Saturday, March 19, 2016

Lagu Kebangsaan dan Mem Akustik


Lagu Kebangsaan dan Mem Akustik

Armahedi Mahzar (c) 2016 -

Pada zaman dahulu kala, ketika blog multiply.com masih hidup saya terlibat perdebatan mencerahkan dengan Dr.Tika Sukarna https://www.facebook.com/tika.sukar... dan Dr.Merlyna Lim https://www.facebook.com/merlyna.li... (waktu itu mereka masih Mahasiswa di Amerika Serikat) tentang lagu kebangsaan. Soalnya, saya memandang remeh Malaysia yang lagu kebangsaanya, Negaraku, adalah jiplakan dari lagu Terang bulan gubahan Gesang, karena begitulah pengetahuan saya waktu itu.
Tika http://www.asianscientist.com/autho... , yang SD nya di Malaysia justru membantahnya. Inti bantahannya terdapat dalam artikel Wikipedia berikut ini: - "Lagu Negaraku ( Jawi : ﻻڬﻮ ﻧڬﺎﺭﺍﮐﻮ , bahasa Tionghoa : 我的祖國 , bahasa Tamil: நெகாராகூ ) merupakan lagu resmi dari Kesultanan Perak . Lagu Terang Bulan , yang berasal dari pulau Mahé di Kepulauan Seychelles dan diadopsi oleh Raja Abdullah setelah pulang dari pengasingan di Seychelles. Iramanya berasal dari lagu "La Rosalie" digubah oleh seorang komposer berkebangsaan Perancis , Pierre Jean de Beranger (1780-1857), kemudian digubah ulang dan diberi judul "Allah Lanjutkan Usia Sultan" seterusnya dijadikan lagu resmi Kesultanan Perak ketika pertabalan raja Edward VII 1901.
 Irama lagu Negaraku ini juga sama dengan irama lagu Mamula Moon yang dipopulerkan oleh Felix Mendelssohn dan Hawaiian Serenaders. - Lagu resmi negeri Perak "Allah Lanjutkan Usia Sultan" ini dipilih menjadi lagu nasional Malaysia oleh dewan peradilan yang diketuai oleh Tunku Abdul Rahman pada 5 Agustus 1957 . Rapat pemilihan lagu kebangsaan ini berlangsung di Kantor Polisi Depoh, Kuala Lumpur . Sebanyak 4 buah lagu telah diperdengarkan oleh Korps Band Polisi Diraja Malaysia. 
Lagu Allah Lanjutkan Usia Sultan kemudian dipilih. Keputusan dewan peradilan ini kemudian disampaikan kepada Majlis Raja-raja Melayu. - Setelah disetujui, kerajaan mengeluarkan hadiah RM 1,000 kepada penggubah lagu untuk membuat liriknya. Hadiah ini dimenangkan oleh Saiful Bahri dan lirik lagu kebangsaan 'Negaraku' gubahan dia terdapat dalam 3 versi. Lagu Negaraku digubah iramanya menjadi lebih menarik oleh Mahathir Mohamad, Perdana Menteri Malaysia ke-4. Lagu Negaraku yang baru ini dinyanyikan di Dataran Merdeka tengah malam 30 Agustus 2003". (https://id.wikipedia.org/wiki/Negar...)
Merlyna http://carleton.ca/sjc/profile/lim-... justru mengejutkan saya dengan menunjukkan fakta bahwa Indonesia Raya adalah plagiasi dari lagu Jazz Belanda Lekka Lekka mengutip Remy Silado: "Menurut Remy, INDONESIA RAYA yang kita kena sebagai lagu kebangsaan kita sudah populer sejak abad ke-18 hingga tahun 1930-an. Bercorak jazz klasik, tegolong hot jazz. Judulnya: LEKKA-LEKKA atau PINDA-PINDA. 
Tetapi pada tahun 1927 lagu itu direkam dalam piringan hitam menjadi INDONEES-INDONEES. - Lantas, pada 28 Oktober 1928 dalam kongres pemuda di Jakarta diubah menjadi INDONESIA RAYA. "Penggubah lagu yang dimaksud adalah pemimpin band jazz di Makassar pada 1920. Siapa lagi kalau bukan Wage Rudolf Supratman," tulis Remy. Supratman muda memang biasa memainkan musik jazz untuk mengiringi orang Belanda berdansa-dansi. "Saban malam Minggu ia memainkan jazz bersama Kaerne." ( hurek.blogspot.com/2007/08/remy-sil...
Tentu saja saya sangat sedih mengetahui hal itu, namun belakangan saya tahu pula bahwa God Save the Queen adalah lagu tradisional yang dihidupkan pada tahun 1745, Star Spangled Banner nyatanya adalah lagu To Anacreon in Heaven milik masyarakat pemabuk Inggris, Marseilles adalah tiruan karya yang digubah oleh Giovan Battista Viotti pada tahun 1781 – 11 tahun sebelum Claude Joseph Rouget de Lisle menulis lagu kebangsaan Prancis itu, dan banyak lagi lagu kebangsaan lain sebenarnya lagu jiplakan juga ( www.bbc.com/news/magazine-34052000 dan https://republicordeath.wordpress.com/2015/08/28/national-plagiarism-2-plagiat-national/ ). 
Maka, saya pun tak sedih lagi, bahkan tercerahkan: melodi adalah mem akustik yang sangat kuat sebelum adanya mem digital di internet. :) :) :) Begitu kuatnya mem akustik itu sehingga para komponis terkenal lagu-lagu klasik pun tak bisa menghindar dari virus mental ini. Mozart , misalnya, menggubah The Beneficent Dervish menjiplak The Magic FluteDschinnistan, karya Christoph Martin Wieland. http://www.slate.com/articles/arts/...
Beethoven
  menggunakan Canon gubahan Pachelbel dalam rondo pada Piano Sonata Op. 28 ( http://www.slate.com/articles/arts/... ). Dia bahkan menjiplak karya Mozart “Misericordias Domini,” K. 222, memodifikasinya menjadi “Ode to Joy” di bagian akhir Simfoninya yang kesembilan (http://www.theimaginativeconservative.org/... ). Juga Richard Strauss   dalam operanya Elektra mengambil 50 tema dalam opera Cassandra karya Vittorio Gnecchi.

Friday, March 11, 2016

Internet: Manis Pahitnya

smile emotikonInternet: Manis Pahitnya
Armahedi Mahzar (c) 2016



Belasan tahun saya bergaul lewat internet, saya pun punya pengalaman emosional tersendiri. Ada yang manis, ada pula yang pahit, tergantung pada topik pembicaraannya.

Internet saya nikmati beberapa tahun menjelang tahun revolusi Mei 1998 lewat jalur koneksi kampus. Pada waktu itu kita dapat bocoran daftar harta Suharto yang fantastis lewat milis apakabar@clark.net dan newsgroup soc.culture.indonesia yang servernya di luar Indonesia. Itulah sebabnya menurut saya revolusi Mei Indonesia adalah revolusi internet. Soalnya para aktivis mahasiswa antar kampus antar kota berkomunikasi lewat email yang tidak bisa disensor penguasa Orde Baru.

Pada tahun itu belum ada blog, tapi saya manfaatkan newsgroup alt.physics.particle untuk mengajukan hipotesa saya bahwa quark, elektron dan neutrino itu terdiri dari tiga pecahan sepertiga lepton yang saya sebut prelepton. Sayangnya saya tak mampu mengembangkannya secara matematik lebih lanjut.
Newsgroup itu sekarang sudah punah arsipnya ada di google sebagai www.science-bbs.com/167-physics-particle/9b02056fe3383847.htm

Namun saya menemukan sebuah situs web Tony Smith yang mengajukan teori oktet lepto-quark, seperti yang saya temukan, tanpa mengajukan prelepton atau prequark. Teori itu mengatakan bahwa oktet leptoquark itu bersesuaian dengan unit-unit oktonion sebuah bilangan 8 dimensi perluasan dari bilangan kompleks yang berdimensi 2.
(www.tony5m17h.net/3x3OctCnf.html
)

Dari situs itu saya mengenal bilangan hypernumber temuan Charles Muses dan mengantar saya ke milis Hypernumber@egroups.com sebelum dibeli oleh yahoo dan diberi nama baru hypernumber@yahoogroups.com.
Alhamdulillah di kelas itu saya menemukan sejumlah bilangan-bilangan multidimensi lain dalam suatu dialog interaktif yang positif.

Namun sayang pada akhirnya milis itu ditutup oleh pemiliknya karena beliau takut kalau matematika baru itu dimanfaatkan untuk keperluan destruktif senjata pemusnah masal. Namun pada hari-hari terakhir itu saya mengalami pengalaman pahit di mana posting saya tidak dimuat karena dianggap bertentangan dengan wawasan guru sang pemilik milis itu, Kevin Carmody www.kevincarmody.com , yaitu Charles Muses.

Setelah ditutupnya milis hypernumber itu saya meneruskannya dengan membuka milis hypernumbers@yahoogroups.com yang sayangnya tak sanggup saya teruskan karena pemikiran saya beralih ke bidang logika dan bergabung dengan lawsofform@yahoogroups.com pada tahun 2009. Pada tahun itu jugalah saya mulai ikut Facebook gara-gara diundang anak saya. Alhamdulillah, saya bisa memanfaatkan status info saya untuk belajar logika pada seorang insinyur elektro ITB di salah satu kota di Timur Tengah. Itulah manis Facebook yang saya kecap.

