Tuesday, April 20, 2010

Morfogenesis Tematik

MORFOGENESIS TEMATIK

Armahedi Mahzar (c) 2010

Tadi pagi saya memberi kuliah ke-11 Morfologi Seni dengan topik Morfogenesis Tematis. Thomas Munro memang mengklasifikasi komposisi menjadi empat: representasional, utilitarian, eksposisonal dan tematis. Setiap zaman mengunggulkan satu jenis komposisi. Masing-masing jenis komposisi mendominasi pada zaman-zaman tertentu.

Misalnya, pada zaman pra-tulis komposisi utilitarian magis yang dominan. Sedangkan pada zaman tulis, komposisi eksposisonal mitologis dan teologis yang dominan. Pada zaman cetak yang melahirkan sains modern, seni didominasi oleh komposisi representasional . Akhirnya, pada zaman media elektronik, komposisi tematik mendominasi karya-karya seni.

Morfogenesis tematik adalah pengembangan komposisi yang menekankan harmonisasi elemen-elemen dalam karya seni yang diciptakan oleh seniman. Harmonisasi itu diciptakan seniman secara bertahap: dari keseluruhan menuju bagian-bagian elementer.

Proses itu adalah divisi, adisi dan variasi keseluruhan yang diikuti pembentukan komponen melalui pengelompokan, penderetan dan penyusunan elemen-elemen dan diakhiri oleh repetisi dan diferensiasi elemen-elemen.

Estetika Alam Semesta

Pada akhir kuliah, saya menjelaskan bahwa bukan hanya karya-karya seniman yang mempunyai nilai estetik. Benda-benda di alam ternyata mempunyai nilai estetik seperti misalnya kristal-kristal zat padat memiliki simetri yang identik dengan simetri rotasional dan translasional yang periodik, seperti yang dijumpai pada dinding-dinding istana Alhambra di Spanyol. Hal itu yang memotivasi saya untuk meneliti simetri partikel elementer.

Ternyata partikel fundamental adalah 3 sekawan atau triplet quark yang simetrinya adalah SU(3) sehingga dapat direpresentasikan sebagai sebuah segitiga. Yang mengherankan, ketika saya membaca hasil penelitian antropolog strukturalis Claude Levi-Strauss , saya menemukan bahwa struktur pemikiran primitif dalam mitologi suku-suku Indian dalam bentuk segitiga-segitiga yang terhubung satu sama lainnya. Lebih mengherankan lagi, ketika saya memeriksa struktur pemikiran Barat, segitiga-segitiga juga yang bermunculan.

Misalnya, Plato melihat ideal Kebenaran, Keindahan dan Kebaikan di atas puncak idealitas yang menggerakkan seluruh alam semesta. Segitiga idealitas ini sejajar dengan segitiga ilmu, seni dan teknik yang merupakan tiga cabang utama peradaban manusia. Kedua segitiga ini sejajar pula dengan segitiga filosofis logika, estetika dan etika yang merupakan ilmu terdasar bagi sains, seni dan teknologi yang diajarkan di ITB .

Lahirnya Wawasan Integralisme

Banyak lagi segitiga lain yang saya temukan yang kemudian ternyata membentuk sebuah superprisma yang jika diteliti ternyata mempunyai substruktur matriks 2 x 4, di mana 2 mencerminkan polaritas "individu-masyarakat" dan 4 mencerminkan hirarki kategori "materi-energi-informasi-nilai".

Sebagai seorang muslim, tak sulit bagi saya untuk menemukan bahwa di atas nilai ada kategori "sumber" dan di luar masyarakat ada jenjang alam dunia, alam akhirat dan Tuhan luar-alam.

Dengan demikian, ditemukanlah struktur dua hirarki, eksternalitas dan internalitas, yang saling tegak lurus satu sama lainnya dalam bentuk matriks 5x5. Juga tidak susah untuk mengambil kesimpulan bahwa, yang saya temukan adalah struktur kesatupaduan realitas yang saya sebut integralitas. Akhirnya, saya tulislah penemuan saya itu dalam sebuah buku: Integralisme, sebuah Rekonstruksi Filsafat Islam.

