Showing posts with label integralisme. Show all posts
Showing posts with label integralisme. Show all posts

Friday, October 11, 2013

Teknosofi Integralisme

Menggali Teknosofi dari Integralisme


Armahedi Mahzar (c) 2013

Ada tiga orang pembicara dalam Tribute Lecture for Armahedi Mahzar yang saya hadiri berbicara tentang integralisme dan teknologi, sains dan psikologi. Saya mempunyai kesan bahwa buku Revolusi Integralisme telah gagal dalam menyampaikan maksudnya. Pembicara pertama Deden Himawan hanya membicarakan teknologi sebagai komponen dari prisma dalam buku Integralisme yang pertama. Pembicara kedua, Agus Purwanto   yang membicarakan sains, hanya mengomentari dua bab pertama buku Revolusi Integralisme . Pembicara ketiga, Adriano Rusli, yang membicarakan psikologi, hanya membaca buku integralisme yang pertama dan heran ketika mengetahui bahwa di dalamnya ada istilah teknosofi.

Dengan sendirinya, mereka bertiga tidak menyadari bahwa buku Revolusi Integralisme pada dasarnya adalah sebuah teknosofi Islami di mana teknologi dalah bagian dari amal yang menerapkan sains sebagai ilmu demi kemanfaatan bagi semua manusia. Oleh karena itu amal ilmiah itu haruslah dijalankan dengan kearifan imaniah, karena iman, irfan, ilmu dan amal adalah kesatuan integral bersama-sama dengan alat(produk teknologi)nya yang merupakan bagian alam yang dimuliakan manusia menjadi sarana untuk pengabdian (ta'abbud) dan terima kasih (tasyakkur) pada Yang Maha Pencipta.

Iman-irfan-ilmu-amal-alat adalah konsep Islam tentang teknologi yang dalam bahasa integralisme itu adalah kesatupaduan atau integralitas teknik-teknosofi-teknologi-teknostruktur-teknosfera dalam terminologi sekuler. Integralitas teknik atau teknosistem itu mempunyai tiga fungsi dalam kehidupan manusia. Sebagai ekstensi atau perpanjangan organ manusia, sebagai medium sosial atau organ peradaban dan sebagai lingkungan material  bagian dari ekosistem seutuhnya. Ketiga fungsi, yang saya peroleh dari Marshall Mcluhan , itulah yang harus diintegrasikan kedalam kewajiban manusia sebagai abdi sekaligus khalifah Allah di muka bumi.

Revitalisasi Ilmu-ilmu Agama


Karena teknosistem terus berkembang melalui multilektika dengan manusia dan alam, maka ketiga fungsi itu semakin lama semakin lebih kompleks. Sebagai konsekuensinya hubungan antara manusia, masyarakat dan lingkungan pun semakin kompleks. Sebagai akibatnya fiqh dan tasawuf harus semakin diperluas wilayahnya dan ditingkatkan metodologinya, bahkan ilmu tauhid, sebagai pemahaman rasional Aqidah, juga harus diperluas juga. Perumusan Tauhid wahdatiyah yang saya sampaikan pada akhir buku ketiga itu adalah hasil ijtihad saya untuk merumuskan Tauhid secara integralistik berdasarkan kelima nama Allah pada surat Pembuka Quran.

Tasauf juga harus diperluas dengan mengembangkan cara-cara meditasi untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Pencipta dengan mungkin mengambil metoda-metoda mistisme berbagai agama lain dan menjadikan kerja-kerja budaya sehari-hari sebagai upaya taqarrub dengan meniatkannya sebagai ibadah yang dilakukan dengan ikhlas dan menerima karya-karya budaya dengan ridha dan menjadikannya sarana untuk mengabdi padaNya melalui pengabdian pada sesama. Dengan demikian seluruh kebudayaan kini merupakan Thariqah manusia untuk mendekatkan manusia pada Yang Maha Penciptanya.

Fiqh sebagai ilmu implementasi Syari'ah juga harus diperluas dengan juga mengatur hubungan manusia bukan pada dirinya sendiri dan sesama manusia, di samping hubungan manusia dengan Yang Maha Penciptanya, tetapi juga dengan sesama makhluk hidup dan dengan teknologi ciptaan manusia yang telah berevolusi dari fungsinya sebagai perpanjangan organ menjadi alam buatan bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan hidup yang alamiah. Oleh karena itu para fuqaha harus terus berijtihad menghasilkan kaidah-kaidah baru bagi kondisi-kondisi baru yang dibawa oleh perkembangan teknologi.

