Thursday, March 05, 2009

Peradaban & Filsafat Teknologi

SEJARAH & FILSAFAT TEKNOLOGI

Armahedi Mahzar

Kita mengenal teknologi dalam pengertiannya yang modern sebagai aplikasi atau penerapan sains. Namun sains dalam pengertiannya yang modern berakar pada revolusi Copernicus pada abad ke 16 masehi yang berujung pada penemuan mekanika Newton yang memandang alam sebagai sebuah mesin raksasa. Pandangan mekanistik Newtonian tentang alam itu sendiri merupakan penggantian pandangan organismik Aristotelean yang mendominasi pemikiran manusia selama lebih dari seribu tahunan. Pandangan organismik Aristoteleian itu sendiri adalah pandangan filosofis yang menggantikan pandangan mitologis yang melihat alam bukan sebagai organisme, tetapi sebagai sebuah kerajaan dengan para dewa sebagai pemerintahnya.

Penggantian-penggantian sudut pandang itu sendiri sebenarnya dipicu oleh penemuan-penemuan teknologi yang kemudian mendominasi era peradaban pasca penemuan teknologis tersebut. Pandangan organismik Aristoteleian itu dipicu oleh lahirnya pemikiran logis yang dimungkinkan oleh ditemukannya huruf alfabetik sebagai teknologi komunikasi informasi yang revolusioner. Begitu juga penggantian pandangan organismik Aristoteleian dengan pandangan mekanistik Newtonian dipicu oleh penemuan revolusioner berikutnya dibidang komunikasi informasi: revolusi Gutenberg. Revolusi Gutenberg bermula dengan ditemukannya mesin cetak tipografis manual oleh Gutenberg. Revolusi teknologi inilah yang memicu lahirnya sains modern.

Tampak dari uraian di atas bahwa lahirnya teknologi pada dasarnya jauh mendahului kelahiran sains modern. Namun, dengan kelahiran sains modern terjadilah sebuah hubungan timbal balik positif antara sains, teknologi dan ekonomi yang memungkinkan revolusi-revolusi sains dan teknologi berikutnya. Sains mekanistik deterministik Newtonian memang melahirkan revolusi industri atau revolusi Watt, namun revolusi Faraday yang melihat dunia sebagai lautan ether elektromagnetik melahirkan revolusi industri kedua setelah ditemukannya generator dan motor listrik. Begitu pula revolusi sains kedua yang dipicu oleh lahirnya teori kuantum dan relativitas, mendorong revolusi industri ketiga dengan ditemukannya mikroprosesor yang merupakan jantung bagi komputer. Itulah sebabnya revolusi industri ketiga ini lebih dikenal sebagai revolusi informasi.

Kini, kita dalam era peradaban informatik, dan Indonesia masih belum mampu menjadi negara industri yang tangguh. Hal ini disebabkan oleh karena tidak terdapatnya lingkaran positif yang baik antara lembaga pengembangan sains dan lembaga pengembangan teknologi dan lembaga pengembangan ekonomi. Padahal keterjalinan ketiga lembaga itulah yang merupakan akselerator bagi perkembangan ekonomi di negara-negara maju. Ketiadaan jalinan ini tercermin pada kenyataan bahwa di Indonesia sains dan teknologi di pandang sebagai barang asing bagi kebudayaan. Padahal hanya dengan melihat sains dan teknologi sebagai cabang budaya dan peradabanlah, maka keterkaitan antara sains, teknologi dan ekonomi itu dapat dijalin dengan erat sehingga akselerasi perkembangan ekonomi dapat menjadi kenyataan.

Berikut ini diajukan sebuah pandangan filosofis tentang teknologi yang berdasarkan pengamatan tentang sejarah teknologi ditinjau sebagai sebuah koevolusi: evolusi teknologi yang berjalan beriringan dengan evolusi peradaban. Dalam pandangan ini peradaban dunia bergerak maju dengan adanya revolusi-revolusi teknologi yang telah terjadi selama ini. Sebagai perspektif diambil sudut pandang yang melihat koevolusi peradaban teknologi tersebut sebagai kelanjutan dari evolusi biologis sementara evolusi biologis dilihat sebagai pengembangan teknologi natural prahumanistik. Dengan pandangan filosofis historis seperti ini, diharapkan kita dapat mengembalikan teknologi ke dalam pangkuan budaya seperti sebagaimana mestinya. Di lihat dari sudut luar, maka proses pengembalian ini merupakan proses pembudayaan teknologi. Hanya dengan pembudayaan teknologi ini lah mesin akselerator pengembangan ekonomi dapat dijalankan dengan sempurna.

