Thursday, August 21, 2014

Tokoh Negarawan Minangkabau:
Mohammad Yamin




Nama Mohammad Yamin terkenal sejak masa mudanya. la seoarang tokoh Pergerakan Pemuda, seprang Sarjana Hukum yang menaruh minat kepada beberapa cabang ilmu, berhasil diakui masyarakat sebagai seorang pujangga, filsuf, ahli bahasa , ahli sejarah dan negarawan.
Mohammad Yamin dilahirkan di desa kecil Talawi, di dekat Sawahlunto, Sumatera Barat. Tanggal kelahirannya ialah 23 Agustus 1903. Mohammad Yamin adalah anak ketiga dari lima orang bersaudara.
Ayah Yamin bernama Usman gelar Bagindo Sutan Khatib, bekerja sebagai pegawai yang mengawasi dan mengurusi bidang kopi sebuah perusahaan Belanda.
Mula-mula Yamin bersekolah di Sekolah Dasar kelas II Bumi Putera, dimana ia belajar membaca menulis serta berhitung. Pelajarannya diberikan dalam bahasa Melayu. yang kemudian menjadi bahasa Indonesia. Untuk memperoleh kemajuan dibidang pengetahuan, Yamin merasakan perlunya paham bahasa Belanda. Oleh karenanya ia belajar bahasa Belanda dengan sungguh-sungguh dengan berpindah sekolah ke HIS, yaitu SD dengan bahasa Belanda. Kemudian ia meneruskan pelajarannya ke sekolah guru di Bukittinggi.
Di dorong oleh kemauannya yang keras untuk lebih maju, ia lalu pindah ke Pulau Jawa dan mernasuki Sekolah Dokter Hewan di Bogor. Karena merasa tidak berbakat menjadi dokter Hewan lalu pindah ke Sekolah Menengah Pertanian di Bogor. Di sekolah inipun Yamin tidak merasa betah. walaupun ia pecinta alam gunung-gunung, sawah ladang dan tumbuh-tumbuhan yang indah, tetapi pelajaran tentang ilmu tumbuh-tumbuhan dan ilmu bercocok tanam tidak menarik hatinya. Karena itu ia segera meninggalkan Sekolah Menengah Pertanian dan menuju kota Yogyakarta dan menjadi murid pada AMS (Algemeene Middelbare School = Sekolah Menengah Atas Bagian Sastra Timur) Di sekolah AMS ini barulah Yamin merasa cocok dengan bakat dan seleranya. Ia memang tertarik pada ilmu-ilmu budaya dan bahasa. Ia senang mempelajari sejarah, Antropologi, Ilmu Tata Negara dan bahasa-bahasa Timur seperti bahasa Melayu, Bahasa Jawa dan Sansekerta. Juga bahasa-bahasa Asing dipelajarinya dengan tekun. Karena itu Yamin lulus dari AMS dengan cepat dan lancar.
Kemudian Yamin melanjutkan pelajarannya ke RHS Hoge School Perguruan Tinggi Hukum. Ia lulus pada tahun 1932 dengan mendapat gelar Mr. (Meester in de rechten = Sarjana Hukum). Dimasa mudanya Mohammad Yamin giat dan bersemangat dalam pergerakan Kebangsaan.
Mula-mula, pada waktu masih bersekolah di Sumatera Barat, Muhammad Yamin sudah menjadi pemimpin perkumpulan Jong Soematranen Bond, suatu perkumpulan pemuda dariSumatera. Yamin duduk di dalam Pengurus Jong Soematranen Bond bersama dengan Mohammad Hatta, Bahder Johan dan Amir, kesemuanya kemudian menjadi pemimpin pergerakan partai yang menuntut Kemerdekaan Indonesia.
Pada perayaan ulang tahun ke-5 dari Perkumpulan Jong Soematranen Bond, pada tahun 1923 di Jakarta, Mohammad Yamin sudah mengemukakan gagasannya yang mulia dalam ceramahnya yang berjudul “Bahasa Melayu pada masa lampau, masa sekarang dan masa depan”. la sudah melihat akan datangnya bahasa kebangsaan Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu. Diwaktu itu ia menggubah sajak berjudul “Indonesia, Tanah Tumpah Darah” sebagai berikut:
Indonesia Tanah Tumpah Darah Duduk di pantai tanah yang permai Tempat gelombang pecah berderai Berbuih putih di pasir terderai Tampaklah pulau di lautan hijau Gunung-gunug indah rupanya. Tumpah darahku Indonesia namanya.