Nah, ketika saya diminta mengajar Filsafat Ilmu di ITB, saya mengajukan sebuah struktur prinsip-teori-eksperimen-instrumentasi bagi sains yang merupakan kebalikan dari benda-gejala-hukum-prinsip alam sebagai obyek sains. Hal ini adalah konsekuensi dari sains sebagai aktivitas pembacaan alam semesta sebagai produk proses MahaCipta Sang Maha Pencipta.

Integralisme di Balik Morfologi Seni

Yang mengherankan saya, kenyataan bahwa ketika saya membaca buku Thomas Munro, sebagai rujukan utama kuliah Morfologi Seni, ternyata juga ada hirarki motivasi-tema-disain-proses pada proses kreasi seniman sang kreator yang terbalik dengan hirarki sensasi-persepsi-apersepsi-proyeksi dari apresiasi sang apresiator. Semua itu, bagi saya, adalah bayangan dan kebalikan dari hirarki nilai-informasi-energi-materi yang berasal dari dan kembali ke sumber.

Jadi, ujung-ujungnya, di akhir kuliah saya mengajukan visi integralisme: peradaban adalah bagian daripada kesepaduan realitas atau integralitas wujud. Mudah-mudahan ada di antara mereka yang bisa tercerahkan membaca kesepaduan wujud dibalik wawasan integralisme itu. Insya Allah.

Wednesday, April 14, 2010

Morfogenesis Eksposisional

MORFOGENESIS EKSPOSISIONAL

Armahedi Mahzar (c) 2010

Senin pagi kemarin, saya mengajar Morfologi Seni, pertemuan ke 10, dengan topik morfogenesis eksposisional. Komposisi eksposisional adalah karya seni yang fungsinya adalah menjelaskan sesuatu menurut suatu kerangka pemikiran tertentu.

Kerangka pemikiran yang dijelaskan berupa mitos ketika manusia masih menggunakan lisan sebagai media komunikasi dan otak sendiri sebagai media penyimpanan informasi. Karena itu pengetahuan mitologis pun dikemas dalam lagu yang berirama dan bersajak sehingga mudah diingat.

Berikutnya, kerangka pemikiran itu menjadi teologis ketika alfabet fonetik ditemukan. Maka seni eksposisional pun berubah dari yang verbal ke yang visual. Namun, kali ini, eksposisinya bukan lagi cerita tentang dewa-dewa mitologis, melainkan cerita tentang nabi-nabi dan tokoh-tokoh suci mereka seperti yang terpampang pada dinding-dinding gereja.

Memang, belakangan, teologi digantikan oleh sains ketika terjadinya revolusi Gutenberg . Oleh karena itu para pelukis pun menjadi naturalistik meninggalkan komposisi eksposisional dan menganut komposisi representasional seperti yang dibahas minggu lalu. Namun, bagaimana pun juga, seni representasional di bidang visual telah bertahan ribuan tahun.

Empat Cara Membaca seni Eksposisional.

Oleh karena itu kita harus bisa memaknai seni eksposisional secara benar. Thomas Munro mengatakan bahwa untuk menafsirkan sebuah karya seni eksposisional, kita harus menggunakan empat lapis pembacaan makna atau interpretasi: literal, alegoris, tropologis dan anagogis. Keempat lapis interpretasi itu sebenarnya ditemukan oleh Thomas Aquinas di abad pertengahan untuk menafsirkan kitab suci kaum nasrani yaitu Injil.

Pembacaan literal melihat teks itu sebagai pendeskripsi kejadian-kejadian historis yang nyata. Pembacaan alegoris melihat kejadian-kejadian historis itu terkait secara maknawi dengan kejadian-kejadian historis lainnya.

Pembacaan tropologis melihat kejadian-kejadian historis itu sebagai refleksi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Pembacaan anagogis melihat kejadian-kejadian historis itu sebagai sarana untuk mendekatkan diri pada sesuatu yang adikodrati.

Belakangan, setelah revolusi Gutenberg melalui media cetaknya yang melahirkan Renaissance itu, keempat lapis metoda tafsir itu pun juga digunakan untuk membaca semua teks: tak terbatas pada kitab suci.

Akhirnya, setelah revolusi Marconi yang melalui media elektronika analog melahirkan modernisme seni, maka semua karya seni, bukan karya sastra saja, diibaratkan sebagai "teks" yang harus dibaca dengan keempat lapis penafsiran itu.

