Tuesday, November 25, 2014

Tazkiyatul Madaniyah

TAZKIYATUL MADANIYAH

ORIENTASI DAN ISLAMISASI PERADABAN

Armahedi Mahzar (c) 2000

Dalam era globalisasi multisektoral yang menggebu-gebu sekarang ini, dengan dampaknya berupa krisis multidimensional yang berkepanjangan dewasa ini, sudah tiba waktunya untuk tidak berpikir sektoral saja, apakah itu politik, ekonomi ataupun budaya. Soalnya apa yang kita digembar-gemborkan sebagai globalisasi itu tak lain dari westernisasi global yang terselubung. Memang tak semua yang berasal dari Barat buruk. Namun, ada baiknya jika kita mengenal peradaban Islam secara lebih mendasar, agar kita dapat menyaring aspek-aspek peradaban mana saja  dari peradaban Barat yang harus diambil, dimodifikasi dan ditolak. Dengan perkataan lain, perlukah kita melakukan orientasi dan islamisasi peradaban? Jika perlu, bagaimanakah caranya? Untuk dapat menjawab pertanyaan itu marilah kita memeriksa terlebih dahulu apa peradaban itu sebenarnya.


PERADABAN DAN KEBUDAYAAN :
KERANCUAN, PERSAMAAN DAN PERBEDAAN

Banyak sekali pengertian peradaban atau civilization diajukan orang. Antara “peradaban” dan “kebudayaan”  atau culture sering dirancukan orang. Kerancuan itu terjadi baik di rumpun budaya Melayu-Indonesia maupun di rumpun budaya Arab-Parsi di Timur Tengah. Mengapa sampai terjadi demikian? Sebabnya adalah karena di dunia Barat sendiri kedua konsep itu sering dikacaukan orang, sedangkan dalam sumber primer Islam, yaitu Quran dan Sunnah, konsep peradaban dalam pengertiannya yang sekarang belumlah ada, walaupun kata ‘adab yang dalam bahasa Indonesia merupakan akar kata dari “peradaban” memang ada. 

Namun dalam bahasa Arab modern sendiri kata civilization sering diterjemahkan menjadi kata 'madaniyyah' (Muhammad Abduh) atau 'tamaddun' (Abdul Jabar Beg) dan 'umran' (Ziauddin Sardar). Kata madaniyyah digunakan oleh cendekiawan Mesir Farid Wajdi untuk bukunya yang berjudul "Al-Madaniyyah wa al-Islam" (1899).  Kata ini juga digunakan oleh  Muhammad Abduh dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1910 berjudul "Al-Islam wa al-Nashraniyyah ma'al Ilmi wa al- Madaniyyah". Padahal, kata madaniyyah sendiri pertama kalinya digunakan oleh filsuf Islam Abu Nashr al-Farabi (meninggal 339 H) dalam bukunya tentang ilmu politik yaitu "al-Siyyasah al-Madaniyyah" dalam pengerian kehidupan kota atau urban.

Perubahan ma'nawi kata madaniyyah itu juga dialami oleh kata 'hadharah'. Pada mulanya kata 'hadharah' digunakan untuk pengertian kehidupan menetap oleh bapak ilmu sosiologi dari Tunisia, Ibn Khaldun, di abad XIV. Pada abad XX kata ini digunakan untuk penngertian civilization oleh penulis-penulis Arab seperti Kurd Ali ( "Al-Islam wa al-Hadharah al-Arabiyyah"), dan  Prof Jamaluddin Surur ("Tarikh al Hadharah al-Islamiyyah fi l-Syarq").

Sementara itu penulis Arab lainnya lebih suka menggunakan 'tamaddun' untuk menterjemahkan kata peradaban. Misalnya Jurji Zaidan menulis buku Ta'rikh al-Tamaddun al-Islami (Sejarah Peradaban Islam). Kata itu menjadi populer di kawasan Melayu yaitu Malaysia dan Indonesia. Tetapi di kawasan Indo-Pakistan, para penulis di sana menggunakannya untuk pengertian kebudayaan atau kultur, bukan untuk peradaban. 

