Monday, January 17, 2011

Reductio ad Absurdum

REDUCTIO AD ABSURDUM

Armahedi Mahzar (c) 2011

Bagian 5 : Mengkomputerkan untuk Menyelesaikan



Seorang pakar komputer, Winkler , kemudian pada tahun 1992 menemukan bahwa jika kita menambahkan pada sistem aksioma Robbins sebuah persyaratan tentang adanya dua elemen aljabar C dan D sehingga (C + D)' = (D)', maka aljabar Robbins identik dengan aljabar Boole. Dia membuktikan pernyataannya itu dengan menggunakan program komputer di lab Argonne.


Pada tahun 1996 William McCune dengan menggunakan sebuah perangkat lunak yang bernama EQP berhasil menemukan eksistensi kedua elemen itu dalam aljabar Robbins setelah menjalankan komputernya selama lebih dari lima hari waktu mesin.

Ini berarti tiga aksioma Robbins itu bisa seolah-olah merupakan merupakan basis yang terkecil bagi Aljabar Boole. Namun sebenarnya ada seorang matematikawan, Meredith, menemukan sebuah pasangan aksioma


(Meredith1) (x' + y)' +       x = x
(Meredith2) (x' + y)' + (z + y) = y + (z + x) 

sebagai basis terkecil bagi aljabar Boole.
Namun, dengan software Mathematica ciptaannya, Stephen Wolfram menemukan adanya 25 buah rumus yang mungkin digunakan sebagai aksioma tunggal yang hanya melibatkan 3 variabel dan 7 operasi jauh lebih sederhana dari aksioma tunggal Jean Nicod.

Namun McCune, ahli komputer yang berhasil membuktikan bahwa aljabar Robbins identik dengan aljabar Boole, menemukan sebuah aksioma tunggal saja


(McCune 1)       (((x+y)'+z)'+(x+(z'+(z+u)')')')' = z 

yang terdiri hanya terdiri dari 6 operasi ATAU, 7 operasi TIDAK dan 4 variabel. Ini lebih sederhana dari sistem aksioma Robbins yang menggunakan 9 operasi +, 4 operasi ' dan 3 variabel.
Bahkan dia akhirnya bisa membenarkan dugaan Wolfram itu melalui pembuktiannya secara komputasional dan menunjukkan salah satu dari 25 identitas logis Wolfram adalah sebuah aksioma tunggal lain dengan notasi NAND di mana a NAND b ditulis a|b sebagai berikut


(McCune 1')  (x|((y|x)|x))|(y|(z|x)) = y 

Namun, mengingat sifat simetri dualitas aljabar Boole, a|b dalam aksioma ini dapat dibaca juga sebagai a NOR b atau (a + b)' , sehingga aksioma ini dapat dituliskan sebagai
(McCune 1')       ((x+((y+x)'+x)')'+(y+(z+x)')')' = y 

yang terdiri dari 6 operasi dan 3 variabel. Rumus ini lebih sederhana dari aksioma yang ditemukan McCune terdahulu. Jadi rumus ini merupakan aksioma tersederhana yang ditemukan oleh komputer.

Namun, sebagai sebuah aksioma, dia sangatlah sulit untuk diinterpretasikan secara intuitif. Karena itu kita harus mencari jalur non-komputer untuk menyederhanakan hasil komputer ini lebih lanjut seperti yang akan diceritakan dalam blog berikut ini.

Sunday, January 16, 2011

Reductio ad Absurdum

REDUCTIO AD ABSURDUM

Armahedi Mahzar (c) 2011

Bagian 4 : Menyederhanakan Aksioma Aljabar Logika

Perjalanan sejarah menunjukkan bahwa setelah aljabar proposisi logika Boole berhasil direduksi menjadi sistem 6 aksioma dan 2 operasi primitif dalam Principia Mathematica, reduksi ini terus berlanjut hingga ditemukannya sistem formal logika Jean Nicod dengan 1 aksioma 1 operasi. Namun sayangnya aksioma Nicod itu sangatlah panjang dan sangat sulit dipahami. Walaupun begitu sejarah juga menunjukkan bahwa ternyata ada jalan-jalan lain untuk menyederhanakan aljabar logika.


Memang, perumusan aksiomatik Russell - Whitehead dengan notasi linier lebih jelas dari pada sistemnya Frege yang menggunakan notasi 2-dimensi atau planar. Namun sayangnya, kedua penulis Principia Mathematica ini justru mengembalikan simbolisasi linier atau satu dimensi dalam penelitian matematika logika dan mereka pun telah menghilangkan perumusan pernyataan aljabar logika, sebagai persamaan, seperti yang ditemukan oleh Boole, menjadi sebuah rangkaian pernyataan JIKA MAKA.

Walaupun aksioma-aksioma Principia dituliskan dalam rangkaian JIKA MAKA, sebenarnya konsep operasional dasarnya adalah ATAU dan TIDAK. Dimana JIKA a MAKA b atau a->b dirumuskan sebagai TIDAK(a) ATAU b atau a' + b. Itulah sebabnya terjadilah upaya-upaya penyederhanaan dengan menggunakan persamaan-persamaan dengan notasi a + b untuk a ATAU b dan notasi a' untuk TIDAK(a) sebagai aksioma-aksioma.

Misalnya, pada tahun 1933 Edward Vermilye Huntington (1874-1952), matematikawan Amerika, membuat sistem aksiomatik dengan 3 aksioma 2 simbol (+ dan ') sebagai berikut

(Komutativitas)                  x + y = y + x
(Asosiativitas)            (x + y) + z = x + (y + z)
(Huntington)  (x' + y)' + (x' + y')' = x

Sistem ini berhasil menurunkan semua identitas logis dalam Aljabar Boole.


Tak lama kemudian muridnya, Herbert Ellis Robbins (1915-2001) mencoba menyederhanakan sistem aksioma Huntington menjadi sistem 3 aksioma berikut

(Komutativitas)                  x + y = y + x
(Asosiativitas)           (x + y) + z = x + (y + z)
(Robbins)    ( (x + y)' + (x + y')')' = x

Namun sayang, Robbins tidak bisa membuktikan bahwa aljabar yang dibangun dengan tiga aksioma ini adalah identik dengan aljabar Boole. Bahkan banyak matematikawan telah mencoba membuktikan secara manual bahwa aljabar Robbins identik dengan aljabar Boole, namun semuanya berujung pada kegagalan. Baru pada tahun 1996, sebelum Robbins meninggal dunia, akhirnya dugaannya itu dibuktikan benar oleh William McCune dengan bantuan komputer .