Teknologi sebagai Nafs Peradaban


Teknosistem sebagai organ peradaban mempunyai logika perkembangannya sendiri. Logika teknosistem ini dapat diibaratkan sebagai nafs peradaban. Teknologi sebagai nafs atau naluri peradaban mempunyai hasratnya sendiri. Menurut Kevin Kelly http://www.sparkminute.com/wp-content/uploads/2010/08/KevinKelly_VidImage1.jpg , perkembangan teknologi cenderung berkembang seperti evolusi biologi, tetapi dengan percepatan yang sangat lebih cepat. Bahkan waktu penggandaan tetap untuk setiap jenis teknologi berbeda-beda, dan semakin lama semakin pendek menurut hukum Kurzweil yang meramalkan singularitas teknologi pada masa depan yang dekat ini, di mana kecerdasan buatan teknologi menjadi lebih tinggi dari kecerdasan manusia dan meningkat dengan percepatan yang konstan.

Nah, dengan nafsu perluasan dan penjalinan teknologi yang semakin padu itu, sudah sewajarnya lah kita sebagai manusia meningkatkan spiritualitas kecerdasan dan kebersamaan sehingga berfungsi sebagai kecerdasan kolektif spiritual manusia yang akan menendalikan nafs peradaban itu seperti akal manusia menegendalikan nafs diri mereka. Proses yang disebut terakhir dikenal sebagai dikenal sebagai proses tazkiyatul nafsi yang menjadi intisari Thariqah sebagai proses pendekatan diri manusia pada Yang Maha penciptanya.

Itulah sebabnya apa yang kita perlukan adalah mencerdaskan ummat Islam yang hampir mencapai 70% penduduk bumi ini sehingga mereka menjadi pencipta-pecipta teknologi yang harmonis dengan fitrah manusia sebagai khalifahNya di muka bumi, bukan menjadi abdi-abdi mesin raksasa teknologi. Karena itu agar supaya tazkiyatul nafsi individu manusia menjadi tazkiyatul nafsi peradaban atau tazkiyatul madaniyati, maka seorang muslim hendaknya menyadari rukun-rukun Islam sebenarnya adalah tahap-tahap sebuah proses pensucian terus-menerus: tazkiyah.

Tahap-tahap Reintegralisasi Peradaban


Mengingat teknologi itu ibarat nafs dari peradaban, maka dengan sendirinya tahap-tahap tazkiyatul madaniyati sudah selayaknya meniru tahap-tahap tazkiyatul nafs dalam thariqah. Salah satu model untuk tazkiyatul nafs adalah maqam-maqam spiritual yang diajukan oleh Imam al-Ghazali dalam bukunya: Ihya Ulumuddin alias Revitalisasi Ilmu-ilmu Agama. Tahap awal dari thariqah adalah taubat (reorientasi) dan tahap akhirnya adalah ridha (akseptasi). Tahap pertama adalah reorientasi tujuan peradaban dari eksploitasi alam menjadi harmonisasi alam dan manusia dalam perdamaian yang tunduk pada Yang Maha Pencipta.

Tahap-tahap lainnya adalah shabar/syukur (tabah/terima-kasih), faqr/zuhud (miskin/prihatin),  tauhid/tawakkal (pengesaan/pasrah), khauf/raja' (takut/harap) dan berujung pada ridha/ikhlas. Shabar peradaban adalah orientasi peradaban dengan menerima keterbatasan sumber daya alam dan syukur dalam peradaban berarti mempertahankan semangat inovasi dalam rangka memakmurkan bumi dengan cara mengangkat alam menjadi bermanfaat bagi kemanusiaan. Faqir peradaban berarti tidak melakukan konsumsi sumber daya alam secara berlebihan dan zuhud peradaban adalah meningkatkan efisiensi dan efektivitas teknologi.

Tauhid peradaban berarti memandang semua sumber-daya alam, manusia dan teknologi sebagai amanat yang diberikan Yang Maha Pencipta sebagai karunia yang harus dimanfaatkan demi pelaksanaan perintah-perintahNya dan menghindari larangan-laranganNya. Tawakkal peradaban adalah semua keadaan mulai dari sukses tenologi hingga bencana alam adalah ujian dan cobaan dari Yang Maha Pencipta agar kita selalu serasi dengan KehendakNya. Khauf peradaban berarti bahwa kita harus selalu waspada akan dampak-dampak samping negatif dari teknologi di masa depan dan Raja' peradaban berarti bahwa kita harus selalu optimis akan kemampuan manusia untuk mengendalikan dampak-dampak negatif teknologi.