Sayangnya setelah 5 tahun belajar di milis lawsofform@yahoogroups.com akhirnya pemikiran saya dibidang logika menghasilkan penemuan yang melampaui laws of form George Spencer-Brown . Karena itu penemuan-penemuan itu saya unggah dalam blog-blog saya yang berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Yang paling bahagia adalah ketika menemukan bahwa seluruh logika dapat diturunkan dari satu aksioma yaitu 1. https://integralisme.wordpress.com/2014/12/31/the-ultimate-unity-of-logic/
Yang saya rasakan manisnya blog, adalah ketika mengetahui bahwa blog saya berguna bagi pengguna blog lain yang juga sedang mengembangkan pikirannya www.paulandellen.com/ideas/musings/mu018.htm

Itulah pengalaman manis di bidang fisika, matematika dan logika selama bergaul lewat internet. Anehnya, pengalaman pahit justru saya rasakan dibidang ilmu sosial, filsafat dan agama. Di ilmu sosial adalah pengalaman bahwa saya disensor, bahkan diblokir, oleh Facebook. Di bidang filsafat saya disalah-pahami oleh filsuf muslim mayantara Kent Palmer ( integralism.faithweb.com/STALLED.htm ). Di bidang agama saya disensor oleh orang yang sama dalam milis Islam yang dimilikinya ( https://groups.yahoo.com/neo/groups/islam-dialognet/conversations/messages ). Bahkan kacamata saya dilempari "shit" di twitter oleh seorang pembuat Game anti-Islam ( www.getjar.com/categories/all-games/arcade-games/angryprophets-641297 ) gara-gara saya mengajak para tweople memboikot game tersebut.

Itulah kesan saya tentang internet: manis untuk bicara yang obyektif, tapi pahit untuk bicara yang subyektif. Tapi itu hanya kesan individual saya, belum tentu bersifat universal.

Thursday, March 10, 2016

Einstein dan Gerhana Matahari 1929

Einstein dan Gerhana Matahari 1929 

 http://www.strangenotions.com/wp-content/uploads/Albert-Einstein.jpg



Hampir seratus tahun silam, tepatnya pada bulan November 1915, Albert Einstein memantik revolusi ilmu pengetahuan baru di tengah dunia yang muram seiring berkecamuknya Perang Dunia 1. Melalui pergulatan pemikiran yang melelahkan selama sepuluh tahun, Einstein akhirnya mengumumkan lahirnya relativitas umum lewat rangkaian empat ceramahnya di hadapan anggota-anggota Akademi Sains Prusia, bertempat di Aula Perpustakaan Negara Prusia, jantung kota Berlin. Inilah teori revolusioner yang mengubah cara-pandang kita akan jagat raya. Inilah teori yang bisa menjelaskan perilaku benda-benda langit mulai dari Matahari hingga galaksi dan benda-benda langit yang aneh mulai dari bintang cebol putih hingga sekelas lubang hitam yang misterius. 

Sebagai gagasan baru yang terasa menyebal dari akal sehat, relativitas umum butuh bukti kuat agar diterima menjadi teori mapan. Relativitas umum memang berhasil meramalkan gerak-gerik Merkurius yang aneh dan hasilnya sesuai dengan hasil observasi para astronom, meski banyak pula yang masih meragukannya. Tetapi relativitas umum juga menawarkan kemungkinan pembuktian lain yang menggoda: seberkas cahaya tak lagi merambat lurus kala melintas di dekat benda massif seperti Matahari dan bintang-gemintang lainnya, melainkan sedikit membelok. Dan Gerhana Matahari Total menyediakan peluang terbaik untuk membuktikan hal itu. 

Tatkala siang mendadak menjadi gelap akibat tertutupinya cakram Matahari oleh bundaran Bulan sepenuhnya, bintang-bintang yang nampak ada di dekat Matahari saat itu bakal terlihat sehingga posisinya bisa diukur. Jika relativitas umum benar, maka posisi bintang-bintang tersebut bakal beringsut sedikit dari posisi sesungguhnya. Pembelokan cahaya yang memesona ini memang berhasil diamati dalam Gerhana Matahari Total 29 Mei 1919 oleh tim pengamat dari observatorium Greenwich (Inggris) yang dipimpin Arthur Eddington. 


Namun akibat langkanya peristiwa Gerhana Matahari Total dan cuaca yang tak selalu mendukung, dalam 10 tahun kemudian hanya ada dua pembuktian-ulang. Dan Indonesia turut berperan dalam momen penting ini, tepatnya dari kota kecil Takengon di tepi Danau Laut Tawar (Aceh).
Adalah Erwin F. Freundlich, (baju putih di tengah) astronom muda Jerman dan sekaligus tangan kanan Einstein sendiri, yang membawa rombongan tim observatorium Postdam (Jerman) untuk mengabadikan Gerhana Matahari 9 Mei 1929. Tujuh buah lempeng foto berhasil diambil, dengan waktu paparan antara 14 hingga 90 detik dengan luas cakupan foto antara 3 x 3 derajat hingga 7,5 x 7,5 derajat. Hasilnya? Einstein benar.

Matahari melengkungkan ruang-waktu disekitarnya sedemikian rupa sehingga seberkas cahaya tak punya pilihan lain kecuali bergerak dalam lengkungan kosmos tersebut. Dan observasi Takengon menjadi observasi paling presisi yang pernah ada hingga saat itu.

Gerhana matahari total pernah melintasi Indonesia yang saat itu masih berstatus Hindia Belanda pada 9 Mei 1929. Saat itu gerhana melintasi Aceh lalu bergerak ke Laut Cina Selatan. Fenomena alam yang langka ini menarik astronom dari berbagai negara datang ke Hindia Belanda. Mereka hendak meneliti matahari demi membuktikan teori relativitas yang dikemukakan fisikawan Albert Einstein pada 1911. 


Gerhana 1929 yang terbilang cukup lama, yakni lima menit totalitas, dianggap momen tepat buat menguji benarkah terjadi defleksi atau pembelokkan cahaya seperti disampaikan Einstein. Sebab posisi matahari sedang berada di antara banyak bintang, sehingga ada cukup banyak objek buat meneliti benarkah cahaya bintang itu mengalami pembelokkan ketika melewati matahari. 

Seperti diberitakan mingguan berbahasa Belanda, Sumatera Post edisi 18 April 1929, salah satu rombongan peneliti yang datang ke Aceh berasal dari Obervatorium Postdam, Jerman. Tim ekspedisi ini dipimpin oleh astrografer Harald von Klüber. Klüber adalah pakar fisika matahari dan salah satu penggagas pembuatan "Einsteintrum" atau Menara Einstein, teleskop matahari yang dibuat khusus untuk menguji teori relativitas Einstein. Ia juga dikenal hobi mengambil topik penelitian yang pelik seperti menentukan "defleksi Einstein" bintang-bintang di dekat matahari saat terjadinya gerhana matahari total.

Menurut Sumatera Post, Van Kluber dan timnya memusatkan penelitiannya di wilayah Takengon yang kini menjadi Ibu Kota Kabupaten Aceh Tengah. "Takengon dipilih karena wilayahnya yang sejuk dan diprediksi akan cerah," tulis koran itu mengutip Van Kluber. Selain membuktikan teori Einstein, para peneliti gerhana yang datang ke Hindia-Belanda juga ingin mengamati bintang. Mereka hendak mengetahui apakah bintang akan terlihat ketika langit menjadi gelap saat gerhana matahari total terjadi. Menyambut kedatangan tim ekspedisi Potsdam, pemerintah Hindia Belanda sudah menyiapkan lokasi dan transportasi sejak dua pekan sebelum gerhana. "


Menurut Van Kluber, ekspedisi gerhana matahari total ini sangat bermanfaat bagi dunia ilmiah, khususnya bidang astronomi dan astrografi," tulis pemerintah dalam Laporan Umum Pemerintah Hindia-Belanda, Algemen Handelsblaad 16 Februari 1929. Royal Astronomical Society mencatat ekspedisi Klüber pada 1929 itu sukses besar. 

Itu adalah kedua kalinya Klüber ke Hindia Belanda, karena ia juga memburu gerhana matahari total 14 Januari 1926 yang melintasi Sumatera bagian selatan, serta Kalimantan bagian barat dan timur.[] Sumber: 

Tuesday, March 01, 2016

LGBT dan Cyberspace

LGBT DAN CYBERSPACE

LGBT

Ketika negeri Belanda melegalkan perkawinan sama jenis pada tahun 2001, internet baru berapa tahun muncul sebagai prasarana kominfo global. Tahun 2003 sudah ada 2 negara. Selanjutnya pada tahun-tahun 2005, 2009, 2013 dan 2015 sudah mencapai 4, 8,14 dan 20 negara yang melegalkan perkawinan sejenis.
Negara-negara tersebut antara lain :
  • Belanda (1 April 2001).
  • Belgia (13 Februari 2003).
  • Spanyol (3 Juli 2005)
  • Kanada (20 Juli 2005)
  • Afrika Selatan (30 November 2006)
  • Norwegia (1 Januari 2009)
  • Swedia (1 Mei 2009)
  • Portugal (5 Juni 2010)
  • Islandia (27 Juni 2010)
  • Argentina (22 Juni 2010)
  • Denmark (15 Juni 2012)
  • Brazil (14 Mei 2013)
  • Perancis (29 Mei 2013)
  • Uruguay (5 Agustus 2013)
  • New Zealand (19 Agustus 2013)
  • Inggris (England, Wales, Scotland)  (29 Matet 2014)
  • Luxemburg (18 Juni 2014)
  • Finlandia (28 November 2014)
  • Irlandia (23 Mei 2015)
  • Amerika Serikat (26 Juni 2015)

Perkembangannya yang hampir eksponensial itu menunjukkan bahwa fenomena pelipat gandaan itu berkaitan dengan kondisi transmodernitas internet. Perkawinan sama jenis adalah sebuah paradoks seksualitas bersamaan dengan paradoks glokalisme di bidang sosial budaya. ( sumber www.swadeka.com/20-negara-yang-telah-melegalkan-secara-penuh-pernikahan-sesama-jenis/2425/ ).
 