Pendapat ini senafas dengan pemikir muslim dari Libanon, 'Effat al-Sharqawi, yang menulis:

"Kebudayaan (hadharah), menurut kami adalah khazanah historis yang terefleksikan dalam kredo dan nilai, yang menggariskan bagi tujuan ideal dan makna rohaniah yang dalam, yang jauh dari kontradiksi-kontradiksi ruang dan waktu. Sedang peradaban (madaniyah) adalah khazanah pengetahuan terapan yang dimaksudkan untuk mengangkat dan meninggikan manusia dari peringatan penyerahan diri terhadap kondisi-kondisi alam di sekelilingnya". (Filsafat Kebudayaan Islam , Pustaka 1983 hal. 6  )

Begitu juga pemikir brilian Ikhwanul Muslimin Sa'id Hawwa berpendapat sama ketika dia berkata :

".... madaniah (peradaban) suatu bangsa berarti aspek material yang ada pada bangsa ini. .... tsaqafah (kebudayaan suatu bangsa berarti aspek lain dari kehidupan bangsa itu sendiri .... hadharah suatu bangsa berarti gabungan tsaqafah dan  madaniahnya."  (Agar Kita Tidak Dilindas Zaman, Pustaka Mantiq, Jakarta 1989, hal 95).


HAKEKAT DINUL ISLAM:
SUPER-PARADIGMA PERADABAN

Oleh karena kerancuan konseptual itu penulis menjajukan sebuah stratifikasi kebudayaan lapis empat sebagai berikut:
Ringkasnya , kebudayaan itu dapat dianggap sebagi suatu sistem integral yang terdiri dari empat buah subsistem yaitu: 1. Subsistem teknikal atau tata sarana ( kebudayaan bendawi)2. Subsistem institusional atau tata lembaga (pola perilaku yang nampak)3. Subsistem ideasional atau tata cita (pola tersirat bagian luar)4. Subsistem valuasional atau tata nilai (pola perilaku tersirat bagian dalam). (Integralisme : sebuah rekonstruksi Filsafat Islam, Penerbit Pustaka 1983, hal 86)
Dan selanjutnya kita dapat memandang peradaban sebagai kebudayaan yang lebih kompleks dan lebih luas wilayahnya. Dengan susunan terstratifikasi seperti ini, kita bisa memandang ummat sebagai tubuh dari peradaban dan teknologi sebagai pakaiannya. Tetapi kita juga menggabungkan ummat dengan lingkungan hidupnya, yang alami maupun buatan sebagai tubuh peradaban yang disebut sebagai madinah Dengan sudut pandangan ini susunan eksistensial peradaban selengkapnya dapat diuraikan sebagai berikut :