Lihatlah nyiur melambai-lambai Berdesir bunyinya sesayup sampai Tumbuh di pantai bercerai berai Memagar daratan aman kelihatan Dengarlah ombak datang berlagu Mengajar bumi ayah ibu Indonesia namanya “TANAH AIRKU” Sejak berusia 18 tahun ia sudah sering menulis sajak. Bilamana kalbunya tersentuh nilai-nilai keindahan, keadilan, kebesaran Illahi, kebahagiaan kesyahduan dan nilai-nilai lain yang mempesonakan ataupun mengharukan, niscaya bergeraklah penanya menggubah sajak.
Pengetahuan Mohammad Yamin yang luas ditopang kegemarannya membaca. Koleksi bukunya melebihi 20.000 buah. Sungguh tidak banyak orang Indonesia yang mempunyai buku sebanyak itu. Yamin sering tertidur dengan buku masih ditangan dan kacamata masih dipakainya. Tanpa bosan- bosannya ia membaca buku mengenai Indonesia, baik sejarah, budaya maupun bahasa. Ilmu yang diperoleh dari buku-buku itu tidakdisimpannya untuk dirinya sendiri, tetapi ditulisnya sehingga masyarakat dapat manfaatnya. Ia memberi semangat kepada bangsa Indonesia untuk maju untuk mencintai kebudayaannya dan mencapai kemerdekaannya.
Kekuatannya membaca dan menulis dapat dikatakan luar biasa. Konon ia pernah menulis sebuah buku selama tiga malam tanpa berhenti istirahat. Ia hanya berhenti sebentar untuk mandi dan makan. Kemudian Yamin menulis lagi dan menulis lagi hingga naskahnya selesai.
Berbagai karangannya telah terbit bukunya, antara lain Ken Arok dan Ken Dedes (1934) Gajahmada (1948), Diponegoro (1945), Tan Malaka (1946), Sapta Darma (1950), Tatanegara Majapahit.
Yamin juga seorang ahli pidato yang hebat, mahir dan menarik. Dalam pidatonya ia menghamburkan kata-kata pilihan dengan spontan dan amat memukau pendengarnya. Kadang-kadang pidatonya dihiasinya dengan sajak yang indah, terutama di masa mudanya.
Sebenarnya Yamin itu suka bergaul. Tetapi pada orang-orang yang belum dikenalnya benar, ia lebih bersikap diam lebih dahulu. Sebaliknya dengan sahabat-sahabatnya, ia sanggup bercakap-cakap sepanjang hari.
Sebagai seorang Mahasiswa Yamin makin giat berjuang. Namanya tidak dapat dilepaskan dari kegiatan Kepemudaan, terutama dengan Kongres Pemuda I dan khususnya lagi dengan Kongres Pemuda II di Jakarta, yang menghasilkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
Dalam Kongres Pemuda I yang diselenggarakan pada tanggal 30 April – 2 Mei 1926 di Jakarta, pemuda Yamin sudah berperan penting. Dalam pidatonya di Kongres Pemuda I itu ia mengemukakan betapa perlunya bangsa kita ini memiliki bahasa persatuan, yaitu bahasa kebangsaan. Menurut Yamin bahasa Melayu yang sepanjang sejarah telah digunakan sebagai bahasa pergaulan dapat dinobatkan sebagai bahasa kebangsaan. Yamin menutup ceramahnya dengan ucapan ”Sejarah kini ialah, menuju nasionalisme yang dalam dan luas, ke arah kemerdekaan dan tujuan yang lebih luhur, yaitu kebudayaan yang lebih tinggi, agar Indonesia dapat mempersembahkan kepada dunia hadiah yang lebih berharga dan lebih indah selaras dengan kebangsaan kita.”
Di dalam Kongres Pemuda II di Jakarta tanggal 27 – 28 Oktober 1928 yang mencetuskan Sumpah Pemuda. Muhammad Yamin menjabat sebagai Sekretaris sedang ketuanya Sugondo Joyo Puspito dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Kongres Pemuda II itu dihadiri oleh berbagai perkumpulan pemuda dan pelajar, PPPI, Jong Java, Jong Soematranen Bond, Jong Celebes, Sekar Rukun (Sunda), Jong Ambon, Jong Minahasa, Jong Islamieten Bond, Jong Bataks Bond, Pemuda Kaum Betawi, Tirtayasa (Banten) dan Iain-lain.
Pada Kongres tersebut Muhammad Yamin juga mengemukakan ceramahnya berjudul ”Dari Hal Persatuan dan Kebangsaan Indonesia” di gedung Katholieke Jongelingen Bond di Jakarta pada hari Minggu malam tanggal 27 Oktober 1928.