Hubungan erat internet dan LGBT sebenarnya sudah terjalin cukup lama. Misalnya, Bill Gates ,Microsoft Founder Bill Gates 'Comes Out' As Homosexual pembagi peramban web gratis Internet Explorer, sekarang tidak malu mengaku sebagai seorang gay. Tak mengherankan karena The UK Independent menulis pada tanggal 5 Juli 2007 bahwa Bill Gates "has acquired a major stake in a homosexual activist publishing company. ... The online material put out by the company features hard core homosexual pornography.".
 
Secara terbuka dia telah berdiskusi dengan Steve Jobs tentang perkawinan antar gay pada tahun 2009 dalam satu tayangan youtube . Pengganti Jobs,   Tim Cook , pada tahun 2014 menyatakan kebanggaannya akan seksualitas gay dirinya. Bahkan setahun sebelumnya Mark Zuckerberg bersama 700 orang pegawai Facebook  Mark Zuckerberg at san francisco gay pride parade ikutan Gay Parade di San Francisco. Tim Cook pun ikut parade serupa dengan 8000 pegawainya 2 tahun berikutnya Apple is a strong supporter of the LGBT community. .

Ketika Mahkamah Agung AS melegalisasi kawin sama jenis Apple, Microsoft dan Google serta Yahoo merayakannya dengan ikon pelangi. Zuckerberger Facebook co-founder Mark Zuckerberg shows his support for gay pride. menuliskan "Our country was founded on the promise that all people are created equal, and today we took another step towards achieving that promise, ". ( www.cnn.com/2015/06/28/tech/social-media-gay-pride/ ).
 
Perusahaan- perusahan internet itu bangga dengan cara mereka mempekerjakan pegawainya yang berorientasi seksual pelangi yang setara. Itulah sebabnya berbagai emoji LGBT dibuat dan disebar di berbagai chatting application yang multimedia seperti WhatsApp dan LINE. Apps untuk membentuk grup sesama LGBT pun dibuat. Sebuah Wikipedia khusus LGBT pun diciptakan. Berbagai media sosial pun memfasilitasi terbentuknya grup khusus LGBT.
 
Tampaknya, kita sedang mengalami perang generasi keempat, yaitu perang tanpa batas dengan peluru berupa virus non-biologis ditembakkan dengan meriam maharaksasa bernama internet. Tampaknya lagi perang itu harus dilawan dengan anti-virus yang disebarkan dalam cyberspace dan sebuah benteng berupa intranet nasional dan melegislasi Undang-undang Anti-LGBT.