1.   Komponen pertama peradaban adalah madinah sebagai aspek ekoteknologis peradaban, yaitu ummah beserta lingkungan hidupnya, meliputi subsistem-subsistem populasi, pemukiman, teknologi dan ekologi. Komponen ini juga sering disebut sebagai madaniyah yang merupakan bentuk material suatu peradaban.
2.  Komponen kedua adalah tamaddun sebagai aspek sosiologis berupa proses interaksi sosial antar anggota ummat yang meliputi subsistem-subsistem politik (siyasah), ekonomi , sosial, seni budaya dan lain sebagainya. Komponen ini juga sering disebut sebagai hadharah yang merupakan struktur sosial suatu peradaban.
3.      Sedangkan komponen ketiga adalah hikmat sebagai aspek ideologis yaitu sistem informasi, pengetahuan dan gagasan untuk menata tamaddun meliputi subsistem-subsistem ideologi (maktab), filsafat (hikmah), ilmu pengetahuan (ulum), teologi (kalam), mitologi  dan lain sebagainya. Komponen ini sering disebut tsaqafah yang merupakan kerangka intelektual suatu peradaban.
4.   Akhirnya, komponen keempat adalah Din sebagai aspek aksiologis yaitu sistem nilai, keyakinan yang mengarahkan dan membingkai hikmat, meliputi subsistem-subsistem yuridis, etis, estetis dan lain sebagainya. Komponen Din ini merupakan landasan fundamental suatu peradaban.  Dinul Islam meliputi Aqidah, Syari’ah dan Thariqah.
Dinul Islam sendiri bukanlah suatu sistem nilai yang terbentuk secara evolusioner dari konsensus-konsensus sosial antar manusia, akan tetapi merupakan wahyu Ilahi transendental, Quranul Karim, yang merupakan sumber luhur nilai-nilai Aqidah, Syari’ah dan Thariqah. Aqidah merupakan sistem kepercayaan merupakan bingkai bagi pemahaman dan landasan bagi syari’ah. Syari’ah sendiri merupakan sistem nilai dasar bagi pengamalan sosial yang terintegrasi dengan dengan pengabdian vertikal seorang muslim. Sedangkan Thariqah adalah metoda untuk menimbulkan motivasi vertikal bagi pengamalan sosial secara terpadu.
Ringkasnya, struktur peradaban Islam dapat dilukiskan seperti pada Tabel 1 berikut ini
Tabel 1
Fundamental Peradaban Islam
Komponen peradaban
Peradaban
Islam
Elemen
Peradaban
Aspek Ekotekologis
(Bentuk material)
Ummah, Madinah, Alat
(=Madaniyah)
Penduduk, Pemukiman,
Ekologi, Teknologi
Aspek Sosiologis
(Struktur sosial)
Tamaddun
(=Hadharah)
Sosial, Ekonomi,
Politik dll
Aspek Ideologis
(Kerangka intelektual)
Hikmat, ‘Ilm, Maktab
(=Tsaqafah)
Filsafat, Ilmu, Seni,
Ideologi dll

Aspek Aksiologis 
(Landasan fundamental)

Aqidah, Syari’ah, Thariqah
(=Din)
Nilai, Prinsip, Norma
(Agama,Etika,Estetika  dll)
Esensi Teleologis
(Substansi spiritual)
Quran,
Sunnah
Sumber
Nilai


HIKMATUL WAHDATIYAH :
PARADIGMA KEILMUAN ISLAM

Jika diperhatikan dengan seksama, maka akan tampak bahwa kedudukan kerangka intelektual suatu peradaban terletak tepat ditengah bentuk material dan substansi spiritual peradaban, dan juga tepat di antara struktur sosial dan landasan fundamental peradaban. Sesungguhnyalah, pemilihan kerangka intelektual yang tepat itu sangat penting, sebab tanpa kerangka yang tepat kita akan cenderung terperangkap oleh materialisme kapitalistik dan sosialisme sekuler di satu pihak, serta fundamentalisme religius dan spiritualisme mistik di lain pihak.

Islam jelas tidak akan terperangkap pada bentuk-bentuk ekstremitas  parsial tersebut, oleh karena Imam Al-Ghazali telah menunjukkan dengan gamblang bahwa terdapat empat aspek non-material manusia yaitu ruh, qalb, ‘aql dan nafs sebagai pelengkap aspek material manusia yaitu jism alias tubuh fisik. Para mutashawif dan ahli hikmat sesudah beliau kemudian meletakkan kelima komponen individu itu dalam suatu hirarki yang lebih halus dan kompleks. Namun, bagi penyusunan kerangka paradigma epistemologis untuk sains modern yang islami, hirarki integralitas individu seperti yang ditampilkan pada kolom pertama tabel 2 berikut ini agaknya cukuplah memadai.

