Thursday, March 05, 2009

Peradaban & Filsafat Teknologi

SEJARAH & FILSAFAT TEKNOLOGI

Armahedi Mahzar

Kita mengenal teknologi dalam pengertiannya yang modern sebagai aplikasi atau penerapan sains. Namun sains dalam pengertiannya yang modern berakar pada revolusi Copernicus pada abad ke 16 masehi yang berujung pada penemuan mekanika Newton yang memandang alam sebagai sebuah mesin raksasa. Pandangan mekanistik Newtonian tentang alam itu sendiri merupakan penggantian pandangan organismik Aristotelean yang mendominasi pemikiran manusia selama lebih dari seribu tahunan. Pandangan organismik Aristoteleian itu sendiri adalah pandangan filosofis yang menggantikan pandangan mitologis yang melihat alam bukan sebagai organisme, tetapi sebagai sebuah kerajaan dengan para dewa sebagai pemerintahnya.

Penggantian-penggantian sudut pandang itu sendiri sebenarnya dipicu oleh penemuan-penemuan teknologi yang kemudian mendominasi era peradaban pasca penemuan teknologis tersebut. Pandangan organismik Aristoteleian itu dipicu oleh lahirnya pemikiran logis yang dimungkinkan oleh ditemukannya huruf alfabetik sebagai teknologi komunikasi informasi yang revolusioner. Begitu juga penggantian pandangan organismik Aristoteleian dengan pandangan mekanistik Newtonian dipicu oleh penemuan revolusioner berikutnya dibidang komunikasi informasi: revolusi Gutenberg. Revolusi Gutenberg bermula dengan ditemukannya mesin cetak tipografis manual oleh Gutenberg. Revolusi teknologi inilah yang memicu lahirnya sains modern.

Tampak dari uraian di atas bahwa lahirnya teknologi pada dasarnya jauh mendahului kelahiran sains modern. Namun, dengan kelahiran sains modern terjadilah sebuah hubungan timbal balik positif antara sains, teknologi dan ekonomi yang memungkinkan revolusi-revolusi sains dan teknologi berikutnya. Sains mekanistik deterministik Newtonian memang melahirkan revolusi industri atau revolusi Watt, namun revolusi Faraday yang melihat dunia sebagai lautan ether elektromagnetik melahirkan revolusi industri kedua setelah ditemukannya generator dan motor listrik. Begitu pula revolusi sains kedua yang dipicu oleh lahirnya teori kuantum dan relativitas, mendorong revolusi industri ketiga dengan ditemukannya mikroprosesor yang merupakan jantung bagi komputer. Itulah sebabnya revolusi industri ketiga ini lebih dikenal sebagai revolusi informasi.

Kini, kita dalam era peradaban informatik, dan Indonesia masih belum mampu menjadi negara industri yang tangguh. Hal ini disebabkan oleh karena tidak terdapatnya lingkaran positif yang baik antara lembaga pengembangan sains dan lembaga pengembangan teknologi dan lembaga pengembangan ekonomi. Padahal keterjalinan ketiga lembaga itulah yang merupakan akselerator bagi perkembangan ekonomi di negara-negara maju. Ketiadaan jalinan ini tercermin pada kenyataan bahwa di Indonesia sains dan teknologi di pandang sebagai barang asing bagi kebudayaan. Padahal hanya dengan melihat sains dan teknologi sebagai cabang budaya dan peradabanlah, maka keterkaitan antara sains, teknologi dan ekonomi itu dapat dijalin dengan erat sehingga akselerasi perkembangan ekonomi dapat menjadi kenyataan.

Berikut ini diajukan sebuah pandangan filosofis tentang teknologi yang berdasarkan pengamatan tentang sejarah teknologi ditinjau sebagai sebuah koevolusi: evolusi teknologi yang berjalan beriringan dengan evolusi peradaban. Dalam pandangan ini peradaban dunia bergerak maju dengan adanya revolusi-revolusi teknologi yang telah terjadi selama ini. Sebagai perspektif diambil sudut pandang yang melihat koevolusi peradaban teknologi tersebut sebagai kelanjutan dari evolusi biologis sementara evolusi biologis dilihat sebagai pengembangan teknologi natural prahumanistik. Dengan pandangan filosofis historis seperti ini, diharapkan kita dapat mengembalikan teknologi ke dalam pangkuan budaya seperti sebagaimana mestinya. Di lihat dari sudut luar, maka proses pengembalian ini merupakan proses pembudayaan teknologi. Hanya dengan pembudayaan teknologi ini lah mesin akselerator pengembangan ekonomi dapat dijalankan dengan sempurna.

Posisi Teknologi dalam Peradaban

Membudayakan teknologi, berarti melihat teknologi sebagai bagian dari budaya manusia. Budaya manusia itu sendiri dapat dipandang sebagai kesatuan organik yang integral yang meliputi empat strata eksistensial yaitu stratum material, stratum energetik, stratum informatik dan stratum normatif. Keempat strata ini berkaitan dengan kategori-kategori materi, energi, informasi dan nilai-nilai. Eksistensi keempat kategori itu menjadi lebih mudah disadari dengan melihat komputer sebagai sistem integral. Jantung komputer itu adalah mikroprosesor yang dirangkai dengan elemen-element lain membentuk sebuah sistem materi. Komputer itu sendiri tak mungkin berfungsi tanpa pasokan energi dari luar. Dia pun tidak berfungsi tanpa adanya program sistem operasi dan program-program aplikasi yang merupakan sistem informasi. Sementara itu program-program itu tak akan berfungsi tanpa penentuan tujuan dari luar yaitu manusia dengan sistem nilai-nilai.

Dilihat dengan perspektif integralis tersebut maka dapatlah kita melihat budaya sebagai sebuah komputer yang merupakan perpanjangan otak manusia beserta organ-organ biologis lainnya. Dalam pandangan ini kebudayaan, dan peradaban sebagai perluasannya, dapat ditinjau sebagai teknologi humanistik yang merupakan perpanjangan bagi teknologi naturalistik organisme manusia sebagai diri pribadi. Manusia sebagai pribadi juga merupakan kesatuan integral yang menyangkut tubuh material dengan segala organnya, prilaku energetik yang menggerakkan organ-organ itu, kesadaran informatik yang mengarahkan perilaku tersebut dan keyakinan normatif yang menyatukan kesadaran itu dalam suatu kesatuan subyektif yang personal.

Tata nilai sebuah peradaban adalah perpanjangan dari keyakinan individual. Khazanah pengetahuan termasuk sains dan filsafat dalam suatu peradaban adalah perpanjangan dari kesadaran manusia. Sementara itu tata lembaga, seperti misalnya sistem politik, sosial dan ekonomi, adalah kepanjangan dari prilaku manusia individual. Akhirnya semua habitat dan peralatan material manusia dapatlah dipandang sebagai tubuh peradaban yang merupakan perpanjangan dari tubuh manusia secara individual. Dengan demikian peradaban sebagai sebuah sistem integral memiliki keempat strata eksistensial integralis. Begitu pula teknologi dalam pengertian sebuah tekno-sistem memiliki stratifikasi yang sama seperti yang terlihat dalam tabel 1.

Dalam tabel ini tampak terdapat pelapisan atau stratifikasi peradaban pada kuadran-kuadran kiri yang individual dan kuadran-kuadran kanan yang kolektif. Stratifikasi itu sesuai dengan kategori-kategori eksistensial integralis yaitu materi (raga dan tatasarana), energi (perilaku dan tatalembaga), informasi (kesadaran dan pengetahuan) dan nilai-nilai (keyakinan dan tatanilai). Oleh karena itu, teknologi, sebagai komponen sentral suatu peradaban, juga terstratifikasi secara sama seperti yang kita lihat pada tabel 1.

Tabel 1
Eksistensi teknologi sebagai pusat peradaban

PRIBADI

TEKNOLOGI

PERADABAN

Keyakinan

Teknosofia

Tatanilai

Kesadaran

Teknologika

Pengetahuan

Perilaku

Teknostruktur

Tatalembaga

Raga

Teknosfera

Tatasarana

Teknologi, dilihat sebagai produk-produk material yang berkaitan satu sama lainnya, membentuk teknosfera yang merupakan lingkungan buatan menjembatani manusia dengan lingkungan hidup seutuhnya yaitu biosfera. Teknosfera ini tidak akan terbentuk dan bergerak tanpa adanya teknostruktur berupa formasi sosial yang memproduksi, mendistribusi dan mengkonsumsi elemen-elemen teknosfera tersebut. Teknostruktur ini tidak akan terkendali, jika tidak ada teknologika sebagai ilmu yang mengaturnya. Teknologika sendiri diarahkan oleh teknosofia atau filsafat teknologi yang implisit di dalam teknologika sebagai ilmu.

Jika dilihat dengan seksama, maka tabel 1 itu menunjukkan adanya tiga fungsi teknologi yaitu sebagai ekstensi, medium dan milieu. Sebagai ekstensi, teknologi merupakan perpanjangan organ-organ tubuh atau sarana internal pribadi manusia. Sebagai medium, teknologi merupakan medium yang mengantarai pribadi manusia dengan lingkungannya baik yang sosiokultural maupun yang fisik biologis. Sebagai milieu, teknologi merupakan sarana atau organ bagi peradaban sebagai bagian dari biosfera.