Monday, February 15, 2016

Senjata Penghancur Peradaban



data:image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAAVgAAACTCAMAAAD86vGxAAABzlBMVEX////+AADMAJj+/v7//wAAmQAAAP7+mQD///0AAP8AkADLAJrPAJcAmwCOB7sAAPr4AADjKCXU8A3/9ff66Pj8nAD6cQ34xAUAF8z9kwALlBvDAJP45cEAAOb///r//P////Lj4//xAAC/v+v8/JivsevwGh2/AIw8qD78+qD+5OThq9X24q76/CXqt+S+AJMAAPH40pwAjAC8vPK447T5+1PzyurvuLeioO2q1qmrq+71//Tjn9Kd1J0/P+72nyIaGez/9f/h9uPDAIX//96KAK3+/bz9/+rNPaXlAAD78s74zs346PP02PCttd5vvHkAAMfV1Pbgj8vXdr7ISafUYbgXK7+9xOY6TsMAAK+u1LN1edTDJpMqKNeQkumwAIXe4e8+P+F4eemP05LQ8NNjuWREqETUWbMilyuLxJWs1Lo+pVDUcL3C5saeFqulJKzRrNnOn+DYyfZ8ALiWQ8fVPZrPAIfrptNgYt7AM6RNTuQiH+HzgCj3f0T4mnvyuFXqm0nolpTstrzdMjPzsaL2j2P75M/0wm/0pj300I76x4j4uWzugX7iT0fpYmLtXV3xOzzni4r8/Gv9+4b9/cjU8ErU7Ify1lD35aTz0WVgvRMGAAAXxElEQVR4nO1dC2MUt3YWFtiyvY7Xtd2bjb2axYCXGIMfgE1i+xqDgzEOJTzS3F5Iyg2EmzSPPtLmRVrXkDaQ8EiA3qb/tudIM7vSzNGMdnbNI9kPbO/Ojo6OPp05OjrSzDLWRhtttJEE57z+soFS1Mu21DbaeEFBGnGWafPME37zUgmx2WWy0ZbauAKc1KUt9XkT25ZqSm+92F+/VMK96ENRd+XyP22pHtUaYltWw69Hqv40PMV4aZwQe8N54lDiXVtqTARxLM85banNF2lLbeNZI95prenEp2Ng26PrNpmx9uetFv6rlsqN3/Rn2b2VHB79peoRttVSt0fXRqSmis2DbGV/G1IVBCJ5AgvMOYb1ifMdN9/WXqJwIYUK/qzOHdSo164UwZPgR6g/calwXITHsskQIaTgoSKWevgG1GLJxucCViIsXQdJSFCHrJKbf1JZDn9zzSg2ENs6OLExv3Xv4f2fBgbGAQMDAz/df3jv5635iYlBOB0IFVg3D4g6UFDUDyhpYmJj49at77a2fr53794DBXjx89bWd/MbII5rA+EBiFSdmuh3Dq2XNAG5YBnO7QEKtwcpQ85DLBoMR07Z4MT8vfvjY2PF4o4i/BgoFuHg2MDDe1sbg6oU9KoQiToksvOm6pkHD28PjCGKWlokrxhhbGzg/gPoLnXBCN3BIqFe5T7Z+ryYMBkYA212JDAuWzW4QqvArYiJ+QfARESkxWr9V3Fsffy+Ihd4DRKiON+4/9P6OrCZKE8D5P10b34CxbG6sdcRsHF34cYxFifW6OgQO8ZFq5wP9I/c+Pl2SIZlWwYDxTpDxbHxe/PAbdIVCT4/tiNeyOS1uKMYNaZeQ3H9wa1Bzim/zNlAouk5kSR23dYtxPggl83yGXbNxJZi1WlYRcL+gNsJlrAwzubHinb3UCLqYqIPxga2oM2BHl8MyNZZLGqUsFiSWNGMJwjUOIPDxsa9darjMjE2z4LkNWNZbEPtXt8ajMZRs6e21xW0nliJHg28ycZDfUE0Ti0oSfii3MSi1c4HOIoJawh70YiFGEdytvEgPw8/McoX5ScW2jj2cAKEBlbQ9cIRi9EVOIGEN/RF8WfomlYSqxo5vhFP+z9bYs0Ue4xAMuWugsb58XCcyafjBiPCoyZ8rIp3d4x9x54nYsN42mXCPDbSBjDqTDThBRDrg5ya+TVhsQrFsS1Ut95nz5rYOruZgAFCinlUOJ+t6nL3cZjZBmKL6/NW1uIZElvPhDmya7FPIMQSW2N5SQ1R3BKJGQqy0SyxGHdNYDAYCd0uYqGGVGJzDGCcDz4IZ/BNqLgRDzk1miRWRX73KwGvWcuzIDY5V09js0aCHLyvI9dmjBYmfjy+ytwSYnF+BG5WbCuxWnFaVW2xDoMlo4AwAcoHbyOl+WYFIYrFhzj/FPEN1pzdIrV1VZQ8rq6i8YlI8LYmYdbJnMK4K22YBpjDisHbmAJ0Yiz1w+g3GBWNW2TxsQRS8yUgfUETK9lAmjLpYpIF1k1i5V+T+LbCgoYdLGaU/5OW1yD+m5TPxSh9+n+pzPaESjZPTGx89x//nir920rYNMG+bYm6lNpymMTymhB29B/OEpxzBbUAIzdLtLwauoa7umqVIIxParhTMek0fO0kLfIX0x0LmLeunbm7TJ0aYpKHYMtdXY5zXMdT0LVmjAsCGkpgWQZCNBgUCBHcDYvTQof1z/LmDzOTZ9YqUlYAa2tnJifv/vDjHfikVCrheaUfXRVPklJLM7iio9ZfVMPgWgsqlR+6SqQWIP8u1yOzqCyXnIgprgpiZW4Mr5psDJcoFpYrjXsCxn8poQE4icUPNmdGK+i8cdA3VxhF5czo3c1lJGO4a8bRc2yyRGo7g6s5auhU/8BngF3w0WWa2eHSndAXgG9x4/tkaaz7e9f5Z0ZHzeyGHCZZWK6wzCjW+BjNRbAzy2SzlUrD2Nd37q5ZPCVQmfwebGj4jCvUmySpKs0kdMX1XnFmGKwmqRG0eJUWb2GGbEhp0qMoQjpcQYU1Mj0IuOSBvNPltlWga3OywlJzZjiJl5WZO3cqrtULJ7FxuYpYCacPU3Y3fCazRdxFrONqSqApYnk0mEn8/0PJzetw151R4D5QS/kp4oIA+mhNGEOkNUtohFgsuUk7g9KoyFgqFU6LjYiNtIs1oPY6jViy8dQfHLeC1S7isotGrOG7FQY2rVZsnVKl2lSAv5IVariJJaXK0RLZ1TDaJWvn5jtgaMbpdigGEm+aItaIcTDSwjGT5vbOGRidgDDXrCMcwEQ4rpvT6XzEcj2arS2TrYtdz00Qy1tGLA3gYpSUo2gtba7B7BGu1oBYHzQhVIiXTGzVQBPbRVosBglyk9Qo21GKTGKz0BpihR65aJS+r7Roj0JDxCp2fiQKDPsM7c+I2HjeSTKnwSKvnptqsjffNOhjufiBOH24VBrN1iWD2Exdc1psbF8Vr2zS7hU02axw34VJakeYhcYsFkKVH0liU8OtSAkHsZOx01xoDbHQYlegdWfNm9dWEwthARVvDXctr5Gn20pkTBByE5vuFmODofjemR94AoGpbwYyswPcM68Y1PRWiArt+TfToulIFb9wywk5TM1pS8txv2gFI9ZsFvdcrpFSkOy7hAwPqeR5glNJGBzkRfxszBVIDp6fnNHetW7dpLRTUQEZAk+62hKTA8RSiZplmdolVjQL8fwMZoMoOVG6I/sqj0slPuGYhKEwkxhJJMfdy2yTVAvTe8mKuPlKEUvCJtapK5O/o1Gpu61UNlQySf6vQ8rvzExpioGkwMq0/uKopaZsrS5wP1Keok//PxHYFyRPTJ/hhbMuL11Z5eBOCgfXuKj3iqFEnCWVD1+lhezcedTMPsZnwylSaQj+Kl3NqwldwavLwKXWE0xapAMY2uuoK66zA5IufrDC6Tx3gljc/uZoL2iR3J7uJTXxgX4TuIgNEmlD6PDVo/TZjyS1eylWr3AS66mrk9j6hg26a6IENTBbeeTgFaUIUkSGVPNz85CL2NAV4GYRdRcQOqBTDl4PrpoLwMlbvdUBOMFFrJeuDRLLCXEB52suT/BIb5o0XBihDCmVh7ev1z9ShV3E8ujeo+hEuerq7J2ngkCIpFf1J9ZH11Rio3OTXjI8rodWIVadbagt2sU1z5TKma0sTyWWYSI3CNRvzuTqqUeuvt75WO8+NqUaBldbKUq32HRdFTItNgvCOaTACEjenZcbTmL3VkKsrT558upjN6t4EQm87SuzVR6uIB1NEwsTVtdV90iI5B0aTcBJ7ME63JQqPJZqsSNTqeeDWMcosXMv1zdXxSXBxYorCfU5g6Mqta/dDMrc4Ycn9oKt4iKFu7vD6radWLLJ9bFPwREKo4sVZBOALbxsK5nAfjE0CJok9qDy+V6XkI+PddGTn9g6QeqXKw6HuAaX+alYa+3RUQ88FvbA16TFPoI4q0L3dCJW8bTY/MRmQ/AnjobgJMMhxTlVswWAxzBpaIrYo08ERA2+o+nz4GP5KVdTYndVGfAkFrcZtMRiDz46JdVwIKXfasZ2Euu58dg5z9x5FDM09NYLb4vlZmTknHllCtq7xgMdDHhbbGauIAMVhypr5Fb12IQfF5l54NBg5yN3XsCP2KPS9iXuiDkLB48+XpVSOQIiFctZ4hDLJLbGQJIcBXcShs7IJogVrmtm5+NmiT0o7LuK8xOLwo6eAp+PyxlexDqb5Umse0rrefc3WMBjR1McxDJ/YqV9T1KzcezRU5K7J12+xHqOPZW/orHmvU4l/+IQsdddaNVRxMb/VGwluDjlVc6Nvyy4dk3HWwX+nBbh6WM5n+2h8MoCsfBJ6QTHztEiZq85igAW6CIx3MCko5nQFUe8yrkAhT+87h6UueV12BJZ1+wf/YhlomcXhVcWnDGoVsJ4dS5ZvA/+91xjpAyuiO0jq7Wxn7HY0vkRStu+XX2GtL6+Pkq2PtrXN3tEwBgWOMecOpaSdYGIntdSC7WIWD3Pv+Yg9px+LlRcC02sB69ArD1v4y5iPdG3C4rPXsPIi2hMvGlexLopagGxH5Ft7ev5APf4JOvfBmJpI02eqIx2donHnuTz1Ikl6qNWeggNlHXcgCvO0TktJBbJAt+3S//piQ7R6FM9foRlz34yic2CP7FmFxksC/YaIQJbsH9B5WBMZfMSG9XqIPaD1zSWlpY+Onfjw5BfJ7s914kME4+HpOnEEnZWY0jv8XUSG+bXeA21srVFHn3Y5fh6TugbY+pSchEbVob76Omq4lYkThxZ+jjkts8y3+j1fg7TMJwtGI3T9Ri6phFrM8DNI7WMbhaxBMzcNPT9p7P0xTd73b41wHi9oC/ZGtKINQVkEsvDx3XJ6+f6evpIrwBc9ywJifkYVwOVBaUSyxjlXs1DLSD2uiN26nktkGbazyRW90Vf+oieg1imN9wjZwvX4LLoISvo6TkROJLwrSBW2W46saGBJ9cgTWELLo92TsjAXgStE2uH3WnERleb0+vYl6e+OjFWZdc/3EXZLF4gGGPjg5bMJVbLzzY6eNUcAg9Xkzws1n3F6I6TNxzE7l8IHGbPT9ggAwvTYsPBxsMVMK7vUMSqT9ygfQH6/wAmCqnxpBexpIR0YjOnFnWxHziInb0eODaicontUi/V7RyfOokVjRHLQmID9ROc+NDhbKBI+mMxmyFWt8tFrGcSBi+5a45LuWfJI+WhJiIuYrnVMcIVgDguT2jCddrJ7tp1g6XfQ4fEktbuG8cyNXbGoF2Bj82qoeLTnriAUMwNSSQfY1JDYqni+1lgJfw1sQldwYroWSJOqM/1JFqnMLvgupoiLZccdXmQokB2aZ/KbvkQi1OABdooYPb4KbFfkibWYbHM3q54hLQibCzt7ERw3XU1HWFp4Rb05xLpRaATqYqSSR1BWpt2BdmXsSZG7qetAtMFMhFvkcSSAvYLaU/4xBHS/sDlkLqqdZiPad2gTKovEGixCVpgom6nDak0Q/hn9hUKH/oSi4+HZB/RQkDMCeL5zTEZilhSwMdMCpNY4Thv9h/ou8rV0LdE6zZ7jmVkmV7rocr1/JG4DZdMpPzdyxT+NsjenBsqDwPMeVrIyy+/dVmNP2mS1MO497xFlf4Ds5//LNg75Hlv/Y3zdiQm33Go9of0bWWc7XPV5YlyN4Xjgfc+QbCL4Hh/Pymmu3wePEW6N0NrO9xJFf59Pe8YYs80dV7/6y7ZkondZJHu7pvpz8rm7BihExza58cKENvZ2d/Zj+g00AixQSDfh8KhAFMUvPiTups+RZQm1ijVH6GTIjapK7xzEYtXy9VyXahRqvt4+lcgALH93Z1xgIRWEJvtY7Xrk+z8tEGmRdH0e/ExIiY1JNYiKgexjqjATWy57goo3+9JrL07zhLRLLEwOsGV/m6nZXA1Nfr7y3tizuwpEovz7T3TJLGdN+P3WzVFLNE0RWwCfsSqsAC3q4hj05SUzk4g4vhudLP1LchZxNZBE5tobIrFSl45Nk2J7ux+N9PHerkCJ0cihdjUem0pV8v9JDfd0O6bV9VXvjiixkaIFW5iaciAfZWkRzH0TdaDfzKIzbK61hDL5fvTNLPY7ptXYW7qGsHUldG8xTrU5Ctlmtj+90XGlHa7iE1fpY2rIXeXaV+gQoPj51VsQGrUImJpV8DlvmmS2M7+92RzFpuFpoitp4UDdtlBLI4Z/eXXWe35RU/Px+LM66aju6ffcc1oo6HMb/ByctMwsdYqVi1g4RK8rINY/D/91VUmHbpA+1tOrP5usEBcdjio7nLgWnvKJFYkTqaJ7SaI7T/Oa1805oRUzwlSUjA9iIGBoxlK4rFA35EgpZGyEnovcCt9rHoKlcTBUrJ95W6iAPY0jF2pd3tlWWzm1UwT23k8cXuJqBERvVE5gDDtBNSKmyrIpGnFkPbm67gyGqibvxTB6hvRWKsHL7W7WPv0feV+ogCqOf26SNnRuZ3E7vaEpl99s8z5cjwINzSa7p+eni5fPq+SeeFtr+qqUDPew2S5nMQyveYl+eUy2dNwCDyBoL4ZpKXE1mZeFsqeeEdLUbfKXZ5OygkRzpg6yzffP7w7bH9NhavvfKV6JFYGiI3vNqzNvGxoYsMJNnKK26YP30yKDHsegi0mPKICY76mX8UGr3jQaRPbnSQ27Gc6LVRP9eB550NiVU76T51R4YS8kDm03enyN5ffO3Z4z549h/cde+/yN8fLZbIzSGKT9PfHLFbidbD72E3Vy9MUtWA2uzEnlx3HJupKDbdsnstoTvkA5crnw/6B5gT8annaV5Y6MTrbUej3sfkaZ3vILph+z1gBCq7u3nf53XLKxVNWBivIL7OpVQXEEiLgkEe4pa+cz19qBp/P1eXB+PUvzUmL4V/rO5f18nflEC3/jTc+++wfNT777I03XkrX4vOXPh+ytu0SSRgg9p9JKZ//UwqxlryThSbwxRdzdeE4xH9ZhYPNSDTxbzFiA3GoWuggTuwwDlKfx3DyS5tLiljBvky244vewhcHCCq59S5EtbcA//Kgo9DRe9KwWIigArZ4Ej7o6MglMI7TmJA0xm4uDp2kJMNBJBdq1b/wTYra1U+IL7qMQ7DFkd6klJHCgaySEaaAVo9eJtALxFZNYgPMICpmc8lL4Gumonyj5w5Vk7J7ewsdmldNrGI1RYOOKyvU1zHGwIFYosUFf2JHgJ58BgYNKFjE4kjL2QFlVS2w2Y7TjNu7DcEV9I7ETyt0qGskQkG/J8SFSlfPsuxnAsIJi8nrGMSOHPB9ssVUoSMvoE2aWNPTBGxuKmxvbsEhTuMKgLHjI2BAbD51e9FZ9KJ5V+cCnr67KGzMIllTgfKxpJtuAbH2GMDZ2UtoNTkpMKCINZRtgtgOZbEdhZGROUY+Q4EilrIMmlgqcdcKizWBjxtZuVCt+b0mkCCW5yZWKQP2euWsijR8Fp28iE1Bq4nVyZu5KyPbYLHNEIuB2MlPhvQXp2TT8hwSq4NPMNrcciO0kFg1ak0dUN8IwJlHDuX5INZ03SK8C4CdvTg10hGGlThqdHhVhGNeQcVMOEGQ1gayHMSG1SJF1QtDSrPkbfWMJQ4Jz8ErZY7ROos1xao98kMXR0YUp70dU72+LldPPCCMr369yO1d140Tq2Iv7Nrq1MWz1v3OLSI2ZV/BthALYaCmdvF0dUSHCL7hl5qgnqxeWjy7Eh+/Gya2EIZ90EdDzHEvX3PEsqdBrFWDWoEAaoO5C1eqhUIsinfwoMLN6tSlC4feVBsNeWBNPhsOt3CmNHLyyoU5/dAS132eBMvZxGZ4aYHE5qU2hVi0V1wRw2zyytkLl6aqmeFXoTBVrV7584W5oYCJQI3escxeg8QWRkDeJ2j5aq3G81FmqcQWGiD27yFozg8zCWM9Fyz6FrRwh+ubc4tvnwa/WcWRTFtv5BzgFzBQrV76ZPEQkKCUUrdrqQWxenCEkuYufY3njqhpvO5c+0JQx0fUOaffvhDJ03n42GNQ6rpSAGKrZIMPpO2gMZ/G+eZQU/CzAp31Gzp7aPHi25dOXxkZmZpSZIJJnT7954uLB+bODkU9nSKFoxCQ8uXixU9ADgpSUJLUqytfn770NsobGmrke3WJuuQK3eAVv2fl4HN1hcxe6naAO/1WTE38PqnaJoQVQ+cVJUCFllz55lQpXK2613RfWYmZxcpKpA+692aoxafSEw12WjghwbwH2onaF0JxYR4OnNXEMsD4wFzlcdV6bp0/daUjV/gQ+KytN9HXUkULCnoxnsdOYSz6egl6T1OWruExdQ9AnAFWt48sqVyNEnr3hb0Xw71LI9qsIVKeF2orqxkI9CpDFEOFkqS+9bVurk6VVZUy/COkXhoW0b3t+p0aMPXjulI2BafpGh5LcCL0A6j9pHJDKwcC26ID44+ax4Q2pKVxXr+obWLrypnvOa+9YbXbdLghypLKWa1daqOHCAmoSVO6hnZdf9hehlQHsazGTJ0Bvb/EQ2obbbTRRtrib2Yh6rzMJeXfiFSyjpaJbUtNwfaMb22pL5SyL5LUF0rZF0mqf72Zc5u21Fxi7T9tqc+r2LbUNtp4JnAmZBq07Fiw/JuX2tixlBOI09tSXyhlXySpjcKeMLc6KvztSn2hJjpPW+r/A07lOOkfki20AAAAAElFTkSuQmCC
Senjata Penghancur Peradaban