Tabel 2
Struktur Paradigma Keilmuan Islami
Insan
Kalam
Fiqh
Tasauf
Ilmu
Hikmat
Ruh
Dzatullah
Quran
Haqiqah
(Transendentalitas)
Illat thammah
Qalb
Sifatullah
Sunnah
Ma’rifah
Universalitas
Illat gha’iyah
‘Aql
Amrullah
Ijtihad
Thariqah
Rasionalitas
Illat surriyah
Nafs
Sunnatullah
Ijma’
Syari’ah
Operasionalitas
Illat fa’iliyah
Jism
Khalqillah
Urf
Aqidah
Obyektivitas
Illat maddiyah

Perlu diperhatikan bahwa struktur lima strata kepribadian insan, jika dibaca dari bawah ke atas, sejajar dengan struktur lima strata peradaban Islam pada Tabel 1 dibaca dari atas kebawah. Maksudnya jism individu bersesuaian dengan aspek material peradaban, sedangkan ruh individu bersesuaian dengan aspek spiritual  peradaban. Selanjutnya nafs, ‘aql dan qalb individu bersesuaian dengan aspek-aspek sosial, intelektual dan moral peradaban. Dengan demikian, kesepaduan peradaban Islam dan individu-individu  penggeraknya merupakan suatu keniscayaan yang tak terbantahkan.

Dengan mengidentifikasi kesejajaran kelima strata individu dan peradaban itu dengan lima strata konsep Allah dalam Kalam, lima sumber hukum dalam Fiqh dan lima jalan pengabdian dalam Tashawuf, maka kita melihat kesepaduan individu dan ulumuddin sebagai bagian integral dari peradaban Islam. Yang perlu ditekankan ialah kenyataan bahwa keempat strata terendah hirarki psikologi, sosiologi dan ideologi tradisisional itu bahkan juga bersesuaian dengan empat strata struktur epistemologi sains modern, yaitu: obyektivitas, operasionalitas atau empirisitas, rasionalitas dan universalitas sains modern. Dari kesejajaran parsial ini, kita dapat melihat keunggulan sekaligus kelemahan sains modern.

Dengan memasukkan unsur transendentalitas ke dalam sains modern yang kita peroleh dari barat itu sebagai ulumuddunya dan menyepadukannya  dengan ulumuddin, maka kita memperoleh ulumul islamiyah. Ulumul Islamiyah ini sebenarnya sepadu juga dengan Hikmatul Islamiyah melalui konsep stratifikasi illat atau kausalitas yang diajarkan oleh Hikmatul Masya’iyyah yang merupakan islamisasi  dari filsafat helenisme. Maratibul Illat atau hirarki kausalitas membentuk jenjang dari Illat Maddiyah (Causa Materialis) ke Illat Thammah (Causa Prima), melaui Illat Fa’iliyah (Causa Eficiens), Illat Suriyyah (Causa Formalis) dan Illat Gha’iyah (Causa Finalis).   
Dengan menyepadukan kembali ilmu kealaman, ilmu keagamaan dan filsafat, melalui kesepaduan maratibul ‘ulum, dalam ‘ulumul islamiyah, dan maratibul wujud, dalam hikmatul islamiyah, kita tiba pada filsafat Wahdatul Ulum atau Hikmatul Wahdatiyah yang merupakan aspek terpenting Hikmatul Islamiyah. Hikmatul Wahdatiyah atau filsafat kesepaduan tradisi Islam di masa lalu telah menjadi paradigma epistemologis dua kurun kebangkitan peradaban Islam: kurun ‘arabi dan kurun ‘ajami. Kini ketika dunia memasuki milenium tiga dengan segala keanekaragam, percepatan dan ketidakpastian perubahan di masa depan, sudah tiba waktunya cendekiawan muslim kurun ‘alami menyumbangkan paradigma ilmu yang sepadu bagi dunia keilmuan modern sebagai penganti paradigma sains modern yang dualistik parsial yang melahirkan kegalauan fraktal peradaban Barat posmodern dewasa ini.


