknologi supaya teknologi berfungsi secara optimal dengan cara meningkatkan dampak-dampak positif dan mengurangi dampak-dampak negatif yang mungkin timbul dari perkembangan teknologi. Hal itu dapat direalisir dengan menyadari bahwa teknologi adalah sebuah lembaga yang dibentuk oleh perilaku manusia dan diarahkan oleh kesadaran manusia dan dikendalikan oleh nilai-nilai budaya manusia. Sebagai kesimpulan teknologi material harus dilengkapi oleh teknologi sosial, kultural dan mental sebagai pendorong, pengarah dan pengendali teknologi. Teknologi-teknologi non-material itulah yang harus diciptakan oleh lembaga-lembaga pemerintahan, perusahaan dan pendidikan dalam suatu sinergi yang positif, produktif dan kreatif. Mudah-mudahan begitulah yang akan terjadi di Indonesia. Insya Allah.

Kongres XVII PII, Hotel Hilton Jakarta, 20 September 2006.