Tahap terakhir ridha peradaban berarti kita harus selalu memandang peradaban teknologi sebagai anugerahNya yang senantiasa dan sebagai sarana untuk melaksanakan perintah-perintahNya dan menghindari larangan-laranganNya mencari keridhaanNya. Dengan demikian kita meletakkan peradaban teknologi sebagai perantara antara Yang Maha Pencipta dan alam CiptaanNya sebagai sarana kita untuk memuji dan mengabdi Dia sebagai satu-satunya Pencipta dan Penguasa sekalian alam. Semoga semua tahap-tahap reintegralisasi peradaban teknologi itu bermanfaat bagi seluruh ummat manusia di seluruh penjuru alam semesta senantiasa.

Akhirul Kalam


Integralisme adalah upaya reintegralisasi peradaban di bawah tuntunan ajaran Islam demi mengembalikan kejayaan peradaban Islam di masa Islam bukan untuk penguasaan terhadap umat lain tetapi demi merealisasi Islam sebagai rahmatan lil 'alamin atau rahmat bagi semua bangsa dalam  perdamaian dan kedamaian menuju kemakmuran bumi yang adil bagi seluruh umat manusia. Alhamdulillah, proses itu telah dilaksanakan oleh Agus Purwanto dengan mendirikan trensains (pesantren sains) di Jawa Timur dan oleh pendirian perusahaan-perusahaan teknologi Tech Mayantara Asia dan Prabatech oleh Deden Himawan di Jawa Barat. Semoga semangat ini dapat ditularkan pada kawan-kawan lainnya sehingga menjadi simpul-simpul jaringan kebangkitan peradaban Islami di masa depan. Amin ya Rabbal 'alamin








Saturday, October 05, 2013

Mencari Plastisisme

Mencari Plastisisme dalam Integralisme:
tanggapan terhadap Yasraf Amir Piliang


Armahedi Mahzar (c) 2013

Saya sudah lama meninggalkan filsafat lebih dari 10 tahun. Buku filsafat saya terakhir terbit tahun 2004, itu pun setelah lebih setahun tertunda. Tapi tiba-tiba pada usia senja saya ketujuhpuluh, sekelompok bekas mahasiswa saya mengadakan sebuah Tribute Lecture for Armahedi Mahzar, di mana sejumlah tokoh muda akan mengevaluasi dan mengkritik filsafat yang saya namakan integralisme dan saya diundang untuk mendengarkannya.

Tokoh budayawan pertama yang berbicara adalah Yasraf Amir Piliang Yasraf Amir Piliang seorang   doktor senirupa yang terkenal karena telah mempopulerkan posmodernisme dan posstrukturalisme di Indonesia. Ketika datang untuk mendengarkannya, sebenarnya saya ingin belajar bagaimana seorang posmodernis membaca integralisme. Saya dengarkan dan saya tercengang setengah mati. Dia melihat integralisme terjebak dalam kontradiksi diri.

Wah, wah, wah, bagaimana mungkin? Namun setelah saya dengarkan agak lama, ternyata beliau melihat Integralisme Islam yang juga saya sebut sebagai posmodernisme Timur itu sebagai sintesa dari strukturalisme dan pos-strukturalisme sepasang filsafat yang bertentangan satu sama lainnya. Strukturalisme memerlukan dasar atau latar sedangkan pos-strukturalisme justru membuang semua latar atau fondasi. Menggabungkan keduanya tentu saja bisa dikatakan tidak mungkin alias kontradiksi diri.

Sayangnya, beliau terlalu panjang untuk menjelaskan strukturalisme dan pos-strukturalisme sehingga waktu habis untuk diskusi dengan peserta kuliah sehingga saya tak mendapat kesempatan untuk menjelaskan bagaimana integralisme itu sebenarnya. Namun saya beruntung dalam kuliah itu untuk mendengarkan upaya-upaya mensintesakan strukturalisme dan pos-strukturalisme di kalangan filosof Barat sendiri.