Dalam pidatonya itu Yamin mengatakan, bahwa Kongres Pemuda II adalah suatu peristiwa bersejarah yang penting karena merupakan suatu kebangunan atau renaissance dari semangat atau roh Indonesia, Roh Tumpah Darah, dan Ron Bangsa. la mengajak agar para pemuda melihat segi-segi persamaannya di antara bangsa sendiri dan bukannya mempertajam perbedaannya.
Pemuda-pemuda Indonesia harus mendekatkan dirinya dengan tanah air dan bangsanya yang melahirkan. Pemuda harus menggunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk menanam segala cita-cita dan tujuan. Di dalam dada pemuda tersimpan kemauan jaman baru, jaman yang akan datang, kemauan pemuda adaiah seperti banjir yang tidak boleh dihambat. Durhakalah barang siapa yang berani menghambatinya. Para pemuda Indonesia janganlah bekerja setengah-setengah, tetapi hendaknya benar-benar mau bekerja untuk keluhuran bangsa dan tanah air dengan sepenuh hati. la juga berkata bahwa cita-cita persatuan Indonesia itu bukan omong kosong tetapi benar-benar didukung oleh kekuatan-kekuatan yang tersembur pada akar sejarah bangsa kita sendiri. Adapun faktor-faktor utama persatuan Indonesia itu terletak pada sejarah, pendidikan, bahasa, hukum adat dan kemauan.
Yamin mengemukakan pandangan sejarah yang sama sekali bertolak belakang dari pandangan sejarawan Belanda. la berkata bahwa semua sejarah suku-suku bangsa di tanah air kita itu merupakan satu kesatuan sejarah Indo­nesia. Bangsa Indonesia dahulu merdeka, kemudian kemerdekaan itu direnggut oleh Belanda. Tetapi roh kedaulatan dan kemerdekaan bangsa kita tidak lenyap, melainkan tetap hidup.
Mengenai bahasa, Yamin kembali menegaskan bahwa bahasa Indonesia sudah berurat dan berakar dalam pergaulan dan peradaban kita. Jaman emas bagi bahasa Indonesia pasti akan datang. Bahasa Indonesia akan menjadi perbendaharaan, tempat tersimpannya suatu peradaban zaman yang akan datang, yaitu peradaban baru yang bernama Peradaban Indonesia Raya.
Perihal hukum, Yamin berpendapat bahwa hukum ada diantara suku-suku bangsa kita terdapat banyak kesamaan. Sedangkan hukum Barat tidak memadai bagi keperluan kita. Tentu saja bagian-bagian yang usang dari hukum adat perlu ditinggalkan, namun hendaknya diadakan penelitian agar hukum adat dapat menjadi hukum kebangsaan.
Pada bidang pendidikan, Yamin menganjurkan agar anak-anak kita diberi pendidikan yang berjiwa persatuan bangsa dan ditanamkan rasa cinta tanah air dan bangsa.
Pada akhirnya Yamin berkata, bahwa yang terutama ialah adanya kemauan hendak bersatu hingga bangsa dan tanah air kita mencapai kedaulatan dan kemerdekaannya.
Kongres Pemuda II di Jakarta ternyata mencapai hasil yang gilang gemilang dengan mencetuskan ”Sumpah Pemuda” yang menjelmakan tekad bulan Pemuda Indonesia beserta seluruh bangsanya. Sumpah Sakti itu berbunyi:
Pertama : Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia.
Kedua : Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
Ketiga : Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Sumpah Pemuda, Keputusan Kongres Pemuda II tersebut mula-mula dibacakan oleh Ketua Kongres Sugondo Joyo Puspito, kemudian Muhammad Yamin memberikan penjelasan dengan panjang lebar. Sesudah itu keputusan tersebut disahkan dan menjadi tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia yang sakti dan abadi.
Untuk menyalurkan aspirasi politiknya ia memasuki Partai Politik Partindo (1932 – 1938), kemudian Gerindo dan akhirnya mendirikan Parpindo (Partai Persatuan Indonesia, 1939). Sebagai akibat perselisihannya dengan Pengurus besar Gerindo dimana Yamin menjadi anggotanya. Kemudian oleh kelompok Minangkabau diluar kerjasama dengan Gerindo, Ia dicalonkan dan diangkat menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat buatan Pemerintah Hindia Belanda, 1938-1942)