Membaca Alam sebagai Teks Eksposisional

Di akhir kuliah, seorang mahasiswa menginginkan penjelasan yang lebih rinci tentang empat penafsiran itu. Maka karena saya seorang fisikawan, maka saya mencoba menerangkannya melalui pengalaman pribadi saya tentang keindahan terdalam alam semesta.

Seorang ahli fisika tentunya terkejut ketika ke 17 jenis simetri formasi 2-dimensi yang ditemui di kristal-kristal zat padat, ditemukan juga pada dinding-dinding istana Alhambra di Spanyol yang dibangun oleh arsitek dan seniman Muslim di pertengahan abad XIV masehi.

Tentu saja, hal ini mengejutkan mereka. Soalnya, pada zaman itu para seniman muslim belum memiliki mikroskop elektron, yang baru diciptakan pada abad ke-20, untuk melihat ke 17 buah jenis simetri dalam kristal. Pengetahuan ini, buat saya pribadi, merupakan suatu pencerahan.

Saya tercerahkan karena serta merta saya melihat Sang Maha Pencipta menciptakan alam pada tataran mikroskopik -molekuler dan atomik- secara estetik. Maka, saya pun tergoda untuk mempelajari partikel elementer sebagai bagian terkecil semua atom.

Inti atom adalah nukleus yang terdiri dari dua jenis partikel elementer, proton dan netron, yang dikira merupakan bagian terkecil dari atom, setingkat dengan elektron yang menegelilingi inti.

Namun, perkiraan itu menjadi buyar setelah diketahui, secara empirik, bahwa di samping proton dan netron terdapat lebih dari dua ratus partikel elementer yang lebih berat dari nukleon dan umurnya lebih pendek dari netron. Inilah deskripsi empiris sebagai interpretasi literal pembacaan alam semesta.

Pembacaan Spiritual Alam semesta

Deskripsi empiris ini membuat fisikawan ingin mencari keteraturan di balik keanekaragaman itu. Soalnya, Jika keseratus lebih jenis atom unsur yang ada dapat dikelompokkan menjadi tujuh kolom, dalam tabel periodik Mendeleyev, maka orang pun berharap akan adanya pengelompokan yang serupa pada partikel-partikel elementer.

Tampaknya, memang ada. Murray Gell-mann menemukan bahwa kedua nukleon yang ada merupakan bagian dari oktet baryon . Begitu juga meson-pi yang mengikat kedua jenis nukleon dalam inti juga membentuk pengelompokan oktet yang serupa.

Indahnya, kedelapan anggota oktet itu mempunyai simetri 6-putaran seperti halnya segi-enam yang beraturan. Penemuan analogi antara partikel elementer dan atom unsuriah ini dapat dipandang sebagai sebagai interpretasi alegoris pembacaan alam semesta

Begitu pula, partikel-partikel elementer lainnya juga tersusun, kalau tidak dalam formasi simetri 6-putaran , dalam formasi simetri 3-putaran seperti segitiga sama sisi. Keteraturan pengelompokan ini mencurigakan bahwa partikel-partikel elementer itu sebenarnya bukanlah atomos, atau bagian terkecil yang diramalkan Demokritos .

Soalnya, keteraturan atom akhirnya menunjukkan bahwa atom itu bukan atomos yang diperkirakan orang semula. Begitulah akhirnya ditemukan atomos yang sebenarnya yaitu 3-sekawan quark yang tersusun menjadi segi-tiga sama-sisi yang simetris 3-putaran. Pengembangan teori quark ini dapat dipandang sebagai interpretasi tropologis pembacaan alam semesta.

Sebenarnya, teori quark itu dibentuk berdasarkan pandangan bahwa semua teori fundamental fisika harus memenuhi prinsip konsistensi, prinsip simetri dan prinsip optimasi. Bagi saya hal itu menunjukkan bahwa Sang Maha Pencipta alam semesta memenuhi prinsip logik atau kebenaran, prinsip estetik atau keindahan, dan prinsip etik atau Kebaikan. Hal ini tidak mengherankan, karena Dia itu memang Maha Benar, Maha Indah dan Maha Baik.