Plastisisme Catherine Malabou 


Salah seorang pemadu strukturalisme dan pos-strukturalisme di Barat adalah Catherine Malabou Photograph of Prof Catherine Malabou murid Jacques Derrida http://www.humanities.mcmaster.ca/~dclark/layout/images/derrida_lemonde.jpg  yang mengembangkan sebuah sintesa yang disebut plastisisme. Dalam plastisisme, dekonstruksi dan konstruksi dipasangkan sebagai kutub-kutub proses dialektika yang berkesinambungan. Dengan demikian kontradiksi diri itu lenyap. Itulah sebabnya pada akhir kuliahnya Yasraf menganjurkan integralisme Islam yang saya kembangkan disempurnakan dengan plastisisme.

Lalu bagaimana saya memandang usul ini? Pertama-tama tentunya saya akan menyampaikan bahwa dialektika sebenarnya hanyalah satu hal khusus dari multilektika. Dialektika dideskripsikan oleh filsuf Yunani sebagai proses pencarian kebenaran melalui  saling kritik dua buah pendapat yang saling pertentangan. Hegel  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/08/Hegel_portrait_by_Schlesinger_1831.jpgmemetafisikakan konsep dialektika sebagai esensi proses partikularisasi Ide Mutlak yang merupakan sumber dan fondasi semua realitas. Karl Marx  https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjULKWVwystyGLK607l_sCLFomejFXKMfgd6vqXCc4pznJMxbI_6hreXTG08ngfDSBjajYKNMaq7m28USkTwrsDcuMDTGkYNNjEjLFroTBg8NBcqh2H7oqwMTNqsAMCDalOz77-Q/s1600/Karl+Marx.jpg menjungkir balikkan filsafat Hegel, yang dikatakannya sebagai berjalan dengan kepala dibawah, melalui filsafat materialisme dialektik.

Buku Das Kapital http://libcom.org/files/images/library/das-kapital-bank.jpg oleh Marx didedikasikan pada Charles Darwin http://blogs.dallasobserver.com/unfairpark/charles_darwin_01.jpg  yang menemukan prinsip "survival of the fittest" sebagai inti dari proses evolusi biologi. Dalam bahasa sekarang prinsip itu disebut sebagai adaptasionisme: adaptasi organisme terhadap seleksi lingkungan. Prinsip ini bisa dilihat sebagai proses dialektika antara organisme dan lingkungan. Namun ada teori evolusi sekarang menganut neo-adaptasionisme di mana yang beradaptasi bukannya satu organisme melawan lingkungan, tetapi populasi gen melawan lingkungan. Neo-adaptasionisme inilah contoh dari multilektika.

Multilektika Integralitas


Jadi sebenarnya sistem integral atau integralitas mempunyai prinsip dinamikanya sendiri yang saya sebut multilektika. Sayangnya saya tak pernah menuliskannya dalam buku, namun secara lisan selalu saya sampaikan dalam diskusi antarpribadi ataupu diskusi-diskusi kelompok. Neo-adaptasionisme biologis mewujud dalam pasar bebas dalam atau liberalisme ekonomi dan mewujud sebagai demokrasi dalam politik. Dalam sektor budaya ada pasar bebas gagasan yang kini disebut sebagai multi-kulturalisme. Neo-adapsionisme, liberalisme, demokrasi dan multikulturalisme adalah pewujudan dari multilektika integralitas.

Dalam multilektika sebuah sistem integral berinteraksi melalui kompetisi dan koperasi dengan sistem-sistem lainnya membangun sistem-sistem baru yang lebih tinggi. Dalam tataran gagasan dan wawasan, setiap tesis harus melawan atau bergabung banyak altitesis untuk membangun supratesis-supratesis baru. Sebagai contoh di Eropa strukturalisme dan pos-strukturalisme bergabung menjadi plastisisme dan bentuk-bentuk dialektisisme lain, seperti misalnya strukturasionisme Anthony Giddens , dan sintesa fenomenologi dan strukturalisme oleh Pierre Bourdieu dalam sebuah praksisisme.

Itu pula yang saya lakukan ketka mengadu strukturalisme dan isme-isme Barat lainnya dengan islamisme sehingga menghasilkan integralisme yang herannya merupakan reformulasi baru dari filsafat tradisional Islam yang ternyata merupakan esensi struktural dari filsafat-filsafat tradisional lainnya baik dari Barat maupun dari timur. Perjenjangan materi-energi-informasi-nilai-sumber bukan hanya ada dalam tasauf, fiqh dan kalam Islam tetapi juga dalam konsep manusia dan alam filsafat agama-agama tradisional lainnya.

