Showing posts with label filsafat. Show all posts
Showing posts with label filsafat. Show all posts

Friday, October 11, 2013

Teknosofi Integralisme

Menggali Teknosofi dari Integralisme


Armahedi Mahzar (c) 2013

Ada tiga orang pembicara dalam Tribute Lecture for Armahedi Mahzar yang saya hadiri berbicara tentang integralisme dan teknologi, sains dan psikologi. Saya mempunyai kesan bahwa buku Revolusi Integralisme telah gagal dalam menyampaikan maksudnya. Pembicara pertama Deden Himawan hanya membicarakan teknologi sebagai komponen dari prisma dalam buku Integralisme yang pertama. Pembicara kedua, Agus Purwanto   yang membicarakan sains, hanya mengomentari dua bab pertama buku Revolusi Integralisme . Pembicara ketiga, Adriano Rusli, yang membicarakan psikologi, hanya membaca buku integralisme yang pertama dan heran ketika mengetahui bahwa di dalamnya ada istilah teknosofi.

Dengan sendirinya, mereka bertiga tidak menyadari bahwa buku Revolusi Integralisme pada dasarnya adalah sebuah teknosofi Islami di mana teknologi dalah bagian dari amal yang menerapkan sains sebagai ilmu demi kemanfaatan bagi semua manusia. Oleh karena itu amal ilmiah itu haruslah dijalankan dengan kearifan imaniah, karena iman, irfan, ilmu dan amal adalah kesatuan integral bersama-sama dengan alat(produk teknologi)nya yang merupakan bagian alam yang dimuliakan manusia menjadi sarana untuk pengabdian (ta'abbud) dan terima kasih (tasyakkur) pada Yang Maha Pencipta.

Iman-irfan-ilmu-amal-alat adalah konsep Islam tentang teknologi yang dalam bahasa integralisme itu adalah kesatupaduan atau integralitas teknik-teknosofi-teknologi-teknostruktur-teknosfera dalam terminologi sekuler. Integralitas teknik atau teknosistem itu mempunyai tiga fungsi dalam kehidupan manusia. Sebagai ekstensi atau perpanjangan organ manusia, sebagai medium sosial atau organ peradaban dan sebagai lingkungan material  bagian dari ekosistem seutuhnya. Ketiga fungsi, yang saya peroleh dari Marshall Mcluhan , itulah yang harus diintegrasikan kedalam kewajiban manusia sebagai abdi sekaligus khalifah Allah di muka bumi.

Revitalisasi Ilmu-ilmu Agama


Karena teknosistem terus berkembang melalui multilektika dengan manusia dan alam, maka ketiga fungsi itu semakin lama semakin lebih kompleks. Sebagai konsekuensinya hubungan antara manusia, masyarakat dan lingkungan pun semakin kompleks. Sebagai akibatnya fiqh dan tasawuf harus semakin diperluas wilayahnya dan ditingkatkan metodologinya, bahkan ilmu tauhid, sebagai pemahaman rasional Aqidah, juga harus diperluas juga. Perumusan Tauhid wahdatiyah yang saya sampaikan pada akhir buku ketiga itu adalah hasil ijtihad saya untuk merumuskan Tauhid secara integralistik berdasarkan kelima nama Allah pada surat Pembuka Quran.

Tasauf juga harus diperluas dengan mengembangkan cara-cara meditasi untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Pencipta dengan mungkin mengambil metoda-metoda mistisme berbagai agama lain dan menjadikan kerja-kerja budaya sehari-hari sebagai upaya taqarrub dengan meniatkannya sebagai ibadah yang dilakukan dengan ikhlas dan menerima karya-karya budaya dengan ridha dan menjadikannya sarana untuk mengabdi padaNya melalui pengabdian pada sesama. Dengan demikian seluruh kebudayaan kini merupakan Thariqah manusia untuk mendekatkan manusia pada Yang Maha Penciptanya.

Fiqh sebagai ilmu implementasi Syari'ah juga harus diperluas dengan juga mengatur hubungan manusia bukan pada dirinya sendiri dan sesama manusia, di samping hubungan manusia dengan Yang Maha Penciptanya, tetapi juga dengan sesama makhluk hidup dan dengan teknologi ciptaan manusia yang telah berevolusi dari fungsinya sebagai perpanjangan organ menjadi alam buatan bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan hidup yang alamiah. Oleh karena itu para fuqaha harus terus berijtihad menghasilkan kaidah-kaidah baru bagi kondisi-kondisi baru yang dibawa oleh perkembangan teknologi.

Teknologi sebagai Nafs Peradaban


Teknosistem sebagai organ peradaban mempunyai logika perkembangannya sendiri. Logika teknosistem ini dapat diibaratkan sebagai nafs peradaban. Teknologi sebagai nafs atau naluri peradaban mempunyai hasratnya sendiri. Menurut Kevin Kelly http://www.sparkminute.com/wp-content/uploads/2010/08/KevinKelly_VidImage1.jpg , perkembangan teknologi cenderung berkembang seperti evolusi biologi, tetapi dengan percepatan yang sangat lebih cepat. Bahkan waktu penggandaan tetap untuk setiap jenis teknologi berbeda-beda, dan semakin lama semakin pendek menurut hukum Kurzweil yang meramalkan singularitas teknologi pada masa depan yang dekat ini, di mana kecerdasan buatan teknologi menjadi lebih tinggi dari kecerdasan manusia dan meningkat dengan percepatan yang konstan.

Nah, dengan nafsu perluasan dan penjalinan teknologi yang semakin padu itu, sudah sewajarnya lah kita sebagai manusia meningkatkan spiritualitas kecerdasan dan kebersamaan sehingga berfungsi sebagai kecerdasan kolektif spiritual manusia yang akan menendalikan nafs peradaban itu seperti akal manusia menegendalikan nafs diri mereka. Proses yang disebut terakhir dikenal sebagai dikenal sebagai proses tazkiyatul nafsi yang menjadi intisari Thariqah sebagai proses pendekatan diri manusia pada Yang Maha penciptanya.

Itulah sebabnya apa yang kita perlukan adalah mencerdaskan ummat Islam yang hampir mencapai 70% penduduk bumi ini sehingga mereka menjadi pencipta-pecipta teknologi yang harmonis dengan fitrah manusia sebagai khalifahNya di muka bumi, bukan menjadi abdi-abdi mesin raksasa teknologi. Karena itu agar supaya tazkiyatul nafsi individu manusia menjadi tazkiyatul nafsi peradaban atau tazkiyatul madaniyati, maka seorang muslim hendaknya menyadari rukun-rukun Islam sebenarnya adalah tahap-tahap sebuah proses pensucian terus-menerus: tazkiyah.

Tahap-tahap Reintegralisasi Peradaban


Mengingat teknologi itu ibarat nafs dari peradaban, maka dengan sendirinya tahap-tahap tazkiyatul madaniyati sudah selayaknya meniru tahap-tahap tazkiyatul nafs dalam thariqah. Salah satu model untuk tazkiyatul nafs adalah maqam-maqam spiritual yang diajukan oleh Imam al-Ghazali dalam bukunya: Ihya Ulumuddin alias Revitalisasi Ilmu-ilmu Agama. Tahap awal dari thariqah adalah taubat (reorientasi) dan tahap akhirnya adalah ridha (akseptasi). Tahap pertama adalah reorientasi tujuan peradaban dari eksploitasi alam menjadi harmonisasi alam dan manusia dalam perdamaian yang tunduk pada Yang Maha Pencipta.

Tahap-tahap lainnya adalah shabar/syukur (tabah/terima-kasih), faqr/zuhud (miskin/prihatin),  tauhid/tawakkal (pengesaan/pasrah), khauf/raja' (takut/harap) dan berujung pada ridha/ikhlas. Shabar peradaban adalah orientasi peradaban dengan menerima keterbatasan sumber daya alam dan syukur dalam peradaban berarti mempertahankan semangat inovasi dalam rangka memakmurkan bumi dengan cara mengangkat alam menjadi bermanfaat bagi kemanusiaan. Faqir peradaban berarti tidak melakukan konsumsi sumber daya alam secara berlebihan dan zuhud peradaban adalah meningkatkan efisiensi dan efektivitas teknologi.

Tauhid peradaban berarti memandang semua sumber-daya alam, manusia dan teknologi sebagai amanat yang diberikan Yang Maha Pencipta sebagai karunia yang harus dimanfaatkan demi pelaksanaan perintah-perintahNya dan menghindari larangan-laranganNya. Tawakkal peradaban adalah semua keadaan mulai dari sukses tenologi hingga bencana alam adalah ujian dan cobaan dari Yang Maha Pencipta agar kita selalu serasi dengan KehendakNya. Khauf peradaban berarti bahwa kita harus selalu waspada akan dampak-dampak samping negatif dari teknologi di masa depan dan Raja' peradaban berarti bahwa kita harus selalu optimis akan kemampuan manusia untuk mengendalikan dampak-dampak negatif teknologi.

Tahap terakhir ridha peradaban berarti kita harus selalu memandang peradaban teknologi sebagai anugerahNya yang senantiasa dan sebagai sarana untuk melaksanakan perintah-perintahNya dan menghindari larangan-laranganNya mencari keridhaanNya. Dengan demikian kita meletakkan peradaban teknologi sebagai perantara antara Yang Maha Pencipta dan alam CiptaanNya sebagai sarana kita untuk memuji dan mengabdi Dia sebagai satu-satunya Pencipta dan Penguasa sekalian alam. Semoga semua tahap-tahap reintegralisasi peradaban teknologi itu bermanfaat bagi seluruh ummat manusia di seluruh penjuru alam semesta senantiasa.