Yang mengherankan adalah kenyataan bahwa penciptaan alam itu mengikuti sebuah prinsip yang aneh yaitu Prinsip Antropik. Prinsip Antropik itu menunjukkan bahwa semua nilai kekuatan empat gaya alam fundamental (gravitasi, elektromagnet, interaksi nuklir lemah dan interaksi nuklir kuat) adalah sedemikian rupa sehingga jika mereka lebih besar atau lebih kecil dari nilai yang sekarang, maka kehidupan manusia di muka bumi tak kan terjadi.

Hal ini, bagi saya, menunjukkan bahwa Dia merancang dan menciptakan secara teliti, bagaikan seorang arsitek, alam semesta ini sebagai tahap awal yang merupakan keniscayaan logis bagi proses penciptaan manusia pada akhirnya akan menyaksikan, melalui mata pikirannya, KeMahaBenaranNya, KeMahaIndahanNya dan KeMahaBaikanNya.

Semoga pengetahuan mata pikir ini menuntun kita ke pengetahuan mata hati akan KeMahaEsaanNya. Tampaknya renungan terdasar teori bagi interaksi partikel fundamental ini akhirnya dapat dipandang sebagai sebagai interpretasi anagogis pembacaan alam semesta.

Kesimpulan

Jika kita melihat alam secara estetik, maka tak bisa dihindarkan pandangan bahwa alam itu tidak ada dengan sendirinya, melainkan ada Maha Penciptanya. Dalam sudut pandang ini, para ilmuwan tak lain dari apresiator alam semesta sebagai Mahakarya Ilahi dan menafsirkannya seperti seorang apresiator membaca karya-karya seni.

Apresiator, menurut Thomas Munro menangkap esensi karya seni secara bertahap: sensasi, persepsi, apersepsi dan proyeksi. Sensasi menjadi persepsi karena adanya proses interpretasi literal. Bagi saya, persepsi menjadi apersepsi melalui proses penafsiran alegoris, dan apersepsi menjadi proyeksi melalui proses penafsiran tropologis. Akhirnya, dalam pandangan saya, proyeksi menjadi iluminasi melalui proses penafsiran anagogis.

Friday, April 09, 2010

Morfogenesis Representasional

Morfogenesis Representasional

Armahedi Mahzar (c) 2010

Senin lalu saya memberi kuliah dengan topik morfogenesis representasional di S2 senirupa ITB. Yang saya sebut morfogenesis adalah proses pengembangan komposisi oleh seniman akan karya seninya. Minggu lalu saya menjelaskan bahwa, menurut Thomas Munro , ada empat jenis pengembangan komposisi: utilitarian, representasional, eksposisional dan tematik. Saya katakan bahwa masing-masingnya mempunyai ciri penghiasan, peniruan, penjelasan dan penataan.

Pengembangan komposisi representasional menjadi menonjol setelah renaissance yang didorong oleh penemuan cetak tekan Gutenberg . Revolusi Gutenberg melahirkan obyektivisme sains yang berakhir dengan revolusi sains Isaac Newton . Pelukis-pelukis renaissance tidak lagi bekerja untuk menceritakan atau menjelaskan sesuatu (morfogenesis eksposisional) seperti pada zaman pertengahan Eropa dan zaman kuno di peradaban Romawi , Yunani dan Mesir kuno. Perspektivisme , realisme dan naturalisme pun menjadi gaya yang dominan dalam seni pasca-renaissance.

Analisis morfogenesis representasional menyangkut (1) obyek apa yang ditiru, (2) mengapa terjadi peniruan, (3) bagaimana perspektif peniruannya, dan (4) apa tahap-tahap peniruan itu dan (5) bagaimana kualitas tiruannya. Kelima aspek itu jalin menjalin di dalam diri seniman, proses kreasi dan produk kreatif seniman, baik dalam bidang seni rupa, maupun seni sastra dan seni musik serta seni pertunjukan.

Setelah memperinci kelima faktor morfogenesis representasional itu, maka pada akhir kuliah, saya mengajukan pandangan pribadi bahwa semua seniman adalah peniru. Sebenarnya, bukan hanya semua seniman peniru, bahkan semua manusia adalah peniru. Kebudayaan adalah sarana peniruan dari gagasan yang ingin ditiru. Ini adalah teori biolog Richard Dawkins dalam bukunya Selfish Gene.