Posisi Teknologi dalam Peradaban

Membudayakan teknologi, berarti melihat teknologi sebagai bagian dari budaya manusia. Budaya manusia itu sendiri dapat dipandang sebagai kesatuan organik yang integral yang meliputi empat strata eksistensial yaitu stratum material, stratum energetik, stratum informatik dan stratum normatif. Keempat strata ini berkaitan dengan kategori-kategori materi, energi, informasi dan nilai-nilai. Eksistensi keempat kategori itu menjadi lebih mudah disadari dengan melihat komputer sebagai sistem integral. Jantung komputer itu adalah mikroprosesor yang dirangkai dengan elemen-element lain membentuk sebuah sistem materi. Komputer itu sendiri tak mungkin berfungsi tanpa pasokan energi dari luar. Dia pun tidak berfungsi tanpa adanya program sistem operasi dan program-program aplikasi yang merupakan sistem informasi. Sementara itu program-program itu tak akan berfungsi tanpa penentuan tujuan dari luar yaitu manusia dengan sistem nilai-nilai.

Dilihat dengan perspektif integralis tersebut maka dapatlah kita melihat budaya sebagai sebuah komputer yang merupakan perpanjangan otak manusia beserta organ-organ biologis lainnya. Dalam pandangan ini kebudayaan, dan peradaban sebagai perluasannya, dapat ditinjau sebagai teknologi humanistik yang merupakan perpanjangan bagi teknologi naturalistik organisme manusia sebagai diri pribadi. Manusia sebagai pribadi juga merupakan kesatuan integral yang menyangkut tubuh material dengan segala organnya, prilaku energetik yang menggerakkan organ-organ itu, kesadaran informatik yang mengarahkan perilaku tersebut dan keyakinan normatif yang menyatukan kesadaran itu dalam suatu kesatuan subyektif yang personal.

Tata nilai sebuah peradaban adalah perpanjangan dari keyakinan individual. Khazanah pengetahuan termasuk sains dan filsafat dalam suatu peradaban adalah perpanjangan dari kesadaran manusia. Sementara itu tata lembaga, seperti misalnya sistem politik, sosial dan ekonomi, adalah kepanjangan dari prilaku manusia individual. Akhirnya semua habitat dan peralatan material manusia dapatlah dipandang sebagai tubuh peradaban yang merupakan perpanjangan dari tubuh manusia secara individual. Dengan demikian peradaban sebagai sebuah sistem integral memiliki keempat strata eksistensial integralis. Begitu pula teknologi dalam pengertian sebuah tekno-sistem memiliki stratifikasi yang sama seperti yang terlihat dalam tabel 1.

Dalam tabel ini tampak terdapat pelapisan atau stratifikasi peradaban pada kuadran-kuadran kiri yang individual dan kuadran-kuadran kanan yang kolektif. Stratifikasi itu sesuai dengan kategori-kategori eksistensial integralis yaitu materi (raga dan tatasarana), energi (perilaku dan tatalembaga), informasi (kesadaran dan pengetahuan) dan nilai-nilai (keyakinan dan tatanilai). Oleh karena itu, teknologi, sebagai komponen sentral suatu peradaban, juga terstratifikasi secara sama seperti yang kita lihat pada tabel 1.

Tabel 1
Eksistensi teknologi sebagai pusat peradaban

PRIBADI

TEKNOLOGI

PERADABAN

Keyakinan

Teknosofia

Tatanilai

Kesadaran

Teknologika

Pengetahuan

Perilaku

Teknostruktur

Tatalembaga

Raga

Teknosfera

Tatasarana

Teknologi, dilihat sebagai produk-produk material yang berkaitan satu sama lainnya, membentuk teknosfera yang merupakan lingkungan buatan menjembatani manusia dengan lingkungan hidup seutuhnya yaitu biosfera. Teknosfera ini tidak akan terbentuk dan bergerak tanpa adanya teknostruktur berupa formasi sosial yang memproduksi, mendistribusi dan mengkonsumsi elemen-elemen teknosfera tersebut. Teknostruktur ini tidak akan terkendali, jika tidak ada teknologika sebagai ilmu yang mengaturnya. Teknologika sendiri diarahkan oleh teknosofia atau filsafat teknologi yang implisit di dalam teknologika sebagai ilmu.