Sebenarnya, baik teknologi maupun peradaban, keduanya adalah lingkungan atau supersistem bagi manusia sebagai pribadi. Okeh karena itu koevolusi sosioteknologi itu mendorong perkembangan kejiwaan manusia di mana manusia seperti halnya teknologi dan peradaban berkembang dalam caranya menangani perubahan dan perkembangan lingkungan hidupnya.

Lingkungan hidup material manusia meliputi lingkungan alamiah atau formasi biotik dan lingkungan buatan atau formasi teknik. Sedangkan Lingkungan hidup sosial berupa formasi sosial dan lingkungan hidup kultural berupa formasi mental. Dari keempat formasi itu, yang paling cepat berubahnya adalah formasi teknik. Formasi sosial berubah mengikuti perubahan formasi teknik dan diikuti perubahan formasi mental yang mendukungnya.

Perubahan-perubahan formasi sosial dan mental itu telah membuka cakrawala-cakrawala baru di luar diri manusia dan mengaktualisasikan kapasitas-kapasitas tersembunyi di dalam diri manusia secara bertahap. Dengan demikian proses koevolusi peradaban teknologi dapat dikatakan sebagai sebuah proses berkesinambungan yang panjang manusia dalam memanusiakan manusia. Melalui proses itu, manusia mendapat peluang untuk mengaktualisasikan semua potensi yang ada dalam dirinya.

Sejarah Peradaban Teknologi

Dalam perjalanan sejarah, teknologi dan peradaban berkembang beriringan. Keduanya mengalami koevolusi seperti yang ditampilkan dalam tabel 2. Koevolusi itu berkembang dengan cara bertahap yang menunjukkan perubahan karakteristik teknologi yang berkaitan secara umpan balik positip dengan tujuh perubahan revolusiner peradaban menuju suatu keseimbangan baru. Dari peradaban prateknik terdapat tujuh revolusi sosial yang didorong oleh diciptakannya jenis-jenis teknologi dengan karakteristik yang baru. Kedelapan fase peradaban teknologi itu ditampilkan pada Tabel 2.

Teknologi berkembang dari awal berupa teknologi organik yaitu penggunaan anggota tubuh manusia secara langsung, diikuti oleh tujuh tahap evolusioner teknologi baru. Tahap-tahap teknologi itu memperluas organ-organ tubuh manusia dengan perpanjangan kolektif berupa barang-barang ciptaan manusia yang memperkuat kapasitas organ tersebut.

Pada mulanya, diciptakan perkakas-perkakas, pada zaman teknologi suborganik, yang memperpanjang tangan manusia sebagai suborgan yang berada di luar tubuhnya. Kemudian, perkakas-perkakas itu dihubungkan satu sama lainnya, pada zaman teknologi paraorganik, sehingga gerakannya dapat disesuaikan dengan kepentingan manusia. Ketiga tahap peradaban itu --peradaban prateknik, peradaban prototeknik dan peradaban eoteknik-- menyangkut teknologi material praindustri.

Sesudah itu, manusia menemukan sumber energi alam yang menggantikan tenaga manusia atau hewan, dalam bentuk teknologi anorganik, yaitu tiupan angin dan aliran air dalam berbagai jenis kincir. Ini adalah revolusi protoindustri. Selanjutnya, manusia menemukan cara untuk menggantikan tenaga aliran alamiah itu dalam bentuk teknologi semiorganik dengan tenaga api yang diubah menjadi tenaga uap. Inilah yang dikenal dengan nama revolusi industri pertama atau revolusi Watt.

Tabel 2
Koevolusi Peradaban Teknologi

TEKNOLOGI

PERADABAN

ORGANIK
(tangan)

PRATEKNIK
(perburuan paleolitik)

SUBORGANIK
(perkakas)

PROTOTEKNIK
(revolusi pertanian)

PARAORGANIK
(pesawat)

EOTEKNIK
(revolusi perkotaan)

EKSTRAORGANIK
(kincir)

PALEOTEKNIK

(revolusi Gutenberg)

SEMIORGANIK
(mesin uap)

ARKEOTEKNIK
(revolusi Watt)

SUPERORGANIK
(motor listrik)

NEOTEKNIK
(revolusi Faraday)

MEGAORGANIK
(media elektronik)

MEGATEKNIK
(revolusi Marconi)

METAORGANIK

(jaringan telematik)

METATEKNIK

(revolusi Von Neuman)

Akhirnya manusia menemukan cara untuk mengubah satu bentuk energi luar tubuh manusia menjadi energi luar tubuh lainnya sehingga bisa mendistribusikannya ke banyak tempat dalam bentuk teknologi superorganik. Inilah intisari revolusi Faraday yang pertama kali menciptakan generator listrik yang pada prinsipnya dapat diubah menjadi motor listrik. Revolusi Faraday adalah revolusi energi ketiga, juga dikenal sebagai revolusi industri kedua. Ketiga revolusi teknologi energi itu masing-masing melahirkan peradaban paleoteknik, peradaban arkeoteknik dan peradaban neoteknik.

Kini, kita telah mengalami dua revolusi informasi pasca industri yang tahap-tahapnya dapat kita identifikasikan dengan nama-nama pencipta teknologi yang menjadi dominan pada waktunya. Yang pertama adalah revolusi Marconi yang untuk pertama kalinya berhasil menciptakan mesin komunikasi yang menggunakan tenaga listrik dalam teknologi megaorganik. Revolusi ini diikuti pada akhirnya oleh penemuan komputer praktis pertama oleh von Neuman yang memungkinkan lahirnya teknologi metaorganik yang membentuk masyarakat informasi pascamodern sekarang ini. Kedua teknologi informasi itu melahirkan peradaban megateknik dan peradaban metateknik.

Paralelisme teknologi biologi

Dari pengamatan kita tentang sejarah peradaban teknologi tersebut, kita melihat bahwa teknologi bersama peradaban yang mengiringinya berkembang dalam sebuah pola yang jelas. Pola itu mengulangi pola perkembangan evolusioner kehidupan di muka bumi: dari yang material, melalui yang energetik, menuju yang informatik dan berakhir di dunia normatif. Hal ini kita peroleh jika melihat sebuah organisme sebagai sistem peralatan atau organ yang dapat dipandang sebagai sistem teknologi biologis.

Secara evolusioner, makhluk satu sel muncul sebagai makhluk hidup pertama membentuk sebuah teknologi material yang terbuka memanfaatkan bahan pangan yang ada di lingkungannya. Koalisi makhluk-makhluk satu sel tersebut kemudian membentuk makhluk multiseluler bernama tetumbuhan yang berhasil mengembangkan teknologi energi matahari untuk memanfaatkannya dalam metabolisme kehidupannya. Belakangan muncul makhluk multiseluler hewan yang memanfaatkan energi yang dikumpulkan tanaman itu dan mengembangkan teknologi informasi internal yang memanfaatkan sinyal-sinyal akustik dan optik dilingkungannya dalam bentuk jaringan syaraf dan organ-organ indra.

Tabel 3
Kesejajaran evolusi biologi teknologi

KATEGORI EKSISTENSIAL

EVOLUSI
BIOLOGI

TUMBUH-KEMBANG
MANUSIA

EVOLUSI
TEKNOLOGI

EVOLUSI PERADABAN

Materi

Amuba

Janin

Pertanian

Agrikultural

Energi

Tumbuhan

Bayi

Industri

Industrial

Informasi

Hewan

Anak

Informasi

Informatik

Nilai-nilai

Manusia

Dewasa

Budaya

Kultural

Bahkan kemudian, muncul sejenis organisme multiseluler yang berhasil menggenerasi sinyal-sinyal akustik sebagai teknologi komunikasi dan informasi eksternal secara efisien yaitu bernama bahasa lisan. Dengan teknologi informasi eksternal ini, maka terjadi koordinasi interorganisme. Organisme itu adalah manusia dan dan koordinasi interorganisme itu adalah peradaban. Dengan demikian peradaban itu sendiri dapat dilihat sebagai teknologi kolektif manusia untuk mempertahankan dan mengembangkan dirinya sebagai individu dan sebagai spesies. Dilain pihak dapat diibaratkan peradaban sebagai mega-organisme multi-organismik.

Tampaknya, tumbuh-kembang peradaban manusia sebagai mega-organisme ini mengikuti pola tumbuh-kembang organisme manusia sebagai individu yang mengulangi pola evolusioner biosfera secara keseluruhan. Pada mulanya manusia hidup sebagai makhluk satu sel yang terus memperbanyak diri menjadi janin multiseluler dengan teknologi penyerapan pangan didalam rahim sebagai lingkungannya. Kemudian dia lahir sebagai bayi yang mengembangkan organ luarnya sebagai teknologi penyaluran energi internalnya menjadi gerak terkoordinasi. Lalu dia tumbuh sebagai anak-anak yang belajar berbicara mengembangkan teknologi komunikasi natural dan menulis sebagai teknologi informasi kultural.