Akhirul Kalam


Integralisme adalah upaya reintegralisasi peradaban di bawah tuntunan ajaran Islam demi mengembalikan kejayaan peradaban Islam di masa Islam bukan untuk penguasaan terhadap umat lain tetapi demi merealisasi Islam sebagai rahmatan lil 'alamin atau rahmat bagi semua bangsa dalam  perdamaian dan kedamaian menuju kemakmuran bumi yang adil bagi seluruh umat manusia. Alhamdulillah, proses itu telah dilaksanakan oleh Agus Purwanto dengan mendirikan trensains (pesantren sains) di Jawa Timur dan oleh pendirian perusahaan-perusahaan teknologi Tech Mayantara Asia dan Prabatech oleh Deden Himawan di Jawa Barat. Semoga semangat ini dapat ditularkan pada kawan-kawan lainnya sehingga menjadi simpul-simpul jaringan kebangkitan peradaban Islami di masa depan. Amin ya Rabbal 'alamin








Saturday, October 05, 2013

Mencari Plastisisme

Mencari Plastisisme dalam Integralisme:
tanggapan terhadap Yasraf Amir Piliang


Armahedi Mahzar (c) 2013

Saya sudah lama meninggalkan filsafat lebih dari 10 tahun. Buku filsafat saya terakhir terbit tahun 2004, itu pun setelah lebih setahun tertunda. Tapi tiba-tiba pada usia senja saya ketujuhpuluh, sekelompok bekas mahasiswa saya mengadakan sebuah Tribute Lecture for Armahedi Mahzar, di mana sejumlah tokoh muda akan mengevaluasi dan mengkritik filsafat yang saya namakan integralisme dan saya diundang untuk mendengarkannya.

Tokoh budayawan pertama yang berbicara adalah Yasraf Amir Piliang Yasraf Amir Piliang seorang   doktor senirupa yang terkenal karena telah mempopulerkan posmodernisme dan posstrukturalisme di Indonesia. Ketika datang untuk mendengarkannya, sebenarnya saya ingin belajar bagaimana seorang posmodernis membaca integralisme. Saya dengarkan dan saya tercengang setengah mati. Dia melihat integralisme terjebak dalam kontradiksi diri.

Wah, wah, wah, bagaimana mungkin? Namun setelah saya dengarkan agak lama, ternyata beliau melihat Integralisme Islam yang juga saya sebut sebagai posmodernisme Timur itu sebagai sintesa dari strukturalisme dan pos-strukturalisme sepasang filsafat yang bertentangan satu sama lainnya. Strukturalisme memerlukan dasar atau latar sedangkan pos-strukturalisme justru membuang semua latar atau fondasi. Menggabungkan keduanya tentu saja bisa dikatakan tidak mungkin alias kontradiksi diri.

Sayangnya, beliau terlalu panjang untuk menjelaskan strukturalisme dan pos-strukturalisme sehingga waktu habis untuk diskusi dengan peserta kuliah sehingga saya tak mendapat kesempatan untuk menjelaskan bagaimana integralisme itu sebenarnya. Namun saya beruntung dalam kuliah itu untuk mendengarkan upaya-upaya mensintesakan strukturalisme dan pos-strukturalisme di kalangan filosof Barat sendiri.

Plastisisme Catherine Malabou 


Salah seorang pemadu strukturalisme dan pos-strukturalisme di Barat adalah Catherine Malabou Photograph of Prof Catherine Malabou murid Jacques Derrida http://www.humanities.mcmaster.ca/~dclark/layout/images/derrida_lemonde.jpg  yang mengembangkan sebuah sintesa yang disebut plastisisme. Dalam plastisisme, dekonstruksi dan konstruksi dipasangkan sebagai kutub-kutub proses dialektika yang berkesinambungan. Dengan demikian kontradiksi diri itu lenyap. Itulah sebabnya pada akhir kuliahnya Yasraf menganjurkan integralisme Islam yang saya kembangkan disempurnakan dengan plastisisme.

Lalu bagaimana saya memandang usul ini? Pertama-tama tentunya saya akan menyampaikan bahwa dialektika sebenarnya hanyalah satu hal khusus dari multilektika. Dialektika dideskripsikan oleh filsuf Yunani sebagai proses pencarian kebenaran melalui  saling kritik dua buah pendapat yang saling pertentangan. Hegel  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/08/Hegel_portrait_by_Schlesinger_1831.jpgmemetafisikakan konsep dialektika sebagai esensi proses partikularisasi Ide Mutlak yang merupakan sumber dan fondasi semua realitas. Karl Marx  https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjULKWVwystyGLK607l_sCLFomejFXKMfgd6vqXCc4pznJMxbI_6hreXTG08ngfDSBjajYKNMaq7m28USkTwrsDcuMDTGkYNNjEjLFroTBg8NBcqh2H7oqwMTNqsAMCDalOz77-Q/s1600/Karl+Marx.jpg menjungkir balikkan filsafat Hegel, yang dikatakannya sebagai berjalan dengan kepala dibawah, melalui filsafat materialisme dialektik.

Buku Das Kapital http://libcom.org/files/images/library/das-kapital-bank.jpg oleh Marx didedikasikan pada Charles Darwin http://blogs.dallasobserver.com/unfairpark/charles_darwin_01.jpg  yang menemukan prinsip "survival of the fittest" sebagai inti dari proses evolusi biologi. Dalam bahasa sekarang prinsip itu disebut sebagai adaptasionisme: adaptasi organisme terhadap seleksi lingkungan. Prinsip ini bisa dilihat sebagai proses dialektika antara organisme dan lingkungan. Namun ada teori evolusi sekarang menganut neo-adaptasionisme di mana yang beradaptasi bukannya satu organisme melawan lingkungan, tetapi populasi gen melawan lingkungan. Neo-adaptasionisme inilah contoh dari multilektika.

Multilektika Integralitas


Jadi sebenarnya sistem integral atau integralitas mempunyai prinsip dinamikanya sendiri yang saya sebut multilektika. Sayangnya saya tak pernah menuliskannya dalam buku, namun secara lisan selalu saya sampaikan dalam diskusi antarpribadi ataupu diskusi-diskusi kelompok. Neo-adaptasionisme biologis mewujud dalam pasar bebas dalam atau liberalisme ekonomi dan mewujud sebagai demokrasi dalam politik. Dalam sektor budaya ada pasar bebas gagasan yang kini disebut sebagai multi-kulturalisme. Neo-adapsionisme, liberalisme, demokrasi dan multikulturalisme adalah pewujudan dari multilektika integralitas.

Dalam multilektika sebuah sistem integral berinteraksi melalui kompetisi dan koperasi dengan sistem-sistem lainnya membangun sistem-sistem baru yang lebih tinggi. Dalam tataran gagasan dan wawasan, setiap tesis harus melawan atau bergabung banyak altitesis untuk membangun supratesis-supratesis baru. Sebagai contoh di Eropa strukturalisme dan pos-strukturalisme bergabung menjadi plastisisme dan bentuk-bentuk dialektisisme lain, seperti misalnya strukturasionisme Anthony Giddens , dan sintesa fenomenologi dan strukturalisme oleh Pierre Bourdieu dalam sebuah praksisisme.

Itu pula yang saya lakukan ketka mengadu strukturalisme dan isme-isme Barat lainnya dengan islamisme sehingga menghasilkan integralisme yang herannya merupakan reformulasi baru dari filsafat tradisional Islam yang ternyata merupakan esensi struktural dari filsafat-filsafat tradisional lainnya baik dari Barat maupun dari timur. Perjenjangan materi-energi-informasi-nilai-sumber bukan hanya ada dalam tasauf, fiqh dan kalam Islam tetapi juga dalam konsep manusia dan alam filsafat agama-agama tradisional lainnya.

Tampaknya esensi struktural inilah yang luput dari pandangan Yasraf Amir Piliang sehingga pada akhirnya dia menganjurkan plastisisme dialektik harus dimasukkan kedalam integralisme Islam, tanpa melihat bahwa dialektika sudah ada sebagai bagian dari multilektika integralitas. Multilektika inilah yang menjadi esensi dari proses evolusi/involusi yang berjalan dari Yang Tunggal Mutlak ke yang aneka nisbi dan dari proses envolusi/devolusi yang berjalan sebaliknya. Proses pertama itu adalah proses konstruksi dan proses kedua adalah proses dekonstruksi. Jadi plastisitas adalah bagian dari integralitas.

Akhirul Kalam: sebuah Harapan


Kenapa Yasraf luput dari sisi yang saya sampaikan tadi? Saya kira karena beliau salah menafsirkan integralisme sebagai sintesa dari strukturalisme dan pos-strukturalisme. Ketika integralisme lahir di tahun 80-an saya belum mengenal pos-strukturalisme atau posmodernisme Barat. Posmodernisme yang saya tahu adalah upaya mensintesakan kembali modernitas dengan tradisionalitas seperti yang dilakukan oleh para filsuf perenialisme yang menentang evolusionisme tapi mendukung involusionisme atau emanasionisme Timur.

Saya memadukan evolusionisme dan involusionisme dalam satu wawasan yang saya sebut sebagai integralisme di tahun 80-an. Integralisme itu juga dapat dilihat sebagai pemaduan strukturalisme Barat dan holisme Timur di samping sebagai pemaduan saintisme Barat yang atomistik demokratik dan Perenialisme Timur yang holistik hierarkis. Aspek struktural itulah yang saya sampaikan dalam buku pertama: Integralisme. Evolusi kolektif dan involusi individual berlanjut dengan envolusi individual dan devolusi kolektif. Aspek dinamik proses inilah yang saya sampaikan dalam buku ketiga saya: Revolusi Integralisme.