Tampaknya esensi struktural inilah yang luput dari pandangan Yasraf Amir Piliang sehingga pada akhirnya dia menganjurkan plastisisme dialektik harus dimasukkan kedalam integralisme Islam, tanpa melihat bahwa dialektika sudah ada sebagai bagian dari multilektika integralitas. Multilektika inilah yang menjadi esensi dari proses evolusi/involusi yang berjalan dari Yang Tunggal Mutlak ke yang aneka nisbi dan dari proses envolusi/devolusi yang berjalan sebaliknya. Proses pertama itu adalah proses konstruksi dan proses kedua adalah proses dekonstruksi. Jadi plastisitas adalah bagian dari integralitas.

Akhirul Kalam: sebuah Harapan


Kenapa Yasraf luput dari sisi yang saya sampaikan tadi? Saya kira karena beliau salah menafsirkan integralisme sebagai sintesa dari strukturalisme dan pos-strukturalisme. Ketika integralisme lahir di tahun 80-an saya belum mengenal pos-strukturalisme atau posmodernisme Barat. Posmodernisme yang saya tahu adalah upaya mensintesakan kembali modernitas dengan tradisionalitas seperti yang dilakukan oleh para filsuf perenialisme yang menentang evolusionisme tapi mendukung involusionisme atau emanasionisme Timur.

Saya memadukan evolusionisme dan involusionisme dalam satu wawasan yang saya sebut sebagai integralisme di tahun 80-an. Integralisme itu juga dapat dilihat sebagai pemaduan strukturalisme Barat dan holisme Timur di samping sebagai pemaduan saintisme Barat yang atomistik demokratik dan Perenialisme Timur yang holistik hierarkis. Aspek struktural itulah yang saya sampaikan dalam buku pertama: Integralisme. Evolusi kolektif dan involusi individual berlanjut dengan envolusi individual dan devolusi kolektif. Aspek dinamik proses inilah yang saya sampaikan dalam buku ketiga saya: Revolusi Integralisme.

Mudah-mudahan tidak terdapat mispersepsi lagi tentang buku-buku saya itu. Namun multipersepsi memang tak dapat dihindarkan dan merupakan bagian dari dinamika multilektik integralitas seperti saya sampaikan di atas. Saya berharap multiperspektivisme ini bisa menghasilkan varian-varian dari integralisme yang siap untuk bertarung dalam pasar bebas ide-ide sebagai bagian dari dinamika multilektik universal dalam proses sirkular evolusi-devolusi/involusi-envolusi dari kesepaduan realitas atau integralitas wujud.


Tuesday, May 01, 2012

Revolusi Integralisme Islam


REVOLUSI INTEGRALISME ISLAM

Pemahaman Baru Realitas Peradaban

Armahedi Mahzar (c) 2008

Di abad 21 ini manusia sedunia menghadapi dua jenis krisis skala dunia yang sangat dahsyat: Krisis ekologis pemanasan global dan krisis ekonomis resesi global. Kedua krisis itu berakar pada pandangan sempit peradaban yaitu humanisme antroposentrik dan materialisme sekularistik. Humanisme antroposentrik menekankan nilai-nilai kemanusiaan yang tercantum dalam hak-hak asasi manusia yang cenderung individualistik dan antroposentrik melupakan spesies-spesies biologis lainnya. Materialisme sekularistik membatasi kegiatan manusia hanya pada pengolahan alam menjadi produk-produk material yang dipertukarkan melalui pasar bebas untuk keuntungan sebesar-besarnya bagi individu-individu manusia. Krisis global bersayap dua ini kini telah menyengsarakan umat manusia di seluruh penjuru dunia. 