Karya-karya manusia, menurut Dawkins, baik teknis maupun estetis, tak lain dari pada materialisasi gagasan-gagasan yang akan ditiru. Dalam perspektif ini produksi adalah reproduksi. Maka, mungkin tidak ada salahnya jika dikatakan bahwa kebudayaan manusia itu sebenarnya adalah perpanjangan saja dari kehidupan biologis. Maka sejarah peradaban manusia adalah bentuk pengayaan evolusi kehidupan biologis.

Evolusi kehidupan itu berlangsung melalui reproduksi dan dalam setiap proses reproduksi maka gen itu melakukan mutasi dan rekombinasi. Lingkungan alam akan menyeleksi gen mana yang bisa bertahan. Nah, Richard Dawkins berpendapat bahwa mem budaya, analog dari gen biologis, dalam otak manusia juga mmereproduksi dirinya melalui modifikasi, ibarat mutasi, dan sintesa, ibarat rekombinasi. Lingkungan sosial manusia lah yang menyeleksi mem mana yang bisa bertahan sebagai bagian dari kebudayaannya.

Dalam sudut pandang Dawkins yang ultra-darwinis ini, unit elementer evolusi biologis adalah gen sedangkan organisme hanyalah senjata gen untuk memperbanyak dirinya. Analog dengan ini, unit elementer perkembangan peradaban adalah mem dan otak manusia dalam budaya adalah ibarat DNA dalam biologi. Selanjutnya institusi-institusi sosial adalah senjata mem untuk memperbanyak dirinya. Evolusi budaya itu paralel dengan dengan evolusi biologis. Hanya saja, evolusi budaya berjalan dengan kecepatan yang jauh lebih tingi dibanding kecepatan evolusioner.

Pandangan Richard Dawkins ini didukung oleh teori Stuart Kauffman , tentang jaringan acak boolean swa-organisasi, yang menganggap sel-sel biologis sebagai pabrik otomatis yang dilengkapi oleh jaringan komputer yang terdiri dari DNA-DNA. Dilihat dari sudut pandang ini, maka institusi sosial budaya adalah jaringan komputer yang terdiri dari otak-otak manusia yang menata dirinya sendiri pula. Peradaban manusia adalah jaringan dari institusi sosial budaya yang membentuk apa yang disebut oleh Pierre de Chardin sebagai noosfer yang merupakan lapisan baru di atas lapisan biosfer yang menyelimuti bumi.

Pandangan Dawkins dan Kauffman tentang karakteristik komputer sistem-sistem biologis sosial ini tentunya agak aneh bagi kaum modernis yang melihat materi sebagai mesin-mesin energi. Namun setelah ditemukannya komputer sebagai mesin informasi maka wawasan bahwa pola-pola aliran energi biologis dan aktivitas sosiologis sebagai komputer merupakan suatu kewajaran saja. Soalnya, di zaman alfabetis pra-cetak, alam dipandang sebagai suatu organisme adalah suatu kewajaran karena kompleksitas otonomi organisme biologis. Di era pasca cetak-tekan Gutenberg, alam pun menjadi wajar saja jika dipandang sebagai mesin.

Sekarang, dalam era informasi yang dibawa oleh penemuan komputer , memang ada kecenderungan untuk memandang alam secara keseluruhan sebagai sebuah komputer raksasa. Misalnya hal itu dipostulatkan oleh Stephen Wolfram , fisikawan yang sukses menciptakan dan memasarkan perangkat lunak Mathematica yang berhasil melakukan operasi-operasi matematika tinggi seperti diferensiasi dan integrasi dalam kalkulus. Fisikawan lainnya seperti Seth Lloyd bahkan menganggap bahwa alam semesta sebagai sebuah komputer kuantum raksasa. Paola Zizzi adalah astronom Itali yang menganggap bahwa sejak dari awal peciptaan alam semesta adalah sebuah jaringan komputer superkecil.

Dengan transformasi paradigmatik dari pan-mesinisme materialistik ke pan-komputerisme informatik ini maka peranan seniman sebagai pembangun-pembangun bentuk menjadi lebih sentral. Para disainer industrial membuat bentuk-bentuk mesin-mesin informasi semakin cantik. Para seniman pertunjukan menghiasi media komunikasi informasi dengan komposisi-komposisi musikal dan sinematografis yang menghibur. Para seniman perupa, pelukis dan pematung membangun produk-produk yang menghiasi bangunan-bangunan arsitektur yang semakin meraksasa. Para senimanlah yang kini menghiasi lingkungan teknis dengan bentuk-bentuk estetis yang memanusiakan kembali lingkungan serba mesin itu. Itulah tugas mulia para seniman.