Pada jaman pendudukan Jepang Muhammad Yamin tetap berjuang bersama para Pemimpin Indonesia lainnya. Ia bahkan diangkat sebagai Penasehat (Sanyo) untuk Departemen Propaganda (Sendenbu). Pada saat menjelang kekalahan Jepang, Pemerintah balatentara Jepang mendirikan sebuah Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (Dokuritsu Jumbi Cosakai). Muhammad Yamin juga menjadi anggota badan tersebut, bersama 62 orang pemimpin Indonesia lainnya, Ir. Soekarno, Dr. Moh. Hatta dan Iain-lain. Waktu pidato Bung Karno yang terkenal berjudul ”Lahirnya Pancasila” pada tanggal 1 Juni 1945 dimuka panitia tersebut, Moh. Yamin hadir daiam rapat itu.
Mohammad Yamin juga menjadi anggota Pariitia kecil yang terdiri dari 9 orang anggota yang pada tanggal 22 Juni 1945 menghasilkan Dokumen yang terkenal disebut ”Piagam Jakarta”
Hari-hari menjelang Prokiamasi Kemerdekaan, Yamin sungguh sibuk dengan berbagai kegiatan dalam rapat-rapat untuk menyempurnakan UUD 1945 yang dipimpin oleh Prof. Dr. Soepomo. Dengan demikian Moh Yamin telah ikut meletakkan dasar-dasar bagi Negaranya Republik Indonesia.
Sesudah Prokiamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 diumumkan, Moh. Yamin tetap berjuang menegakkan kemerdekaan. la menentang Kebijaksanaan Pemerintah Republik Indonesia yang dipimpin oleh Sutan Syahrir karena politik perundingannya dengan Belanda bersama dengan Tan Malaka, ia mendirikan Parta Murba dan Persatuan Perjuangan. Dalam kedudukannya itu ia terlibat dalam peristiwa 3 Juli 1946 yaitu peristiwa kelompok Tan Malaka yang didakwa akan melakukan perebutan kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia karenanya ia ditahan selama 2 tahun. Kemudian ia diajukan ke persidangan Mahkamah Agung. Pidato pembelaannya (Pledooi) berjudul ”Sapta Darma” dibukukan. Ia diputus hukuman 4 tahun pada hari Kemerdekaan 17 Agustus 1948 ia memperoleh grasi dan dibebaskan. Sudah itu pada tahun 1949 ia diangkat sebagai Penasehat Delegasi Indonesia ke Konprensi Meja Bunda (KMB) di negeri Belanda.
Pada tahun 1950 ia anggota DPR RI, tahun 1951 diangkat menjadi Menteri Kehakiman kemudian dari Juli 1953 sampai Juli 1955 ia menjadi Menteri Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan sebagai orang yang tak berpartai. Karimya dalam pemerintahan susul menyusul, menjadi Wakil Menteri pertama bidang Khusus, Menteri Penerangan, Ketua Dewan Perancang Nasional (Deppernas) pada 1962.
Setelah Dewan Konstituante dibubarkan dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Yamin diangkat menjadi anggota DPRGR dan MPRS. Ia memegang peranan penting dalam Rencana Pembangunan Semesta yang gagal dalam pelaksanaannnya
Sebagai ahli hukum ia diangkat sebagai Penasehat Pembinaan Hukum Nasional. Pada saat yang sama iapun anggota dewan Pertahanan Nasional, Anggota Staff Pembantu Panglima Besar Komando Tertinggi Operasi Ekonomi Seluruh Indonesia, Anggota Panitia Jiwa Revolusi, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Kantor Berita ”Antara” selusin jabatan.
Prof. H. Moh. Yamin. S.H. lebih banyak berjasa bagi bangsa dantanah air, ia dianugerahi Bintang Mahaputera. la pun telah Haji, wafat di Jakarta dan dimakamkan di desa kelahirannya, di desa Tallawi, Sawahlunto, Sumatera Barat.
Pemerintah Indonesia memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Prof. Moh Yamin S.H. dengan Sural Keputusan Presiden No. 088/TK/Th. 1973 tanggal 6 November 1973.