Soalnya, pemanasan global secara sistematis telah mengubah perikliman dunia dan segala dampaknya. Secara global naiknya suhu udara dan air laut rata-rata, diikuti oleh melelehnya salju di kutub-kutub bumi serta di puncak-puncak gunung yang kemudian berdampak pada meningkatnya permukaan laut dan curah hujan dan berujung pada pelbagai banjir besar di berbagai daerah dan gelombang panas dan badai salju, penyebaran wabah penyakit serta perpanjangan masa kemarau yang memicu kebakaran hutan. Itu semua adalah efek tak langsung dari materialisme ekonomi industrial yang terus menerus secara serakah menguras tabungan energi matahari, oleh bekas-bekas fauna dan flora purba yang tertanam di kerak bumi sebagai batubara, minyak dan gas, dengan cara membakarnya sehingga memproduksi gas CO2 secara berlebihan menyebabkan efek rumah kaca yang menjebak panas di atmosfera yang menyelimuti bumi.
Di samping itu, krisis resesi global juga disebabkan oleh keserakahan materialistis kapitalisme global yang diejawantahkan dalam pasar modal yang lebih mementingkan keuntungan moneter ketimbang produsi barang-barang riil kebutuhan sehari-hari. Maka uang dan utang pun diperjual belikan dengan secara spekulatif virtual melalui jaringan teknologi informasi komunikasi global dengan kecepatan tinggi dilambungkan harganya menjadi gelembung-gelembung yang pada ujung-ujungnya meledak.  Dampak utamanya adalah efek domino berupa tsunami krisis ekonomi berujung pada rangkaian pemutusan hubungan kerja yang berantai dari sektor perumahan ke sektor perbankan terus ke sektor fabrikasi mobil dan barang-barang elektronika dan ujung berujung pada industri tekstil dan barang-barang keperluan rumah tangga. Ujung-ujung dari semua ini adalah terjadinya sebuah danau pengangguran yang semakin lama semakin meluas menjadi lahan subur bagi merebaknya wabah sosial dalam bentuk berbagai bentuk kriminalitas dan  wabah mental dalam bentuk berbagai penyakit kejiwaan karena keputus-asaan dan ketegangan yang tak tertahankan.

Mengingat kedalaman dan keluasan dari kesengsaraan yang ditimbulkan oleh kedua sayap krisis global yang datang tanpa bisa diramalkan jauh hari sebelumnya, ada baiknya kita meninjau kembali paradigma materialisme di bidang sains, teknologi dan ekonomi yang membentuk sebuah aliran-aliran umpan-balik positif yang tumbuh secara eksponensial. Pertumbuhan eksponensial ini dipacu oleh kesamaan paradigmatik antara keempat cabang peradaban yang mementingkan materialisme sekular dan humanisme individual. Oleh sebab itu  terdapat sebuah revolusi paradigmatik yang disebut holisme di dunia Barat pada dasawarsa-dasawarsa akhir abad keduapuluh. Paradigma holistik itu memperluas humanisme individual dengan ekologisme kosmik di satu pihak dan memperluas materialisme sekular dengan idealisme panteistik di lain pihak. Dilihat dari sudut pandang tradisi teologis Timur, keterbatasan holisme yang monodualistik itu sudah seharusnyalah dilengkapi dengan dimensi ketuhanan yang transendental.

Realitas: Sebuah Kesepaduan

Dalam paradigma holistik, yang ada adalah kesatuan dua sisi kebulatan realitas. Secara ontologis kesatuan itu adalah kesatuan antara manusia dan alam lingkungannya. Dalam tradisi mistisisme Timur kesatuan ini disebut sebagai kesatuan mikrokosmos dan makrokosmos: alam kecil dan alam besar. Namun berbeda dengan tradisi Timur yang menekankan adanya perjenjangan sejajar antara dua kosmos itu, holisme hanya mengakui adalanya dualitas kesadaran/kenyataan pada kedua kosmos tersebut. Itulah sebabnya terjadi koreksi terhadap holisme yang mengabaikan realitas transendental. Koreksi itu adalah integralisme. Satu bentuk integralisme yang dikenal di dunia Barat adalah integralisme universal yang diajukan oleh Ken Wilber di tahun 2000. Integralisme universal ini melihat realitas sebagai suatu kesatuan dengan empat sisi yang dibentuk oleh salib sumbu interioritas-eksterioritas dan individualitas-kolektivitas. Keempat sisi itu disebutnya sebagai kuadran subyektif, kuadran obyektif, kuadran intersubyektif dan kuadran interobyektif. Realitas dalam pandangan ini adalah sebuah jenjang lingkaran-lingkaran sepusat yang pusatnya adalah titik potong antara kedua sumbu yang tegak lurus satu sama lainnya membentuk kuadran-kuadran tersebut.