Saturday, January 15, 2011

Reductio ad Absurdum

REDUCTIO AD ABSURDUM

Armahedi Mahzar (c) 2011

Bagian 3 : Mengaksiomakan Aljabar Logika

Maka, Bertrand Russel (1872-1972) dan Alfred North Whitehead (1861-1947) bekerja bersama untuk melinierkan kembali aljabar Frege   dan berupaya membangun seluruh matematika dari hanya enam buah aksioma logika saja. Walaupun nanti Kurt Godel (1906-1978) membuktikan bahwa ilmu hitung tak mungkin dibangun melalui sistem aksiomatik, keenam aksioma mereka tetap merupakan aksioma yang ekonomis untuk aljabar logika Boolean. Dia cukup menggunakan dua konsep yang primitif, operasi ATAU dan operasi TIDAK, dan enam pernyataan primitif atau aksioma.
Walaupun jumlah aksioma logika hampir sama dengan jumlah aksioma geometri, jumlah itu bukanlah jumlah yang paling ekonomis. Misalnya saja, pada tahun 1913 Henry Maurice Sheffer (1882-1964) berhasil mengurangi jumlah aksioma menjadi empat dengan hanya satu operasi yaitu TIDAN (TIDAK DAN) alias NAND atau TATAU (TIDAK ATAU) alias NOR. Ini berarti bahwa sistem aksioma Sheffer merupakan sebuah penyederhanaan bagi sistem aksioma logika dalam Principia. Namun itu belum cukup sederhana.
Misalnya, Jean George Pierre Nicod , matematikawan Perancis, berhasil mereduksi sistem aljabar logika Sheffer itu menjadi sistem formal dengan hanya menggunakan tiga buah aksioma saja. Bahkan pada akhirnya dia kemudian dapat mereduksi sistemnya sendiri menjadi sistem logika simbolik berbasis sebuah aksioma tunggal dengan satu simbol saja yaitu NAND alias NOT-AND, di mana x NAND y ditulis sebagai x|y.
Namun sayangnya aksioma tunggal ini sangatlah panjang, melibatkan lima variabel dan sama sekali tidak lah intuitif karena menggunakan operasi NAND.
((a|(b|c))|((e|(e|e))|((d|b)|((a|d)|(a|d)))))
Melihat kompleksnya aksioma tunggal itu, maka tentu saja orang akan berusaha menyederhanakannya lebih lanjut.
Misalnya, pada tahun 1931, Jan Lukasiewicz (1878-1956) berhasil mengurangi jumlah variabel dalam rumus Nicod menjadi empat dalam aksioma tunggal
((P|(Q|R))|((S|(S|S))|((S|Q)|((P|S)|(P|S)))))
Walaupun lebih sederhana, tetap saja tidak intuitif seperti halnya aksioma-aksioma geometri Euklides. Untuk mengurangi jumlah variabel menjadi tiga, tampaknya, dibutuhkan bantuan komputer seperti yang akan diceritakan nanti pada artikel yang kemudian.

Thursday, January 13, 2011

Reductio ad Absurdum

REDUCTIO AD ABSURDUM

Armahedi Mahzar (c) 2011

Bagian 2 : Mengaljabarkan Logika

Semenjak ilmu Logika ditemukan oleh Aristoteles    ilmu tersebut dapat dikatakan sebagai bagian dari ilmu sastra karena kita harus menggunakan kata-kata dalam memaparkannya. Namun karena sulitnya, orangpun menciptakan berbagai macam simbol untuk menyingkat hukum-hukum itu, namun masih saja tetap sulit.
Filsuf Gottfried Wilhelm Leibniz di abad ke-17 masehi memimpikan logika sebagai cabang matematika, tetapi tak dapat menemukannya. Baru di abad XIX, George Boole (1815-1864) matematikawan Inggris menemukan Aljabar Logika. Dalam logika pernyataan-pernyataan yang BENAR dan SALAH digabungkan dengan operasi ATAU dan DAN. Untuk mematematikkan logika maka dia melambangkan BENAR dengan 1 dan SALAH dengan 0.
Boole melihat bahwa penggabungan DAN itu mirip dengan perkalian x. Soalnya pernyataan BENAR hanya menjadi BENAR hanya jika digabungkan melalui DAN dengan pernyataan lain yang BENAR, lain dari pada itu hasilnya adalah SALAH. Hal ini mirip dengan fakta ilmu hitung dimana 1 hanya menjadi 1 jika di kalikan dengan 1, lain dari pada itu hasilnya adalah 0. Dalam simbol ilmu hitung, ini berarti 1 x 1 = 1 dan 1 x 0 = 0 X 1 = 0 X 0 = 0. Mirip kan?
Namun, William Stanley Jevons (1835 –1882), filsuf Inggris, melihat bahwa logika mempunyai hukum aritmetika yang berbeda untuk operasi ATAU inklusif. Soalnya, dua pernyataan menjadi BENAR bila digabungkan melalui ATAU hanya jika salah satu pernyataan itu BENAR, selain dari pada itu hasilnya adalah SALAH. Jika ATAU disimbolkan dengan + maka pernyataan itu berarti 1 + 1 = 1 + 0 = 0 + 1 = 1 dan 0 + 0 = 0. Jadi 1 + 1 bukannya sama dengan 2 seperti dalam ilmu hitung, tetapi sama dengan 0.
Selanjutnya Boole melihat operasi logika TIDAK a mirip dengan operasi ilmu hitung 1 - a. Soalnya 1 - 1 = 0 mirip dengan TIDAK BENAR = SALAH dan 1 - 0 = 1 mirip dengan TIDAK SALAH = BENAR. Dengan demikian dia menemukan sebuah ilmu hitung logika yang hanya mempunyai nilai 1 dan 0 dan mempunyai tiga operasi aritmetika +, X dan -. Di atas aritmetika logika inilah dia membangun aljabar logika di mana terdapat hubungan-hubungan aljabar yang aneh seperti misalnya x x = x + x = x untuk semua harga x.
Pada akhir abad ke-19, Charles Sanders Peirce (1839-1914), matematikawan Amerika Serikat, dan Friedrich Ludwig Gottlob Frege (1848-1925) , matematikawan Jerman, merumuskan aljabar logika dengan simbolisasi dua dimensi atau gambar-gambar. Namun sayangnya, karena rumitnya notasi itu, maka penemuan mereka tidak populer di kalangan matematikawan yang terbiasa dengan untaian satu dimensi simbol-simbol matematik seperti pada ilmu hitung dan aljabar.

Wednesday, January 12, 2011

Reductio ad Absurdum

Armahedi Mahzar (c) 2011

REDUCTIO AD ABSURDUM


Bagian 1



Salah satu cara untuk membuktikan suatu pernyataan adalah dengan menunjukkan bahwa penyangkalan atau negasi pernyataan tersebut menyebabkan suatu pertentangan alias kontradiksi. Cara pembuktian seperti ini dalam tradisi logika abad pertengahan disebut sebagai "reductio ad absurdum"

Saya sudah lama mengetahui teknik pembuktian seperti itu karena anak SMP di zaman dulu diajari ilmu ukur dan Euklides lah yang membangun ilmu ukur secara aksiomatik dan dia kata http://mathworld.wolfram.com/ReductioadAbsurdum.html sangatlah mencintai metoda reductio ad absurdum ini.

Tentu saja waktu itu saya tak mengetahui nama Latin dari metoda tersebut. Belakangan saya mengenal metoda itu dari pembuktian tentang adanya Tuhan menurut St. Anselmus di abad XII, jika Tuhan didefinisikan sebagai Yang Maha Sempurna. Kalau Tuhan tidak ada maka berarti Dia tidak memiliki ada yang berarti tidak Maha Sempurna dan ini adalah suatu kontradiksi: Yang Maha Sempurna itu tidak sempurna. Jadi Tuhan itu wajib adanya.

Nah, ketika saya belajar logika modern yaitu logika Boole saya sudah lupa akan metoda itu, dan saya jatuh cinta pada logika Boole karena sifatnya yang simetris Dualitas. Bagi saya inilah keindahan alam cita. Kecintaan akan simetri itu akhirnya menyebabkan saya meneliti simetri partikel elementer untuk tugas akhir S1 dan skripsi S2.