Mudah-mudahan tidak terdapat mispersepsi lagi tentang buku-buku saya itu. Namun multipersepsi memang tak dapat dihindarkan dan merupakan bagian dari dinamika multilektik integralitas seperti saya sampaikan di atas. Saya berharap multiperspektivisme ini bisa menghasilkan varian-varian dari integralisme yang siap untuk bertarung dalam pasar bebas ide-ide sebagai bagian dari dinamika multilektik universal dalam proses sirkular evolusi-devolusi/involusi-envolusi dari kesepaduan realitas atau integralitas wujud.


Tuesday, May 01, 2012

Revolusi Integralisme Islam


REVOLUSI INTEGRALISME ISLAM

Pemahaman Baru Realitas Peradaban

Armahedi Mahzar (c) 2008

Di abad 21 ini manusia sedunia menghadapi dua jenis krisis skala dunia yang sangat dahsyat: Krisis ekologis pemanasan global dan krisis ekonomis resesi global. Kedua krisis itu berakar pada pandangan sempit peradaban yaitu humanisme antroposentrik dan materialisme sekularistik. Humanisme antroposentrik menekankan nilai-nilai kemanusiaan yang tercantum dalam hak-hak asasi manusia yang cenderung individualistik dan antroposentrik melupakan spesies-spesies biologis lainnya. Materialisme sekularistik membatasi kegiatan manusia hanya pada pengolahan alam menjadi produk-produk material yang dipertukarkan melalui pasar bebas untuk keuntungan sebesar-besarnya bagi individu-individu manusia. Krisis global bersayap dua ini kini telah menyengsarakan umat manusia di seluruh penjuru dunia. 

Soalnya, pemanasan global secara sistematis telah mengubah perikliman dunia dan segala dampaknya. Secara global naiknya suhu udara dan air laut rata-rata, diikuti oleh melelehnya salju di kutub-kutub bumi serta di puncak-puncak gunung yang kemudian berdampak pada meningkatnya permukaan laut dan curah hujan dan berujung pada pelbagai banjir besar di berbagai daerah dan gelombang panas dan badai salju, penyebaran wabah penyakit serta perpanjangan masa kemarau yang memicu kebakaran hutan. Itu semua adalah efek tak langsung dari materialisme ekonomi industrial yang terus menerus secara serakah menguras tabungan energi matahari, oleh bekas-bekas fauna dan flora purba yang tertanam di kerak bumi sebagai batubara, minyak dan gas, dengan cara membakarnya sehingga memproduksi gas CO2 secara berlebihan menyebabkan efek rumah kaca yang menjebak panas di atmosfera yang menyelimuti bumi.
Di samping itu, krisis resesi global juga disebabkan oleh keserakahan materialistis kapitalisme global yang diejawantahkan dalam pasar modal yang lebih mementingkan keuntungan moneter ketimbang produsi barang-barang riil kebutuhan sehari-hari. Maka uang dan utang pun diperjual belikan dengan secara spekulatif virtual melalui jaringan teknologi informasi komunikasi global dengan kecepatan tinggi dilambungkan harganya menjadi gelembung-gelembung yang pada ujung-ujungnya meledak.  Dampak utamanya adalah efek domino berupa tsunami krisis ekonomi berujung pada rangkaian pemutusan hubungan kerja yang berantai dari sektor perumahan ke sektor perbankan terus ke sektor fabrikasi mobil dan barang-barang elektronika dan ujung berujung pada industri tekstil dan barang-barang keperluan rumah tangga. Ujung-ujung dari semua ini adalah terjadinya sebuah danau pengangguran yang semakin lama semakin meluas menjadi lahan subur bagi merebaknya wabah sosial dalam bentuk berbagai bentuk kriminalitas dan  wabah mental dalam bentuk berbagai penyakit kejiwaan karena keputus-asaan dan ketegangan yang tak tertahankan.

Mengingat kedalaman dan keluasan dari kesengsaraan yang ditimbulkan oleh kedua sayap krisis global yang datang tanpa bisa diramalkan jauh hari sebelumnya, ada baiknya kita meninjau kembali paradigma materialisme di bidang sains, teknologi dan ekonomi yang membentuk sebuah aliran-aliran umpan-balik positif yang tumbuh secara eksponensial. Pertumbuhan eksponensial ini dipacu oleh kesamaan paradigmatik antara keempat cabang peradaban yang mementingkan materialisme sekular dan humanisme individual. Oleh sebab itu  terdapat sebuah revolusi paradigmatik yang disebut holisme di dunia Barat pada dasawarsa-dasawarsa akhir abad keduapuluh. Paradigma holistik itu memperluas humanisme individual dengan ekologisme kosmik di satu pihak dan memperluas materialisme sekular dengan idealisme panteistik di lain pihak. Dilihat dari sudut pandang tradisi teologis Timur, keterbatasan holisme yang monodualistik itu sudah seharusnyalah dilengkapi dengan dimensi ketuhanan yang transendental.

Realitas: Sebuah Kesepaduan

Dalam paradigma holistik, yang ada adalah kesatuan dua sisi kebulatan realitas. Secara ontologis kesatuan itu adalah kesatuan antara manusia dan alam lingkungannya. Dalam tradisi mistisisme Timur kesatuan ini disebut sebagai kesatuan mikrokosmos dan makrokosmos: alam kecil dan alam besar. Namun berbeda dengan tradisi Timur yang menekankan adanya perjenjangan sejajar antara dua kosmos itu, holisme hanya mengakui adalanya dualitas kesadaran/kenyataan pada kedua kosmos tersebut. Itulah sebabnya terjadi koreksi terhadap holisme yang mengabaikan realitas transendental. Koreksi itu adalah integralisme. Satu bentuk integralisme yang dikenal di dunia Barat adalah integralisme universal yang diajukan oleh Ken Wilber di tahun 2000. Integralisme universal ini melihat realitas sebagai suatu kesatuan dengan empat sisi yang dibentuk oleh salib sumbu interioritas-eksterioritas dan individualitas-kolektivitas. Keempat sisi itu disebutnya sebagai kuadran subyektif, kuadran obyektif, kuadran intersubyektif dan kuadran interobyektif. Realitas dalam pandangan ini adalah sebuah jenjang lingkaran-lingkaran sepusat yang pusatnya adalah titik potong antara kedua sumbu yang tegak lurus satu sama lainnya membentuk kuadran-kuadran tersebut.

Secara kebetulan Ken Wilber telah menggunakan istilah "integralisme" untuk menamakan pahamnya tentang realitas. Padahal lebih dari limabelas tahun sebelum Wilber merumuskan integralisme universalnya, di Indonesia istilah itu telah digunakan sebagai nama dari sebuah pandangan Islam yang melihat realitas sebagai kesepaduan dari dua buah perjenjangan yang disebut perjenjangan mendatar dan perjenjangan menegak.  Dalam pandangan ini dualitas mikrokosmos-makrokosmos tradisi mistik Timur dalah bagian dari hirarki lima kosmos yaitu mikrokosmos, mesokosmos, makrokosmos, suprakosmos dan metakosmos. Mikrokosmos itu adalah nama kontemporer bagi al-Nafs atau individu manusia. dan mesokosmos adalah nama lain dari al-Qawm atau kolektivitas manusia. Mikrokosmos dan mesokosmos maenyatu dalam peradaban manusia atau al-Madaniyah. Perdaban manusia itu adalah bagian dari lingkungan alam semesta yang disebut makrokosmos dan lingkungan superkosmos atau alam gaib. Makrokosmos dan superkosmos itu tak lain dari multikosmos atau al-'alamin. Di luar al-'alamin itu adalah Rabb yang mengaturnya. Rabb inilah yang disebut metakosmos dalam pandangan integralisme Islam.

Micro-
kosmos
(manusia)
Meso-
kosmos
(budaya)
Makro-
kosmos
(alam nyata)
Supra-
kosmos
(alam gaib)
Meta-
kosmos
(Tuhan)
Ruh

Quran
sumber
Dzat
Qalb
(Nurani)

Din
Prinsip-prinsip
alam
Prinsip-prinsip
Supernatural
 
Sifat-Sifat
‘Aql
(Kesadaran)
Tsaqafah
Hukum-hukum
alam
Hukum-hukum
Supernatural
Perintah-
Perintah
Nafs
(Perilaku)
Tamaddun
Fenomena alam
Fenomena Supernatural
Perbuatan
Jism
(Tubuh
Ummat &
madaniyah
Benda-benda alam
Benda-benda Supernatural
Ciptaan

Tegak lurus dengan perjenjangan mendatar lima kosmos itu terdapat perjenjangan lima menegak kategori integral yaitu materi, energi, informasi, nilai-nilai dan sumber. Kelima kategori integral itu tersirat dalam perjenjangan jism, nafs, 'aql, qalb dan ruh yang dijarkan dalam tasawwuf Islam. Ia juga tersersirat dalam perjenjangan sumber hukum 'urf, ijma', ijtihad, sunnah dan Al-qur'an dalam tradisi ilmu fiqh Islam. Ia pun tersirat dalam perjenjangan Khalqillah, Sunnatullah, 'Amrullah, Sifatullah dan Dzatullah dalam tradisi teologi Islam atau ilmu kalam. Secara diagram realitas integral itu dapat dilukiskan sebagai matriks terlukis di atas.
Satu hal yang dapat dibaca pada matriks ini adalah materialisme sekuler hanya mengakui submatriks 3x3 dibagian kiri bawah sebagai satu-satunya realitas. Sedangkan holisme panteistik hanya melihat submatriks 4x4 bagian kiri bawah sebagi realitas seutuhnya. Dari sini tampak bahwa baik materialisme ataupun holisme hanyalah merupakan pandangan parsial. Integralisme Islam adalah sebuah pandangan yang lebih menyeluruh menyempurnakan kedua pandangan tersebut.