Akhirnya, manusia sebagai individu dewasa belajar mengembangkan pola-pola koordinasi kerja-sama dalam bentuk asimilasi nilai-nilai kelompok-kelompok sosial multi-organismik secara berjenjang dari keluarga, sekolah, kantor, pasar, negara dan dunia manusia beradab menyeluruh yang meliputi seluruh muka bumi. Dilihat dari sisi ini etika keluarga, peraturan sekolah, kode etik profesional, hukum dan undang-undang negara serta hukum internasional dan agama dapat dilihat sebagai bagian dari teknologi normatif kolektif yang dimiliki manusia melengkapi teknologi informatik kultural yang dikembangkan manusia sebagai sel peradaban. Dengan demikian teknologi material, teknologi energi, teknologi informasi dan teknologi nilai-nilai dikembangkan secara bertahap dalam tumbuh kembang individu manusia.

Tampaknya, jika kita melihat teknologi sebagai organ bagi peradaban manusia dipandang sebagai mega-organisme, maka sejarah teknologi yang mendominasi setiap zaman dalam tumbuh-kembang peradaban akan mengulangi pola tumbuh-kembang individu manusia maupun pola evolusioner biosfera. Revolusi-revolusi teknologi yang mencirikan lahirnya suatu zaman sebagai fase tumbuh kembang peradaban, menunjukkan pola dasar yang sama dengan pola perkembangan evolusi biosfera dan pola tumbuh-kembang manusia.

Zaman teknologi organik dan perkakas sub-organik, pesawat para-organik merupakan teknologi-teknologi material. Sedangkan teknologi kincir ekstra-organik, teknologi mesin semi-organik dan teknologi motor superorganik merupakan teknologi-teknologi energetik. Sedangkan zaman-zaman berikutnya dicirikan oleh teknologi media megaorganik dan teknologi jaringan telematika metaorganik merupakan teknologi-teknologi informatik. Semua itu menunjukkan adanya paralelisme antara teknologi secara keseluruhan dan biologi secara keseluruhaan pula.

Dinamika Teknologi

Adanya paralelisme perkembangan teknologi dan evolusi biologi ini memungkinkan kita melihat kemungkinan adanya kesejajaran antara dinamika yang mendorong dan mengarahkan kedua jenis perkembangan evolusioner tersebut. Hal itu dapat dilihat dengan jelas apa bila kita mengetahui bahwa kekuatan penggerak evolusi biologis adalah replikasi, variasi dan seleksi lingkungan. Tampaknya evolusi teknologis bergerak didorong oleh kekuatan-kekuatan serupa.

Replikasi teknologi berlangsung melalui pendidikan dan pengajaran yang pada hakekatnya adalah sebuah peniruan satu generasi pada generasi sebelumnya. Penemuan (invensi) dan pembaruan (inovasi) suatu generasi pada teknologi yang diwarisinya dari generasi sebelumnya merupakan analogi dengan variasi genetik dalam evolusi biologis yang disebabkan oleh mutasi dan rekombinasi. Adopsi dan adaptasi masyarakat pada variasi teknologi itu merupakan analogi dari seleksi lingkungan pada proses evolusi biologis. Salah satu strategi adaptasi organisme pada seleksi lingkungan adalah integrasi dan sentralisasi. Hal yang sama terjadi dalam evolusi teknologis.

Evolusi peradaban berkembang beriringan secara ketat dengan evolusi teknologi karena peradaban itu sendiri adalah teknologi normatif yang saling beradaptasi dengan teknologi materi-energi-informasi manusia yang dibentuknya. Sebagai akibatnya peradaban dan teknologi mempunyai ciri-ciri perkembangan yang sama. Ciri-ciri itu adalah (1) ekspansi atau perluasan wilayah, (2) diversifikasi atau pengane-karagaman bentuk, (3) kompleksifikasi atau peningkatan kerumitan, (4) universalisasi atau penyebaran pemakaian dan (5) unifikasi atau penyamaan dan penggabungan proses dan metoda.

Sebagai akibatnya, skala teknologi berkembang dari yang mikroskopik pada era prateknik dan prototeknik ke skala mesoskopik pada era eoteknik, yang bersumber pada revolusi perkotaan, dan era paleoteknik yang dipicu oleh revolusi Gutenberg. Ia pun berkembang dari mesoskopik menjadi makroskopik pada era arkeoteknik, yang dipicu oleh revolusi Watt dan era neoteknik, yang dipicu oleh revolusi Faraday. Akhirnya dia berkembang dari skala makroskopik menjadi megaskopik pada era megateknik, yang dipicu oleh revolusi Marconi, dan metateknik yang dipicu oleh revolusi von Neumann.

Transformasi skala teknologi itu pada gilirannya menghasilkan transformasi fungsional teknologi. Teknologi dalam skala mikroskopik merupakan perpanjangan dari organ biologis manusia. Sedangkan dalam skala mesoskopik teknologi menjadi pengantara antara manusia dan manusia lain dalam masyarakat. Selanjutnya dalam skala makroskopik teknologi berubah fungsinya dari organ bagi peradaban sebagai mega-organisme. Akhirnya pada skala megaskopik, teknologi berubah fungsinya menjadi lingkungan baru bagi peradaban yang terintegrasi dengan lingkungan hidup ekologis manusia. Sebagai akibatnya peradaban sebagai teknologi normatif yang mengendalikan manusia dan teknologi secara sekaligus harus mengalami transformasi pula.

Sebagai akibat dari transformasi skala dan fungsi teknologi itu, maka tak dapat dihindarkan berbagai dampak yang ditimbulkannya dalam peradaban manusia: positif maupun yang negatif. Dampak positif teknologi dapat dilihat dari kenyataan bagaimana teknologi telah memudahkan kehidupan manusia, mempercepat pemenuhan kebutuhan manusia, menghemat energi organik manusia dalam memenuhi kebutuhannya dan memberdayakan potensi-potensi manusia secara maksimal. Sedangkan dampak negatif teknologi tampak dari kenyataan bahwa adanya senjata pemusnah massal, adanya kerusakan lingkungan hidup, keterpecahan kehidupan bermasyarakat serta keterasingan pribadi dari alam, lingkungan dan teknologi itu sendiri.

Dengan demikian, tak dapat dihindari pula keharusan bagi negara dan masyarakat untuk mengendalikan perkembangan teknologi supaya teknologi berfungsi secara optimal dengan cara meningkatkan dampak-dampak positif dan mengurangi dampak-dampak negatif yang mungkin timbul dari perkembangan teknologi. Hal itu dapat direalisir dengan menyadari bahwa teknologi adalah sebuah lembaga yang dibentuk oleh perilaku manusia dan diarahkan oleh kesadaran manusia dan dikendalikan oleh nilai-nilai budaya manusia. Sebagai kesimpulan teknologi material harus dilengkapi oleh teknologi sosial, kultural dan mental sebagai pendorong, pengarah dan pengendali teknologi. Teknologi-teknologi non-material itulah yang harus diciptakan oleh lembaga-lembaga pemerintahan, perusahaan dan pendidikan dalam suatu sinergi yang positif, produktif dan kreatif. Mudah-mudahan begitulah yang akan terjadi di Indonesia. Insya Allah.

Kongres XVII PII, Hotel Hilton Jakarta, 20 September 2006.

Wednesday, March 04, 2009

Melacak Mutasi-mutasi Meme

Armahedi Mahzar

MELACAK MUTASI-MUTASI MEME

Budaya manusia tampaknya merupakan sistem yang paling kompleks di jagad raya ini. Itulah sebabnya, menurut kaum humaniora, kebudayaan tak bisa dirumuskan secara tuntas dengan menggunakan sains kuantitatif belaka. Munculnya fenomenologi, hermeneutika dan pos-strukturalisme di abad lalu, misalnya, merupakan upaya untuk memahami kompleksitas budaya itu secara rasional kualitatif. Ketiga pendekatan tersebut merupakan upaya-upaya mutakhir kaum humaniora untuk merasionalkan pemahaman mereka tentang budaya.

Namun demikian, para ilmuwan tetap saja mencoba mereduksi budaya sebagai gejala biologis berupa adaptasi organisme manusia terhadap lingkungannya. Hanya saja, mereka kesulitan untuk menjelaskan mengapa manusia beradaptasi melalui pengubahan lingkungan, yang kita kenal sebagai peradaban, yang berubah semakin lama semakin dipercepat. Padahal makhluk-makhluk biologis lain menyesuaikan dirinya secara morfologis, fisiologis dan etologis. Hal itu dilakukan mereka dengan cara melalui reproduksi genetik yang sangat lambat.

Untuk menanggulangi kesulitan tersebut, maka para antropolog mencari unit kebudayaan yang dapat digunakan untuk memahami budaya manusia secara khas. Banyak pengertian telah diajukan mereka selama satu setengah abad belakangan ini. Misalnya “tema,” “konfigurasi,” “kompleks,” dan “pola” telah diajukan pada tingkat organisasi budaya. Sementara itu pada tingkat yang lebih mendasar telah diajukan “gagasan,” “kepercayaan,” “nilai-nilai,” “aturan,” “prinsip-prinsip,” “lambang,” “konsep-konsep,” dan yang lain sejenisnya.