Salah satu prinsip lain selain prinsip simetri adalah prinsip ekonomi dalam satu ilmu. Jika ada dua buah teori, untuk menjelaskan berbagai peristiwa, yang satu lebih sedikit pengertian dasarnya dibanding teori yang lain, maka teori yang pertama disebut lebih ekonomis. Teori yang ekonomis lebih disukai ketimbang teori yang kompleks.

Geometri Euklides adalah sebuah sistem matematika yang ekonomis. Semua hubungan geometris yang benar dapat dibuktikan secara logis sebagai konsekuensi dari hanya lima buah pernyataan intuitif yang disebut aksioma. Sistem aksioma Euklides adalah model bagi matematika lainnya. Misalnya, Giuseppe Peano (1858-1932), matematikawan Itali, membuat sembilan buah aksioma bagi membuktikan semua pernyatan-pernyataan ilmu hitung.

Dalam rangkaian artikel berikut ini saya akan menceritakan jalan bahwa upaya mengaksiomakan aljabar logika yang ditemukan oleh Boole yang ternyata berujung pada sebuah sistem aksiomatika paling ekonomis yang hanya memiliki sebuah satu operasi tunggal dan satu aksioma tunggal yang bisa diinterpretasikan sebagai reductio ad absurdum.




Thursday, July 15, 2010

Cerita dari Ilford


Buku The Science of Discworld II: the Globe ini saya dapat beli 2 pennies di halaman Masuk perpustakaan Ilford (sekarang Redbridge Central Library) Redbridge Central Library karena dijual sebagai buku bekas.

Ceritanya ada dihttp://en.wikipedia.org/wiki/The_Science_of_Discworld_II
Saya memang penggemar buku karangan Matematikawan Ian Stewart dan biolog Jack Cohen dengan konsepnya tentang ko-evolusi personal intelligence yang disebut Stewart-ohen sebagaiIntelligence saja dan collective intelligence yang disebut mereka sebagai Extelligence. Konsep ini bagi saya adalah alternatif dari dialektika ide-ide seperti yang dipikirkan Hegel atau dialektika ide-materi seperti yang diajukan oleh pemikir Pakistan M.Sharif. Extelligence dalam bahasa kuno namanya symbolic culture alias budaya simbolik.
Jadi kecerdasan dan budaya simbolik berkelindan dalam sebuah proses koevolusioner yang disebut komplisitas (gabungan dari kompleksitas dan simplisitas). Berdasarkan konsep ini saya bisa mengerti bagaimana budaya London sangat diametral berbeda dengan budaya Jakarta. London serba teratur dan Jakarta serba kacau.
Buku ini berdasarkan seri Discworld yang dikarang oleh Terry Pratchett . Discworld sendiri adalah dunia fantasi yang dilukiskan sebagai sebuah piring yang dipikul oleh 4 ekor gajah yang berdiri di atas seekor penyu raksasa bernama Great A'Tuin. Peristiwa di dunia piring fantasi itu mengikuti kehendak para wizard yang menghuni dunia tersebut. Dalam bahasa ilmiahnya: mengikuti kausalitas naratif.
Konon ceritanya, di Unseen University sekolah tinggi pendidikan ilmu sihir di kota Ankh-Morpork di Discworld, komputer magis yang membangun dirinya sendiri yang bernama Hex berhasil membuat sebuah bola kaca berisi sebuah planet kecil dan seluruh alam yang mengelilinginya. Dunia dalam bola itu disebut disebut Roundworld alias Dunia Bulat. Planet itu tak lain daripada bumi yang kita tempati ini. Di Roundworld semua peristiwa bebas dari magik dan hanya mengikuti aturan sebab akibat yang kaku dan abadi. Tentu saja hal ini menjadi sangat menarik bagi para Wizard.

Buku ini adalah buku kedua dari trilogi The Science of Discworld. Buku pertama berjudul The Science of Diskworld , buku ketiga berjudul The Sciene of Diskworld III: Darwin's Watch . Ketiga buku ini disusun secara menarik: bab-bab ganjil berisi kisah di Diskworld, sedangkan bab-bab genap berisi penjelasan ilmiah populer tentang sains di Roundworld yang terkait dengan bab-bab ganjil sebelumnya.
Dalam buku pertama,yang versi e-booknya saya dapat dari gigapedia.om diterangkan sejarah Roundworld dari Bigbang hingga datangnya kehidupan di bumi. Dalam buku kedua yang paperbacknya saya beli di Ilford Library menerangkan tentang asal usul dan evolusi budaya manusia. Sedangkan buku ketiga, yang buku versi Hardbound nya ada di rak buku pinjaman di Ilford Library, sesuai dengan judulnya menjelaskan tentang evolusi biologis di Roundworld.
Menurut saya seharusnya urutan seri buku itu yang logis adalah sebagai berikut: buku ketiga jadi buku kedua dan buku kedua jadi buku ketiga. Soalnya buku kedua adalah teori spekulatif Stewart-Cohen tentang evolusi budaya manusia adalah koevolusi inteligensi-eksteligensi seperti yang diajukannya dalam buku mereka. Dalam teori ini bercerita adalah ciri khas manusia sebagai sejenis simpanse. Karena itu mereka mengajukan konsep manusia sebagai pan narans (kera pencerita) ketimbang homo sapiens. Bahkan dalam Darwin Watch, diajukan bahwa dengan perkembangan teknologi dan sains mutakhir, manusia diharapkan menjadi polypans multinarans yang banyak cerita yang saling dihargai.
Bagi saya teori tetraevolusi Ken Wilber lebih masuk akal dengan melengkapi koevolusi subyektiv-intersubyektiv Stewart-Cohen dengan koevolusi obyektif-interobyektif. Menurut Wilber subyektif-intersubyektif-obyektif-interobyektif adalah empat kwadran bagi setiap holon dalam holarki kosmos yang dalam bahasa integralisme Islam disebut sebagai integralitas alias realitas integral. Ken Wilber sendiri menyebut filsafat neo-perenialisnya sebagai integralisme universal yang mulai dikembangkannya pada tahun 2000-an, belasan tahun setelah terbitnya buku saya tentang integralism Islam. Mungkin teori banyak cerita manusiawi harus integrasikan dengan teori satu cerita alam menjadi banyak-tapi-satu Maha-Cerita Ilahi.

Thursday, June 03, 2010

My Story

My Story

Armahedi Mahzar (c)2010

Inilah riwayat pemikiran saya. Di masa SMA saya menemukan buku terjemahan Indonesia Tao Te Ching karangan Lao Tse di rumah kakek saya dan hati saya tergetar ketika membacanya. Padahal hati saya tak pernah tergetar ketika membaca terjemah ayat-ayat Quran. Saya pun gelisah, lalu saya tanyakan pada paman saya yang seorang sufi pelukis. Jawaban beliau cukup menenangkan saya. Kata beliau mungkin saja Lao Tse adalah salah seorang nabi untuk bangsanya. Belakangan ketika saya selesai kuliah di Bandung baru saya merasakan getaran hati yang sama pada terjemahan Quran dalam bahasa Inggris oleh Yusuf Ali yang kebetulan saya temukan di rumah paman saya tempat saya tinggal menjaganya selama beliau sekeluarga tugas belajar ke luar negeri.