Hal lain yang perlu diketahui adalah bahwa integralisme Islam melihat baris atas dari matriks itu merupakan realitas sumber yang bagi baris-baris realitas relatif dibawahnya. Hal ini berbeda seratusdelapanpuluh derajad dengan pandangan materialis yang menganggap baris terbawah sebagai realitas mutlak sedangakan baris-baris di atasnya sebagai realitas relatif. Dengan perkataan lain pandangan realitas integral Islam menjungkirbalikkan pandangan materialis sains sekuler. Inilah yang disebut sebagai revolusi integralisme Islam. Hal ini serupa dengan revolusi heliosentrisme Kopernikus yang menganggap matahari.sebagai pusat alam semesta membalikkan pandangan geosentrisme Ptolomeus yang menganggap bumi sebagai pusat jagatraya.

Yang terakhir perlu diperhatikan dalam pandangan integralisme Islam ini ada;ah kenyataan bahwa peradaban manusia itu berada di antara manusia dan alam lingkungannya, sehingga sudah sewajarnya peradaban manusia itu serasi, dengan bukan mengeksploitasi, alam semesta lingkungannya. Pandangan penguasaan alam semesta itulah yang mendorong pada pengembangan teknologi yang mencemarkan alam lingkungan sehingga terjadi pemusnahan spesies lain sperti yang kita alami sekarang. Itulah sebabnya kita harus mengganti paradigma peradaban manusia modern ini dengan paradigma integralisme Islam.

Ajaran Islam : Suatu Integralitas,

Ajaran Islam sebagai Din mempunyai tiga komponen integral yaitu Aqidah, Syari'ah dan Thariqah. Aqidah Islam itu tersusun dalam Arkan Al-Iman atau rukun Islam. Sedangkan Syari'ah Islam dibingkai oleh Arkan al-Islam dan Thariqah Islam iitu berinyikan Ihsan. Yang menarik adalah kenyataan bahwa matriks integralitas itu mencermikan ketiga komponen Din Islam itu  secara struktural.

Misalnya, Arkan Al-Iman meliputi
1.      Iman kepada Allah   yang disebut sebagai Metakosmos Pencipta dab Maha Sumber segala hal
2.      Iman kepada malaikat  yang menjalankan pengaturan alam semesta ayau Makrokosmos
3.      Iman kepada kitab-kitabNya  yang merupakan landasan bagi peradaban atau Mesokosmos
4.      Iman kepada rasul-rasulNya  yang merupakan individu atau Mikrokosmos
5.      Iman kepada Qiyamat/’Akhirat sebagai kehancuran makrokosmos memasuki Suprakosmos
6.      Iman kepada  Qadar dan Qadha’ sebagai ketentuan Integrasi Kosmik

Sehingga dapatlah kita simpulkan bahwa arkan al-Islam menyiratkan pengakuan akan Kesepaduan Realitas sepwerti yang tertera dalam matriks integralitas.

Di samping itu kita dapat melihat arkan al-Islam sebagai kerangka pentahapan abadi pembangunan peradaban atau Tazkiyah al-Madaniyati. Arkan Al-Islam itu meliputi

1.      Syahadatain sebagai landasan bagi pembinaan individu atau Tazkiyah al-Nafsi
2.      Shalat sebagai sarana pembinaan kelompok atau Tazkiyah al-Jama'ati'
3.      Shaum sebagai sarana pembinaan Masyarakat yang adil atau Tazkiyah al-Ijtima'i
4.      Zakat sebagai landasan pembangunan Negara bangsa yang sejahtera atau Tazkiyah al-Ummati
5.      Hajji  sebagai sarana pembangunan Peradaban antar bangsa yang damai atau Tazkiyah al-Madaniyati

Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa rukun Islam di samping merupkan sarana penghubung kita dengan Allah atau 'ubudiyah, dia juga merupkan sarana pembangunan Peradaban melalui mu’amalah.

Jika rukun Islam dapat dilihat sebagai kerangka pembangunan peradaban berdasarkan rukun Islam, maka Ihsan dapat dilihat sebagai kerangka pembangunan pribadi yang mendekatkan diri pada Sang Peciotanya melalui ibadah dimana diharapkan 

1.      Kita beribadat seolah-olah melihat Tuhan, atau
2.      Kita beribadat karena dilihat Tuhan

beribadah seolah melihat Tuhan adalah simbol dari beribadah karena Cinta dan beribadah karena dilihat Tuhan adalah simbol dari beribadah karena takut pada Allah swt. Ihsan adalah esensi Thariqah untuk mendekatkan diri pada Allah dengan mentransformasi rasa takut menjadi rasa cinta secara bertahap.

Aqidah adalah landasan bagi pasangan proses Syari'ah sebagai transformasi religio-kultural peradaban dan Thariqah transformasi psiko-spiritual individu

Tauhid Seutuhnya: Landasan Peradaban

Landasan Din al-Islam adalah Tauhid Diniyah. Sebagai landasan peradaban Tauhid adalah Tauhid Madaniyah. Kedua Tauhid itu terintegrasi dengan Tauhid Uluhiah sebagai landasan terdasar dari keseluruhan Tauhid yang juga meliputi Tauhid Rububiyah sebagai dasalr semua ilmu dan Tauhid Mu’amalah dasar semua amal.


Kelima aspek Tauhid itu berkaitan dengan kelima sifat Tuhan yang tercantum dalam tiga ayat pertama dari surat pertama Al-Quran Al-Karim.: Allah, Al Rabb, Al-Rahman, Al-Rahim dan Al-Malik. Keterkaitannya dadalah sebagai berikut

1.      ALLAH ==> Tauhid Uluhiyah
2.      Al-RABB ==> Tauhid Rububiyah
3.      AL-RAHMAN ==> Tauhid Mu’amalah
4.      AL-RAHIM ==> Tauhid Madaniyah
5.      AL-MALIK ==> Tauhid Diniyah

Disampaikan di  Subang pada 25 Desember 2008

Friday, March 06, 2009

Reorientasi Filsafat Keilmuan

REORIENTASI FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
pokok-pokok pemikiran tentang etika keilmuan

Bahan Diskusi Etika Keilmuan LIPI, 1 Juli 2002
oleh Armahedi Mahzar
Kita kini berada di awal abad ke-21 milenium III dihadapkan pada sejumlah perkembangan revolusioner yang berpangkal pada keterjalinan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat erat. Di satu pihak perkembangan ilmu pengetahuan mendorong kemajuan teknologi, di lain pihak kemajuan teknologi mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Hubungan timbal-balik yang saling mendukung itu juga terdapat antara teknologi dan ekonomi. Oleh karena itu kita dihadapkan pada perkembangan super-eksponensial teknologi menuju sebuah titik singularitas di mana kendali manusia pada lingkungan teknologinya bisa terlepas sementara teknologi telah mencapai tingkat penetrasi yang sangat dalam pada proses kehidupan kita yaitu pada taraf biologis.
Titik singularitas teknologi itu sendiri diramalkan oleh para pakar robotika terjadi pada dasawarsa-dasawarsa menjelang berakhirnya pertengahan abad ini, ketika kapasitas penyimpanan dan pengolahan informasi chip IC mencapai kapasitas otak manusia. Hal itu diramalkan berdasarkan hukum Moore yang meramalkan pelipat-duaan kapasitas mikroprosesor setiap delapan belas bulan. Dengan perkembangan sepesat itu, kira-kira tahun 2020 manusia telah dapat menciptakan robot dengan kecerdasan setara dengan kecerdasan manusia, dan setiap tahun berikutnya kecerdasan robot-robot itu meningkat sesuai dengan hukum Moore. Bahkan pakar komputer Artificial Intelligence Ray Kurzweil meramalkan pada akhir abad ini kecerdasan manusia akan menjadi sepermilyar kecerdasan mesin.
Tentu saja kita bisa berdebat panjang lebar untuk membantah ramalan teknolog yang monolitik itu dengan mengatakan bahwa peningkatan kemampuan informasi mesin secara fisik, belum berarti kemampuan intelektualnya yang non-fisik juga meningkat secara proporsional. Di lain pihak dari sudut keagamaan kita bisa juga berargumen bahwa kemampuan intelektual manusia bersumber pada rohnya yang bersifat immaterial, bukan pada otaknya. Namun merupakan sebuah kenyataan bahwa dengan percepatan peningkatan kemampuan teknologi itu, upaya peramalan manusia secara proyektif tentang selesainya pemetaan genom manusia ternyata selalu meleset karena terlalu lambat. Penggandaan sistematis kapasitas komputer yang digunakan dalam usaha ini merupakan faktor terpenting menyebabkan melesetnya ramalan futuristik tersebut.
Sementara itu suksesnya Proyek Genom Manusia, sebagai upaya manusia untuk mengetahui blueprint kode genetik biologi manusia, hanyalah merupakan awal untuk melakukan rekayasa genetik total terhadap manusia pada khususnya dan makhluk hidup pada umumnya. Dengan demikian pada awal milenium ini kita menghadapi titik kritis di mana untuk pertama kalinya manusia bisa merekayasa evolusi, mempercepatnya dan mengarahkannya sesuai dengan tujuan-tujuan manusia. Apakah tujuan-tujuan itu memang bisa tercapai tentu merupakan hal yang lain, karena kompleksitas dan non-linieritas proses-proses biologis kemungkinan besar membelokkan hasil rekayasa itu ke arah yang tak mungkin diramalkan oleh kecerdasan setingkat manusia.
Bagaimanapun, potensi intervensi teknologi pada evolusi biologi memberikan tanggung jawab yang sangat berat pada para ilmuwan dan rekayasawan se dunia di manapun dia berada. Oleh karena, mereka harus melakukan introspeksi intelektual, memeriksa kembali sosok ilmu pengetahuan sebagai produk dari komunitas ilmuwan melalui proses penelitian dengan metoda keilmuan. Metoda keilmuan itu biasanya dijalankan berdasarkan sejumalah asumsi filosofis yang implisit di dalamnya yaitu paradigma ilmu pengetahuan. Membuat asumsi-asumsi itu menjadi eksplisit mungkin akan menolong kita untuk membuat paradigma baru dan menyusun etika keilmuan baru yang antisipatif akan perubahan-perubahan radikal yang dibawa oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan penerapannya.
Untuk itu marilah kita periksa terlebih dahulu masalah-masalah apa yang dibawa oleh perkembangan dan pemaanfaatan ilmu pengetahuan selama ini.