Jika dilihat dengan seksama, maka tabel 1 itu menunjukkan adanya tiga fungsi teknologi yaitu sebagai ekstensi, medium dan milieu. Sebagai ekstensi, teknologi merupakan perpanjangan organ-organ tubuh atau sarana internal pribadi manusia. Sebagai medium, teknologi merupakan medium yang mengantarai pribadi manusia dengan lingkungannya baik yang sosiokultural maupun yang fisik biologis. Sebagai milieu, teknologi merupakan sarana atau organ bagi peradaban sebagai bagian dari biosfera.

Sebenarnya, baik teknologi maupun peradaban, keduanya adalah lingkungan atau supersistem bagi manusia sebagai pribadi. Okeh karena itu koevolusi sosioteknologi itu mendorong perkembangan kejiwaan manusia di mana manusia seperti halnya teknologi dan peradaban berkembang dalam caranya menangani perubahan dan perkembangan lingkungan hidupnya.

Lingkungan hidup material manusia meliputi lingkungan alamiah atau formasi biotik dan lingkungan buatan atau formasi teknik. Sedangkan Lingkungan hidup sosial berupa formasi sosial dan lingkungan hidup kultural berupa formasi mental. Dari keempat formasi itu, yang paling cepat berubahnya adalah formasi teknik. Formasi sosial berubah mengikuti perubahan formasi teknik dan diikuti perubahan formasi mental yang mendukungnya.

Perubahan-perubahan formasi sosial dan mental itu telah membuka cakrawala-cakrawala baru di luar diri manusia dan mengaktualisasikan kapasitas-kapasitas tersembunyi di dalam diri manusia secara bertahap. Dengan demikian proses koevolusi peradaban teknologi dapat dikatakan sebagai sebuah proses berkesinambungan yang panjang manusia dalam memanusiakan manusia. Melalui proses itu, manusia mendapat peluang untuk mengaktualisasikan semua potensi yang ada dalam dirinya.

Sejarah Peradaban Teknologi

Dalam perjalanan sejarah, teknologi dan peradaban berkembang beriringan. Keduanya mengalami koevolusi seperti yang ditampilkan dalam tabel 2. Koevolusi itu berkembang dengan cara bertahap yang menunjukkan perubahan karakteristik teknologi yang berkaitan secara umpan balik positip dengan tujuh perubahan revolusiner peradaban menuju suatu keseimbangan baru. Dari peradaban prateknik terdapat tujuh revolusi sosial yang didorong oleh diciptakannya jenis-jenis teknologi dengan karakteristik yang baru. Kedelapan fase peradaban teknologi itu ditampilkan pada Tabel 2.

Teknologi berkembang dari awal berupa teknologi organik yaitu penggunaan anggota tubuh manusia secara langsung, diikuti oleh tujuh tahap evolusioner teknologi baru. Tahap-tahap teknologi itu memperluas organ-organ tubuh manusia dengan perpanjangan kolektif berupa barang-barang ciptaan manusia yang memperkuat kapasitas organ tersebut.

Pada mulanya, diciptakan perkakas-perkakas, pada zaman teknologi suborganik, yang memperpanjang tangan manusia sebagai suborgan yang berada di luar tubuhnya. Kemudian, perkakas-perkakas itu dihubungkan satu sama lainnya, pada zaman teknologi paraorganik, sehingga gerakannya dapat disesuaikan dengan kepentingan manusia. Ketiga tahap peradaban itu --peradaban prateknik, peradaban prototeknik dan peradaban eoteknik-- menyangkut teknologi material praindustri.

Sesudah itu, manusia menemukan sumber energi alam yang menggantikan tenaga manusia atau hewan, dalam bentuk teknologi anorganik, yaitu tiupan angin dan aliran air dalam berbagai jenis kincir. Ini adalah revolusi protoindustri. Selanjutnya, manusia menemukan cara untuk menggantikan tenaga aliran alamiah itu dalam bentuk teknologi semiorganik dengan tenaga api yang diubah menjadi tenaga uap. Inilah yang dikenal dengan nama revolusi industri pertama atau revolusi Watt.