Sementara itu selama kuliah sebelas tahun itu di jurusan Fisika ITB , saya menganut pandangan positivisme di bidang sains, pandangan romantisisme di bidang seni dan fundamentalisme di bidang agama. Maka saya memandang kitab-kitab agama lain sebagai puisi-puisi yang indah dan memandang Islam sebagai dasar kehidupan manusia berlandaskan Quran dan Hadits lepas dari segala tradisi para ulama dan hukama Islam. Sedangkan sains adalah pencari kebenaran obyektif yang kemudian bisa dimaanfaatkan oleh teknologi. Bagi saya, pada waktu itu, seni sains dan agama adalah tiga urusan yang terpisah satu sama lain yang hanya bersatu secara kebetulan dalam satu pribadi manusia.

Belajar di AS: Ketemu Batunya

Nah, di tahun 1974, saya dapat kesempatan untuk belajar di University of Arizona di Tucson Amerika Serikat. Sayangnya saya dimasukkan di jurusan Geologi di sana dan saya pun ketemu "batu"nya. Di tiga mata kuliah tentang batu: mineralogi (ilmu bagian batu), lithologi (ilmu batu) dan geologi struktural (ilmu formasi batu) saya hancur berantakan karena tidak mempunyai kemampuan diskrimasi visual yang cukup tajam untuk membedakan batu-batu tersebut. Maka saya pun pulang tanpa ijazah Master. Tapi bukan batu-batu di luar yang bikin saya gagal itu. Ada juga batu di dalam diri saya. Beginilah ceritanya.

Ketika saya ke Amerika itu, saya ingin belajar geofisika supaya saya bisa kerja dapat proyek di Pertamina dan bisa terus kaya. Sebenarnya jadi kaya itu bukan keinginan nurani saya. Keinginan terdalam saya adalah mencari kebenaran fundamental. Itulah sebabnya saya ambil jurusan fisika dan mengambil spesialisasi fisika teoritik. Namun, karena saya terbentur pada kenyataan bahwa jadi pegawai negeri itu sama saja jadi orang miskin, maka saya kepingin jadi kaya. Namun ketika saya berada di Amerika saya mendapat berita sedih dari Indonesia: Pertamina bangkrut sementara negara-negara penghasil lain diuntungkan karena Oil Boom di tahun 70-an. Maka semangat saya pun hancur berkeping-keping. Inilah yang jadi batu dalam diri saya.

Sementara gundah-gulana, saya masuk ke dalam perpusatakaan Oriental Studies, untuk mencari buku Iqbal "Reconstruction of Religious Thought in Islam" yang asli, saya justru menemukan sebuah buku yang mencengangkan saya. Sebuah buku karangan Isutzu yang menerangkan kesejajaran filsafat mistik Islam Ibnu Arabi dan ajaran Tao Te Ching (Dao De King kalau pakai transliterasi kontemporer) saya jumpai di sana. Ini menjadi lebih mengejutkan karena, ketika sampai di Indonesia, saya melihat sebuah buku baru di toko Gramedia berjudul The Tao of Physics karangan Fritjof Capra. Semua itu mengejutkan karena secara religius saya fundamentalis yang melarang mistisisme, sedangkan secara ilmiah saya seorang positivisme yang menganggap mistisisme sebagai nonsense. Ternyata Taoisme yang nonsense itulah yang menyatukan seni, agama dan sains, sekurang-kurangnya itulah yang terjadi di bawah kesadaran saya.

Kembali ke Indonesia: Mengajar dan Menulis

Dorongan bawah sadar itulah yang mendorong saya, sepulang di Indonesia, untuk mulai menulis bagi majalah Pustaka terbitan perpustakaan Masjid Salman ITB. Beberapa di antaranya adalah serangkaian tulisan yang saya sebut perjalanan strukturalis di mana saya menggunakan metoda analisis struktural, yang sebenarnya digunakan oleh antropolog Perancis Claude Levi-Strauss untuk membedah mitologi suku-suku Indian Amerika Selatan primitif, untuk membedah pemikiran Barat modern. Saya tertarik pada metoda itu karena sang antropolog menemukan banyak segitiga yang tersusun sebagai prisma dalam mitos-mitos Indian tersebut. Padahal dalam fisika partikel ditemukan bahwa partikel terkecil bagian dari inti atom juga membentuk sebuah segitiga.

Satu hal yang membingungkan saya pada mulanya adalah mengapa ada Fakultas Seni Rupa di Instituk Teknologi Bandung yang mengajarkan sains dan teknologi. Dengan analisis struktural itu saya menyadari bahwa ketiga cabang ilmu itu dapat dipandang sebagai sebuah segitiga sains-teknologi-seni yang sejajar dengan segitiga filsafat logika-etika-estetika. Yang mengherankan saya adalah kenyataan bahwa ketiga segitiga itu sejajar pula dengan segitiga keilmuan Islam ilmu-ilmu kalam-fiqih-tasauf yang sejajar dengan segitiga fundamental Islam aqidah-syari'ah-thariqah. Dari sana saya berkesimpulan bahwa ilmu, filsafat dan agama merupakan sebuah kesatuan yang utuh tak terpisahkan. Kemudian saya menemukan prisma-prisma lain dimana selalu dapat disempurnakan menjadi sebuah keutuhan yang sempurna.

Ketika penerbit Pustaka menyarankan pada saya untuk mengumpulkan tulisan-tulisan itu menjadi sebuah buku, saya pun melakukan eksplorasi intelektual lebih lanjut. Sebagau akibatnya, saya pun menemukan bahwa prisma-prisma itu tersusun menjadi sebuah superprisma yang mempunyai substruktur matriks eksistensialisme 2X5 yang kemudian melalui logika penyempurnaan mendapatkan sebuah matriks integralitas 5x5 yang meliputi semua yang ada di alam semesta dan di luarnya. Struktur integralitas itulah yang kemudian menjadi penutup buku pertama saya dengan judul Integralisme: sebuah Rekonstruksi Filsafat Islam yang terbit pada tahun 1983. Judul itu, sebenarnya, dihadiahkan oleh kawan saya, almarhum Aldy Anwar, karena ketika memaparkan penemuan intelektual itu di hadapannya dia sering mendengarkan kata-kata "terpadu", "integrasi" dan "integral."

Satu hal yang belum saya tuliskan di buku itu adalah penemuan saya yang lain, melalui buku psikologi transpersonal karangan Ken Wilber , yaitu The Atman Project, bahwa secara esensial semua agama mempunyai struktur yang sama jika kita memasukkan dimensi esoterik kedalam agama-agama tersebut. Yang mengherankan, Ken Wilber tidak memasukkan sufisme Islam dalam matriks kejajarannya. Padahal saya melihat adanya kejajaran pandangan sufisme Islam dengan esoterisme agama-agama Timur itu. Pandangan ini, sebenarnya, adalah pandangan filsafat perenialisme yang dianut Ken Wilber. Pandangan ini juga lah yang saya sampaikan pada sejumlah kecil mahasiswa di masjid Salman.

Di luar Fisika: Mengajar Filsafat Ilmu

Buku saya itu merupakan kartu nama saya yang menyebabkan saya diundang ke berbagai seminar atau diskusi di berbagai pelosok di Jawa dan Sumatra. Hasil pertemuan-pertemuan itu akhirnya saya kumpulkan dalam dua buah buku yang jarak penerbitannya sangat lama. Sepuluh tahun setelah buku pertama saya, baru diterbitkan buku kedua saya: Islam Masa Depan. Buku yang ketiga terbit sebelas tahun setelah buku kedua, judulnya Revolusi Integralisme Islam . Dalam buku-buku itu saya mengajukan sebuah pandangan bahwa peradaban manusia sekarang bisa diselamatkan jika secara kolektif manusia mengikuti jalur perjalanan kaum mistikus dari berbagai penjuru dunia yang mencari kesatuan dengan realitas seutuhnya: realitas integral atau integralitas.