Problem Ilmu Pengetahuan:
Dampak-dampak Negatif

Masih terbayang di benak kita bahwa, di paruh kedua abad ke-20 yang lalu, kita dihantui oleh ancaman terjadinya perang nuklir yang akan menghancurkan planet bumi ini. Bahkan jika semua hulu-ledak nuklir dalam semua rudal yang dibangun selama perang dingin itu secara sekaligus, maka bumi akan hancur puluhan kali. Ledakan itu akan membuat ledakan bom atom sekutu di Hiroshima dan Nagasaki pada akhir pewrang dunia kedua bagaikan mercon anak-anak. Dan semua itu bersumber pada surat rahasia ilmuwan Albert Einstein pada presiden Amerika Serikat untuk membuat bom atom, mengingat Nazi Jerman pada waktu itu diketahui sedang mengusahakan bom yang sama.
Sejarah mencatat bahwa surat itu mencetuskan Proyek Manhattan yang berhasil membuat bom atom pertama di dunia. Eskalasi perlombaan senjata nuklir pasca Perang Dunia II merupakan konsekuensi politik militer global dari aplikasi fisika nuklir di akhir Perang Dunia II itu. Inilah dampak negatif ilmu pengetahuan yang pertama: pemanfaatannya untuk keperluan senjata pemusnah masal. Kini masalah perang nuklir itu mungkin sudah mereda dengan runtuhnya Blok Timur yang dipimpin oleh negara adikuasa Uni Soviet Rusia. Namun, senjata pemusnah masal yang berdasarkan ilmu kimia dan biologi terus dikembangkan di berbagai negara. Aplikasi ilmu pengetahuan untuk pemusnahan masal masih merupakan dampak negatif yang harus dipertimbangkan.
Para ilmuwan biasanya berlindung terhadap kritik dari luar terhadap ilmu pengetahuan yang berdasarkan penggunaan ilmu pengetahuan menjadi senjata pemusnah dengan mengatakan ilmu pengetahuan itu netral, begitu juga teknologi yang merupakan penerapan ilmu pengetahuan. Teknologi itu bagaikan pisau: di tangan pembunuh dia menjadi senjata yang mematikan, di tangan dokter bedah dia menjadi penyelamat manusia. Begitu juga teknologi, misalnya teknologi nuklir bisa digunakan untuk penghancur, namun dia bisa digunakan untuk sumber energi pengganti teknologi energi yang menggunakan bahan bakar fosil. Namun bencana kebocoran radiasi dari reaktor-reaktor nuklir, seperti di Chernobyl misalnya, membuat kritikus memperluas wilayah serangannya: polusi.
Polusi radiasi nuklir yang berasal dari reaktor nuklir hanyalah sebagian dari polusi industri yang berbahaya terhadap lingkungan hidup. Pada umumnya industri merupakan penerapan ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan manusia, akan tetapi limbah beracun industri menembus rantai kehidupan dan menumpuk secara perlahan-lahan sehingga pada suatu waktu daya peracunnya menjadi efektif. Jika waktu itu tiba, maka akan banyak spesies makhluk akan musnah, dan pada suatu waktu manusia akan mendapat gilirannya.
Namun perusakan lingkungan hidup, bukan hanya melalui rantai makanan ekologis, tetapi juga melalui melalui lingkungan fisik secara langsung. Perusakan lingkungan hidup oleh percobaan nulir, pertambangan yang menggaruk permukaan bumi adalah kenyataan sehari-hari masyarakat industri. Sementara itu akumulasi molekul CO2 di atmosfer akibat penggunaan bahan bakar fosil berjalan sangat cepat sehingga melampaui daya serap lautan dan hutan-hutan membuat pemanasan global melalui efek rumah kaca. Sebagai akibatnya, sebagian es dari kutub utara dan selatan mencair secara perlahan menambah tinggi permukaan laut.
Efek yang lain dari pemanasan global adalah penguapan metan yang selama ini membeku di tundra di Kanada dan Rusia. Padahal peningkatan kuantitas gas metan di atmosfer hanya akan meningkatkan efek rumah kaca sehingga timbul lingkaran umpan-balik positif yang tak terkendali.
Lingkaran umpan balik positif ini bukan hanya berlaku untuk gas metan, tetapi juga untuk uap air yang meningkat karena pemanasan air laut secara global. Peningkatan kadar uap air udara juga merupakan penyebab efek rumah kaca menjadi-jadi. Pemanasan laut, terutama di daerah tropis menyebabkan bertambahnya jumlah dan kuatnya badai sehingga terjadi perubahan cuaca yang tak teramalkan. El Nino dan La Nina mengacak-acak pola tanam para petani dan produktivitas pangan dunia. Bencana alam kemarau panjang di khatulistiwa dan kebekuan di daerah subtropis menjadi tak teramalkan.
Namun kesengsaraan lingkungan hidup bukan hanya berasal dari pembuangan gas karbon dioksida saja, akan tetapi juga oleh pembuangan gas karbonfluorokhlorida atau CFC yang bersumber pada gas freon alat pendingin untuk lemari es dan AC, di rumah-rumah dan dikendaraan. Molekul-molekul CFC merusak lapisan ozon di stratosfer yang selama ini berfungsi sebagai pelindung kehidupan bumi dari sinar ultraviolet yang berlebihan. Perluasan lobang ozon dikutub utara dan selatan secara cepat merupakan bahaya lain yang mengancam kehidupan di bumi.
Efek sinar ultraviolet pada kulit dan mata manusia merupakan ancaman yang menyakitkan, namun efek pada makhluk-makhluk hidup lain sangat memprihatinkan. Lebah-lebah yang matanya rusak akan merupakan polinator tanaman yang tidak efektif. Sementara itu efek sinar ultraviolet pada ujung tunas tumbuh-tumbuhan sungguh mengenaskan. Tunas tanaman tidak akan mencapai kematangannya sehingga tidak bisa membiak. Begitu juga efeknya pada fitoplankton di laut juga luar biasa, karena mereka tidak memiliki kulit pelindung. Kehancuran mereka akan mengakibatkan pemotongan lingkaran makanan ekologis bumi.
Tampaknya dampak-dampak yang menyakitkan ini tidak seharusnya dituduhkan pada ilmu pengetahuan itu sendiri kecuali pada teknologi yang merupakan penerapannya, namun seharusnya pada proses industrialisasi yang bersumber pada keserakahan manusia sebagai produsen dan konsumen. Ilmu pengetahuan justru dapat menyumbangkan penelitiannya untuk mencari bahan-bahan substitusi bagi bahan bakar dan bahan pendingin industri. Namun ilmu pengetahuan dan teknologi adalah dua komponen yang tak terpisahkan dari sistem ekonomi masyarakat. Loloh balik positip antara teknologi dan ilmu pengetahuan di satu pihak di samping hal sama antara teknologi dan ekonomi merupakan kenyataan yang tak dapat dibantah. Karena itu para ilmuwan harus ikut bertanggung jawab atas bencana lingkungan yang dibawa oleh kemajuan teknologi dan ekonomi.
Akan tetapi bencana lingkungan hidup biologis bukanlah satu-satunya dampak negatif tak langsung dari perkembangan ilmu pengetahuan. Belakangan banyak kritikus ilmu pengetahuan memusatkan perhatiannya pada aspek-aspek sosial yang dirusak oleh perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan ekonomi. Industrialisasi telah mendorong urbanisasi yang mengundang penduduk desa untuk berbodong-bondong pindah ke kota.
Urbanisasi itu sendiri bukanlah hal yang negatif, namun tak dapat dibantah bahwa urbanisasi menimbulkan sejumlah masalah. Individualisasi yang dipicu oleh tata pemukiman dan pola kerja manusia urban, membuat masyarakat menjadi terfragmentasi dan teralienasi. Fragmentasi dan alienasi di keluarga di satu pihak, dan kompetisi yang berat di lain pihak. menimbulkan ketegangan psikologis yang sering berujung pada penyalah-gunaan obat-obatan yang dibuat oleh industri kimia.
Penyalahgunaan obat-obatan narkotik dan psikotropik, tentunya tak dapat dituduhkan pada pembuat obat-obatan itu sendiri, karena hal itu dipicu oleh tuntutan psikologi para pemakai dan tutuntan ekonomis para pengedarnya. Namun kenyataan bahwa kedua tuntutan itu bersumber pada industrialisasi yang pada gilirannya bersumber pada kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan, membuat para kritikus ilmu pengetahuan menjadi lebih kritis terhadap ilmu pengetahuan dan membuat para ilmuwan yang prihatin mulai mempertanyakan: apa yang salah pada ilmu pengetahuan itu sendiri.
Pada abad yang lalu kritikus-kritikus ilmu pengetahuan dari kalangan ideologis mulai menguliti ilmu pengetahuan untuk mendapatkan intisari ilmu pengetahuan yang dianggap buruk atau jahat. Kita tak dapat bersikap acuh-tak-acuh pada mereka dan menghindarinya. Menara gading para ilmuwan telah runtuh dihajar badai teknologi informasi, kini kita berada ditengah mereka. Karena itu marilah kita sendiri memeriksa ilmu pengetahuan secara rasional sebelum menghadapi mereka. Mungkin filsafat merupakan alat yang berguna untuk itu.