Ketika LGBT muncul sebagai meme yang mengapung di aliran data di beranda saya, maka saya pun latah memasangnya di aliran status info saya. Lalu banyak yang melikenya. Saya hanya menikmati secara narsistik emosional sesuai dengan ekspektasi saya tentang kapasitas media sosial.
-
Namun ketika bertemu 4 mata dengan f(b)riend yang menulis tentang LGBT sebagai sekte seksual mendengar kisah bahwa Notes nya hilang disensor oleh FB.
( http://lm.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.gatra.com%2Ffokus-berita-1%2F185575-adriano-rusfi-gerakan-lgbt-jadi-sekte-seksual&h=kAQEL29xy&s=1 ) Lalu saya ingat bahwa dulu notes saya tentang Freeport dan CIA pernah mengalami hal yang sama, tetapi kemudian dimunculkan lagi. Dari situ saya yakin bahwa FB adalah mata-mata penguasa dunia. Tetapi kenapa LGBT jadi meme yang harus dijaga melalui sensor?
-
Pertanyaan itu menjadi lebih menggeliat di otak saya, ketika mengetahui penulis kawan fb saya itu juga diteror dengan sms ancaman pembunuhan. Lalu saya bertanya pada mbah google, menemukan asal-usul meme itu dalam prinsip-prinsip Yogyakarta ( https://id.m.wikipedia.org/wiki/Prinsip-Prinsip_Yogyakarta ) yang dirumuskan oleh pertemuan LGBT sedunia yang dihadiri oleh wakil dari PBB. PBB kemudian menyebarkannya melalui UNDP dengan dana yang besar.
( m.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/02/12/o2fsmh282-undp-keluarkan-rp-108-miliar-untuk-lgbt-indonesia )
-
Lalu, siapa yang mencetuskannya? Ternyata organisasi rahasia ( www.bibliotecapleyades.net/sociopolitica/secretsoc_20century/secretsoc_20century10.htm ), yang namanya tak boleh disebutkan di FB, memasukannya ke dalam agenda globalnya ( lingkarannews.com/lgbt-adalah-agenda-depopulasi-nya-freemasonry/ ) yang ingin menghancurkan negara kebangsaan dan menggantinya dengan sebuah negara bumi dalam tata dunia baru.
-
Untuk itu setiap negara kebangsaan diruntuhkan menjadi masyarakat terbuka ( https://en.m.wikipedia.org/wiki/Open_Society_Foundations ) yang terdiri dari individu atomistik yang bebas mengkonsumsi narkoba, menjalankan seks pelangi yang bebas, bebas menggugurkan janin dan segala kebebasan anti negara menjadi konsumen masal produk-produk korporasi transnasional.
-
Inilah dana yang dikeluarkan untuk membangun "open society" itu:
" According to the foundations' website, 1993-2014 expenditures included: $2.9 billion to defend human rights, especially the rights of women, ethnic, racial, and religious minorities, drug users, sex workers, and LGBTQ communities;" Lihat juga https://www.opensocietyfoundations.org/topics/lgbti
-
Sayangnya justru posting-posting saya yang mencoba membuka rahasia besar ini, tidak memperoleh tanda jempol satu pun. Artinya media sosial yang mendangkalkan intelektualitas kita ini telah berhasil menumpulkan otak kita untuk menganalisis berita, membongkar rahasia besar di balik imagologi media massa melalui analisis mitografi internet yang terus berkembang melalui media salin-tempel di berbagai blog.
-

Tuesday, December 29, 2015

Wawancara Dana Revolusi
dengan Dr.Soebandriyo
oleh Linda Djalil linda-djalil





Linda Djalil: Bisa Anda jelaskan tentang dana revolusi yang diributkan orang?

Subandriyo: Saya gembira diberi kesempatan memberi penjelasan tentang dana revolusi. Hingga kini, orang memberi keterangan mengenai dana itu tanpa pengertian sebenarnya. Pengumpulan dana revolusi diputuskan oleh Presiden Soekarno dan Pemerintahan Djuanda.

Ketika itu keadaan keuangan negara sangat sulit, dan anggaran belanja para menteri sangat terbatas. Jika menteri kehabisan uang maka dibutuhkan tambahan anggaran belanja. Ini makan waktu agak lama, sampai beberapa bulan.

Maka menteri keuangan dipersilakan menyediakan dana revolusi dalam rupiah, dalam jumlah terbatas. Keadaan keuangan negara waktu itu serba sulit, separuh anggaran belanja negara dipakai untuk perjuangan merebut Irian Barat kini Irian Jaya.

Para menteri yang sangat membutuhkan uang mengajukan permintaan kepada menteri keuangan yang meneliti permintaan itu. Jika menteri keuangan setuju, kemudian harus diajukan kepada Djuanda untuk mendapat pengesahannya.

Setelah Bapak Djuanda meninggal, saya dan Chairul Saleh diberi tugas memberi keputusan terakhir tentang permintaan menteri.


Lalu?

 Ya, kami berdua memberikan persetujuan. Misalnya untuk Menteri Perindustrian Arumnanto. Jumlahnya Rp30 juta, atas rekomendasi menteri keuangan.

Dana Revolusi itu sebenarnya disimpan di mana?

Dana itu dihebohkan disimpan di luar negeri atas nama saya. Sebenarnya tak begitu. Dana revolusi berwujud rupiah dan hanya disimpan di bank dalam negeri, bukan di luar negeri.


Lalu Anda mengetahui adanya Dana Revolusi dari mana?

Semula saya sendiri lupa, tak pernah memikirkan apakah ada uang sebanyak itu, yang disebut dana revolusi itu. Tiba-tiba, kira-kira tahun 1980-an, seorang Malaysia bernama Musa datang ke rumah menemui istri saya Dyan (Sri Kusdyantina).

Saya sendiri sudah hidup di penjara. Musa mengaku baru tahu bahwa saya masih hidup setelah melihat foto kami.