Setelah buku pertama saya terbit, saya mendapat tugas untuk mengajar mata kuliah Filsafat Ilmu di ITB yang merupakan mata kuliah pilihan untuk mahasiswa tugas akhir. Karena mereka adalah calon-calon ilmuwan dan insinyur. Maka, saya ajukan fakta bahwa sains itu sekarang mengalami krisis internal/eksternal dan menghadapi kritik-kritik intelektual dari kalangan non-ilmuwan. Saya ajukan juga bahwa sekarang ada minoritas ilmuwan, misalnya Fritjof Capra, yang mengajukan paradigma holisme ekologistik menggantikan paradigma materialisme mekanistik. Dalam padangan ini sains/teknologi dan agama/budaya adalah sesuatu yang komplementer karena realitas adalah satu kesatuan material/immaterial yang tercermin dalam struktur ilmu eksperimen/teori. Ini mirip dengan kesatuan Yin dan Yang dalam Taoisme.

Namun saya kritik epistemologi holistik itu, karena meninggalkan transendensi dan hirarki. Kritik itu pulalah yang disampaikan oleh Ken Wilber yang kemudian pada tahun 2000, ketika mengajukan neo-perenialisme yang disebutnya sebagai integralisme universal. Pada akhir kuliah saya sampaikan pandangan integralisme yang menyempurnakan pandangan holistik tersebut. Menurut kenyataannya sebuah teori meliputi pencarian hukum-hukum alam dan prinsip-prinsip alam yang mendasari hukum-hukum tersebut. Sementara itu eksperimen itu adalah kegiatan pencarian fakta ilmiah yang menggunakan instrumen-instrumen material. Maka struktur ilmu yang lebih halus adalah instrumen-eksperimentasi-hukum-prinsip yang bersesuaian dengan hirarki materi-energi-informasi-nilai. Dalam integralisme ada sumber dari nilai-nilai sebagai puncak hirarki. Maka di atas prinsip-prinsip alam ada sumber dari prinsip-prinsip itu yaitu Yang Maha Pencipta alam semesta.

Pasca pensiun: Mengajar Lagi

Nasib saya memang aneh. Pada suatu waktu, setelah pensiun, saya diundang oleh seorang dosen di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung untuk memberi mata kuliah psikologi transpersonal. Saya bilang aneh, karena ketika psikolog transpersonal Ken wilber justru meninggalkan komitmen sempit psikologi transpersonal menuju filsafat yang disebutnya Integralisme Universal, saya justru harus menajamkan filsafat integralisme ke disiplin sempit psikologi transpersonal. Namun ternyata tugas baru itu mengukuhkan integralisme bukan hanya sekedar paradigma sains yang islami, tapi juga merupakan paradigma peradaban yang universal.

Soalnya, dalam penyiapan kuliah psikologi transpersonal itu saya menemukan bahwa perkembangan psikologi modern di abad ke-20 mengikuti tangga kategori integralitas. Pada mulanya ada behaviorisme yang bersesuaian dengan materi, lalu ada psikodinamisme yang bersesuan dengan energi. Kemudian ada psikologi kognitif yang berkaitan dengan informasi. Selanjutnya ada psikologi humanistik yang berkaitan dengan nilai-nilai. Akhirnya muncul psikologi transpersonal yang berkaitan dengan kategori sumber yang dalam hal manusia, itu tak lain tak bukan dari pada ruh atau spirit atau sukma. Tampaknya kesejararan integralis antara psikologi sebagai raja ilmu-ilmu sosial dan fisika sebagai raja ilmu-ilmu kealaman.

Yang lebih mengherankan, saya menemukan bahwa kesejajaran alam psikhis dan alam fisik itu ternyata merupakan keyakinan semua agama-agama tradisional dalam dimensi esoterisnya. Esoterisme Islam dalah sufisme, dalam Kristen ada mistisisme dan dalam Yudaisme ada Kabalisme . Di India ada Yoga yang merupakan dimensi esoteris Hinduisme dan Budhisme dimana yang esoterik melebur dengan yang eksoterik. Di Cina esoterisme Taoisme melengkapi eksoterisme Konfusianisme. Di Jepang esoterisme Zen melengkapi eksoterisme agama Shinto. Tampaknya integralisme menemukan esensi struktural agama-agama besar dunia seperti yang ditemukan oleh filsuf-filsuf perenialisme.

Kesimpulan: Reintegralisasi Peradaban

Jadi, kalau saya simpulkan sekarang, tampaknya dalam rangka penanggulangan krisis global dewasa ini, baik yang ekologis maupun yang ekonomis, yang dihadapi dunia, tampaknya berbagai bangsa Asia, yang sedang bangkit melalui impor sains dan budaya Barat modern yang sekularistik itu, harus mengintegrasikan sains dan budaya itu kedalam tradisi peradaban mereka sendiri dengan cara meletakkannya kembali di atas fondasi spiritual peradaban tradisional mereka: agama. Hanya dengan demikian mereka dapat menghindari atau mengurangi dampak negatif global dari kemajuan dimensi material peradaban mereka, bukan memperparahnya. Benarkah demikian? Marilah kita lakukan hal itu dan biarlah sejarah yang membuktikan benar salahnya keputusan itu.

Itulah kisah hidup pemikiran saya yang intisarinya saya sampaikan dalam bahasa Inggris pada kuliah terakhir saya Philosophy of Science di Islamic College for Advanced Studies di Jakarta sabtu lalu. Yang mengherankan saya kenapa setelah saya menyampaikan hal itu, para mahasiswa sama-sama bertepuk tangan. Mungkin mereka bergembira karena telah berakhirnya kuliah yang penuh dengan abstraksi ideal yang menyengsarakan mereka. Namun karena mereka adalah dari jurusan-jurusan Mysticism dan Philosophy, mudah-mudahan tepuk-tangan itu karena apa yang saya sampaikan ada mengena di hati mereka. Mudah-mudahan memang begitu dan mereka bisa mengembangkan integralisme ke dimensi-dimensi yang belum pernah saya sentuh. Insya Allah.

Sunday, May 23, 2010

Teknologi dan Islam

TEKNOLOGI DAN ISLAM

Armahedi Mahzar © 2010

Teknologi dalam perkembangannya yang mutakhir merupakan penerapan sains untuk kepentingan manusia. Pada umumnya penerapan itu adalah untuk menyejahterakan manusia seluruhnya, namun tak dapat dibantah bahwa pengembangan teknologi juga diarahkan pada pembuatan senjata pemusnah masal seperti misalnya senjata nuklir, kimia dan biologis. Di samping tujuan negatif dari pengembangan teknologi, teknologi yang dikembangkan untuk tujuan positif sekali pun bisa mempunyai dampak-dampak negatif pada lingkungan hidup, kehidupan sosial dan perilaku personal.

Bagi banyak kritisi, dampak-dampak negatif ini timbul karena adanya dikhotomi antara sains dan etika dalam paradigma sains modern. Dikhotomi sains etika ini yang banyak dianut di kalangan saintis yang menganggap bahwa penggunaan sains untuk pengembangan senjata pemusnah massal sebagai sesuatu yang berada di luar tanggung jawab sains yang netral secara etis. Begitu juga ketika terjadi dampak-dampak negatif sebagai akibat pengembangan teknologi sebagai sesuatu yang di luar tanggung jawab sains.