Filsafat Ilmu Pengetahuan:
Sebuah Introspeksi

Menurut sejarah, ilmu pengetahuan modern bermula dengan lahirnya mekanika Newton yang kemudian menjadi model untuk cabang-cabang ilmu lainnya. Pada awalnya ilmu pengetahuan alam adalah cabang filsafat dan disebut filsafat alam. Judul buku Isaac Newton yang berisi teorinya tentang gerak benda-benda berjudul Principia Mathematica Philosophiae Naturalis atau Prinsip Matematis Filsafat Alam.
Sebelum terbitnya buku itu terjadi perdebatan filosofis di abad XVII antara aliran empirisme Francis Bacon dan aliran Rasionalisme Rene Descartes. Bacon mengatakan bahwea ilmu pengetahuan modern harus bermula pada fakta-fakta empiris yang bisa diamati, sedangkan teori dibuat berdasarkan generalisasi dari fakta-fakta tersebut. Sementara itu Descartes mengatakan ilmu pengetahuan harus dibangun seperti geometri Euklides yang terbentuk dari sejumlah aksioma, definisi dan penurunan teorema-teorema secara deduktif dengan menggunakan logika.
Ketika menulis bukunya, Newton mengikuti contoh metoda matematik yang diberikan Descartes. Apa yang dilakukan Newton adalah menambahkan aksioma-aksioma tentang gerak yang dianggapnya melengkapi aksioma-aksioma geometri Euklides. Namun, berbeda dengan Descartes, Newton tidak menganggap aksiomanya sebagai pernyataan yang harus diterima benar dengan sendirinya seperti aksioma-aksioma geometri Euklides.
Aksioma-aksioma baru itu, bagi Newton, adalah hipotesa-hipotesa sementara yang konsekuensi-konsekuensinya harus bisa sesuai dengan pengamatan-pengamatan empiris. Dengan demikian, dia menyelesaian pertikaian fikosofis antara empirisme Francis Bacon dan rasionalisme Rene Descartes dengan mengajukan metoda hipotetiko-deduktif yang dikawinkan dengan metoda eksperimental-induktif. Artinya ilmu pengetahuan modern bukan sekedar rasional ataupun empiris saja. Hakekat ilmu pengetahuan adalah pengetahuan rasional empiris atau pengetahuan rasional obyektif.
Tujuan ilmu pengetahuan modern yang rasional obyektif itu adalah untuk pemanfaatan alam bagi peningkatan kesejahteraan manusia. Ia bersifat rasional karena ilmu pengetahuan memiliki komponen pengetahuan teoritis dan sifatnya obyektif menunjukkan bahwa komponen lainnya adalah pengetahuan faktual yang diperoleh melalui eksperimen terhadap obyek-obyeknya.
Pengetahuan faktual terdiri dari dua komponen. Yang pertama adalah metoda eksperimen kuantitatif yang reprodusibel sehingga menjamin obyektivitas data-datanya. Yang kedua adalah fakta-fakta eksperimental yang diperoleh melalui analisis statistik data-data yang diperoleh dari eksperimen. Fakta-fakta itulah yang mencerminkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta
Pengetahuan teoritis terdiri dua komponen. Yang pertama adalah perumusan hukum-hukum alam yang diasumsikan ada pada gejala-gejala alam. Yang kedua terdiri dari prinsip-prinsip logis matematis yang harus dipenuhi oleh hukum-hukum alam itu. Gabungan antara kedua komponen itu membentuk teori mengenai gejala-gejala alam yang direpresentasikan oleh pengetahuan faktual.
Keempat komponen pengetahuan ilmiah menjadi satu ketika terjadi kesesuaian antara ramalan-ramalan teoritis fakta-fakta eksperimental. Proses pengujian kebenaran pengetahuan teoritis melalui hasil-hasil eksperimen disebut proses verifikasi teori. Proses penemuan kesalahan suatu teori melalui percobaan-percobaan eksperimental disebut proses falsifikasi.
Ilmu pengetahuan tumbuh dengan semakin luasnya pengetahuan faktual yang memverivikasinya. Ilmu pengetahuan berkembang setelah terjadi pembangunan kembali teori yang difalsifikasi oleh pengamatan-pengamatan eksperimental. Teori berkembang jika digantikan oleh teori baru yang menjadikan teori lama sebagai hal khusus dari teori yang baru tersebut. Jadi ilmu pengetahuan tumbuh kembang melalui benturan antara pengetahuan teoritis yang rasional dan pengetahuan eksperimental yang obyektif.
Kedua komponen besar pengetahuan ilmiah mempunyai fungsinya masing-masing. Pengetahuan teoritis berfungsi untuk melukiskan menjelaskan dan menfasirkan pengetahuan faktual. Sedangkan pengetahuan faktual berfungsi untuk mengamati dan melukiskan semua fenomena alam yang obyektif.
Keempat fungsi pengetahuan ilmiah tersebut memungkinkan manusia melakukan prakiraan-prakiraan terhadap apa yangterjadi jika manusia mengintervensi gejala-gejala alam. Hal ini diperlukan untuk mengendalikan dan mengaturnya sehingga mencapai tujuan-tujuan yang menguntungkan manusia. Hal inilah yang dilakukan oleh teknologi sebagai penerapan ilmu pengetahuan.
Begitulah. Tujuan, hakekat, struktur, metoda, proses dan fungsi ilmu pengetahuan yang diuraikan di atas itulah yang secara informal diajarkan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Semuanya tak ada yang aneh, sampai pada paruh kedua abad yang lalu muncul berbagai kritik dari berbagai pihak di luar kalangan ilmuwan yang bersumber pada keresahan akan dampak-dampak negatif penerapan ilmu pengetahuan yang mulai merebak di paruh kedua abad yang lalu.

Kritik Eksternal Terhadap Ilmu Pengetahuan:
Agama, Filsafat dan Ideologi

Kita dapat mengelompokkan kritik-kritik itu berdasarkan pandangan dunia yang mereka yakini. Mereka itu terdiri dari para agamawan, para filsuf dan para ideolog. Karena itu kritik-kritik mereka kita kelompokkan menjadi kritik teologis, kritik filosofis dan kritik ideologis. Marilah kita periksa kritik-kritik mereka itu satu persatu. Bagaimana mungkin ilmu pengetahuan yang pada dasarnya bertujuan baik itu dianggap sebagai sumber semua dampak negatif teknologi. Kita mulai dengan kritik teologis.
Para agamawan melihat bahwa ilmu pengetahuan mempunyai sebuah kesalahan besar. Dampak-dampak negatif itu muncul karena kesalahan ini. Kesalahan ini adalah pengabaian realitas-realitas spiritual dari pembahasan pengetahuan ilmiah. Tuhan Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur itu dibuang dari wacana ilmu pengetahuan kealaman dan kemasyarakatan. Begitu juga alam gaib dan roh manusia sama sekali tidak diperhatikan. Dengan perkataan lain ilmu pengetahuan itu bersifat materialistis. Singkatnya, landasan filsafat ilmu pengetahuan adalah materialisme yang atheistik.
Para filosof juga mempunyai kritik mereka sendiri. Para fenomenolog yang diikuti oleh para eksistensialis, melihat ilmu pengetahuan sebagai sumber petaka sosial karena pandangan reduksionisme yang menyamaratakan manusia dengan benda-benda alam lainnya. Padahal, menurut mereka, pengetahuan manusia mengenai dirinya bersifat langsung dan kaya yang menjadi miskin ketika direduksi menjadi sekumpulan pembacaan angka-angka hasil pengamatan eksperimental. Jadi tidak mengherankan jika kesengsaraan manusia timbul begitu ilmu pengetahuan diterapkan menjadi teknologi.
Tentu saja kritik para filosof itu bersifat akademis dan jarang didengar oleh ilmuwan secara langsung, namun kritik para ideolog adalah suara lantang di tengah masyarakat. Kaum ideolog adalah mereka yang menjadikan filsafat tertentu menjadi dasar untuk melakukan gerakan sosial. Kritik-kritik mereka lebih sulit ditangkis ketimbang kritik-kritik para teolog dan para filsuf. Mereka itu dapat kita kelompokan menjadi kaum neomarxis, kaum ekologis, kaum feminis dan kaum etnoreligius.
Kaum neo-marxis melihat ilmu pengetahuan yang dikatakan rasional itu sebagai sebuah kekeliruan, karena ilmu pengetahuan itu tidak seluruhnya rasional. Rasionalitas ilmu pengetahuan bersifat terbatas karena rasionalitas ilmu pengetahuan hanya bersifat instrumental. Rasionalitas instrumental ilmu pengetahuan cenderung untuk mencari apa yang dibutuhkan oleh teknologi yang pada gilirannya diarahakan oleh kepentingan-kepentingan politik ekonomi kapitalisme. Padahal disamping rasionalitas instrumental terdapat rasionalitas komunikatif yang diperlukan proses demokrasi dalam rangka melihat realitas sosial kemanusiaan secara lebih utuh menyeluruh.
Kritik kaum neomarxis ini diperkuat oleh kritik kaum feminis. Kaum feminis juga membongkar asumsi-asumsi dibalik asumsi-asumsi ilmu pengetahuan. Kesalahan ilmu pengetahuan bukan hanya pada rasionalitas yang terbatas, tetapi pada rasionalitas itu sendiri. Penekanan pada rasionalitas itu sendiri merupakan bias patriarki yang melandasi kapitalisme yang diabdi oleh teknologi sebagai penerapan ilmu pengetahuan. Rasionalisme yang bersifat analitis dan reduksionis itu mengabaikan fakultas pengetahuan manusia yang bisanya lebih banyak dimiliki oleh kaum perempuan yaitu intuisi. Intuisi yang relasional dan holistik itu telah ditinggalkan oleh para ilmuwan. Tak heran jika kecendrungan dominatif patriarki membayang-bayangi setiap gerak langkah ilmu pengetahuan.
Demikianlah, gerak langkah kapitalisme yang patriarkis itu melihat alam sebagai obyek yang harus ditaklukkan. Tak heran jika suku primitif Indian Amerika melihat gerak langkah ekono-teknologis kaum kapitalis barat sebagai pemerkosaan terhadap alam atau bumi. Tak mengherankan pula jika kerusakan lingkungan merupakan dampak yang tak dapat dihindarkan dari ilmu pengetahuan modern. Sejumlah spesies makhluk hidup musnah sebagai akibat perambahan hutan, gunung dan laut. Dari fakta ini kaum pencinta lingkungan hidup melihat sumber filosofis dari kegagalan ilmu pengetahuan untuk sepenuhnya mencapai tujtuannya. Kaum ekologis melihat bahwa ilmu pengetahuan bukan saja bersifat rasional yang merupakan ciri manusia sebagai makhluk hidup tertinggi, tetapi ilmu pengetahuan itu bersifat antroposentris seperti terlihat dari definisi tujuannya. Netralisme ilmu pengetahuan adalah sebuah ilusi belaka.
Jadi antroposentrisme rasionalistis para kapitalis yang patriarkis itulah yang tersembunyi dalam praktek sehari-hari ilmu pengetahuan seperti yang ditemukan oleh kaum neomarxis, feminis dan ekologis. Penemuan mereka ini dipertajam oleh kaum etnoreligius yang menggabungkan kritik-kritik ideologis tersebut dengan kritik teologis dan filosofis. Antroposentrisme rasionalis dan kapitalisme patriarkis itu merupakan ciri dominan peradaban barat modern sekularistik yang merupakan ibu kandung ilmu pengetahuan modern yang meninggalkan agama dari kehidupan budaya sehari-hari. Oleh karena itu ilmu pengetahuan Barat yang disebut sebagai ilmu pengetahuan modern itu harus diganti oleh ilmu-ilmu pengetahuan etnoreligius tradisional seperti ilmu pengetahuan Cina, ilmu pengetahuan Hindu, ilmu pengetahuan Islam dan lain sebagainya.