Musa datang mengaku sebagai apa?

Sebagai nasabah Union Bank of Swetzerland. Dia juga mengaku tahu persis bahwa di bank Swiss itu ada deposito atas nama Dr Soebandrio sebanyak USD130 juta. Dia ceritakan kepada Dyan. Tapi saya menganggap keterangan itu bohong dan sensasional.

Pemerintahan Soekarno sama sekali tak mempunyai dana untuk disimpan di Swiss. Saya pesan kepada istri saya untuk menjawab begitu kalau ditemui Musa. Sebab saya yakin, dana revolusi itu tak mungkin ada.

Tapi kok akhirnya Anda percaya?

Begini ya. Namanya orang di dalam bui, tak bisa apa-apa, tak bisa mengecek langsung. Sementara itu, Musa tak putus asa dengan jawaban istri saya. Dia berkali-kali berusaha menemui Dyan. Itu berlangsung selama kira-kira satu tahun.

Bahkan, dia pernah datang membawa seorang Swiss untuk membuktikan bahwa saya masih hidup, dan hukuman saya telah diubah dari vonis mati menjadi hukuman seumur hidup. Musa terus membujuk.

Dia berkata, kalau saya sudah mati, dana itu akan menjadi milik Bank Swiss. Sayang sekali kalau tak segera diambil.


Apa upaya Musa selanjutnya?

Dia mendesak istri saya agar membujuk saya untuk memberikan surat keterangan bahwa deposito yang ada di Swiss memang atas nama saya. Akhirnya saya bersedia memberi surat kuasa kepada Musa.

Isinya minta keterangan tertulis kepada Union Bank of Switzerlan (UBS), apakah benar deposito di bank tersebut memang atas nama saya. Jadi justru saya yang meminta keterangan, bukan saya yang memberi keterangan. Saya juga tak mengatakan ingin menagih.


Jawaban mereka?

 Ha,ha,ha, sampai sekarang keluarga saya belum menerima surat jawaban dari UBS. Jadi saya belum tahu apakah benar di sana ada deposito atas nama saya.
Siapa lagi yang pernah menyebut soal dana revolusi itu kepada Anda?

Harry, keponakan saya dari istri pertama, dan bapaknya Hoepoedio. Mereka mengunjungi saya di penjara dan menganjurkan supaya dana di Swiss itu diambil negara. Katanya, cukup dengan surat kuasa saja kepada Harry untuk mengambil dana itu.

Tapi mengapa Anda diam-diam juga melakukan penyelidikan, tanpa melapor kepada pemerintah?

Saya tidak diam-diam dan tak ada maksud jahat untuk membelakangi pemerintah. Kalau Musa merasa yakin, ya silakan cari. Sebab saya sendiri belum yakin betul dana itu ada. Jadi untuk apa diberitahukan kepada pemerintah, kalau saya sendiri tak yakin. Iya kalau ada. Kalau tidak, kan malu.

Kalau waktu itu memang ada, apakah Anda akan mengambil uang itu untuk pribadi?

Sejak semula saya sudah niat, seandainya uang itu benar ada, akan saya serahkan kepada negara. Saya sadar, itu bukan hak saya. Tak ada uang pribadi saya sebanyak itu di luar negeri. Tak tebersit sedikit pun mengambil uang orang lain.

Saya narapidana yang ingin bertobat dan hanya kepada Allah SWT hidup ini saya pasrahkan.

Tapi nyatanya Anda toh memberi kuasa kepada Musa untuk mencairkan uang USD35 juta?

Itu salah. Bukan USD35 juta, melainkan USD35 ribu. Dan itu bukan uang dana revolusi. Itu uang dari rekening pribadi saya sendiri, uang yang saya miliki di Swiss. Jumlahnya USD35 ribu. Itu kan kecil.

Sengaja saya suruh Musa mengurusnya, sekalian untuk mengetes dia, apa benar dia bisa. Ternyata uang itu pun tak bisa diambil. Sekali lagi, saya tak mengutak-utik dana revolusi. Uang USD35 ribu itu uang saya pribadi.


Kabarnya tanggal 27 Februari 1992 Anda memberi cek senilai USD1 juta kepada Musa untuk dicairkan di UBS. Anda juga meminta Musa untuk mentransfer uang tersebut ke rekening Kusdyantinah di First National City Bank di Jalan Thamrin, Jakarta. Benar begitu?

Itu betul. Tapi cek itu juga tak berhasil dicairkan.

Dalam riuh Dana Revolusi ini muncul nama Nicholas James Constantine? Siapa dia?

Saya menerima surat dari ahli hukum Swiss, ya itulah orangnya. Dia mengatakan, saya punya deposito di UBS sebesar USD 130 juta. Deposito itu bisa diambil melalui sindikat Swiss, yaitu organisasi perbankan di Swiss.

Bantuan sindikat ini harus dibayar dengan imbalan 40% dari jumlah deposito. Syarat lain, saya harus dalam keadaan bebas dan harus datang sendiri ke Union Bank of Switzerland di Jenewa.


Anda bertemu sendiri dengan orang itu?

Tidak. Istri saya yang bertemu dengannya. Tapi saya meminta Dyan untuk menghindarinya. Sebab sejak kejadian Musa dulu, saya sudah tak mau lagi mengurus uang yang disebut sebagai dana revolusi itu.

Saya menganjurkan agar istri saya tak lagi menggubris berita sensasional itu. Oleh sebab itu, Constantine berupaya datang terus ke Jalan Imam Bonjol, tapi istri saya tak mau menemuinya.


Bagaimana akhirnya bisa bertemu dengan Constantine?

Istri saya pernah diundang menghadiri acara pengajian di rumah Ibu Nelli Adam Malik. Ya, istri saya datang. Tahu-tahu di sana sudah ada Constantine yang sengaja menunggu. Ibu Nelly sekonyong-konyong mempertemukan istri saya.

Tentu saja istri saya sangat kaget. Di situlah Constantine mulai menjelaskan kembali deposito atas nama saya di Union Bank of Switzerland. Constantine meminta Dyan membujuk saya untuk mencairkannya.

Constantine bilang, sayang sekali kalau deposto itu tak diambil dan akan jatuh ke tangan bank itu. Bahkan Ibu Nelly ikut mempengaruhi. Kepada istri saya, dia berkata, dosa lho kalau uang negara itu didiamkan. Istri saya jadi bingung.


Apakah Constantine minta imbalan?

Tentu saja. Kepada istri saya, dia mengatakan bisa mengurus dana revolusi asalkan diberi 40% dari hasil deposito yang bisa dicairkan.

Tanggal 13 Februari 1986 Anda menulis surat kepada Presiden Soeharto, memberitahukan tentang adanya dana revolusi itu. Artinya Anda mengakui bahwa uang itu ada?

Saya serba salah. Tidak melapor, nanti salah. Diam, salah. Akhirnya saya pikir melapor saja. Saya tulis surat ke Presiden. Dalam surat itu pun saya mengatakan, sebagai warna negara yang setia, saya ingin menyerahkan uang itu kepada pemerintah RI.

Dalam surat kepada Pak Harto, Anda merinci jumlah dana di Union Bank of Switzerland sebesar USD450 juta. Di Barcley Bank Inggris ada emas senilai 125 juta poundsterling. Bukankah itu berarti Anda tahu persis keberadaan dana itu?

Itulah kesalahan saya. Saya dan keluarga saya begitu dipengaruhi orang luar. Dari tak percaya, sampai akhirnya percaya. Mengapa saya menyebut angkanya kepada Pak Harto, itu karena saya bingung.

Banyak orang memberikan data itu berikut menyebutkan tempat penyimpanannya. Mereka juga berkata, kalau saya tak mengaku akan berdosa, yang akibatnya bisa fatal. Saya sebetulnya bukan tak mau mengaku. Tapi saya memang sanksi barang itu ada.


Surat itu Anda tulis sesudah atau sebelum dihubungi oleh Constantine?

Sesudah.

Anda pernah menyebut soal barter kebebasan dengan Dana Revolusi?

Sama sekali tidak. Itu fitnah belaka. Sebab sejak semula saya sudah menganggap, uang itu kalau memang ada, bukan milik saya, bukan hak saya.

Anda memakai pengacara Amin Arjoso?

Arjoso semula teman akrab Harry Hupudio–kemenakan saya. Setelah saya ditanya macam-macam tentang dana revolusi, Amin yakin betul uang itu ada. Mereka minta surat kuasa dari saya dan mengatakan sanggup mengambil uang itu asalkan dibayar 40%.

Mereka berjanji, istri saya akan diberi 10% dari deposito itu. Permintaan mereka tak saya layani.


Hubungan Anda dengan Suhardiman?

Ketika saya menjadi Menteri Luar Negeri, dia sering datang ke rumah saya untuk beramah-tamah. Pernah pula dia minta bantuan untuk organisasi buruh SOKSI.

Saya pun membantu. Ketika dana revolusi diramaikan, dia mengatakan agar dana itu segera diambil dan diserahkan kepada pemerintah. Saya tak patut meminta komisi. Rupanya Suhardiman belum tahu, bahwa jauh sebelumnya saya sudah menulis surat kepada Presiden. Baru belakangan dia tahu.

Masih berhubungan dengan Musa ataupun Constantine?