sumber

Thursday, May 08, 2014

Angka Arab Masuk Eropa

Angka Arab
Memasuki Eropa



Penggunaan sistem desimal di anak benua India telah ada selama setidaknya 2.500 tahun, meskipun demikian itu  di Barat disebut sebagai angka Hindu-Arab atau sistem angka Arab, karena datang ke Eropa melalui peradaban Islam di Arab yang memakainya setelah penaklukan Persia yang pada gilirannya telah mengadopsi sistem India terlebih dahulu.


Segmen penuh ( 4x5 inci ) dari ukiran dari Abraham Rees (1743-1825) ensiklopedia besar Universal Dictionary of Arts, Sciences, and Literature dan dicetak di London pada tahun 1820 , walaupun merupakan "adaptasi " dari tabel yang dibuat oleh JE Montucla dalam bukunya Histoire de la mathématique , yang diterbitkan pada tahun 1757 :Number history315 

Penggunaan notasi aritmetika yang tersebar di Eropa relatif lambat di masa Abad Pertengahan, mengambil mungkin dua ratus tahun untuk akhirnya mencapai ke Inggris di abad ke-11.
Number history316
Gambar di atas adalah detail indah koleksi " kuno karakter aritmatika " , termasuk notasi untuk angka 1 sampai 9 dengan " Boethius , Plenudes , al Sephadi , Sacro Bosco , India , Roger Bacon , dan AL Sephadi " .

Anicius Manlius Severinus Boethius yang biasa disebut Boethius ( 480-524 M ) , menulis kitab Arithmetic (berdasarkan karya Nicomachus yang hidup pada tahun 60-120 M) yang merupakan salah satu karya klasik besar matematika di abad pertengahan . Dia mengatakan kaum  " Pythagorians " telah memperkenalkan notasi numerik, meskipun tidak jelas apa sebenarnya yang dia maksud. Mungkin maksudnya adalah notasi yang digunakan oleh bangsa-bangsa di Timur . Notasinya untuk 1, 8 dan 9 adalah apa yang kita kenal sekarang , dan untuk  2 dan 5 adalah sama tetapi terbalik ; sedangkan notasi untuk 3,4,6 dan 7  tidak sangat dikenali . Terjemahan buku Anicius Manlius Severinus Boethius ada di Proyek Gutenberg dan entri untuk Boethius ada di ensiklopedia filsafat Universitas Standford.

Pada tahun 776 M daulah Umayyah telah mulai mengambil bentuknya. Pada masa itu ada referensi  menegenai transmisi angka India dalam sebuah karya al- Qifti Kronologi Para Ulama yang ditulis sekitar akhir abad ke-12 , tetapi mengutip sumber-sumber jauh lebih awal :
    ... Seseorang dari India memperkenalkan dirinya di hadapan Khalifah al- Mansur pada tahun [776 M] yang berpengalaman baik dalam metode  perhitungan Siddhanta terkait dengan gerakan benda-benda langit , dan memiliki cara menghitung sebuah persamaan berdasarkan setengah - busur [ dasarnya sinus ] dihitung setengah-derajat ... ini semua yang terkandung dalam sebuah karya ... dari mana ia mengaku telah mengambil setengah - busur dihitung dalam satu menit .
Khalifah Al - Mansur memerintahkan buku ini akan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan pekerjaan yang harus ditulis, berdasarkan terjemahan itu, agar supaya orang-orang Arab memiliki dasar yang kokoh untuk menghitung pergerakan planet-planet. pekerjaan itu kemungkinan besar telah Brahmasphutasiddhanta ( Pembukaan Semesta ) yang ditulis Brahmagupta pada  tahun 628 . 
 
Teks Arab pertama yang ditulis untuk menjelaskan sistem bilangan India ditulis oleh al - Khawarizmi. Teks Arab itu hilang tapi terjemahan Latin abad kedua belas, Algoritmi de numero Indorum (dalam bahasa Inggris Al - Khwarizmi on Hindu Art of Reckoning ) memunculkan kata algoritma berasal dari namanya dalam judul . Teks latin itu menggunakan angka-angka 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 dan 0 .
 
Sekitar pertengahan abad kesepuluh al-Uqlidisi menulis Kitab al-fusul fi al-hisab al-Hindi which is the earliest surviving book that presents the Indian system. Dalam kitab tersebut al-Uqlidisi memaparkan manfaat praktis sistem tersebut.

Angka Arab muncul untuk pertama kalinya dalam Codex Vigilanus yang disalin oleh seorang biarawan di Spanyol pada tahun 976. Fibonacci menulis Liber abaci yang diterbitkan di Pisa pada tahun 1202 menggunakan angka-angka arab dalam perhitungannya.