Re-orientasi Paradigma Ilmu pengetahuan:
Sintesa Holisme sebagai Solusi

Tentu saja kritik-kritik dari luar kalangan ilmu pengetahuan pada rasionalitas dan obyektivitas sebagai jantung ilmu pengetahuan modern tidak bisa diabaikan begitu saja. Rasionalisme dan empirisme itu merupakan asumsi filosofis di bidang pengetahuan atau epistemologi. Filsafat yang lebih menyeluruh melibatkan ontologi, yaitu filsafat wujud mengenai obyek-obyek pengetahuan dan aksiologi, yaitu filsafat nilai-nilai yang dianut oleh manusia yang mengetahui sebagai subyek.
Sebenarnya di dasar ilmu pengetahuan modern, sebagai salah satu cabang dari peradaban, terdapat seperangkat asumsi-asumsi filosofis lain, juga implisit, yang mendampingi asumsi-asumsi epistemologis ilmu pengetahuan. Keseluruhan asumsi-asumsi filosofis itulah yang disebut sebagai paradigma. Dengan demikian, sesuai dengan struktur filsafat secara umumnya, paradigma ilmu pengetahuan mempunyai tiga aspek, yaitu aspek-aspek ontologis, epistemologis dan aksiologis.
Aspek epistemologis itulah yang telah kita periksa dalam introspeksi yang kita lakukan pada awal pembahasan. Aspek-aspek ontologis dan aksiologis baru muncul ke permukaan setelah kita membaca kritikus-kritikus ilmu pengetahuan dari luar kalangan ilmuwan. Bagi para ilmuwan yang tak terlatih berfikir mendasar, mengakar dan menyeluruh, kritik-kritik seperti itu cenderung dipandang sebagai serangan terhadap eksistensi ilmu pengetahuan
Itulah sebabnya, kenapa sebagian besar dari ilmuwan cenderung untuk bersikap reaktif terhadap kritik-kritik radikal itu. Pada dasarnya mereka yang konservatif itu akan menyangkal semua tuduhan itu sebagai suatu yang tak berdasar yang diada-adakan. Untungnya tidak semua ilmuwan berpikiran seperti itu. Sebagian kecil dari mereka mencari solusi yang mengakomodasi kritik-kritik tersebut. Mereka itu adalah kaum ilmuwan holistik.
Kaum ilmuwan holistik misalnya, melihat bahwa kritik kaum teologis itu ada benarnya. Ilmu pengetahuan telah mengabaikan aspek-aspek nonmaterial dalam studinya yaitu informasi dan nilai-nilai. Padahal, aliran dan tumpukan informasi adalah aspek non-fisik dari materi telah cenderung menjadi lebih besar dan kompleks dalam evolusi jagatraya. Evolusi kosmologi memang hanya menyangkut restrukturisasi dan resirkulasi materi dan energi.
Akan tetapi, dalam evolusi biologi, sebagai kelanjutan evolusi kosmologi, proses restrukturasi dan resirkulasi informasi menjadi dominan. Dalam evolusi antropologi yang kultural, kelanjutan evolusi biologi, peran proses-proses informasi menjadi dominan dan mulai melibatkan nilai-nilai. Nilai-nilai itu berkembang dari yang partikularistik menuju yang universal. Jadi wawasan evolusioner yang sistemik bisa menggantikan materialisme mekanistik sebagai komponen ontologis paradigma baru ilmu pengetahuan. Wawasan evolusi semesta yang sistemik kreatif juga juga bisa menggantikan prinsip atomisme reduksionistik dalam paradigma ontologis ilmu pengetahuan modern.
Begitu diterimanya paradigma evolusioner sistemik yang holistik ini, paradigma epistemologis yang lama itupun harus ditinggalkan. Semakin kompleks suatu sistem semakin sulit untuk direduksi menjadi sesuatu yang material dan energetik belaka. Evolusi antropologi kultural pada dasarnya merupakan proses peningkatan kesadaran manusia mengiringi perkembangan kompleksitas institusional masyarakat mengikuti evolusi teknologi sebagai organ-organ eksosomatis manusia yang semakin lama semakin kompleks.
Kesadaran manusia, seperti kata kritikus fenomenolog eksistensialis, hanya bisa diketahui secara langsung oleh kesadaran itu sendiri. Oleh karena itu, pengalaman mistikus dan para nabi di seluruh penjuru dunia, sebagai puncak kesadaran kemanusiaan, dapat digunakan sebagai model, untuk menyusun ilmu pengetahuan tentang manusia yang lebih utuh dan menyeluruh, mengantikan perilaku organisme-organisme subhuman, apa lagi mesin-mesin inorganik. Dengan demikian pengetahuan intuitif eksperiensial manusia dapat ditambahkan sebagai pelengkap pengetahuan rasional empiris manusia. Dengan demikian didapat penyempurnaan paradigma epistemologi ilmu pengetahuan seperti yang diharapkan kaum feminis dan para kritikus filsafat eksistensialisme fenomenologis.
Lebih dari itu, bentuk intuisi tertinggi manusia adalah pengalaman mistik yang menangkap Kesatuan Realitas di balik segala bentuk benda dan kehidupan yang sebenarnya merupakan manifestasi Kehidupan Sadar yang Tunggal. Dengan demikian dimensi keagamaan seperti itu dapat dikembalikan ke dalam komponen aksiologis paradigma ilmu pengetahuan, di mana antroposentrisme digantikan biosentrisme yang lebih meluas berdasarkan suatu teosentrisme yang lebih mendalam. Oleh karenanya nilai-nilai universal, yang diajarkan semua nabi dan mistikus sepanjang zaman di seluruh dunia, dapat diintegrasikan kedalam paradigma aksiologis ilmu pengetahuan. Oleh karena itu tak perlu dilakukan pemunduran paradigma sains modern ke sains tradisional yang religius seperti yang diharapkan oleh kritikus etnoreligius.
Disamping itu peradaban manusia, dalam pandangan holistik evolusioner, merupakan bentuk kehidupan yang lebih tinggi di mana ilmu pengaetahuan adalah bagian dari kesadaran kolektifnya dan teknologi adalah organ kehidupan transhuman baginya. Oleh karena itu terkandung didalamnya tanggung jawab yang besar untuk menunjang keanekaragaman dan kesalingbergantungan bentuk-bentuk kehidupan di muka bumi sebagai bagian dari keberlangsungan sistem kehidupan planet bumi yang menyatu. Ilmu pengetahuan merupakan bagian kesadaran kolektif planeter bumi. Dengan demikian loyalitas implisit ilmuwan pada sistem kapitalisme global, seperti yang diungkapkan oleh para kritikus neomarxis, dapat digantikan dengan loyalitas pada sistem kehidupan planeter bumi yang lebih menyeluruh.
Dengan demikian dapatlah disimpulkan sekarang bahwa, untuk menghadapi tantangan-tantangan multidimensional multiskala dengan peningkatan kecepatan, kompleksitas dan daya jangkau teknologi di masa depan ini, paradigma sains modern lama yang biasanya dihayati para ilmuwan secara implisit itu perlu diperluas dan diperdalam dan dihayati secara eksplisit.
Paradigma sistemik evolusioner kreatif holistik, yang sedang tumbuh kembang di kalangan ilmuwan mancanegara, mungkin dapat diberi kesempatan menjadi paradigma alternatif yang tentunya masih harus disempurnakan lebih lanjut. Salah satu bentuk implementasinya adalah merumuskan etika ilmu pengetahuan yang lebih utuh menyeluruh sebagai penegas dan pengarah tanggung jawab profesional ilmuwan, rekayasawan dan akademisi Indonesia.