Sama sekali tidak. Dan belum pernah sepotong surat pun yang mereka bawa dari UBS. Sampai sekarang mereka ternyata tak bisa membuktikan bahwa saya memiliki deposito di UBS. Jadi tak benar ada dana revolusi atas nama saya.
 
sumber http://lindadjalil.com/2013/10/wawancara-soebandrio-tentang-dana-revolusi/

Saturday, December 12, 2015

Konspirasi Freeport

Konspirasi Hebat CIA dan Freeport

suharto sukarno freeport banner

Pada sekitar tahun 1961, Presiden Soekarno gencar merevisi kontrak pengelolaan minyak  dan tambang-tambang asing di Indonesia. Minimal sebanyak 60 persen dari keuntungan perusahaan minyak asing harus menjadi jatah rakyat Indonesia. Namun kebanyakan dari mereka, gerah dengan peraturan itu. Akibatnya, skenario jahat para elite dunia akhirnya mulai direncanakan terhadap negeri tercinta, Indonesia.

Pada akhir tahun 1996 lalu, sebuah artikel yang ditulis oleh seorang penulis Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia, CIA and Freeport“. Walau dominasi Freeport atas “gunung emas” di Papua telah dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini ternyata sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Dalam tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan jika Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangkrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun pada tahun 1959.
Lisa-Pease
Saat itu di Kuba, Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya dari Kuba, akhirnya terkena imbasnya. Maka terjadi ketegangan di Kuba. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Fidel Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan. Ditengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jacques Dozy di tahun 1936.
Forbes Wilson Freeport Sulphur
Forbes Wilson, Direktur Freeport Sulphur 1959 (pic: mininghalloffame.org)
Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Namun, Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan kemudian membacanya. Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya diseluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata. Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain.
Forbes Wilson (kanan) bersama anggota geologist Freeport di Erstberg 1967
Forbes Wilson (kanan) bersama anggota geologist Freeport di Erstberg, 1967.
Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar, yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari. Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak!! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD MOUNTAIN, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar, hanya dalam waktu tiga tahun pasti sudah kembali modal. Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut.
Forbes Wilson bersama anggota geologist Freeport di Erstberg 1967 
Forbes Wilson bersama anggota geologist Freeport di Erstberg 1967
Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat. Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy (JFK) agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah sepertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II, terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.
Soekarno_dan jf_kennedy01 
Soekarno dan JF Kennedy
Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nilai emas yang ada di gunung tersebut. Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin Freeport jelas marah besar.
Presiden AS, John F Kennedy ditembak saat bersama istrinya di mobil kap terbuka 
Presiden AS, John F Kennedy ditembak saat bersama istrinya di mobil kab terbuka pada 22 November 1963.
Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan! Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan Kennedy merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika. Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil sikap yang bertolak belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya.
Sukarno and JFK Keneddy 
Presiden Sukarno pada lawatan kenegaraannya ke Amerika Serikat sedang memeriksa barisan tentara kehormatan Amerika setelah turun dari pesawat didampingi presiden AS, John F Kennedy
Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport. Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60 persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.
former direksi Freeport and Presbyterian Hospital Board Chairman Augustus C. Long
Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport dan pemimpin Texaco, yang membawahi Caltex, ia juga chairman Presbyterian Hospital Board dan Penasehat CIA di kepresidenan AS untuk masalah luar negeri..
Augustus C.Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya. Mungkin suatu kebetulan yang ajaib, Augustus C. Long juga aktif di Presbysterian Hospital di New York, dimana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA. Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu, yang di Indonesia dikenal sebagai “masa yang paling krusial”. Pease mendapatkan data jika pada Maret 1965, Augustus C. Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Pada bulan Agustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.
Pengamat sejarawan LIPI, Dr Asvi Marwan Adam
Pengamat sejarawan LIPI, Dr Asvi Marwan Adam
Sedangkan menurut pengamat sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Asvi Marwan Adam, Soekarno benar-benar ingin sumber daya alam Indonesia dikelola oleh anak bangsa sendiri. Asvi juga menuturkan, sebuah arsip di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta mengungkapkan pada 15 Desember 1965 sebuah tim dipimpin oleh Chaerul Saleh di Istana Cipanas sedang membahas nasionalisasi perusahaan asing di Indonesia. Soeharto yang pro-pemodal asing, datang ke sana menumpang helikopter. Dia menyatakan kepada peserta rapat, bahwa dia dan Angkatan Darat tidak setuju rencana nasionalisasi perusahaan asing itu.
“Soeharto sangat berani saat itu, Bung Karno juga tidak pernah memerintahkan seperti itu,” kata Asvi.
Sebelum tahun 1965, seorang taipan dari Amerika Serikat menemui Soekarno. Pengusaha itu menyatakan keinginannya berinvestasi di Papua. Namun Soekarno menolak secara halus. “Saya sepakat dan itu tawaran menarik. Tapi tidak untuk saat ini, coba tawarkan kepada generasi setelah saya,” ujar Asvi menirukan jawaban Soekarno. Soekarno berencana modal asing baru masuk Indonesia 20 tahun lagi, setelah putra-putri Indonesia siap mengelola. Dia tidak mau perusahaan luar negeri masuk, sedangkan orang Indonesia masih memiliki pengetahuan nol tentang alam mereka sendiri. Oleh karenanya sebagai persiapan, Soekarno mengirim banyak mahasiswa belajar ke negara-negara lain.
Suharto, sebagai komandan Abri saat memimpin pasukan untuk memerangi G-30/S-PKI
Soeharto, sebagai komandan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) disaat memimpin pasukan untuk memerangi G-30/S-PKI
Soekarno boleh saja membuat tembok penghalang untuk asing dan mempersiapkan calon pengelola negara. Namun Asvi menjelaskan bahwa usaha pihak luar yang bernafsu ingin mendongkel kekuasaan Soekarno, tidak kalah kuat! Setahun sebelumnya yaitu pada tahun 1964, seorang peneliti diberi akses untuk membuka dokumen penting Departemen Luar Negeri Pakistan dan menemukan surat dari duta besar Pakistan di Eropa. Dalam surat per Desember 1964, diplomat itu menyampaikan informasi rahasia dari intel Belanda yang mengatakan bahwa dalam waktu dekat, Indonesia akan beralih ke Barat. Lisa menjelaskan maksud dari informasi itu adalah akan terjadi kudeta di Indonesia oleh partai komunis. Sebab itu, angkatan darat memiliki alasan kuat untuk menamatkan Partai Komunis Indonesia (PKI), setelah itu membuat Soekarno menjadi tahanan. Telegram rahasia dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ke Perserikatan Bangsa-Bangsa pada April 1965 menyebut Freeport Sulphur sudah sepakat dengan pemerintah Indonesia untuk penambangan puncak Erstberg di Papua. Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan ada pertemuan para penglima tinggi dan pejabat Angkatan Darat Indonesia membahas rencana darurat itu, bila Presiden Soekarno meninggal. Namun kelompok yang dipimpin Jenderal Soeharto tersebut ternyata bergerak lebih jauh dari rencana itu. Jenderal Suharto justru mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi bahwa semuanya itu memang benar adanya. Maka dibuatlah PKI sebagai kambing hitam sebagai tersangka pembunuhan 7 Dewan Jenderal yang pro Sukarno melalui Gerakan 30 September yang didalangi oleh PKI, atau dikenal oleh pro-Suharto sebagai “G-30/S-PKI” dan disebut juga sebagai Gestapu (Gerakan Tiga Puluh) September oleh pro-Sukarno.

Soeharto diberikan mandat dengan dikeluarkannya Supersemar untuk mengatasi keadan oleh presiden Sukarno 
Soeharto diberikan mandat dengan dikeluarkannya Supersemar untuk mengatasi keadan oleh Presiden Soekarno
Setelah pecahnya peristiwa Gerakan 30 September 1965, keadaan negara Indonesia berubah total. Terjadi kudeta yang telah direncanakan dengan “memelintir dan mengubah” isi Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966, yang pada akhirnya isi dari surat perintah itu disalahartikan. Dalam Supersemar, Sukarno sebenarnya hanya memberi mandat untuk mengatasi keadaan negara yang kacau-balau kepada Suharto, bukan justru menjadikannya menjadi seorang presiden. Dalam artikel berjudul JFK, Indonesia, CIA, and Freeport yang diterbitkan majalah Probe edisi Maret-April 1996, Lisa Pease menulis bahwa akhirnya pada awal November 1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah perwira loyalis Soekarno (yang dikenal juga sebagai 7 dewan Jenderal yang dibunuh PKI), Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan, “Apakah Freeport sudah siap untuk mengekplorasi gunung emas di Irian Barat?”


Ibnu Sutowo, Menteri Pertambangan dan Perminyakan pada tahun 1966.
Forbes Wilson jelas kaget. Dengan jawaban dan sikap tegas Sukarno yang juga sudah tersebar di dalam dunia para elite-elite dan kartel-kartel pertambangan dan minyak dunia, Wilson tidak percaya mendengar pertanyaan itu. Dia berpikir Freeport masih akan sulit mendapatkan izin karena Soekarno masih berkuasa. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport? Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Oleh karenanya, usaha Freeport untuk masuk ke Indonesia akan semakin mudah.
 