Tabel 2
Koevolusi Peradaban Teknologi

TEKNOLOGI

PERADABAN

ORGANIK
(tangan)

PRATEKNIK
(perburuan paleolitik)

SUBORGANIK
(perkakas)

PROTOTEKNIK
(revolusi pertanian)

PARAORGANIK
(pesawat)

EOTEKNIK
(revolusi perkotaan)

EKSTRAORGANIK
(kincir)

PALEOTEKNIK

(revolusi Gutenberg)

SEMIORGANIK
(mesin uap)

ARKEOTEKNIK
(revolusi Watt)

SUPERORGANIK
(motor listrik)

NEOTEKNIK
(revolusi Faraday)

MEGAORGANIK
(media elektronik)

MEGATEKNIK
(revolusi Marconi)

METAORGANIK

(jaringan telematik)

METATEKNIK

(revolusi Von Neuman)

Akhirnya manusia menemukan cara untuk mengubah satu bentuk energi luar tubuh manusia menjadi energi luar tubuh lainnya sehingga bisa mendistribusikannya ke banyak tempat dalam bentuk teknologi superorganik. Inilah intisari revolusi Faraday yang pertama kali menciptakan generator listrik yang pada prinsipnya dapat diubah menjadi motor listrik. Revolusi Faraday adalah revolusi energi ketiga, juga dikenal sebagai revolusi industri kedua. Ketiga revolusi teknologi energi itu masing-masing melahirkan peradaban paleoteknik, peradaban arkeoteknik dan peradaban neoteknik.

Kini, kita telah mengalami dua revolusi informasi pasca industri yang tahap-tahapnya dapat kita identifikasikan dengan nama-nama pencipta teknologi yang menjadi dominan pada waktunya. Yang pertama adalah revolusi Marconi yang untuk pertama kalinya berhasil menciptakan mesin komunikasi yang menggunakan tenaga listrik dalam teknologi megaorganik. Revolusi ini diikuti pada akhirnya oleh penemuan komputer praktis pertama oleh von Neuman yang memungkinkan lahirnya teknologi metaorganik yang membentuk masyarakat informasi pascamodern sekarang ini. Kedua teknologi informasi itu melahirkan peradaban megateknik dan peradaban metateknik.

Paralelisme teknologi biologi

Dari pengamatan kita tentang sejarah peradaban teknologi tersebut, kita melihat bahwa teknologi bersama peradaban yang mengiringinya berkembang dalam sebuah pola yang jelas. Pola itu mengulangi pola perkembangan evolusioner kehidupan di muka bumi: dari yang material, melalui yang energetik, menuju yang informatik dan berakhir di dunia normatif. Hal ini kita peroleh jika melihat sebuah organisme sebagai sistem peralatan atau organ yang dapat dipandang sebagai sistem teknologi biologis.

Secara evolusioner, makhluk satu sel muncul sebagai makhluk hidup pertama membentuk sebuah teknologi material yang terbuka memanfaatkan bahan pangan yang ada di lingkungannya. Koalisi makhluk-makhluk satu sel tersebut kemudian membentuk makhluk multiseluler bernama tetumbuhan yang berhasil mengembangkan teknologi energi matahari untuk memanfaatkannya dalam metabolisme kehidupannya. Belakangan muncul makhluk multiseluler hewan yang memanfaatkan energi yang dikumpulkan tanaman itu dan mengembangkan teknologi informasi internal yang memanfaatkan sinyal-sinyal akustik dan optik dilingkungannya dalam bentuk jaringan syaraf dan organ-organ indra.

Tabel 3
Kesejajaran evolusi biologi teknologi

KATEGORI EKSISTENSIAL

EVOLUSI
BIOLOGI

TUMBUH-KEMBANG
MANUSIA

EVOLUSI
TEKNOLOGI

EVOLUSI PERADABAN

Materi

Amuba

Janin

Pertanian

Agrikultural

Energi

Tumbuhan

Bayi

Industri

Industrial

Informasi

Hewan

Anak

Informasi

Informatik

Nilai-nilai

Manusia

Dewasa

Budaya

Kultural

Bahkan kemudian, muncul sejenis organisme multiseluler yang berhasil menggenerasi sinyal-sinyal akustik sebagai teknologi komunikasi dan informasi eksternal secara efisien yaitu bernama bahasa lisan. Dengan teknologi informasi eksternal ini, maka terjadi koordinasi interorganisme. Organisme itu adalah manusia dan dan koordinasi interorganisme itu adalah peradaban. Dengan demikian peradaban itu sendiri dapat dilihat sebagai teknologi kolektif manusia untuk mempertahankan dan mengembangkan dirinya sebagai individu dan sebagai spesies. Dilain pihak dapat diibaratkan peradaban sebagai mega-organisme multi-organismik.