Secara kebetulan Ken Wilber telah menggunakan istilah "integralisme" untuk menamakan pahamnya tentang realitas. Padahal lebih dari limabelas tahun sebelum Wilber merumuskan integralisme universalnya, di Indonesia istilah itu telah digunakan sebagai nama dari sebuah pandangan Islam yang melihat realitas sebagai kesepaduan dari dua buah perjenjangan yang disebut perjenjangan mendatar dan perjenjangan menegak.  Dalam pandangan ini dualitas mikrokosmos-makrokosmos tradisi mistik Timur dalah bagian dari hirarki lima kosmos yaitu mikrokosmos, mesokosmos, makrokosmos, suprakosmos dan metakosmos. Mikrokosmos itu adalah nama kontemporer bagi al-Nafs atau individu manusia. dan mesokosmos adalah nama lain dari al-Qawm atau kolektivitas manusia. Mikrokosmos dan mesokosmos maenyatu dalam peradaban manusia atau al-Madaniyah. Perdaban manusia itu adalah bagian dari lingkungan alam semesta yang disebut makrokosmos dan lingkungan superkosmos atau alam gaib. Makrokosmos dan superkosmos itu tak lain dari multikosmos atau al-'alamin. Di luar al-'alamin itu adalah Rabb yang mengaturnya. Rabb inilah yang disebut metakosmos dalam pandangan integralisme Islam.

Micro-
kosmos
(manusia)
Meso-
kosmos
(budaya)
Makro-
kosmos
(alam nyata)
Supra-
kosmos
(alam gaib)
Meta-
kosmos
(Tuhan)
Ruh

Quran
sumber
Dzat
Qalb
(Nurani)

Din
Prinsip-prinsip
alam
Prinsip-prinsip
Supernatural
 
Sifat-Sifat
‘Aql
(Kesadaran)
Tsaqafah
Hukum-hukum
alam
Hukum-hukum
Supernatural
Perintah-
Perintah
Nafs
(Perilaku)
Tamaddun
Fenomena alam
Fenomena Supernatural
Perbuatan
Jism
(Tubuh
Ummat &
madaniyah
Benda-benda alam
Benda-benda Supernatural
Ciptaan

Tegak lurus dengan perjenjangan mendatar lima kosmos itu terdapat perjenjangan lima menegak kategori integral yaitu materi, energi, informasi, nilai-nilai dan sumber. Kelima kategori integral itu tersirat dalam perjenjangan jism, nafs, 'aql, qalb dan ruh yang dijarkan dalam tasawwuf Islam. Ia juga tersersirat dalam perjenjangan sumber hukum 'urf, ijma', ijtihad, sunnah dan Al-qur'an dalam tradisi ilmu fiqh Islam. Ia pun tersirat dalam perjenjangan Khalqillah, Sunnatullah, 'Amrullah, Sifatullah dan Dzatullah dalam tradisi teologi Islam atau ilmu kalam. Secara diagram realitas integral itu dapat dilukiskan sebagai matriks terlukis di atas.
Satu hal yang dapat dibaca pada matriks ini adalah materialisme sekuler hanya mengakui submatriks 3x3 dibagian kiri bawah sebagai satu-satunya realitas. Sedangkan holisme panteistik hanya melihat submatriks 4x4 bagian kiri bawah sebagi realitas seutuhnya. Dari sini tampak bahwa baik materialisme ataupun holisme hanyalah merupakan pandangan parsial. Integralisme Islam adalah sebuah pandangan yang lebih menyeluruh menyempurnakan kedua pandangan tersebut.

Hal lain yang perlu diketahui adalah bahwa integralisme Islam melihat baris atas dari matriks itu merupakan realitas sumber yang bagi baris-baris realitas relatif dibawahnya. Hal ini berbeda seratusdelapanpuluh derajad dengan pandangan materialis yang menganggap baris terbawah sebagai realitas mutlak sedangakan baris-baris di atasnya sebagai realitas relatif. Dengan perkataan lain pandangan realitas integral Islam menjungkirbalikkan pandangan materialis sains sekuler. Inilah yang disebut sebagai revolusi integralisme Islam. Hal ini serupa dengan revolusi heliosentrisme Kopernikus yang menganggap matahari.sebagai pusat alam semesta membalikkan pandangan geosentrisme Ptolomeus yang menganggap bumi sebagai pusat jagatraya.

Yang terakhir perlu diperhatikan dalam pandangan integralisme Islam ini ada;ah kenyataan bahwa peradaban manusia itu berada di antara manusia dan alam lingkungannya, sehingga sudah sewajarnya peradaban manusia itu serasi, dengan bukan mengeksploitasi, alam semesta lingkungannya. Pandangan penguasaan alam semesta itulah yang mendorong pada pengembangan teknologi yang mencemarkan alam lingkungan sehingga terjadi pemusnahan spesies lain sperti yang kita alami sekarang. Itulah sebabnya kita harus mengganti paradigma peradaban manusia modern ini dengan paradigma integralisme Islam.