Namun belakangan muncullah kesadaran bahwa baik sains dan teknologi tak bisa dipisahkan satu sama lain karena keduanya adalah bagian yang tak terpisahkan dari peradaban manusia yang juga mencakup cabang-cabang lain seperti misalnya budaya, ekonomi dan politik Itulah sebabnya teknologi harus dikembangkan di atas sebuah landasan filosofis atau paradigma suatu peradaban dan semua peradaban yang besar berkembang di atas landasan agama. Itulah sebabnya berikut ini akan diajukan sebuah filsafat dasar teknologi yang islami.

Hakekat Teknologi menurut Al-Qur’an

Mengenai hakekat teknologi dapat dibaca pada anak kalimat pertama ayat di atas di mana disebutkan bahwa

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ
مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ
وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً
....

Tiadakah kamu perhatikan, bahwa Allah menundukkan untukmu
apa-apa yang di langit dan apa-apa yang di bumi
dan me­nyempurnakan untukmu nikmat-nikmat-Nya yang dzahir dan yang batin

.....
(QS Surat Luqman, 31:20)

Jadi sakh-khara pada kalimat ini menunjukan bahwa alam ditundukkan Allah pada manusia, bukan manusia yang menundukkannya melalui teknologi seperti dalam kepercayaan Barat sekuler mengenai teknologi. Teknologi, pada hakekatnya, adalah bagian dari peyempurnaan nikmat-nikmat Allah pada manusia baik yaitu yang eksternal. Sedangkan nikmat yang internal berupa kepuasan batiniah karena manusia telah menyempurnakan tugasnya sebagai khalifah yang memakmurkan bumi dan beribadah kepada Allah sebagai abdiNya.. ’Abid dan khalif adalah dua peran mendasar manusia sebagai makhluk pilihanNya.

Tujuan Teknologi dalam Al-Qur’an

Dalam pandangan Islam, ilmu yang diterapkan atau teknologi adalah untuk mensyukuri nikmatNya yang berupa ilmu yang diajarkan pada orang yang mau membaca tanda-tandaNya. Tasykir adalah konsekuensi dari ta’lim. Sedangkan tujuan akhir dari tasykir, yang juga merupakan fondasi dari ta’lim itu, adalah tawhid atau mengesakan Allah.

Teknologi adalah bagian dari amal manusia. Secara ringkas hal ini dapat dilukiskan sebagai berikut Hal ini sesuai dengan konsep amal sebagai syukur akan nikmat ilmu seperti yang difirmankanNya sebagai berikut :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ
وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ
إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan ingatkah juga tatkala Tuhanmu memaklumkan :
“ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu,
dan jika kamu mengingkari nikmatku ,
maka sesungguhnya azabku sangat pedih “ .

(QS, Surat Ibrahim,14: 7)

Ketika ta’lim dikaitkan dengan tawhid. maka hal ini tak lain dari manifestasi manusia sebagai abdi Allah subhana wata’ala seperti yang ditegaskanNya dalam firmanNya

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Tidaklah kujadikan jin dan manusia kecuali mengabdi Aku
(QS, Surat al-Dzariyat, 51:56)

Sedangkan kaitan ta’lim dan tasykir merupakan konsekuensi posisi manusia sebagai khalifatullah fil ‘ardh seperti Firman Allah subhana wa ta’ala

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ الأرْضِ
وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ
فِي مَا آتَاكُمْ
إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ
وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan Dia yang membuatmu menjadi khalifah di muka bumi
dan telah mengangkat sebagian dari kamu di atas yang lain dengan mengujimu dengan sesuatu yang telah diberikan kepadamu sekalian.
Sesungguhnya Tuhanmu apat cepat siksaanNya
dan sesungguhnya Dia Maha Maha Pengampun dan Maha Penyayang

(QS, Surat al-An’am 6:165)

Kekhalifahan manusia di muka bumi itu adalah konsekuensi eksistensi ruh yang ditiupkan Allah subhana wa ta’ala sebagai bagian dari kesempurnaannya sesuai dengan firman Allah

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ
وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ
قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ

Kemudian Dia sempurnakan dan Dia tiupkan ruh ke dalamnya,
dan Dia adakan untukmu pendengaran, penglihatan dan hati
dan hanya sedikit orang yang bersyukur.

(QS Surat al-Sajdah, 32:9)

sebagai kelanjutan penciptaannya dari tanah dan air yang mengindikasikan sifatnya sebagai ’abid Allah dalam ayat-ayat sebelumnya yaitu ayat

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ
وَبَدَأَ خَلْقَ الإنْسَانِ مِنْ طِينٍ

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya
dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah
.
(QS Surat al-Sajdah, 32:7)

dan ayat berikutnya

ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ

Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.
(QS Surat al-Sajdah, 32:8)

Konteks Teknologi menurut Al-Qur’an

Oleh sebab itu, teknologi harus dijalankan sesuai dengn etika atau petunjuk Allah yang belandaskan pada kitabNya seperti yang dapat kita pahami dari potongan ayat berikut ini

......
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ
بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلا هُدًى وَلا كِتَابٍ مُنِيرٍ

.........
Di antara manusia ada yang membantah tentang Allah
tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan tanpa kitab yang terang

(Quran Suci, Surat Luqman, 31:20)

Urutan penyebutan al-’Ilm, al-Huda dan al-Kitab menyarankan adanya hirarki ilmu - etika - religi. Dalam konteks ini ilmu yang dimaksudkan adalah teknologi, sehingga pada hakekatnya terdapat perjenjangan teknologi – etika – agama.

Etika teknologi dalam Al-Qur’an

Teknologi memang sarana manusia untuk menyampaikan rasa syukurnya pada Sang Pencipta. Dasar terdasar dari wawasan Islam tentang teknologi adalah pengakuan bahwa semua makhluk diciptakan Ilahi untuk mengagungkannya seperti Firman Ilahi

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ
مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ
وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ
كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ
وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih
apa yang di langit dan di bumi
dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya.
Masing-masing telah mengetahui sembahyang dan tasbihnya
dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

(QS Surat An-Nur, 24:41)

Di atas dasar terdasa ini, etika teknologi dalam Islam bukanlah etika humanistik yang menganggap manusia sebagai penakluk alam, tetapi sebagai imam dari salat dan tasbih semesta dari semua ciptaanNya yang menurut Sang Maha Pencipta telah diberi hak

َمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ
وَمَا بَيْنَهُمَا
إِلا بِالْحَقِّ
.......

Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi
dan apa yang ada di antara keduanya,
melainkan dengan Haqq

........
(QS Surat Al-Hijr, 15:85) .

Jadi di dalam Islam bukan hanya manusia yang memiliki hak di antara makhluk Allah, tetapi semua isi semesta termasuk lingkungan hidupnya.

Disamping itu teknologi dalam pandangan Islam bukanlah merupakan sarana penakluk alam, akan tetapi merupakan sarana untuk menjaga keseimbangan. Prinsip keseimbangan yang disimbolkan melalui mizan atau neraca ini adalah juga merupakan prinsip dasar etika dan hukum Islam, seperti yang difirmankanNya

(7) وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ

(8) أَلا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ

(9) وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ

(7) Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca
(8) Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.
(9) Dan jagalah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.