Sementara itu, di paruh abad lalu, banyak biolog yang mencoba mereduksi unit-unit budaya itu menjadi konfigurasi dari unit-unit prilaku hewani yang disebut naluri. Pendekatan ini disebut sebagai sosiobiologi. Jika ini memang benar maka pada akhirnya unit-unit budaya ini akan dapat diterangkan sebagai konfigurasi dari unit-unit informasi pada reproduksi biologis yang disebut gene. Dengan demikian, pada akhirnya, kebudayaan dapat dikatakan sebagai fenomena permukaan bagi fenomena biologis yang lebih dalam. Kebudayaan bukan lagi merupakan karya cipta bebas umat manusia.

Namun, tidak semua biolog bersepakat dalam hal ini. Setidak-tidaknya seorang biolog Inggris yang bernama Richard Dawkins sama sekali tidak setuju. Menurut dia evolusi budaya adalah baru dalam evolusi manusia. Evolusi budaya akhirnya membebaskan diri dari determinisme biogenetika. Soalnya, pada tingkat manusia, dalam perkembangan evolusi biologis mutakhir, justru muncul satu unit transmisi budaya yang baru. Unit itu disebutnya sebagai meme.

 

RICHARD DAWKINS:
DARI GENE KE MEME

Dalam buku Richard Dawkins The Selfish Gene,[1] Bab 11 diberinya judul Memes: the new replicators. Asal-muasal konsep meme ini sendiri, sebenarnya, terletak pada kekecewaan Dawkins pada rekan-rekannya ahli biologi yang mencoba mereduksi perilaku budaya menjadi kepentingan-kepentingan biologis organisme manusia. Bagi Dawkins, untuk mempelajari evolusi peradaban manusia, kita harus mulai dengan membuang konsep gene sebagai satu-satunya penyebab evolusi manusia. Soalnya, menurut Dawkins, evolusi budaya manusia terlalu cepat untuk diterangkan dengan konsep gene. Oleh karena itu, diperlukan konsep baru yaitu “meme” yang merupakan analogi kultural bagi “gene” yang biologis. Istilah meme itu, menurut Dawkins, sengaja dicari agar bersajak dengan kata gene.
Seperti halnya gene, menurut Dawkins, meme adalah sebuah replikator yaitu makhluk yang memperbanyak diri. Jika gene diturunkan melalui reproduksi biologis, meme diturunkan melalui proses pembelajaran budaya yaitu peniruan. Meme sebagai unit transmisi kultural, seperti gene yang merupakan unit transmisi biologis, mengalami mutasi, kombinasi dan seleksi oleh lingkungan alam. Contoh-contoh yang diberikan Dawkins sebagai meme adalah lagu, gagasan, ucapan popular, mode busana, cara-cara membuat keramik dan membuat bangunan arsitektur. Semua unsur budaya ini, menurut Dawkins, terletak dalam otak manusia, seperti halnya gen dalam sel organisme. Konon, kata Dawkins, meme itu meloncat dari satu otak ke otak manusia lain melalui proses peniruan.

Dengan menggunakan analogi budaya dan biologi, maka Dawkins kemudian bisa menerapkan teori evolusi Darwin, dalam interpretasi ultra-darwinisme yang dianutnya, ke dalam evolusi budaya manusia. Dalam paham ultra-darwinisme, unit replikasi dalam evolusi bukanlah makhluk hidup atau organisme, melainkan gene yang ada pada kromosom suatu organisme. Dalam interpretasi ultra-darwinisme ini, organisme hanyalah merupakan wahana senjata bagi gene yang bersaing memperbanyak dirinya dalam gelanggang persaingan eksistensial evolusi kehidupan. Gene itu sendiri merupakan program-program yang membangun wahana-wahana senjata itu. Jadi, ultra-darwinisme telah menggeser pusat evolusi dari organisme ke gene, seperti yang dilakukan oleh Kopernikus yang menggeser pusat jagad raya dari bumi ke matahari.

Berdasarkan analogi ultra-darwinisme ini, maka semua karya budaya manusia dari seni hingga teknologi, dari pakaian hingga organisasi sosial, sebenarnya hanyalah merupakan senjata-senjata bagi meme untuk memperbanyak dirinya bersaing dengan meme yang lain. Proses perbanyakan diri atau replikasi meme tak lain tak bukan dari imitasi alias peniruan. Seperti halnya dalam biologi tidak semua gene dapat mereplikasi secara berhasil, begitu pula tak semua meme dapat berhasil memperbanyak dirinya. Inilah yang merupakan analog bagi seleksi alami dalam tataran kebudayaan.

Sementara itu, ada beberapa jenis meme, seperti halnya ada beberapa jenis gene, yang dalam jangka pendek dapat berkembang biak secara cepat namun cepat pula lenyap sehingga tidak menyumbang banyak dalam khazanah budaya atau kolam gene. Lagu-lagu pop adalah contoh-contoh budaya yang paling kita kenal. Jenis meme yang lain seperti misalnya tatacara peribadatan dan hukum-hukum agama, sebaliknya dapat menyebar dan bertahan sampai ribuan tahun. Tampaknya meme yang bisa bertahan jangka panjang bergabung secara kolektif membentuk suatu kompleks meme yang bereplikasi secara serentak. Kompleks meme inilah yang biasanya kita kenal sehari-hari sebagai ide yang bercokol dalam otak banyak manusia. Karena itu Dawkins menyebutnya sebagai “idea-meme

Jika sejumlah gene yang membentuk taring, cakar dan alat-alat indra bergabung bersama berevolusi dalam kolam gene karnivora, sejumlah karakteristik yang selalu muncul bersamaan juga muncul dalam kolam gen herbivora. Apakah meme tentang tuhan menjadi bersekutu dengan meme khusus yang lain agar dapat bertahan hidup bersamaan? Barangkali kita dapat menganggap sebuah organisasi gereja beserta gaya arsitekturnya, dan juga ritus-ritusnya, musiknya, serta seni dan tradisi tertulisnya yang terkait merupakan kumpulan sejumlah meme yang koadaptif dan kooperatif. Dengan kata lain sebuah kompleks meme.



Richard Dawkins dalam bukunya itu membuat hipotesa bahwa kompleks meme adaptif berevolusi serupa dengan evolusi kompleks gene yang adaptif. Mereka mirip antara satu sama lainnya, tetapi mereka bebas satu dari yang lainnya. Evolusi meme dan evolusi gene bisa saling mendukung, tetapi juga saling bersaing. Jika gene memperebutkan ruang, maka meme memperebutkan waktu. Otak manusia beserta tubuh yang dikendalikannya hanya dapat berbuat satu atau sedikit pekerjaan secara bersamaan. Jika satu meme mendominasi sebuah otak, dia hanya bisa demikian jika menyingkirkan meme yang lain. Secara lebih luas meme budaya itu bersaing berebut waktu radio dan televisi, kolom koran dan ruang rak perpustakaan. 


Inilah dua kalimat terakhir buku Dawkins yang menghebohkan itu
We are built as gene machines and cultured as meme machines, but we have the power to turn against our own creators. We, alone on earth, can rebel against the tyranny of the selfish replicators.[2]

Begitulah nasib diri manusia, menurut Dawkins, terpenjara dalam dua buah mesin, mesin informasi biologis dan mesin informasi sosiologis. Tapi apakah diri itu sebenarnya? Di mana diri itu berada? Sains tak dapat menemukannya. 

Akan tetapi filsuf Inggris Daniell Dennett justru menemukannya dalam kumpulan meme itu sendiri. Dia mencari jawabannya pada konsep mesin informasi Dawkins dan itu tak lain adalah komputer. Menurut Dennett, diri manusia adalah komputer virtual sekuensial yang bekerja dalam komputer paralel bernama otak manusia. 

DANIEL DENNETT:
DARI MEME JADI MEME-PLEX

 

Daniel Dennett adalah seorang filosof neo-darwinisme dari Inggris yang mempopulerkan konsep meme dari Dawkins dalam kedua bukunya Consciousness Explained[3] dan Darwin's Dangerous Idea[4]. Dalam buku yang disebut pertama, dia telah mendekonstruksi konsep kesadaran tunggal manusia yaitu substansi diri atau “aku” menjadi sekedar kumpulan meme yang beredar di dalam otak manusia. Menurut Dennett, secara provokatif, manusia dalah monyet yang otaknya kejangkitan banyak meme.

Kepribadian kita dengan segala kemampuan dan keunikannya, bagi Dennett, terbentuk karena permainan antar replikator. Berbeda dengan Dawkins yang mengatakan meme itu melompat dari satu otak ke otak yang lain, maka Dennett telah membuat meme pun bergerak dan berinteraksi dalam otak manusia sendiri. Maka meme berubah dari unit budaya menjadi unit psikologis. `Aku' manusia, bagi Dennett, adalah salah satu dari banyak kompleks meme yang saling menyesuaikan.


Dalam bukunya kedua, Dennett's mengajukan sebuah menara proses pembelajaran yang disebut sebagai menara pembuatan dan pengujian. Pada dasar menara itu ada proses adaptasi Darwinian dimana makhluk-makhluk biologis itu dibuat oleh seleksi alam lalu mati. Diatasnya ada proses Skinnerian di mana makhluk-makhluk hidup dapat belajar melalui coba dan salah sehingga dia bisa mcmbuang atau meneruskan kebiasaannya hingga dia bisa terus hidup.