Julius Tahija, penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport.
Beberapa elit Indonesia yang dimaksud pada era itu diantaranya adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan pada saat itu Ibnu Soetowo . Namun pada saat penandatanganan kontrak dengan Freeport, juga dilakukan oleh menteri Pertambangan Indonesia selanjutnya yaitu Ir. Slamet Bratanata. Selain itu juga ada seorang bisnisman sekaligus “makelar” untuk perusahaan-perusahaan asing yaitu Julius Tahija. Julius Tahija berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Dalam bisnis ia menjadi pelopor dalam keterlibatan pengusaha lokal dalam perusahaan multinasional lainnya, antara lain terlibat dalam PT Faroka, PT Procter & Gambler (Inggris), PT Filma, PT Samudera Indonesia, Bank Niaga, termasuk Freeport Indonesia. Sedangkan Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat, karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka. Sebagai bukti adalah dilakukannya pengesahan Undang-undang Penanaman Modal Asing (PMA) pada 1967 yaitu UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didektekan oleh Rockefeller seorang Bilderberger dan disahkan tahun 1967. Maka, Freeport menjadi perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Soeharto. Bukan saja menjadi lembek, bahkan sejak detik itu, akhirnya Indonesia menjadi negara yang sangat tergantung terhadap Amerika, hingga kini, dan mungkin untuk selamanya. Bahkan beberapa bulan sebelumnya yaitu pada 28 Februari 1967 secara resmi pabrik BATA yang terletak di Ibukota Indonesia (Kalibata) juga diserahkan kembali oleh Pemerintah Indonesia kepada pemiliknya. Penandatanganan perjanjian pengembalian pabrik Bata dilakukan pada bulan sesudahnya, yaitu tanggal 3 Maret 1967.
penjanjian pengembalian kembali pabrik bata 03031967 - 01 penjanjian pengembalian kembali pabrik bata 03031967 - 02
Keterangan gambar diatas: Penandatanganan perjanjian pengembalian kembali pabrik Bata pada tanggal 3 Maret 1967. Sumber foto: The Netherlands National News Agency (ANP) (klik untuk memperbesar)

Padahal pada masa sebelumnya sejak tahun 1965 pabrik Bata ini telah dikuasai pemerintah. Jadi untuk apa dilakukan pengembalian kembali? Dibayar berapa hak untuk mendapatkan atau memiliki pabrik Bata itu kembali? Kemana uang itu? Jika saja ini terjadi pada masa sekarang, pasti sudah heboh akibat pemberitaan tentang hal ini. Namun ini baru langkah-langkah awal dan masih merupakan sesuatu yang kecil dari sepak terjang Suharto yang masih akan menguasai Indonesia untuk puluhan tahun mendatang yang kini diusulkan oleh segelintir orang agar ia mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional. Penandatangan penyerahan kembali pabrik Bata dilakukan oleh Drs. Barli Halim, pihak Indonesia dan Mr. Bata ESG Bach. Masih ditahun yang sama 1967, perjanjian pertama antara Indonesia dan Freeport untuk mengeksploitasi tambang di Irian Jaya juga dilakukan, tepatnya pada tanggal 7 April perjanjian itu ditandatangani.
kontrak freeport 1967 - 01 kontrak freeport 1967 - 02
Keterangan gambar diatas: Penandatanganan Kontrak Freeport di Jakarta Indonesia, 1967. Sumber foto: The Netherlands National News Agency (ANP) (klik untuk memperbesar)

Akhirnya, perusahaan Freeport Sulphur of Delaware, AS pada Jumat 7 April 1967 menandatangani kontrak kerja dengan pemerintah Indonesia untuk penambangan tembaga di Papua Barat. Freeport diperkirakan menginvestasikan 75 hingga 100 juta dolar AS. Penandatanganan bertempat di Departemen Pertambangan, dengan Pemerintah Indonesia diwakili oleh Menteri Pertambangan Ir. Slamet Bratanata dan Freeport oleh Robert C. Hills (Presiden Freeport Shulpur) dan Forbes K. Wilson (Presiden Freeport Indonesia), anak perusahan yang dibuat untuk kepentingan ini. Disaksikan pula oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Marshall Green.
gold-emas zoomed 
Freeport mendapat hak konsensi lahan penambangan seluas 10.908 hektar untuk kontrak selama 30 tahun terhitung sejak kegiatan komersial pertama dilakukan. Pada Desember 1972 pengapalan 10.000 ton tembaga pertama kali dilakukan dengan tujuan Jepang.
Dari penandatanganan kontrak inilah yang kemudian menjadi dasar penyusunan Undang-Undang Pertambangan No. 11 Tahun 1967 yang disahkan pada Desember 1967. Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah merugikan Indonesia. Setelah itu juga ikut ditandatangani kontrak eksplorasi nikel di pulau Irian Barat dan di area Waigee Sentani oleh PT Pacific Nickel Indonesia dan Kementerian Pertambangan Republik Indonesia.
perjanjian nikel irian 19-februari-1969 - 01 perjanjian nikel irian 19-februari-1969 - 02
Keterangan gambar diatas: Penandatanganan Kontrak Nikel Irian oleh Pacific Nickel Indonesia, 19 Februari 1969. Sumber foto: The Netherlands National News Agency (ANP) (klik untuk memperbesar) Perjanjian dilakukan oleh E. OF Veelen (Koninklijke Hoogovens), Soemantri Brodjonegoro (yaitu Menteri Pertambangan RI selanjutnya yang menggantikan Ir. Slamet Bratanata) dan RD Ryan (U.S. Steel). Pacific Nickel Indonesia adalah perusahaan yang didirikan oleh Dutch Koninklijke Hoogovens, Wm. H. MÜLLER, US Steel, Lawsont Mining dan Sherritt Gordon Mines Ltd. Namun menurut penulis, perjanjian-perjanjian pertambangan di Indonesia banyak keganjilan. Contohnya seperti tiga perjanjian diatas saja dulu dari puluhan atau mungkin ratusan perjanjian dibidang pertambangan. Terlihat dari ketiga perjanjian diatas sangat meragukan kebenarannya. Pertama, perjanjian pengembalian pabrik Bata, mengapa dikembalikan? apakah rakyat Indonesia tak bisa membuat seperangkat sendal atau sepatu? sangat jelas ada konspirasi busuk yang telah dimainkan disini.
Gold biji emas 
Kedua, perjanjian penambangan tembaga oleh Freeport, apakah mereka benar-benar menambang tembaga?
Saya sangat yakin mereka menambang emas, namun diperjanjiannya tertulis menambang tembaga. Tapi karena pada masa itu tak ada media, bagaimana jika semua ahli geologi Indonesia dan para pejabat yang terkait di dalamnya diberi setumpuk uang? Walau tak selalu, tapi didalam pertambangan tembaga kadang memang ada unsur emasnya.

Perjanjian ketiga adalah perjanjian penambangan nikel oleh Pasific Nickel, untuk kedua kalinya, apakah mereka benar-benar menambang nikel?
Saya sangat yakin mereka menambang perak, namun diperjanjiannya tertulis menambang nikel. Begitulah seterusnya, semua perjanjian-perjanjian pengeksplotasian tambang-tambang di bumi Indonesia dilakukan secara tak wajar, tak adil dan terus-menerus serta perjanjian-perjanjian tersebut akan berlaku selama puluhan bahkan ratusan tahun kedepan. Kekayaan alam Indonesia pun digadaikan, kekayaan Indonesia pun terjual, dirampok, dibawa kabur kenegara-negara pro-zionis, itupun tanpa menyejahterakan rakyat Indonesia selama puluhan tahun. “Saya melihat seperti balas budi Indonesia ke Amerika Serikat karena telah membantu menghancurkan komunis, yang konon bantuannya itu dengan senjata,” tutur pengamat sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Asvi Marwan Adam.
suharto supersemar header
Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport mengandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978. Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik Jim Bob Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun. Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A.Maley, menulis sebuah buku berjudul “Grasberg” setebal 384 halaman dan memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki deposit terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar didunia.

west papua Freeport Grasberg mines 
Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan untuk 45 tahun ke depan.
Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar di dunia yang ada di Irian Barat itu merupakan yang termurah di dunia!!
tambang freeport mine puncak jaya lorentz indonesia 
Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya menyesatkan dan salah. Seharusnya EMASPURA. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka Freeport tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan sangat mudah.
 
Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan membangun pipa-pipa raksasa dan kuat dari Tambang Grasberg (Grasberg Mine) atau Tembagapura sepanjang 100 kilometer langsung menuju ke Laut Arafuru dimana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika.
Ini sungguh-sungguh perampokan besar yang direstui oleh pemerintah Indonesia sampai sekarang!! Seharusnya patut dipertanyakan, mengapa kota itu bernama Tembagapura? Apakah pada awalnya pihak Indonesia sudah “dibohongi” tentang isi perjanjian penambangan dan hanya ditemukan untuk mengeksploitasi tembaga saja? Jika iya, perjanjian penambangan harus direvisi ulang karena mengingat perjanjian pertambangan biasanya berlaku untuk puluhan tahun kedepan! Menurut kesaksian seorang reporter CNN yang diizinkan meliput areal tambang emas Freeport dari udara. Dengan helikopter ia meliput gunung emas tersebut yang ditahun 1990-an sudah berubah menjadi lembah yang dalam. Semua emas, perak, dan tembaga yang ada digunung tersebut telah dibawa kabur ke Amerika, meninggalkan limbah beracun yang mencemari sungai-sungai dan tanah-tanah orang Papua hingga ratusan tahun kedepan. Freeport juga merupakan ladang uang haram bagi para pejabat negeri ini di era Suharto, dari sipil hingga militer. Sejak 1967 sampai sekarang, tambang emas terbesar di dunia itu menjadi tambang pribadi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Freeport McMoran sendiri telah menganggarkan dana untuk itu yang walau jumlahnya sangat besar bagi kita, namun bagi mereka terbilang kecil karena jumlah laba dari tambang itu memang sangat dahsyat. Jika Indonesia mau mandiri, sektor inilah yang harus dibereskan terlebih dahulu.
indonesian presidents
Itu pula yang menjadi salah satu sebab, siapapun yang akan menjadi presiden Indonesia kedepannya, tak akan pernah mampu untuk mengubah perjanjian ini dan keadaan ini.
Karena, jika presiden Indonesia siapapun dia, mulai berani mengutak-atik tambang-tambang para elite dunia, maka mereka akan menggunakan seluruh kekuatan politik dengan media dan militernya yang sangat kuatnya di dunia, dengan cara menggoyang kekuasaan presiden Indonesia.