(QS Surat Ar-Rahman 55:7-9)

Kesimpulan

Demikianlah filsafat dasar reknologi dalam Islam jika dilandaskan pada ayat-ayatNya. Tentu saja dia akan dapat menjadi lebih kokoh dan komprehensif jika diintegrasikan dengan filsafat dasar sains yang juga dilandaskan pada ayat-ayat relevan yang tercantum dalam Al-Quran al-Karim seperti yang ditampilkan pada artikel sebelum ini.

Satu hal yang patut dipikirkan, jika sains dan teknologi harus dilandaskan pada Bacaan Mulia, maka berarti sebuah peradaban akan menjagi utuh menyeluruh, kalau saja semua cabang peradaban dilandasakan pada Bacaan yang sama.

Itulah sebabnya, saya berharap ada di antara para pembaca artikel ini yang bisa menyempurnakannya, sehingga wawasan Islam rahmatan li al-’alamin juga mempunyai makna aktual pada segala dimensi peradaban termasuk sains dan teknologi dalam memecahkan problematika global di abad ke-21 ini. Insya Allah. Amin ya Rabb al-’ alamin

Friday, May 21, 2010

Sains dan Islam

SAINS DAN ISLAM

Armahedi Mahzar © 2010

Di abad ke-21 ini, kita dimanjakan oleh teknologi. Oleh karena itu sering kita tidak dapat melihat apa hakekat teknologi dan kaitannya yang timbal balik dengan sains. Sains dan teknologi merupakan motor penggerak peradaban manusia modern. Antara keduanya terdapat sebuah hubungan saling mendorong yang berujung pada percepatan perkembangan keduanya. Kini kecepatan perkembangan menjadi sangat tinggi sedemikian rupa sehingga menorehkan sejumlah bayang-bayang yang menakutkan di masa depan. Walaupun begitu yang digembar-gemborkan media massa justru bahwa sains dan teknologi itu akan membuat semacam surga di muka bumi. Pandangan yang serba positif tentang sains dan teknologi ini dikenal juga sebagai pandangan positivisme.

Pandangan lain positivisme adalah bahwa sains adalah satu-satunya jalan untuk mengetahui realitas sebenarnya. Semua pengetahuan di luar sains adalah takhayul. Pandangan ini disebut para saintis sebagai obyektivisme. Namun para kritisi sains menyebutnya sebagai saintitis atau saintisme. Sudut lain dari pandangan positivisme adalah bahwa sains itu netral alias bebas nilai. Netralisme sains dianggap para saintis sebagai suatu yang positif. Namun para kritisi sains melihat itu sebagai dikhotomi antara fakta dan nilai atau antara sains dan etika.

Oleh karena itu, sudah waktunya untuk memperluas cakrawala sudut pandang kita dengan melihat sains dalam perpektif peradaban yang lebih luas di mana persoalan-persolan yang dibawanya diselesaikan dengan mengubah filsafat dasar dari kedua cabang peradaban itu. Sains diletakkan dalam landasan filsafat yang lebih menyeluruh daripada sekedar positivisme materialistik dan teknologi diletakkan dalam landasan etis yang religius yang meletakkan keduanya dalam perspektif yang lebih menyeluruh daripada humanisme sekularistik. Berikut ini akan diajukan sebuah pemikiran tentang sains dan teknologi dalam perspektif Islam berdasarkan pesan-pesan Ilahiyah yang tercantum dalam kitab suci al-Quran al-Karim.

Tujuan Ilmu Menurut al-Quran

Dikhotomi etika - ilmu menyebabkan krisis i1mu di bidang praktek, yang sering dijumpai di Barat. Kita dapat menghindari itu dengan menempatkan kembali i1mu ke dalarn konteks sosial dengan posisinya sebagai sarana untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang dikaruniakan kepada manusia. Selanjutnya konteks sosial itu harus diletakkan pula dalam konteks transendentalnya yaitu Islam.

Dalam konteks Islam, ilmu manusia harus ditujukan untuk bertakwa pada Allah SWT. Soalnya, semua ilmu adalah milik Allah, karena hanya Allah lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu dan Dia mengajarkan ilmu itu pada kita sebagai manusia. Inilah yang disampaikan Allah dalam penutup surat Al-Baqarah ayat 282 berikut ini

وَاتَّقُوا اللَّهَ
وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ
وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dan bertakwalah kepada Allah ;
Allah mengajarmu ;
dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

(Al-Baqarah,2: 282)

Memang demikianlah, Allah telah mengajarkan ilmu itu pada kita seperti pada surat Ar-Rahman, ayat-ayat 1 sampai 4,

(1) الرَّحْمَ
(2) عَلَّمَ الْقُرْآنَ
(3) خَلَقَ الإنْسَانَ
(4) عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

Ar-Rahman ( Tuhan Yang Maha Pemurah ),
Yang telah mengajarkan al–Qur’an.
Menciptakan Insan.
Mengajarnya Al-Bayan.

(Ar-Rahman 1 s.d 4)

Disebutkan dalam ini ada dua jenis ilmu yaitu al-Qur’an yang bisa dibaca dan al-bayan yang bisa diucapkan. Yang dimaksud Allah di sini dengan al-Qur’an tentunya bukanlah Al-Qur’an yang berisi ayat-ayat qawliyah saja, tetapi tentu saja juga al-Qur’an, atau bacaan yang benar terhadap ayat-ayat kawniyah yang berada di alam semesta sebagai cakrawala-cakrawala dan di alam cita yang ada di dalam diri-diri manusia karena Allah telah berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Fushilat :

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا
فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ
حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ
أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kami
di cakrawala-cakrawala dan pada diri mereka sendiri ,
sehingga jelaslah bagi mereka bahwa (Qur’an) itu adalah benar (al-Haqq) .
Dan apakah Rabb-mu tidak cukup ( bagi kamu )
bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?

(Fushilat:53)

Apa yang ada di alam semesta adalah gejala-gejala alam yang mengikuti keteraturan yang disebut hukum-hukum alam dan apa yang ada di dalam diri kita mengikuti keteraturan yang disebut hukum-hukum logika. Keduanya diperlukan untuk menmverifikasi (tabayun) Kebenaran Mutlak atau al-Haqq. Jadi ilmu-ilmu kealaman, ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu-ilmu keagamaan berada dalam sebuah kesatupaduan ilmu.

Obyek Ilmu Menurut Qur’an Suci

Qur’an Suci menyebut ilmu dalam konteks berbeda-beda ber­ulang kali, namun mengenai obyek ilmu manusiawi secara gamblang Allah menegaskan adanya dua obyek ilmu yang diajarkan pada manusia adalah al~Qur’an dan al-Bayan. Ini tertera dalam ayat berikut:

(1) الرَّحْمَ
(2) عَلَّمَ الْقُرْآنَ
(3) خَلَقَ الإنْسَانَ
(4) عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

Ar-Rahman ( Tuhan Yang Maha Pemurah ),
Yang telah mengajarkan al–Qur’an.
Menciptakan Insan.
Mengajarnya Al-Bayan.

(QS Surat Ar-Rahman 55:1-4)

Al-Qur’an dalarn ayat ini jelas bukan dalarn arti yang sempit yaitu al-Qur’an al-Karim, karena ini diajarkan Tuhan pada manusia pada umumnya, bukan pada kaum muslimin saja.