ULIL ALBAB:
PEMBANGKIT PERADABAN ISLAM MASA DEPAN

Siapakah cendekiawan muslim yang akan mempersembahkan kunci rahasia penyelesai kemelut fragmentasi posmodern di awal milenium ini? Dialah para ulil albab yang deskripsinya telah diuraikan dengan jelas oleh Allah subhana wata’ala dalam Al-Quranul Karim seperti berikut:
Adakah (sama dengan lainnya) orang yang berbakti pada Allah pada waktu malam, seraya sujud dan berdiri, lagi takut akan (siksa) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbinya? Katakanlah apakah sama orang-orang berilmu dengan orang-orang yang tak berilmu. Sesungguhnya tidaklah ingat kecuali ulil-albab (Quran Suci, Az-Zumar 39:9)
Dari uraian itu jelas dapat kita uraikan adanya tiga aspek kepribadian yang harus dikembangkan oleh seorang ulul albab. Ketiga aspek kepribadian itu tercermin dalam tiga sikap hidup sebagai seorang ‘abid, seorang ‘alim dan seorang ‘arif .

Seorang ‘abid senantiasa melayani sesama makhluk hidup dalam pengabdian atau ibadahnya kepada Sang Pencipta. Seorang ‘alim meningkatkan pelayanan kemanusiaan para ‘abid dengan cara mencari cara-cara baru yang lebih murah, mudah dan ramah lingkungan melalui penelitian mengenai ayat-ayat Allah yang ada di cakrawala atau ‘afaq alam fisik. Sedangkan orang-orang ‘arif selalu membaca ayat-ayat yang tertulis di dalam diri-diri mereka atau anfus dengan maksud untuk mengalahkan hawa nafsu yang kini telah meluar tubuh melalui perkembangan teknologi yang didorong oleh mekanisme ekonomi pasar bebas global.

Tabel 3
Sikap, peran, sarana dan metoda ulil albab
Sikap
Peran
Albab
Din
‘arif
Waliyullah
Qalb
(Spiritual Intelligence)

Thariqah

‘alim
Khalifatullah
‘Aql
(Intelectual Intelligence)

Aqidah

‘abid
Abdullah
Nafs
(Emotional Intelligence)

Syari’ah



Seorang ulul ‘albab adalah seorang yang sekaligus ‘abid, ‘alim dan ‘arif. Sebagai seorang ‘abid, dia berperan sebagai abdullah yang segala perilaku dan tindakannya disesuaikan dengan Syari’ah yang mengendalikan nafs-nya. Begitu pula, sebagai seorang ‘alim, dia berperan sebagai khalifatullah fil ardh yang mengembangkan kreativitasnya dalam bingkai aqidah yang mengendalikan ‘aql-nya. Akhirnya, sebagai seorang ‘arif dia berperan sebagai waliyullah yang menjelajahi kedalaman dirinya dengan metoda thariqah yang membersihkan qalb-nya sehingga dapat memantulkan cahaya Kebenaran dan Kebijaksanaan dalam kehidupannya sehari-hari.
Dalam bahasa yang populer sekarang, seorang ulul albab harus mengembangkan Intelligence Quotient, Emotional Quotient dan Spiritual Quotient secara selaras, seimbang dan sepadu sehingga hubungannya secara vertikal, horisontal dan internal dengan Allah subhana wata’ala dapat berlangsung secara optimal.  Dalam bahasa religius keislaman, seorang ulul albab adalah seorang muslim, mu’min dan muhsin yang seutuhnya sehingga dia mencapai taraf seorang muttaqin sejati yang menjalankan Dinul Islam secara kaafah.

ARKANUL ISLAM:
INTI STRATEGIS TAZKIYATUL MADANIYAH

Dinul Islam harus diimplementasikan dalam sebuah proses pengamalan Islam. Dalam tataran individu hal itu dilakukan dengan melaksanakan Arkanul Islam. Rukun Islam yang lima itu tidak hanya mempunyai dimensi vertikal sebagai kegiatan ibadah dalam rangka membina pribadi muslim yang kaafah, tetapi juga dimensi horisontal sebagai kerangka dasar bagi kegiatan mu’amalah membangun peradaban Islam.