Di atasnya lagi terdapat proses Popperian di mana makhluk-makhluk biologis itu dapat melakukan uji coba dalam khayalannya sehingga belajarnya menjadi lebih efektif. Puncak menara adalah proses Gregorian di mana makhluk-makhluk biologis itu bisa mengajarkan kepandaiannya pada yang lain sehingga tak semua organisme harus belajar dari mula. Setiap tingkat menara itu dibangun berdasarkan proses di bawahnya. Proses pembelajaran puncak itulah yang menjadi rumah bagi meme.
|
Menurut Dennett, mengikuti Dawkins, meme itu semacam virus, yaitu virus pikiran. Menurut Dawkins mem budaya dapat dipandang sebagai parasit. Sebagai parasit mereka lebih mirip dengan virus yang sederhana ketimbang cacing. Pada dasarnya sebuah virus adalah sebuah untai DNA atau RNA dengan kecenderungan tertentu. Begitu juga meme adalah paket informasi yang mempunyai kecenderungan tertentu berupa semua kebiasaan dan pepakaian manusia, baik estetik maupun teknik, sebagai analog budaya bagi fenotipe organisme.
Jadi analogi dengan biologi, meme dapat dianggap sebagai parasit budaya yang menguasai organisme untuk kepentingan replikatifnya. Namun kita harus kita ingat bahwa ada tiga jenis bentuk simbiosa di mana simbiosa parasitis hanyalah salah satunya. Kedua bentuk simbiosa yang lain adalah simbiosa komensalis, di mana kehadiran simbion tamu tidak mengganggu tuan rumahnya, dan simbiosa mutualistis, di mana para simbion justru meningkatkan kebugaran baik tamu maupun tuan rumahnya. Jadi meme merupakan simbion secara umum. Dan dalam satu tuan bisa terdapat sejumlah meme membentuk kompleks mem koadaptif yang disebut Dennett sebagai meme-plex.

SUSAN BLACKMORE:
DARI MEME-PLEX KE
SELF-PLEX

Susan Blackmore adalah seorang psikolog, dari Universitas West of England di Bristol Inggris, yang menggunakan kata-majemuk baru dari Dawkins The Meme Machine. Dalam bukunya itu dia mencatat ada dua buah definisi meme
First, Dawkins, who coined the term meme, described memes as units of cultural transmission which "propagate themselves in the meme pool by ... a process which, in the broad sense, can be called imitation" (Dawkins, 1976 p 192). Second, the Oxford English Dictionary defines a meme as follows: "meme (mi:m), n. Biol. (shortened from mimeme ... that which is imitated, after GENE n.). An element of a culture that may be considered to be passed on by non-genetic means, esp. imitation".[5]
Menurut Blackmore ada 3 macam jenis proses pembelajaran: individual, sosial dan kultural. Yang dimaksud dengan pembelajaran individual ialah belajar yang langsung menyesuaikan dengan lingkungan, seperti pengkondisian klasik Pavlov dan pengkondisian operan Skinner. Pembelajaran sosial adalah proses belajar yang dibantu oleh orang lain. Proses ketiga adalah proses pembelajaran kultural yang memerlukan kemampuan meniru. Ada tiga macam pembelajaran kultural: (1) yang meniru perbuatan secara langsung, (2) yang diajarkan melalui kata-kata dan (3) yang membutuhkan kerjasama antar pribadi. Pembelajaran kultural inilah yang merupakan metoda transmisi meme dari satu otak ke otak yang lain.

Tempat hunian meme adalah otak manusia. Otak manusia itu walaupun beratnya hanya 2% dari seluruh tubuh manusia, namun ia menggunakan 20% dari seluruh energi yang dimiliki tubuh. Berbeda dengan struktur DNA yang spiral sebagai penyimpan informasi genetik, di dalam otak tak terdapat molekul-molekul khusus yang menyimpan informasi. Berbagai neurolog telah sia-sia mencari struktur selular atau molekuler yang setara dengan gen dalam otak manusia. Namun, kemungkinan besar penyimpanan informasi itu dalam konfigurasi jaringan sel-sel saraf di dalam otak yang bernama neuron.

Neuron-neuron itu dalam sejarahnya dibantu oleh media penyimpanan informasi di luar tubuh manusia. Mulai dari lukisan dinding di gua, lembar-lembar papyrus, buku-buku, pita rekaman dan kini berupa disket atau CD dan DVD. Begitu juga mereka kini tidak saja dihubungkan satu sama lain dalam diri manusia, tetapi juga dengan neuron-neuron di luar diri manusia yang berjauhan melalui berbagai media telekomunikasi massa, mulai dari telegraf, telepon, mesin faksimil, radio, televisi hingga kini internet. Maka lalu lintas mem antar manusia pun semakin lama semakin cepat.

Seperti Dawkins dan Dennett, Blackmore menganggap sains, filsafat, seni dan bentuk-bentuk budaya lainnya sebagai kompleks meme atau meme-plex. Begitu juga agama. Bagi mereka agama adalah suatu meme-plex yang salah dan sains adalah meme-plex yang benar. Tampaknya mereka tak bisa menjadi Darwinian total karena masih menggunakan nilai-nilai benar atau salah untuk menilai suatu meme atau meme-plex. Padahal meme, seperti gene, tak mengenal kata benar atau salah, indah atau buruk dan baik atau buruk. Dia adalah suatu yang netral.

Memetics atau memetika bagi Blackmore adalah sebuah cabang sains untuk mempelajari kebudayaan dengan wawasan evolusi Darwin tanpa menekankan gene ataupun individu organisme. Neo-darwinisme telah memaknai evolusi biologis secara revolusioner dengan membalik cara berpikir Darwin yang menekankan individu sebagai subyek menggantikannya dengan gene, maka ultra-darwinisme para pendukung teori meme mencoba membalik studi kebudayaan dari studi kreativitas diri-pribadi manusia dengan cara menggantikannya studi tentang meme. Soalnya, bagi Blackmore, diri manusia tak lain dari kompleks meme koadaptif yang disebutnya sebagai self-plex.

Inilah dua kalimat terakhir Blackmore dalam artikelnya dalam majalah Sceptics

In the past hundred years we have successfully thrown off the illusion that a God is needed to understand the design of our bodies. Perhaps in the next millenium we can throw off the illusion that conscious agents are needed to understand the design of our minds. [6]

Apakah harapan Blackmore akan menjadi kenyataan? Tampaknya, “meme” itu sendiri adalah sebuah meme yang seperti halnya sebuah gen terus mengalami mutasi.

Blackmore telah memutasi meme dari Dennett yang merupakan hasil mutasi meme dari Dawkins. Blackmore mencoba membuat meme menjadi konsep ilmiah setelah mengalami ideologisasi di tangan Dennett. Tapi ilmu dan ideologi adalah cabang-cabang peradaban seperti halnya juga seni. Itulah sebabnya mutasi berikutnya adalah mengangkat sejenis meme lebih tinggi dari meme yang lain. Jenis itu adalah meme yang mengatur produksi dan reproduksi meme lainnya. Jenis itu adalah VMEME singkatan dari “values meme” seperti yang diajukan oleh Don Beck dan Chris Cowan dari Amerika Serikat dalam teorinya Dinamika Spiral.

DON BECK:
DARI SELF-PLEX
KE vMEME

Don Beck dan Chris Cowan adalah penulis buku Spiral Dynamics: Mastering Values, Leadership, and Change. [7] Konon metodanya digunakan untuk rekonsiliasi nasional Afrika Selatan pasca apartheid. Menurut Beck, VMEME adalah komplemen bagi meme. Sebenarnya, jika meme adalah unit jiwa-jiwa individu menurut psikolog Inggris Susan Blackmore, maka bagi psikolog Amerika Serikat Mihaly Csikszentmihalyi penulis buku The Evolving Self [8], meme adalah unit informasi bagi jiwa-jiwa kolektif.

Dan bagi Don Beck, jika kolektivitas itu sangat besar, yaitu peradaban, maka unit informasi peradaban adalah VMEME. Jika mem Dawkins itu mirip partikel, maka vMEM Don Beck itu mirip sebuah gelombang. VMEME, menurut Beck, adalah prinsip-prinsip organisasi yang bertindak sebagai atraktor bagi meme. VMEME yang besar itu adalah asam amino bagi "DNA" psikososial yang merupakan gaya tarik magnetik yang menyatukan meme lain menjadi suatu paket-paket gagasan yang terpadu.

Jika meme membentuk perilaku kita, maka VMEME menyandikan perintah-perintah untuk pandangan hidup kita berupa asumsi-asumsi tentang bagaimana segala sesuatu bekerja dan merupakan alasan-alasan bagi putusan-putusan yang kita ambil. VMEME membentuk sikap-sikap dasar hidup kita. Beck mencatat adanya delapan buah VMEME yang bersaing dan mendominasi sejarah peradaban manusia dan dia memberikan kode warna bagi kedelapan VMEME tersebut yaitu, beige, ungu, merah, biru, jingga, hijau, kuning dan torquoise. Menurut Beck urutan warna tersebut bersesuaian dengan urutan kronologis di mana VMEME yang dikodekan itu menjadi dominan. Lima vMEME telah mewarnai sejarah peradaban selama ini yang berujung pada peradaban industrial ilmiah korporatif yang ditandai dengan warna jingga.