Tampaknya, tumbuh-kembang peradaban manusia sebagai mega-organisme ini mengikuti pola tumbuh-kembang organisme manusia sebagai individu yang mengulangi pola evolusioner biosfera secara keseluruhan. Pada mulanya manusia hidup sebagai makhluk satu sel yang terus memperbanyak diri menjadi janin multiseluler dengan teknologi penyerapan pangan didalam rahim sebagai lingkungannya. Kemudian dia lahir sebagai bayi yang mengembangkan organ luarnya sebagai teknologi penyaluran energi internalnya menjadi gerak terkoordinasi. Lalu dia tumbuh sebagai anak-anak yang belajar berbicara mengembangkan teknologi komunikasi natural dan menulis sebagai teknologi informasi kultural.

Akhirnya, manusia sebagai individu dewasa belajar mengembangkan pola-pola koordinasi kerja-sama dalam bentuk asimilasi nilai-nilai kelompok-kelompok sosial multi-organismik secara berjenjang dari keluarga, sekolah, kantor, pasar, negara dan dunia manusia beradab menyeluruh yang meliputi seluruh muka bumi. Dilihat dari sisi ini etika keluarga, peraturan sekolah, kode etik profesional, hukum dan undang-undang negara serta hukum internasional dan agama dapat dilihat sebagai bagian dari teknologi normatif kolektif yang dimiliki manusia melengkapi teknologi informatik kultural yang dikembangkan manusia sebagai sel peradaban. Dengan demikian teknologi material, teknologi energi, teknologi informasi dan teknologi nilai-nilai dikembangkan secara bertahap dalam tumbuh kembang individu manusia.

Tampaknya, jika kita melihat teknologi sebagai organ bagi peradaban manusia dipandang sebagai mega-organisme, maka sejarah teknologi yang mendominasi setiap zaman dalam tumbuh-kembang peradaban akan mengulangi pola tumbuh-kembang individu manusia maupun pola evolusioner biosfera. Revolusi-revolusi teknologi yang mencirikan lahirnya suatu zaman sebagai fase tumbuh kembang peradaban, menunjukkan pola dasar yang sama dengan pola perkembangan evolusi biosfera dan pola tumbuh-kembang manusia.

Zaman teknologi organik dan perkakas sub-organik, pesawat para-organik merupakan teknologi-teknologi material. Sedangkan teknologi kincir ekstra-organik, teknologi mesin semi-organik dan teknologi motor superorganik merupakan teknologi-teknologi energetik. Sedangkan zaman-zaman berikutnya dicirikan oleh teknologi media megaorganik dan teknologi jaringan telematika metaorganik merupakan teknologi-teknologi informatik. Semua itu menunjukkan adanya paralelisme antara teknologi secara keseluruhan dan biologi secara keseluruhaan pula.

Dinamika Teknologi

Adanya paralelisme perkembangan teknologi dan evolusi biologi ini memungkinkan kita melihat kemungkinan adanya kesejajaran antara dinamika yang mendorong dan mengarahkan kedua jenis perkembangan evolusioner tersebut. Hal itu dapat dilihat dengan jelas apa bila kita mengetahui bahwa kekuatan penggerak evolusi biologis adalah replikasi, variasi dan seleksi lingkungan. Tampaknya evolusi teknologis bergerak didorong oleh kekuatan-kekuatan serupa.

Replikasi teknologi berlangsung melalui pendidikan dan pengajaran yang pada hakekatnya adalah sebuah peniruan satu generasi pada generasi sebelumnya. Penemuan (invensi) dan pembaruan (inovasi) suatu generasi pada teknologi yang diwarisinya dari generasi sebelumnya merupakan analogi dengan variasi genetik dalam evolusi biologis yang disebabkan oleh mutasi dan rekombinasi. Adopsi dan adaptasi masyarakat pada variasi teknologi itu merupakan analogi dari seleksi lingkungan pada proses evolusi biologis. Salah satu strategi adaptasi organisme pada seleksi lingkungan adalah integrasi dan sentralisasi. Hal yang sama terjadi dalam evolusi teknologis.