Tasyahud, yaitu rukun pertama, tak lain dari komitmen individu untuk mengabdi pada Allah Yang Maha Esa, yaitu Tauhid, dan komitmen individu untuk melaksanakan Dinul Islam yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad dengan cara meneladaninya sehingga dapat melakukan transformasi religio-kultural lingkungannya sebagai rahmatan lil alamiin. Sebagai penebar rahmat bagi seluruh bangsa, pribadi muslim menyampaikan pesan salam (kedamaian) melalui aslama (penyerahan diri total) pada Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Esensi tasyahud ini adalah Tazkiyatun-Nafsi, penyucian diri adalah pasrah pada Kasih Sayang Ilahi menyalurkan Kasih-SayangNya pada segala CiptaanNya. Dalam konteks islamisasi peradaban, tahap ini berarti melakukan reorientasi dan rekonseptualisasi semua pemikiran, pemahaman dan pengamalan pribadi kita menjadi islami.

Shalat lima waktu, sebagai rukun kedua, tak lain dari komitmen individu untuk melaksanakan pengabdian secara berkelompok. Pembentukan jama’ah shalat di keluarga dan di masjid secara tertib waktu adalah sarana dari pembentukan molekul-molekul peradaban jika kita menggunakan metafor ilmu kimia. Jika kita menggunakan metafor komputer. Pembentukan jama’ah yang harmonis adalah sinkronisasi banyak prosesor sehingga dapat berfungsi secara kooperatif dalam bentuk modul-modul multi-prosesor meta-komputer peradaban.Jadi esensi shalat secara mu’amalah adalah Tazkiyatul Jama’ati. Dalam konteks islamisasi peradaban, ini berarti melakukan studi dan aksi kelompok dalam islamisasi salah satu cabang peradaban tertentu sesuai dengan bidang studi dan bidang kerja masing-masing.

Shaum, sebagai rukun Islam ketiga, tak lain dari pembentukan solidaritas sosial berbagai kelompok itu sehingga muncul kerjasma tolong menolong antara kelompok yang lebih mampu pada yang kurang mampu. Dalam metafor kimia ini berarti memanfaatkan kelebihan dan kekurangan masing-masing molekul untuk membentuk reaksi kimia kompleks jalin-menjalin yang menata-diri (self-organized) menjadi sel-sel biokimia.  Dalam hal peradaban reaksi kimiawi itu berupa berbagai masyarakat atau institusi sosial dengan fungsi berbeda-beda. Jadi shaum pada dasarnya adalah Tazkiyatul Ijtima’i atau penyucian masyarakat. Dalam konteks islamisasi peradaban, ini berarti melakukan kerja sama antar kelompok studi dan aksi islamisasi cabang peradaban yang sama membentuk suatu masyarakat keilmuan dan kebudayaan Islam.

Zakat, sebagai rukun Islam keempat, tak lain dari pembersihan harta seorang muslim dari apa yang bukan haknya. Untuk pelaksanaan zakat ini diperlukan lembaga sentral yang bisa menangani ketidakseimbangan pendapatan dari berbagai masyarakat dan kelembagaannya sehingga terjadi keseimbangan. Dalam metafor biologis, peradaban memerlukan satu organ yang memonitor dan mengoptimalkan kinerja organ-organ lainnya. Dalam hal peradaban Islam, pemerintahan merupakan instintusi sosial yang diperlukan untuk itu. Penggabungan berbagai institusi sosial dalam suatu sistem negara merupakan proses Tazkiyatul-Ummati. Dalam konteks islamisasi peradaban, ini berarti berbagai masyarakat keilmuan dan kebudayaan Islam yang berbeda terintegrasi membentuk suatu dewan budaya keagamaan Islam yang terpusat dalam skala kebangsaan.