Menuju Ilmu Pengetahuan Baru di Milenium Baru:
Etika Ilmu Pengetahuan sebagai Implementasi Solusi

Etika pada dasarnya adalah filsafat moral yang membicarakan apa yang dianggap sebagai kebaikan atau kebenaran moral dan keburukan atau kesalahan moral. Biasanya yang diberi predikat moral itu adalah perbuatan.
Umumnya sesuatu perbuatan baik jika tujuannya baik. Namun tujuan baik tidak selalu dicapai dengan perbuatan yang baik. Soalnya, ada kriteria lain yang menentukan baik-buruknya suatu perbuatan yaitu caranya. Tujuan baik harus dicapai dengan cara yang baik dan menghasilkan sesuatu yang baik. Yang jadi persoalan, kriteria apa yang menentukan cara yang baik. Cara yang baik adalah cara yang tidak menghasilkan dampak atau hasil samping yang tidak baik.
Jadi ada beberapa parameter yang menentukan kebaikan suatu perbuatan: tujuan, cara, hasil dan dampak. Namun timbul pertanyaan apa yang dimaksud dengan baik atau buruk? Secara normatif, kebaikan keburukan diukur dari kesesuaiannya dengan sejumlah prinsip moral atau moralitas. Moralitas adalah prinsip-prinsip yang menentukan nilai kebaikan dari tujuan, cara, hasil dan dampak suatu perbuatan.
Prinsip-prinsip moral sangat banyak namun semuanya berkaitan dengan hak dan kewajiban individu dan kelompok, karena itu etika pada umumnya bersifat sosial atau interpersonal. Akan tetapi dalam beberapa agama besar etika sosial itu diperluas menjadi etika universal yang memperhitungkan semua makhluk hidup dan etika transendental yang menyangkut Tuhan Yang Maha Pencipta.
Semua prinsip-peinsip itu dapat dikelompokkan menjadi:
  1. Prinsip moralitas pribadi
  2. Prinsip moralitas antarpribadi
  3. Prinsip moralitas masyarakat
  4. Prinsip moralitas semesta
  5. Prinsip moralitas adisemesta
Jika kelima prinsip itu dilihat dari sudut pandangan sistemik holistik evolusioner, ketiga prinsip yang disebut terdahulu bersifat antroposentrik, yang keempat bersifat biosentrik dan yang keempat bersifat teosentrik. Maka dapatlah kita simpulkan sebenarnya terdapat tiga prinsip moral yaitu antroposentrisme, biosentrisme dan teosentrisme atau prinsip kemanusiaan, prinsip kehidupan dan prinsip ketuhanan.
Prinsip-prinsip moralitas itu bersifat sangat umum, oleh karenanya perlu dijabarkan menjadi kode etik atau aturan tatalaku sesuai dengan institusi sosial yang bersangkutan dengan lingkungan kerja manusia. Institusi-institusi sosial dalam pandangan sistemik evolusioner adalah organ eksosomatik sosial manusia disamping organ eksosomatik material berupa sistem-sistem teknologi. Dalam sejarahnya, kedua organ eksosomatik itu telah berevolusi secara beriringan dalam suatu ko-evolusi sosio-teknologi.
Ko-evolusi sosio-teknologi telah menghantarkan manusia pada suatu peradaban global yang terjalin melalui pertukaran ekonomi, teknologi dan budaya global yang berbasiskan informasi dan pengetahuan. Ilmu pengetahuan sebagai cabang dari pengetahuan yang lebih menyeluruh mempunyai peranan penting sebagai mata bagi superorganisme sosial peradaban yang terus berevolusi menuju peradaban global yang lebih adil, damai dan bersatu. Taraf akhir perkembangan evolusioner manusia bersifat intensif yang meliputi ketersambungan (connection), keterhubungan (communication) dan kesadaran (comprehension).
Dalam perspektif evolusioner holistik ini maka kini dapatlah disimpulkan bahwa kode etik keilmuan hendaknya meliputi prinsip-prinsip kemanusiaan, kehidupan dan ketuhanan. Seperangkat kriteria metaetis telah dirumuskan oleh sejumlah ilmuwan yang berkumpul pada tahun 1994 di Toronto. Dengan reorganisasi dan reformulasi seperlunya maka kita peroleh pedoman perumusan kode etik keilmuan sebagai berikut:
DASAR-DASAR METAETIS
  1. Kode etik keilmuan hendaknya mencantumkan secara jelas semua landasan pemikiran di balik setiap pedoman tatalaku dan prinsip-prinsipnya

  2. Kode etik keilmuan hendaknya menunjukkan secara tegas upaya-upaya yang perlu dilakukan agar ditaati oleh semua pelaku yang terlibat kode etik keilmuan hendaknya cukup luas sehingga mencakup semua karya ilmiah dan penelitian dasar, terapan dan teknologi serta semua tindakan para pelaku yang terlibat dalam berbagai disiplin dan profesi keilmuan dan keteknikan.
PRINSIP MORALITAS PRIBADI

  1. Kode etik keilmuan hendaknya menentang semua prasangka kemanusiaan berdasarkan jenis kelamin, agama, kebangsaan dan kesukuan atauan cacat fisik atau mental.

  2. Kode etik keilmuan hendaknya melarang penelitian yang diarahkan pada pengembangan dan penggunaan metoda penyiksaan dan perlsatan dan teknik yang mengancam dan melanggar hak-hak asasi manusia secara individual maupun kolektif.
PRINSIP MORALITAS ANTARPRIBADI

  1. Kode etik keilmuan hendaknya mengarahkan kegiatan akademis dan keilmuan kepada penyelesaian damai konflik antar manusia dan pelucutan senjata secara umum;

PRINSIP MORALITAS MASYARAKAT

  1. Kode etik keilmuan hendaknya mewajibkan, bagaimanapun sulitnya meramalkan semua konsekuensi sebuah penelitian, para ilmuwan, peneliti dan rekayawan untuk bertanggungjawab, secara pribadi maupun bersama, untuk berupaya memperkirakan dan senantiasa memperhatikan dampak penerapan karya-karya mereka

  2. Kode etik keilmuan hendaknya mewajibkan para ilmuwan dan rekayasawan untuk memilih, mengarahkan dan mengoreksi pengembangan dan penerapan disiplin ilmu pengetahuan yang mereka tekuni sesuai dengan pengetahuan mereka tentang dampak-dampak tersebut.

PRINSIP MORALITAS SEMESTA

  1. Kode etik keilmuan hendaknya mengingatkan para ilmuwan akan potensi kemiliteran penelitian mereka dan berupaya menyelesaikan masalah etis yang berkaitan dengannya, dan mendorong pemanfaatannya untuk kesejahteraan manusia bukan untuk merusak planet dan isinya dalam persiapan dan pelaksanaan perang.

  2. Kode etik keilmuan hendaknya menyadarkan para ilmuwan dan rekayasawan bahwa tindakan-tindakan yang dirancang hanya dengan mempertimbangkan kepentingan manusia mempunyai kemungkinan mengancam kelangsungan hidup semua spesies, karena ekosistem merupakan jala-jala kehidupan tak bertepi.
PRINSIP MORALITAS ADISEMESTA

  1. Kode etik keilmuan hendaknya menyadarkan para ilmuwan dan rekayasawan bahwa tindakan-tindakan yang dirancang tidak bertentangan dengan nilai-nilai universal kemanusiaan yang diajarkan oleh agama-agama besar dunia.

REGULASI
  1. Kode etik keilmuan hendaknya mendorong para ilmuwan untuk mentaati prosedur baku peninjauan etis sesama rekan untuk penerbitan hasil karyanya.

  2. Kode etik keilmuan hendaknya mendorong para ilmuwan untuk mengungkapkan semua hasil penelitiannya seluas-luasnya kepada publik.
  1. Kode etik keilmuan hendaknya mendorong para ilmuwan untuk saling mengawasi dan melaporkan setiap pelangaran butir-butir etika keilmuan kepada majelis kehormatan profesi keilmuan dan keteknikan
  1. Kode etik keilmuan hendaknya menjamin perlindungan terhadap rekan sesamanya dari hukuman yang salah dari sesama ilmuwan, perhimpunan-perhimpunan keilmuan atau kepakaran dan badan-badan hukum.

REPLIKASI
  1. Kode etik keilmuan hendaknya mewajibkan penyebaran dan pemasyarakatan kode etik keilmuan itu melalui kurikulum sekolah dan universitas untuk calon-calon ilmuwan dan forum-forum diskusi terbuka bagi para akademisi dan ilmuwan

DAFTAR PUSTAKA

Armahedi Mahzar, Integralisme: sebuah Rekonstruksi Filsafat Islam, Pustaka Salman Bandung 1983
Armahedi Mahzar, Transcending Technology, Part 3 e-book draft 2000 dapat diperoleh di internet di http://integralism.faithweb.com .
Armahedi Mahzar, Menyingkap Koevolusi Sosioteknologi, Menembus Paradoks teknologi, MISYKAT prosiding LPI, YPM Salman ITB Bandung, Juni 1983
Fritjof Capra, The Web of Life: A New Synthesis of Mind and Matter, Flamingo Harper-Collins, London 1997
Fritjof Capra, The Turning Point: Science, Society, and the Rising Culture, Bantam New Age Book, New York 1983
Irvin Laszlo, Milenium ke-3 Tantangan dan Visi: Klub Budapest Laporan mengenai Jalur Kreatif Evolusi Manusia, Penerbit Abdi Tandur, Jakarta 1999
Irivin Laszlo, Human Evolution in the Third Millenium, dapat diperoleh di sciencedirect.com
Irvin Laszlo, An Ecological Ethics for the 21-st Century, dapat diperoleh di internet sebagai file eco_ethics.pdf
---, “Ethics in Science and Scholarship: the Toronto Resolution” dalam Accountability in Research, vol 3 (1994) 69-72, e-version ada di internet sebagai http://www.math.yorku.ca/sfp/sfp2.html