Evolusi peradaban berkembang beriringan secara ketat dengan evolusi teknologi karena peradaban itu sendiri adalah teknologi normatif yang saling beradaptasi dengan teknologi materi-energi-informasi manusia yang dibentuknya. Sebagai akibatnya peradaban dan teknologi mempunyai ciri-ciri perkembangan yang sama. Ciri-ciri itu adalah (1) ekspansi atau perluasan wilayah, (2) diversifikasi atau pengane-karagaman bentuk, (3) kompleksifikasi atau peningkatan kerumitan, (4) universalisasi atau penyebaran pemakaian dan (5) unifikasi atau penyamaan dan penggabungan proses dan metoda.

Sebagai akibatnya, skala teknologi berkembang dari yang mikroskopik pada era prateknik dan prototeknik ke skala mesoskopik pada era eoteknik, yang bersumber pada revolusi perkotaan, dan era paleoteknik yang dipicu oleh revolusi Gutenberg. Ia pun berkembang dari mesoskopik menjadi makroskopik pada era arkeoteknik, yang dipicu oleh revolusi Watt dan era neoteknik, yang dipicu oleh revolusi Faraday. Akhirnya dia berkembang dari skala makroskopik menjadi megaskopik pada era megateknik, yang dipicu oleh revolusi Marconi, dan metateknik yang dipicu oleh revolusi von Neumann.

Transformasi skala teknologi itu pada gilirannya menghasilkan transformasi fungsional teknologi. Teknologi dalam skala mikroskopik merupakan perpanjangan dari organ biologis manusia. Sedangkan dalam skala mesoskopik teknologi menjadi pengantara antara manusia dan manusia lain dalam masyarakat. Selanjutnya dalam skala makroskopik teknologi berubah fungsinya dari organ bagi peradaban sebagai mega-organisme. Akhirnya pada skala megaskopik, teknologi berubah fungsinya menjadi lingkungan baru bagi peradaban yang terintegrasi dengan lingkungan hidup ekologis manusia. Sebagai akibatnya peradaban sebagai teknologi normatif yang mengendalikan manusia dan teknologi secara sekaligus harus mengalami transformasi pula.

Sebagai akibat dari transformasi skala dan fungsi teknologi itu, maka tak dapat dihindarkan berbagai dampak yang ditimbulkannya dalam peradaban manusia: positif maupun yang negatif. Dampak positif teknologi dapat dilihat dari kenyataan bagaimana teknologi telah memudahkan kehidupan manusia, mempercepat pemenuhan kebutuhan manusia, menghemat energi organik manusia dalam memenuhi kebutuhannya dan memberdayakan potensi-potensi manusia secara maksimal. Sedangkan dampak negatif teknologi tampak dari kenyataan bahwa adanya senjata pemusnah massal, adanya kerusakan lingkungan hidup, keterpecahan kehidupan bermasyarakat serta keterasingan pribadi dari alam, lingkungan dan teknologi itu sendiri.

Dengan demikian, tak dapat dihindari pula keharusan bagi negara dan masyarakat untuk mengendalikan perkembangan teknologi supaya teknologi berfungsi secara optimal dengan cara meningkatkan dampak-dampak positif dan mengurangi dampak-dampak negatif yang mungkin timbul dari perkembangan teknologi. Hal itu dapat direalisir dengan menyadari bahwa teknologi adalah sebuah lembaga yang dibentuk oleh perilaku manusia dan diarahkan oleh kesadaran manusia dan dikendalikan oleh nilai-nilai budaya manusia. Sebagai kesimpulan teknologi material harus dilengkapi oleh teknologi sosial, kultural dan mental sebagai pendorong, pengarah dan pengendali teknologi. Teknologi-teknologi non-material itulah yang harus diciptakan oleh lembaga-lembaga pemerintahan, perusahaan dan pendidikan dalam suatu sinergi yang positif, produktif dan kreatif. Mudah-mudahan begitulah yang akan terjadi di Indonesia. Insya Allah.

Kongres XVII PII, Hotel Hilton Jakarta, 20 September 2006.

No comments :