Saturday, April 03, 2010

Asal-usul Sains Modern

ASAL-USUL SAINS MODERN

Armahedi Mahzar © 2010

Sabtu lalu saya memberi kuliah ketiga Filsafat Ilmu di ICAS Jakarta. Jika dalam kuliah kedua saya menjelaskan sains seperti dilihat oleh para ilmuwan, maka sekarang saya melihat bagaimana sains modern dilihat oleh non-ilmuwan. Teknolog melihat sains sebagai alat untuk mengendalikan alam, sedangkan guru-guru melihat sains sebagai cara untuk mendeskripsikan alam. Filosof melihat sains sebagai alat untuk menjelaskan fenomena alam dan para budayawan melihat sains sebagai salah satu usaha manusia untuk menafsirkan lingkungannya.

Sejarawan melihat sains dalam konteks perkembangan peradaban manusia. Dia lahir sebagai pengetahuan murni lepas dari tujuan aplikasi yang dilakukan oleh para teknolog. Dia bermula dengan ketakjuban manusia memperhatikan gerak benda-benda di langit: matahari, bulan, planet-planet (yang cahayanya tetap) dan bintang-bintang (yang berkelap-kelip). Nyatanya bintang-bintang bergerak ketimur dengan sangat lambat berlawanan dengan arah gerak matahari dari timur ke barat yang bergerak dengan cepat. Yang mengherankan planet-planet bergerak dengan lintasannya sendiri-sendiri dengan kecepatan berbeda-beda.

Bintang-bintang di langit dikelompokkan oleh para pendeta Babilonia menjadi 12 kelompok bintang yang disebut zodiak.

Konfigurasi planet di langit pada saat peperangan diduga berkaitan hasil akhir peperangan. Masing-masing planet, bulan dan matahari adalah representasi dewa-dewa mereka. Hanya lima planet yang bisa nampak dengan mata telanjang yaitu Jupiter, Venus, Saturnus, Merkurius and Mars yang masing-masingnya bersesuaian dengan dewa-dewi mereka Marduk, Ishtar, Ninurta (Ninib), Nabu (Nebo) dan Nergal. Sedangkan bulan dan matahari bersesuaian dengan dewa Sin dan Shamash. Bagi mereka bintang-bintang memberi makna bagi hidup mereka.

Alfabet Fonetik:
Memahat Fisika Tradisional

Ketika alfabet fonetik ditemukan di Yunani, manusia bisa menuliskan pikirannya sehinggga memungkinkan mereka berpikir tentang berpikir alias berpikir logis yang sistematis menggantikan berpikir mitologis yang asosiatif. Benda-benda langit tidak lagi diasosiasikan dengan dewa-dewa, tetapi dengan jenis-jenis elemen materi seperti misalnya api, air dan udara.

Plato adalah orang pertama yang mempertanyakan mengenai keteraturan lintasan planet-planet (maksudnya lima planet beserta bulan dan matahari). Murid Plato Eudoxus menjawab pertanyaan itu dengan menyatakan bahwa ada dua bola berpusat bumi.

Murid Plato yang lain, Aristoteles . Aristoteles adalah orang pertama yang menemukan ilmu tentang berpikir yang disebut logika. Dengan logika dia mengklasifikasi gerakan menjadi dua: gerak benda-benda langit dan gerak benda-benda di bumi. Gerak benda-benda bumi yang linier dan gerak benda-benda langit yang lingkaran.

Bola bawah bulan dibaginya menjadi bola-bola konsentris: bola api, bola udara, bola air dan bola tanah. Sedangkan bola di luar bola bawah bulan dibaginya menjadi bola-bolat eter yang menggerakkan planet-planet yang dikandungnya. Dalam pandangan Aristoteles matahari dan bulan itu adalah bagian dari tujuh planet yang yang mengelilingi bumi dengan lintasan lingkaran sempurna.