Ajaran Islam : Suatu Integralitas,

Ajaran Islam sebagai Din mempunyai tiga komponen integral yaitu Aqidah, Syari'ah dan Thariqah. Aqidah Islam itu tersusun dalam Arkan Al-Iman atau rukun Islam. Sedangkan Syari'ah Islam dibingkai oleh Arkan al-Islam dan Thariqah Islam iitu berinyikan Ihsan. Yang menarik adalah kenyataan bahwa matriks integralitas itu mencermikan ketiga komponen Din Islam itu  secara struktural.

Misalnya, Arkan Al-Iman meliputi
1.      Iman kepada Allah   yang disebut sebagai Metakosmos Pencipta dab Maha Sumber segala hal
2.      Iman kepada malaikat  yang menjalankan pengaturan alam semesta ayau Makrokosmos
3.      Iman kepada kitab-kitabNya  yang merupakan landasan bagi peradaban atau Mesokosmos
4.      Iman kepada rasul-rasulNya  yang merupakan individu atau Mikrokosmos
5.      Iman kepada Qiyamat/’Akhirat sebagai kehancuran makrokosmos memasuki Suprakosmos
6.      Iman kepada  Qadar dan Qadha’ sebagai ketentuan Integrasi Kosmik

Sehingga dapatlah kita simpulkan bahwa arkan al-Islam menyiratkan pengakuan akan Kesepaduan Realitas sepwerti yang tertera dalam matriks integralitas.

Di samping itu kita dapat melihat arkan al-Islam sebagai kerangka pentahapan abadi pembangunan peradaban atau Tazkiyah al-Madaniyati. Arkan Al-Islam itu meliputi

1.      Syahadatain sebagai landasan bagi pembinaan individu atau Tazkiyah al-Nafsi
2.      Shalat sebagai sarana pembinaan kelompok atau Tazkiyah al-Jama'ati'
3.      Shaum sebagai sarana pembinaan Masyarakat yang adil atau Tazkiyah al-Ijtima'i
4.      Zakat sebagai landasan pembangunan Negara bangsa yang sejahtera atau Tazkiyah al-Ummati
5.      Hajji  sebagai sarana pembangunan Peradaban antar bangsa yang damai atau Tazkiyah al-Madaniyati

Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa rukun Islam di samping merupkan sarana penghubung kita dengan Allah atau 'ubudiyah, dia juga merupkan sarana pembangunan Peradaban melalui mu’amalah.

Jika rukun Islam dapat dilihat sebagai kerangka pembangunan peradaban berdasarkan rukun Islam, maka Ihsan dapat dilihat sebagai kerangka pembangunan pribadi yang mendekatkan diri pada Sang Peciotanya melalui ibadah dimana diharapkan 

1.      Kita beribadat seolah-olah melihat Tuhan, atau
2.      Kita beribadat karena dilihat Tuhan

beribadah seolah melihat Tuhan adalah simbol dari beribadah karena Cinta dan beribadah karena dilihat Tuhan adalah simbol dari beribadah karena takut pada Allah swt. Ihsan adalah esensi Thariqah untuk mendekatkan diri pada Allah dengan mentransformasi rasa takut menjadi rasa cinta secara bertahap.

Aqidah adalah landasan bagi pasangan proses Syari'ah sebagai transformasi religio-kultural peradaban dan Thariqah transformasi psiko-spiritual individu

Tauhid Seutuhnya: Landasan Peradaban

Landasan Din al-Islam adalah Tauhid Diniyah. Sebagai landasan peradaban Tauhid adalah Tauhid Madaniyah. Kedua Tauhid itu terintegrasi dengan Tauhid Uluhiah sebagai landasan terdasar dari keseluruhan Tauhid yang juga meliputi Tauhid Rububiyah sebagai dasalr semua ilmu dan Tauhid Mu’amalah dasar semua amal.


Kelima aspek Tauhid itu berkaitan dengan kelima sifat Tuhan yang tercantum dalam tiga ayat pertama dari surat pertama Al-Quran Al-Karim.: Allah, Al Rabb, Al-Rahman, Al-Rahim dan Al-Malik. Keterkaitannya dadalah sebagai berikut

1.      ALLAH ==> Tauhid Uluhiyah
2.      Al-RABB ==> Tauhid Rububiyah
3.      AL-RAHMAN ==> Tauhid Mu’amalah
4.      AL-RAHIM ==> Tauhid Madaniyah
5.      AL-MALIK ==> Tauhid Diniyah

Disampaikan di  Subang pada 25 Desember 2008