Kedelapan VMEME itu bersesuaian dengan delapan keadaan eksistensial atau diri, atau self-pleks menurut terminology Blackmore, yang diajukan oleh gurunya, yaitu Clare Graves. Bagi Graves kedelapan diri itu adalah diri hewani, diri dependen, diri egosentris, diri bertujuan, diri pragmatis, diri sosiosentris, diri interdependensi dan diri eksperiensial. Kedelapan jenis self-plex itu menurut Beck bersesuaian dengan delapan struktur politik, sesuai dengan delapan VMEME, yang secara bergiliran telah dan akan mendominasi peradaban manusia yaitu: (1) keluarga, (2) paguyuban suku, (3) kerajaan kota, (4) kerajaan bangsa feodalistik dan (5) negara kebangsaan korporatif, di masa lalu, dan (6) komunitas nilai transnasional, (7) struktur sistemik global dan (8) struktur holistik planeter, di masa depan. Perkembangan ini menurut Beck bergerak secara spiral, di mana kini kita sedang menuju tingkat ketujuh sebagai pengulangan tingkat pertama yang individual pada skala peradaban global.
Belakangan, Beck bergabung dengan Ken Wilber  dan sejumlah ilmuwan lainnya dalam Integral Institute[9] yang mempromosikan wawasan empat kuadran delapan jenjang versi integralisme universal Wilber.[10]

Menurut Wilber, realitas itu adalah sebuah keutuhan yang berjenjang, yang disebutnya holarki, dan setiap jenjangnya, yang disebutnya holon, mempunyai empat aspek yaitu: aspek subyektif, aspek obyektif, aspek interobyektif dan aspek intersubyektif. Keempat aspek itu bersesuaian dengan jiwa, badan, masyarakat dan budaya yang masing-masingnya dipelajari oleh psikologi individual, sains natural, sosiologi sistemik dan humaniora kultural. Apa yang dipelajari oleh Beck sebenarnya hanyalah satu kuadran saja yang mencerminkan budaya yang bersifat intersubyektif, karena itu harus diintegrasikan dengan tiga kuadran lainnya secara integral.

Begitulah, wawasan gene sebagai atom-atom informasi yang memprogram proses tubuh biologis telah mengilhami lahirnya konsep ”meme” sebagai atom-atom informasi yang memprogram prilaku dan kesadaran individual manusia. Namun wawasan ”meme” akhirnya bermutasi menjadi konsep ”VMEME” sebagai atom-atom nilai yang memprogram budaya dan peradaban manusia secara kolektif.

Kalau kita menafsirkannya dengan model empat kuadran Wilber, maka dapat dikatakan bahwa meme merupakan pelengkap subyektif bagi gene yang obyektif dan vMEME itu adalah pelengkap intersubyektif bagi meme yang merupakan atom-atom subyektivitas. Maka, oleh karenanya, tak mengherankanlah jika ada orang yang bergerak untuk memutasinya dengan konsep meme yang subyektif itu menjadi meme yang interobyektif. Orang itu adalah seorang paleopsikolog dari Amerika Serikat bernama Howard Bloom.

HOWARD BLOOM:
DARI
VMEME KULTURAL KE MEME UNIVERSAL







Kalau VMEME itu adalah meme memprogram peradaban kolektif manusia, maka Howard Bloom menganggap bahwa bukan hanya pada masyarakat manusia meme itu bekerja. Baginya meme itu telah ada sejak organisme mempunyai neuron. Keinginan dan prilaku meniru bukan hanya ada pada manusia, namun juga pada hewan-hewan. Bahkan jika meniru adalah hal khusus dari sinkronisasi bagian-bagian yang serupa, maka meme itu mungkin bermula pada makhluk-makhluk satu sel, bahkan mungkin pada partikel-partikel elementer non-biologis di awal kelahiran jagat-raya belasan milyar tahun yang lalu. Itulah sebabnya, dia menulis buku tentang itu: The Global Brain: the Evolution of the Mass Mind from the Big Bang to the 21st Century. [11]
Dalam bukunya itu, Bloom yang mendukung darwinisme itu bahkan memperluas darwinisme menjadi sejenis super-darwinisme yang menekankan bahwa seleksi alam bukan hanya pada tataran gene ataupun organisme, tetapi juga pada kumpulan multi-organisme atau masyarakat, yang menurut dia, membentuk sebuah superorganisme. Dan menurut dia meme bagi superorganisme itu setara dengan gene bagi organisme. Bahkan, menurut dia, superorganisme itu merupakan sebuah komputer yang sangat dahsyat melebihi sebuah superkomputer buatan manusia. Itulah yang ditulisnya dalam makalah ilmiah Beyond The Supercomputer: Social Groups as Self-Invention Machines[12] yang merupakan cikal bakal bagi bukunya The Global Brain.
Yang menakjubkan, bagi Bloom, kelompok-kelompok sosial itu, bukan bermula pada tataran biologis, tetapi bermula pada kumpulan proton, yang terbentuk berdasarkan dua prinsip yang saling bertentangan yaitu produksi massa dan destruksi massa. Prinsip Destruktif yang disebut Bloom sebagai Prinsip Lucifer alias Asas Iblis merupakan pasangan komplementer bagi Prinsip Kreatif di jagad raya yang mungkin bagi sebagian orang akan disebut sebagai Prinsip Kreator alias Asas Tuhan. Evolusi jagatraya menunjukkan bahwa lahirnya kelompok-kelompok sosial yang besar bersamaan dengan matinya kelompok-kelompok sosial yang lebih kecil. Ini bukan hanya berlaku pada tataran biologis, tetapi juga pada tataran pra-biologis seperti lahirnya galaksi-galaksi raksasa di mana yang besar memakan yang kecil.
Kreativitas berbasis dektruktivitas berlanjut ke tataran biologis dengan prinsip simbiosa dan kompetisi, dan seterusnya berlanjut pada tataran kultural melalui persekutuan dan peperangan antar kelompok yang terus berlanjut hingga sekarang. Tak mengherankan jika Richard Dawkins menganggap organisme sebagai wahana perang bagi gene dan organisasi sosial budaya sebagai wahana perang bagi meme, belakangan pengikut Don Beck melihat peradaban sebagai wahana perang bagi VMEME.[13] Dan kita, konon, sedang berada dalam perang besar antara peradaban Barat dengan peradaban Islam yang selalu ditutup-tutupi, artinya selalu dibantah, tetapi selalu dipertontonkan secara terbuka oleh media massa.
Dan lucunya, kita tak sadar bahwa media massa itu adalah wahana yang mengungkapkan kedua prinsip itu secara blak-blakan. Kalau dilihat pada tataran biologis, kedua prinsip universal itu tak lain dari seks dan kekerasan. Kalau dilihat pada tataran sosiologis, tak lain dari koalisi dan perang. Howard Bloom sendiri dalam bukunya yang pertama yaitu The Lucifer Principle: A Scientific Expedition into the Forces of History[14] salah satu babnya justru mewanti-wanti tentang terorisme Islam lebih setahun sebelum peristiwa runtuhnya menara kembar di kota pusat dagang buana yang dipertontonkan di layar kaca di rumah-rumah seluruh dunia sebagai bukti bagi terorisme Islam. Bahkan, bab itu sekarang juga ditayangkan di internet sebagai bagian dari Perang vMEME Global.[15]