Namun pandangan Aristoteles ini sering mendapat kritik para astronom yang hidup setelahnya. Ternyata menurut pengamatan mereka gerak planet itu tidaklah sempurna. Kecuali bulan dan matahari, semua planet itu bergerak maju-mundur: maju banyak, mundur sedikit dan maju lagi. Begitu berulang-ulang. Untuk menerangkan gejala itu mereka mengajukan teori episiklus dimana masing-masing planet itu bergerak melingkar, dalam lingkaran kecil yang disebut episiklus, mengelilingi sebuah pusat yang pada gilirannya bergerak mengelilingi bumi dalam lingkaran dengan radius yang lebih besar.

Gambaran Aristoteles ini disempurnakan oleh Claudius Ptolemaeus (90 – 168) , seorang astronom, astrolog dan matematikawan Romawi keturunan Yunani dan Mesir, menulis beberapa risalah ilmiah. Di antaranya yang paling terkenal adalah yang diterjemahkan ke bahasa Arab yaitu Almagest.

Dalam buku itu dia memperbaiki model episiklis dengan mengatakan bahwa setiap planet bukan berputar mengelingi bumi tetapi titik yang bereada dekat bumi. Hal ini dilakukannya untuk menerangkan ketidak seragaman gerak planet. Gambaran Ptolemeus ini

sangat kompleks tetapi sangat akurat. Karena itu bisa bertahan lebih dari seribu tahun.

Cetak Gutenberg:
Membongkar Wawasan Geosentrisme

Penemuan cetak tekan huruf Gutenberg membawa revolusi budaya Renaisssance di Eropa. Bersamaan dengan itu berbagai buku dalam jumlah yang besar diterbitkan dan dijual pada umum. Dengan demikian monopoli gereja akan buku-buku didobrak dan penelitian ilmiah pun merebak dengan pesat. Misalnya, Nicolas Copernicus (1473 –1543) mengajukan teorinya yang sangat revolusioner dalam bukunya

. Berbeda dengan teori Ptolemeus yang geosentris, teori kosmologi Copernicus bersifat heliosentris . Keunggulan teori heliosentris adalah adalah kenyataan bahwa gerak-gerak planet menjadi sederhana: mengikuti lintasan lingkaran, seperti yang diduga Aristoteles, namun tidak mengelilingi bumi seperti yang dikira oleh Aristoteles.

Yang mengherankan adalah kesamaan gambar-gambar dalam buku Copernicus itu dengan gambar-yang ada dalam buku-buku astronomi bahasa Arab seperti misalnya Nasir al-Din al-Tusi seperti pada gambar dan Mu’ayyad al-Din al-‘Urdi (d. 1266)

Gambaran Copernicus itu revolusioner, namun Tycho Brahe (1546-1601) menunjukkan beberapa kelemahan gambaran tersebut lalu mengajukan sebuah gambaran alternatif yang geo-heliosentris di mana matahari dan bulan mengelilingi bumi dan planet-planet lain mengelilingi matahari seperti pada gambar berikut

Johannes Kepler (1571 –1630) mengamati bahwa lintasan planet Mars mengelilingi matahari bukanlah berbentuk lingkaran seperti yang dinyatakan Copernicus, melainkan berbentuk ellips di mana matahari berada di titik fokus ellips tersebut . Kemudian dia menemukan bahwa semua planet mengelilingi matahari dalam orbit berbentuk ellips. Dia menemukan tiga rumus lintasan planet yang kemudian disebut sebagai hukum-hukum Kepler untuk membuktikan kebenaran teorinya. Hukum-hukum itu sangat sesuai dengan data-data astronomi yang ada.

Mengenai gerak di bumi, Niccolò Fontana Tartaglia (1499 - 1557) seorang matematikawan dan rekayasawan di republik Venisia menemukan bahwa gerak peluru meriam mengikuti sebuah garis lengkung bukan sebuah gerak patah seperti yang diduga Aristoteles.

Murid Tartaglia, Galileo Galilei (1564 – 1642) menemukan bahwa lengkungan gerak peluru yang ditemukan gurunya adalah sebuah parabola. Galileo juga merupakan pengguna teleskop dual lensa pertama yang menemukan bahwa Bima Sakti adalah kumpulan bintang-bintang.