Karena itu, kembali ke arti luasnya yaitu bacaan. jadi obyek ilmu adalah bacaan, dan alat untuk memahami bacaan itu yaitu kemampuan berbahasa - juga dalam pengertian yang luas - atau al-Bayan. Bacaan dalam arti luas adalah kumpulan tanda-tanda yang punya arti, yaitu apa yang disebut sebagai al-ayat dalam Qur’an Suci di berbagai surat­nya. Secara eksplisit menyebutkan hal ini adalah firman Ilahi berikut:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا
فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ
حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ
أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kami
di cakrawala-cakrawala dan pada diri mereka sendiri ,
sehingga jelaslah bagi mereka bahwa (al-Quran) itu adalah benar (al-Haqq) .
Dan apakah Rabb-mu tidak cukup ( bagi kamu )
bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?

(QS Surat Fushilat:53)

Dalam ayat Qur’an Suci di atas jelas Allah SWT menegaskan bahwa ayat-ayat itu ada di cakrawala-cakrawala (’afaq) dan di dalarn diri-diri (anfus) manusia. jelas terdapat dua kategori ayat yaitu yang berada di luar, disimbolkan dengan cakrawala, dan yang berada di dalam, disimbolkan oleh diri. Yang di luar adalah gejala-gejala alam, obyek ilmu-ilmu kealaman. Yang di dalam adalah gejala-gejala budaya, obyek ilmu-ilmu kemanusiaan.

Dari ayat yang sama kita dapatkan bahwa kedua jenis ayat tersebut diciptakan agar kita mengenal dan memahami kebenaran (al­-Haqq) yaitu Yang Maha Pencipta, Allah SWT dan firman-Nya al-Qur’an. Ilmu ini merupakan obyek ilmu tersendiri, yaitu ilmu-ilmu keagamaan.

Jadi kita mengenal tiga kategori ilmu-ilmu yaitu: ilmu-ilmu kealaman, ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu-ilmu keagamaan atau ketuhanan - bersesuaian peristilahan Qur’ani: ’Afaq, Anfus dan al-Haqq. Sebenarnya banyak lagi yang dapat kita simak dari ayat ini, tapi marilah sekarang kita cari bagaimana atau dengan alat apa kita pelajari ketiga kategori ilmu-ilmu tersebut.

Organ dan Metoda Ilmu Menurut Qur’an Suci

Qur’an Suci menegaskan ada tiga macam alat pengtahuan manusia yang memungkinkan manusia memanusiakan dirinya melalui ilmunya; yaitu pendengaran, penglihatan, dan penghayatan – disimbolkan dengan al-Sam’a, al-Abshara dan al-Af’idah. Ini dapat diketahui dari ayat berikut­

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ
وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ
قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ

Kemudian Dia sempurnakan dan Dia tiupkan ruh ke dalamnya,
dan Dia adakan untukmu pendengaran, penglihatan dan hati
dan hanya sedikit orang yang bersyukur.

(QS, Surat As-Sajdah, 32:9)

Kalau ditelaah artinya, maka kita dapat mengasosiasikan as­-Sam’a, al-Bashar dan al-Af’idah masing-masing dengan pengetahuan yang dirumuskan dalam kata-kata, pengetahuan visual dan pengetahuan aktual. Pengetahuan verbal yaitu. pengetahuan yang didapat melalui kata-kata dan dipahami secara rasional tanpa melihat sendiri. Pengetahuan visual adalah pengetahuan yang diperoleh me­lalui penglihatan setelah melakukan eksperimen terhadap obyek ilmu. Sedangkan pengetahuan aktual adalah pengetahuan yang diperoleh secara intuitif melalui aktivitas penerapan ilmu itu. sendiri.

Mata, telinga dan hati adalah simbol­simbol Qur’ani tentang alat-alat ilmu tersebut. Perolehan pengetahuan verbal dalam puncaknya menjadi me­toda spekulasi teoritis. Praksis untuk pengetahuan visual dimatang­kan dengan metoda observasi eksperimental. Sedangkan praksis pengetahuan aktual, dalam ilmu-ilmu modern, mengejawantah dalam metoda aplikasi teknik. Barangkah bisa diduga bahwa telinga, mata, dan hati tersebut juga merupakan simbol-simbol Qur’an untuk ketiga praksis ilmu modern tersebut.

Struktur Ilmu menurut Al-Qur’an

Akhir-akhir ini para ilmuwan Barat menyadari bahwa di balik ilmu pengetahuan modern terdapat filsafat dasar, apa yang mereka sebut sebagai paradigma, yang sering lebih tersirat daripada tersurat. Benarkah hal itu? Bagaimanakah menurut Qur’an Suci mengenai hal ini? Mungkin jawabannya terdapat dalarn ayat berikut:

وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ
وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

....Allah mewahyukan padamu al-Kitab dan al-Hikmat
dan mengajarkan padamu apa-apa yang tidak engkau ketahui.
Adalah karunia Allah Maha Besar kepada engkau.

(QS, Surat An-Nisa’, 4:113)

Berdasarkan.ayat ini jelas.terdapat perjenjangan al-Kitab, al-Hikmat, al-’Ilm yang merupakan kesatupaduan atau integralitas ilmu. Jadi, dalam Islam, ilmu punya landasan, al-Hikmat, sedangkan al-Hikmat harus, berlandaskan al-Kitab sebagai kumpulan wahyu sabda Ilahi puda rasul-rasulNya. Kalau dibandingkan dengan susunan ilmu pengetahuan modern, tampaknya al-Hikmat itu setara dengan apa yang disebut sebagai paradigma ilmu masa kini. Hanya saja, ia mempunyai arti yang lebih luas dan punya landasan yang lebih mendalam, yaitu al-Kitab.

Kesimpulan

Demikianlah filsafat dasar sains dalam Islam yang jika dilandaskan pada ayat-ayatNya yang tentu saja dapat menjadi lebih kokoh dan komprehensif jika dilengkapi dengan sunnah rasul, ’ilm para ’ulama dan hikmat para hukama. Pada kenyataannya Integrasi antara ilmu, hikmat dan sunnah rasul berlandaskan firman-firmanNya dalam al-Quran al-Karim itu telah membuat peradaban Islam berjaya dan melahirkan ilmuwan-ilmuwan integratif yang tangguh dan kreatif seperti Al-Farabi, Ibn Sina, Ar-Razi, Ibn Haitam dan lain-lainnya.

Satu hal yang bisa diperhatikan dalam filsafat ilmu di atas adalah kenyataan mengenai adanya hirarki baik di dalam obyek maupun di dalam metoda sains dan juga di dalam struktur dan tujuan sains. Itulah sebabnya peradaban Islam mempunyai struktur hirarki dalam ilmu tasawuf , ilmu fiqh dan ilmu kalam maupun dalam hikmat. Mungkin saja bagi banyak orang struktur hirarkis ini merupakan sesuatu yang telah ditinggalkan bersamaan ditinggalkannya struktur monarki hirarkis di dunia politik. Namun pandangan hirarkis itu kini perlu dipulihkan sebagai reintegrasi sains, peradaban dan agama.

Mudah-mudahan setelah membaca artikel ini, para pembaca bisa menyempurnakannya sehingga Islam menjadi rahmatan li al-’alamin juga dalam dimensi-dimensi peradaban sains dan teknologi sehingga dapat memecahkan problematika global di abad ke-21 ini. Insya Allah. Amin ya Rabb al-’ alamin