KESIMPULAN

Tampaknya Darwinisme telah diangkat menjadi sebuah paradigma keilmuan global yang sekaligus ditawarkan sebagai supra-ideologi paradigmatik peradaban dunia melalui sebuah peperangan multi-frontal untuk merebut jiwa kita masing-masing. Mungkin saja, Charles Darwin tak pernah bermimpi bagaimana teorinya akan menjadi sedemikian luas, namun kita, di abad ke-21 ini, justru melihat bahwa ideologi Darwinisme justru di lawan oleh ideologi Anti-Darwinisme di berbagai kalangan agama seperti kaum Kreasionis di kalangan Kristen fundamentalis dan kelompok Harun Yahya di kalangan umat Islam. Mereka melawannya dengan mengatakan bahwa memang kita di abad ke-21 ini sedang menghadapi Perang Dunia Ketiga, yang tak dideklarasikan, yang bersifat aneka tataran dengan media komunikasi dan informasi modern sebagai senjata.
Namun, tentunya, tidak semua kita terpancing untuk melakukan kekerasan pikiran seperti itu, karena evolusi sebenarnya tak lain dari proses sinambung penciptaan jagad raya, yang dalam tasawuf Islam disebut sebagai tanazzul dan dalam tradisi mistik lain disebut involusi atau emanasi alias pelimpahan. Jika involusi bekerja dari atas ke bawah, atau top down, evolusi bergerak dari bawah ke atas atau bottom up. Proses evolusi adalah manifestasi proses kreatif dimana nilai-nilai transendental merasuki materi secara bertahap melalui penggabungan-penggabungan yang mencerminkan Kasih Sayang atau Cinta. Peperangan, konflik dan kompetisi hanyalah merupakan gesekan yang diperlukan untuk naik ke dunia luhur nilai-nilai.
Perkembangan sejarah sains modern menunjukkan hal itu. Mula-mula, ditemukan atom sebagai unit-unit materi. Kemudian, ditemukan pula sel sebagai unit-unit kehidupan energetik terkecil. Lalu, ditemukan gene dan meme sebagai unit-unit informasi kehidupan dan kesadaran terkecil. Selanjutnya, ditemukan pula VMEME sebagai meme nilai atau keyakinan peradaban manusia. Akhirnya ditemukanlah bahwa VMEME superorganisme peradaban ini harus diperluas meliputi MEME universal berupa prinsip-prinsip yang mendasari evolusi semesta. Asas Destruktivitas dan Asas Kreativitas, seperti yang diajukan Howard Bloom, dalam teori evolusi semestanya sebenarnya hanyalah merupakan nama lain dari KuasaNya dan CintaNya.
Sains dan teknologi adalah manifestasi dari KuasaNya dan Seni adalah manifestasi CintaNya dan KreativitasNya. Sebenarnya, kita bukan menghadapi perang meme atau VMEME yang kecil, tetapi kita sedang menghadapi perjuangan spiritual yang lebih besar di mana kehidupan harus dikuasai oleh kesadaran dan kesadaran harus dikuasai oleh keyakinan akan KuasaNya dan CintaNya. Hanya dengan demikian lah perdamaian di muka bumi dapat ditumbuhkan dan tugas seniman adalah mengekspresikan kreativitasNya melalui karya-karya ciptaannya yang mendukung proses perdamaian semesta itu. Semoga memang demikianlah adanya.
Seni Rupa ITB, Bandung, 27-Mei-2005


[1] Richard Dawkins, The Selfish Gene, Oxford University Press (Oxford 1976)
[2] Bab 11 buku Dawkins The Selfish Gene dapat diperoleh di http://www.rubinghscience.org/memetics/dawkinsmemes.html
[3] Daniel Dennett, Consciousness Explained, Little, Brown (Boston 1991)
[4] Daniel Dennett, Darwin's Dangerous Idea, Simon & Schuster (NewYork 1995)
[5] Susan Blackmore, The Meme Machine, Oxford University Press (Oxford 1999)
[6] Susan Blackmore, The Power of the Meme Meme dalam majalah Skeptic Juni 1997, Vol 5, #2, hal 43--49
[7] Don Edward Beck, Christopher Cowan, Spiral Dynamics, Blackwell Publisher (Oxford. 1996)
[8] Mihaly Csikszentmihalyi , The Evolving Self , HarperCollins, l993
[9] http://www.integralinstitute.org
[10] http://wilber.shambala.com
[11] Howard Bloom, The Global Brain, Wiley (2000)
[12] Artikel Howard Bloom dalam Research in Biopolitics, Volume 6, 1998. Sociobiology and Biopolitics.
editor Albert Somit dan Steven A Peterson. Greenwich, CT: JAI Press Inc., 1998: 43-64. dapat diperoleh di internet di http://howardbloom.net/Beyond_The_Supercomputer.htm
[13] Ray Harris, v-Memes at War di
http://www.swin.edu.au/afi/Harris%20-%20memes%20at%20War.pdf
[14] Howard Bloom, The Lucifer Principle, Atlantic Monthly Press (1997)
[15] http://howardbloom.net/islam.htm

Wednesday, January 14, 2009

Revolusi Integralisme

REVOLUSI INTEGRALISME ISLAM
Pemahaman Baru Realitas Peradaban


oleh
Armahedi Mahzar

Di abad 21 ini manusia sedunia menghadapi dua jenis krisis skala dunia yang sangat dahsyat: Krisis ekologis pemanasan global dan krisis ekonomis resesi. Hak-hak asasi manusia cenderung mengabaikan hak-hak spesies biologis lainnya. Materialisme sekularistik membatasi kegiatan manusia hanya pada pengolahan alam menjadi produk-produk material yang dipertukarkan melalui pasar bebas untuk keuntungan sebesar-besarnya bagi individu-individu manusia. Krisis global bersayap dua ini kini telah menyengsarakan umat manusia di seluruh penjuru dunia.

Soalnya, pemanasan global secara sistematis telah mengubah perikliman dunia dan segala dampaknya. Secara global naiknya suhu udara dan air laut rata-rata,diikuti oleh melelehnya salju di kutub-kutub bumi serta di puncak-puncak gunung yang kemudian berdampak pada meningkatnya permukaan laut dan curah hujan dan berujung pada pelbagai banjir besar di berbagai daerah dan gelombang panas danbadai salju, penyebaran wabah penyakit serta perpanjangan masa kemarau yangmemicu kebakaran hutan. Itu semua adalah efek tak langsung dari materialisme ekonomi industrial yang terus menerus secara serakah menguras tabungan energi matahari, oleh bekas-bekas fauna dan flora purba yang tertanam di kerak bumi sebagai batubara, minyak dan gas, dengan cara membakarnya sehingga memproduksigas CO2 secara berlebihan menyebabkan efek rumah kaca yang menjebak panas di atmosfera yang menyelimuti bumi.

Di samping itu, krisis resesi global juga disebabkan oleh keserakahan materialistis kapitalisme global yang diejawantahkan dalam pasar modal yang lebih mementingkan keuntungan moneter ketimbang produsi barang-barang riil kebutuhan sehari-hari. Maka uang dan utang pun diperjual belikan dengan secara spekulatif virtual melalui jaringan teknologi informasi komunikasi global dengan kecepatan tinggi dilambungkan harganya menjadi gelembung-gelembung yang pada ujung-ujungnya meledak. Dampak utamanya adalah efek domino berupa tsunamikrisis ekonomi berujung pada rangkaian pemutusan hubungan kerja yang berantai dari sektor perumahan ke sektor perbankan terus ke sektor fabrikasi mobil dan barang-barang elektronika dan ujung berujung pada industri tekstil danbarang-barang keperluan rumah tangga. Ujung-ujung dari semua ini adalah terjadinya sebuah danau pengangguran yang semakin lama semakin meluas menjadi lahan subur bagi merebaknya wabah sosial dalam bentuk berbagai bentuk kriminalitas dan wabah mental dalam bentuk berbagai penyakit kejiwaan karenakeputus-asaan dan ketegangan yang tak tertahankan.

Mengingat kedalaman dan keluasan dari kesengsaraan yang ditimbulkan oleh kedua sayap krisis global yang datang tanpa bisa diramalkan jauh hari sebelumnya, ada baiknya kita meninjau kembali paradigma materialisme di bidang sains, teknologi dan ekonomi yang membentuk sebuah aliran-aliran umpan-balik positif yang tumbuh secara eksponensial. Pertumbuhan eksponensial ini dipacu oleh kesamaan paradigmatik antara keempat cabang peradaban yang mementingkan materialismesekular dan humanisme individual. Oleh sebab itu terdapat sebuah revolusi paradigmatik yang disebut holisme di dunia Barat pada dasawarsa-dasawarsa akhir abad keduapuluh. Paradigma holistik itu memperluas humanisme individual dengan ekologisme kosmik di satu pihak dan memperluas materialisme sekular dengan idealisme panteistik di lain pihak. Dilihat dari sudut pandang tradisi teologis Timur, keterbatasan holisme yang monodualistik itu sudah seharusnyalah dilengkapi dengan dimensi ketuhanan yang transendental.

Realitas: Sebuah Kesepaduan

Dalam paradigma holistik, yang ada adalah kesatuan dua sisi kebulatan realitas. Secara ontologis kesatuan itu adalah kesatuan antara manusia dan alam lingkungannya. Dalam tradisi mistisisme Timur kesatuan ini disebut sebagai kesatuan mikrokosmos dan makrokosmos: alam kecil dan alam besar. Namun berbeda dengan tradisi Timur yang menekankan adanya perjenjangan sejajar antara duakosmos itu, holisme hanya mengakui adalanya dualitas kesadaran/kenyataan padakedua kosmos tersebut. Itulah sebabnya terjadi koreksi terhadap holisme yang mengabaikan realitas transendental. Koreksi itu adalah integralisme.

Satu bentuk integralisme yang dikenal di dunia Barat adalah integralisme universal yang diajukan oleh Ken Wilber di tahun 2000. Integralisme universal ini melihat realitas sebagai suatu kesatuan dengan empat sisi yang dibentuk oleh salib sumbu interioritas-eksterioritas dan individualitas-kolektivitas. Keempat sisi itu disebutnya sebagai kuadran subyektif, kuadran obyektif, kuadran intersubyektif dan kuadran interobyektif. Realitas dalam pandangan ini adalah sebuah jenjang lingkaran-lingkaran sepusat yang pusatnya adalah titik potong antara kedua sumbuyang tegak lurus satu sama lainnya membentuk kuadran-kuadran tersebut.