Isaac Newton:
Bidan Lahirnya Sains Modern

Isaac Newton (1643 – 1712) adalah seorang ilmuwan Inggris yang menemukan mekanika sebagai model pertama sains modern yang berhasil.

Menurut kisahnya, Isaac Newton melihat jatuhnya apel dikebunnya, mendapat inspirasi bahwa gerak jatuh apel itu sama dengan gerak bulan beredar mengelilingi bumi atau planet-planet mengelilingi bumi. Ia pun mengajukan teori gravitasi universal yang bekerja antara dua benda bermasa berbanding terbalik dengan kwadrat jarak antara keduanya dan perkalian kedua massa tersebut. Teori itu diajukannya dalam sebuah buku berjudul Philosophiae Naturalis Principia Mathematica

. Dalam buku itu Newton menjadikan hipotesa gerak natural Galileo menjadi satu aksioma dari teorinyanya tentang gerak. Dari aksioma ini dan dua aksioma gerak lainnya dia berhasil menurunkan gerak jatuh bebas yang linier, gerak peluru Galileo yang parabolik dan gerak eliptik Kepler planet-planet. Bersamaan dengan diterimanya mekanika Newton sebagai sebuah pengetahuan yang fundamental tentang alam yang berhasil menerangkan hal-hal kompleks tentang gerak dengan model sederhana, pandangan manusia tentang alam mengalami perubahan fundamental. Perubahan itu terutama mengenai pandangan tentang alam dan pengetahuan. Pandangan Aristoteles yang melihat alam sebagai organisme digantikan oleh pandangan Newton tentang alam sebagai mesin.

Pandangan Aristoteles yang melihat alam yang penuh dan sinambung, disebut plenum, berupa kesatuan materi-bentuk, digantikan oleh pandangan Newton sebagai alam adalah kumpulan banyak materi-materi yang bergerak dalam sebuah ruang kosong yang sinambung disebut kontinuum ruang. Pandangan Aristoteles mengenai alam yang berpusat di bumi dalam ruang yang terbatas dan waktu yang siklis berulang digantikan oleh pandangan tentang alam yang berpusat di matahari dalam ruang tak terbatas dan waktu linier tak berawal, tak berakhir. Itulah transformasi revolusioner tentang struktur jagatraya.

Yang lebih fundamental lagi adalah pandangan Aristoteles tentang gerak, yang membeda-bedakan benda-benda di langit dengan benda-benda di bumi, digantikan oleh pandangan Newton yang menyamakan semua gerak di mana pun dia berada. Jika Aristoteles melihat semua gerak sebagai penyebabnya dan keadaan natural benda-benda adalah diam, Newton melihat keadaan natural benda adalah gerak lurus dengan kecepatan tetap dan gaya luar menyebabkan gerak menjadi dipercepat dan melengkung. Jika Aristoteles mengenal empat jenis penyebab -material, efisien, formal dan final-, Newton hanya melihat satu jenis penyebab yaitu penyebab efisien yang berasal dari benda-benda itu sendiri.

Dampak Revolusi Newton:
Mekanisme di Mana-mana

Pandangan mekanistik tentang alam material ini terus berkembang me luas ke pandangan tentang alam kehidupan, alam kemasyarakatan dan alam kejiwaan. Misalnya, Charles Darwin (1809 – 1882) berbicara mengenai mekanisme evolusi biologis. Adam Smith (1723 – 1790) berbicara tentang mekanisme pasar bebas dan Sigmund Freud (1856 - 1939) berbicara mengenai mekanisme pertahanan psikhik dalam psikoanalisis.

Pandangan mekanistik ini pula yang menyebabkan pula separasi sains dari agama yang disebut sekularisasi. Sekularisasi ini pun merambah ke mana-mana termasuk bidang politik, ekonomi dan budaya. Tuhan pun diganti oleh mekanisme pemerintahan, mekanisme pasar dan mekanisme aksi-reaksi sosial.

Ujung-ujungnya, terjadi perlawanan kaum seniman dan humaniora. Misalnya, tumbuh aliran romantisisme pada abad XVIII dan XIX di kalangan seniman. Di abad XX, lahir filsafat vitalisme dan eksistensialisme di kalangan filosof melawan dehumanisasi mekanistik wawasan tentang manusia. Pada abad yang sama, lahir pula aliran modernisme yang subyektif di kalangan seniman di abad XX.