Hajj adalah rukun kelima yang tak lain dari pelepaskan kotak-kotak kenegaraan, kebangsaan dan stratifikasi sosial melebur dalam suatu upacara suji mengelilingi Ka’bah dan lain sebagainya bersatu dengan jama’ah dari berbagai negara dan bangsa. Dalam metafor komputer, ini setara dengan peleburan satu sistem dengan sistem-sistem lainnya dalam suatu meta-sistem jaringan komputer yang tidak tergantung pada sistem operasi masing-masing komputer melalui satu protokol komunikasi antar-sistem yang sama. Peleburan komputer-komputer dalam satu meta-komputer bernama internet adalah analog bagi peleburan negara-negara melalui warganya dalam suatu peradaban global. Jika hajj adalah puncak ibadah individual yang melambangkan pembangkitan peradaban Islam atau Tazkiyatul Manadiyati. Dalam konteks islamisasi peradaban, ini berarti bahwa berbagai dewan budaya keagamaam Islam bangsa-bangsa sedunia menjalin jaringan informasi, komunikasi dan kooperasi sebagai sistem saraf dan organ kebangkitan peradaban Islam di masa-depan .

Tabel 4
Rukun Islam sebagai
Inti Strategi Islamisasi Peradaban
Rukun
Syahadah
Shalat
Shaum
Zakat
Hajj
Hakekat
Mu’amalah
Tazikyatul
Nafsi
Tazkiyatul
Jama’ati
Tazkiyatul
Ijtima’i
Tazkiyatul
Ummati
Tazkiyatul
Madaniyati


PENUTUP


Dengan demikian, kesimpulannya, Arkanul Islam dapat dipandang sebagai inti strategis untuk Tazkiyatul Madaniyati, atau islamisasi peradaban, yang bersifat mu’amalah sebagai pelengkap fungsi ubudiah-nya. Dalam hal ini tazkiyatul madaniyati dapat dilihat sebagai perluasan tazkiyatul nafsi yang biasa dilakukan oleh kaum sufi. Hal ini perlu dilakukan oleh karena tubuh-luar manusia yang kini, dalam tahap perkembangan teknologi informasi, telah terintegrasi sangat ketat membentuk sebuah super-organism dengan organ-organ sosial dan teknologis. Jika Tazkiyatul Nafsi adalah perjuangan melawan logika organ-organ endo-somatik manusia alias naluri biologis, maka Tazkiyatul Madaniyati adalah perjuangan melawan logika organ ekso-somatik manusia alias dorongan/tarikan tekno-ekonomis dalam bentuk berbagai pesona konsumtivisme materialistik yang dibujukkan lewat media telekomunikasi massa global.

Menjadikan tempat kerja kita sebagai medan Tazkiyatul Madaniyati adalah bentuk perjuangan yang sangat berat. Perjuangan itu menjadi bertambah berat jika lingkungan teknologis itu telah menjadi lebih cerdas bahkan melebihi kecerdasan manusia. Akan tetapi, dengan mengasah qalbu kita untuk dapat menjalankan Dinul Islam sebagai sistem operasi super-cerdas ilahiah, maka, insya Allah, perjuangan itu dapat dimenangkan oleh kaum muslimin. Dengan demikian sebuah peradaban Islam yang kuat dan damai akan dapat menjadi teladan bagi peradaban-peradaban lainnya.

Pembangunan peradaban Islam adalah misi kita dunia sebagai kelanjutan implementasi program komputasi evolusiner kosmik yang terstruktur secara hirarki fraktal. Proses evolusi semesta adalah implementasi dari program Kun Fayakun Sang Maha Pencipta. Proses evolusi semesta ini berlangsung secara bertahap dari evolusi kosmologis, geologis, biologis, psikologis, sosiologis dan teknologis. Kini kita tiba pada satu fase di mana ke empat tahap terakhir evolusi semesta itu bergulung menjadi satu sebagai ujian bagi manusia untuk mengatasi problematika yang ditimbulkannya. Kaum muslimin dengan modal Dinul Islam tertantang untuk berjuang membuktikan keunggulan peradaban Islam sebagai alternatif pemecahan masalah. Semoga perjuangan kita mendapat ridha Allah subhana wa ta’ala. Amin ya Rabbal alamin.

Bandung, 21 September 2000
Islamic Studies of Economics Group
Universitas Padjadjaran  Bandung

No comments :