Secara kebetulan Ken Wilber telah menggunakan istilah "integralisme" untuk menamakan pahamnya tentang realitas. Padahal lebih dari limabelas tahun sebelumWilber merumuskan integralisme universalnya, di Indonesia istilah itu telah digunakan sebagai nama dari sebuah pandangan Islam yang melihat realitas sebagaikesepaduan dari dua buah perjenjangan yang disebut perjenjangan mendatar danperjenjangan menegak.

Dalam pandangan ini dualitas mikrokosmos-makrokosmos tradisi mistik Timur dalah bagian dari hirarki lima kosmos yaitu mikrokosmos, mesokosmos, makrokosmos, suprakosmos dan metakosmos. Mikrokosmos itu adalah nama kontemporer bagi al-Nafs atau individu manusia. dan mesokosmos adalah nama lain dari al-Qawm atau kolektivitas manusia. Mikrokosmos dan mesokosmos menyatu dalam peradaban manusia atau al-Madaniyah. Perdaban manusia itu adalah bagian dari lingkungan alam semesta yang disebut makrokosmos dan lingkungan superkosmos atau alam gaib. Makrokosmos dan superkosmos itu tak lain dari multikosmos atau al-'alamin. Di luar al-'alamin itu adalah Rabb yang mengaturnya. Rabb inilah yang disebut metakosmos dalam pandangan integralisme Islam.

Mikro-
kosmos
(manuia)
Meso-
kosmos
(budaya)
Makro-
kosmos
(alam nyata)
Supra-
kosmos
(alam gaib)
Meta-
kosmos
(Tuhan)
RuhQuransumbersumberDzat

Qalb
DinPrinsip-prinsip
alam
Prinsip-prinsip
Supernatural
Sifat-Sifat
‘AqlTsaqafahHukum-hukum
alam
Hukum-hukum
Supernatural
Perintah-
Perintah
NafsTamaddunFenomena
alam
Fenomena
Supernatural
Perbuatan
JismmadaniyahBenda-benda
alam
Benda-benda
Supernatural
Ciptaan

Tegak lurus dengan perjenjangan mendatar lima kosmos itu terdapat perjenjangan lima menegak kategori integral yaitu materi, energi, informasi, nilai-nilai dan sumber. Kelima kategori integral itu tersirat dalam perjenjangan jism, nafs, 'aql, qalb dan ruh yang dijarkan dalam tasawwuf Islam. Ia juga tersersirat dalam perjenjangan sumber hukum 'urf, ijma', ijtihad, sunnah dan Al-qur'an dalam tradisi ilmu fiqh Islam. Ia pun tersirat dalam perjenjangan Khalqillah, Sunnatullah, 'Amrullah, Sifatullah dan Dzatullah dalam tradisi teologi Islam atau ilmu kalam. Secara diagram realitas integral itu dapat dilukiskan sebagai matriks terlukis di atas.

Satu hal yang dapat dibaca pada matriks ini adalah materialisme sekuler hanya mengakui submatriks 3x3 dibagian kiri bawah sebagai satu-satunya realitas.Sedangkan holisme panteistik hanya melihat submatriks 4x4 bagian kiri bawah sebagai realitas seutuhnya. Dari sini tampak bahwa baik materialisme ataupunholisme hanyalah merupakan pandangan parsial. Integralisme Islam adalah sebuah pandangan yang lebih menyeluruh menyempurnakan kedua pandangan tersebut.

Hal lain yang perlu diketahui adalah bahwa integralisme Islam melihat baris atas dari matriks itu merupakan realitas sumber yang bagi baris-baris realitas relatif dibawahnya. Hal ini berbeda seratusdelapanpuluh derajad dengan pandangan materialis yang menganggap baris terbawah sebagai realitas mutlak sedangakan baris-baris di atasnya sebagai realitas relatif.

Dengan perkataan lain, pandangan realitas integral Islam menjungkir-balikkan pandangan materialisme sains sekuler. Inilah yang disebut sebagai revolusi integralisme Islam. Hal ini serupa dengan revolusi heliosentrisme Kopernikus yang menganggap matahari sebagai pusat alam semesta membalikkan pandangan geosentrisme Ptolomeus yang menganggap bumi sebagai pusat jagatraya.

Yang terakhir perlu diperhatikan dalam pandangan integralisme Islam ini adalah kenyataan bahwa peradaban manusia itu berada di antara manusia dan alam lingkungannya, sehingga sudah sewajarnya peradaban manusia itu serasi, denganbukan mengeksploitasi, alam semesta lingkungannya. Pandangan penguasaan alam semesta itulah yang mendorong pada pengembangan teknologi yang mencemarkan alam lingkungan sehingga terjadi pemusnahan spesies lain seperti yang kita alamisekarang. Itulah sebabnya kita harus mengganti paradigma peradaban manusiamodern ini dengan paradigma integralisme Islam.

Ajaran Islam : Suatu Integralitas

Ajaran Islam sebagai Din mempunyai tiga komponen integral yaitu Aqidah, Syari'ah dan Thariqah. Aqidah al-Islam itu tersusun dalam Arkan Al-Iman atau rukun Islam. Sedangkan Syari'ah Islam dibingkai oleh Arkan al-Islam dan Thariqah al-Islam itu berintikan Ihsan. Yang menarik adalah kenyataan bahwa matriks integralitas itu mencermikan ketiga komponen Din al-Islam itu secara struktural.

Misalnya, Arkan Al-Iman meliputi
  1. Iman kepada Allah yang disebut sebagai Metakosmos Pencipta dab Maha Sumber segala hal
  2. Iman kepada malaikat yang menjalankan pengaturan alam semesta atau Makrokosmos
  3. Iman kepada kitab-kitabNya yang merupakan landasan bagi peradaban atau Mesokosmos
  4. Iman kepada rasul-rasulNya yang merupakan individu atau Mikrokosmos
  5. Iman kepada Qiyamat/’Akhirat sebagai kehancuran makrokosmos memasuki Suprakosmos
  6. Iman kepada Qadar dan Qadha’ sebagai ketentuan Integrasi Kosmik

Sehingga dapatlah kita simpulkan bahwa arkan al-Islam menyiratkan pengakuan akan Kesepaduan Realitas seperti yang tertera dalam matriks integralitas. Di samping itu kita dapat melihat arkan al-Islam sebagai kerangka pentahapan abadi pembangunan peradaban atau Tazkiyah al-Madaniyati. Arkan Al-Islam itu meliputi
  1. Syahadatain sebagai landasan bagi pembinaan individu atau Tazkiyah al-Nafsi
  2. Shalat sebagai sarana pembinaan kelompok atau Tazkiyah al-Jama'ati
  3. Shaum sebagai sarana pembinaan Masyarakat yang adil atau Tazkiyah al-Ijtima'i
  4. Zakat sebagai landasan pembangunan Negara bangsa yang sejahtera atau Tazkiyah al-Ummati
  5. Hajji sebagai sarana pembangunan Peradaban antar bangsa yang damai atau Tazkiyah al-Madaniyati
Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa rukun Islam di samping merupkan sarana penghubung kita dengan Allah atau 'ubudiyah, dia juga merupkan sarana pembangunan Peradaban melalui mu’amalah.

Jika rukun Islam dapat dilihat sebagai kerangka pembangunan peradaban berdasarkan rukun Islam, maka Ihsan dapat dilihat sebagai kerangka pembangunan pribadi yang mendekatkan diri pada Sang Peciptanya melalui ibadah dimana diharapkan

1. Kita beribadat seolah-olah melihat Tuhan, atau
2. Kita beribadat karena dilihat Tuhan

beribadah seolah melihat Tuhan adalah simbol dari beribadah karena Cinta dan beribadah karena dilihat Tuhan adalah simbol dari beribadah karena takut pada Allah swt. Ihsan adalah esensi Thariqah untuk mendekatkan diri pada Allah dengan mentransformasi rasa takut menjadi rasa cinta secara bertahap. Aqidah adalah landasan bagi pasangan proses Syari'ah sebagai transformasi religio-kultural peradaban dan Thariqah transformasi psiko-spiritual individu.

Tauhid Seutuhnya: Landasan Peradaban

Landasan Din al-Islam adalah Tauhid Diniyah. Sebagai landasan peradaban Tauhid adalah Tauhid Madaniyah. Kedua Tauhid itu terintegrasi dengan Tauhid Uluhiah sebagai landasan terdasar dari keseluruhan Tauhid yang juga meliputi Tauhid Rububiyah sebagai dasar semua ilmu dan Tauhid Mu’amalah dasar semua amal.


Kelima aspek Tauhid itu berkaitan dengan kelima sifat Tuhan yang tercantum dalam tiga ayat pertama dari surat pertama Al-Quran Al-Karim.: dan Allah, Al Rabb, Al-Rahman, Al-RahimAl-Malik. Keterkaitannya adalah sebagai berikut
  1. ALLAH ==> Tauhid Uluhiyah
  2. Al-RABB ==> Tauhid Rububiyah
  3. AL-RAHMAN ==> Tauhid Mu’amalah
  4. AL-RAHIM ==> Tauhid Madaniyah
  5. AL-MALIK ==> Tauhid Diniyah
Subang 25 Desember 2008