Maximus Penudes,  lahir pada tahun 1260 di kota Nikomedia , Byzantium , [ sekarang İzmit , Turki ] dan  meninggal 1310, di Konstantinopel. Dia adalah seorang teolog , sarjana , dan penerjemah buku-buku matematika dalam bahasa Arab ke dalam bahasa Yunani . Dia menggunakan notasi untuk bilangan 1 sampai dengan 9 mirip dengan angka-angka yang kita gunakan sekarang. Notasi itu sama miripdengan notasi angka yang digunakan oleh matematikawan dan filsuf dari Arab bernama al Sephadi yang hidup di abad ke-13. Penudes mengatakan bahwa notasinya berasal dari India.


Sacro Busto , atau Sacrobosco (juga disebut John atau Johannes Halifax , Holyfax , Holywalde , Sacroboscus , Sacrobuschus , de Sacro Bosco , atau de Sacro Busto), adalah seorang anggota Ordo St Agustinus dan seorang profesor matematika dan astronomi / astrologi di Paris sekitar tahun 1230. ( Ada banyak tempat dikaitkan untuk menjadi tempat kelahirannya , tetapi tampaknya cukup yakin bahwa ia setidaknya dididik di Oxford . ) Ia menjadi anggota terhormat di kalangan intelligensia , dengan ketenarannya di abad kemudian datang melalui tiga karyanya yang masih digunakan sebagai rujukan ilmu matematika dan astronomi. Ketiga buku itu adalah De algorismo , De computo , dan De sphaera .   

Roger Bacon adalah seorang Doctor Mirabilis dari Inggris yang mengajar di Oxford dan kemudian di University of Paris. Bacon membuat langkah besar menuju pembentukan metode ilmiah , dan pada abad ke-13 menggunakan notasi numerik cukup modern kecuali untuk 2,  4, dan 5.

Keadilan Hukum Sultan Iskandar Muda

Keadilan Hukum Sultan Iskandar Muda


http://inbandaaceh.com/wp-content/uploads/2013/04/Sultan-Iskandar-Muda-Aceh.jpg

Kesultanan Aceh tahun 1636, Seorang Sultan Perkasa – Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam – yang menguasai Sumatera dan Semenanjung Malaka sedang berdiam diri dalam istana. Sultan merenung di Balairung yang juga tidak jauh dari Balai Cermin yang agung. Sumatera dan Malaka sudah dalam genggamannya. Namun, ia pun melihat Portugis, Inggris, dan beberapa Negara Eropa lain sedang mengincar penguasaan Selat Malaka.

Beliau telah memerintah Aceh dan daerah taklukannya hampir 30 tahun. Ia seorang pribadi yang kuat dalam arti yang sebenarnya secara fisik dan mental. Seorang bangsawan yang cerdas serta tegas. Negarawan yang adil sekaligus politisi dan diplomat yang ulung. Ia adalah Sultan terbesar Aceh yang mampu membawa Aceh Darussalam mencapai kejayaan dan menjadi kerajaan yang disegani.
Dalam kurun hampir 30 tahun masa pemerintahannya, Sultan Iskandar Muda telah berhasil menyempurnakan Qanunul Asyi Ahlussunah Wal Jamaah yang terdiri dari 500 ayat Al-Quranul Karim, 500 Hadis Rasulullah, Ijma’ Sahabat rasulullah, Qiyas Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah. Kemudian dilengkapi pula dengan Qanun Putroe Phang suatu aturan yang mampu memberikan perlindungan kepada Kaum Wanita.

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda inilah dikenal sebuah Kata Filosofis Rakyat Aceh : Adat bak Poteu meureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, reusam bak Laksamana. Kata Filosofis ini menjadi pedoman hidup bagi kerajaan dan masyarakatnya untuk mengatur tata kehidupan dalam menegakan kebenaran dan keadilan demi kesejahteraan masyarakat.

Ditengah perenungannya didalam Istana, Sultan mulai memikirkan kederisasi kepemimpinannya. Ia membutuhkan seorang penerus kerajaan yang kuat yang mampu merpertahankan kekuasaannya dan menjaga Kerajaaan Aceh dan daerah taklukannya agar tidak tunduk pada kekuasaan asing, terutama Portugis dan Inggris yang saat itu terus melakukan provokasi di Selat Malaka.

Terlintaslah pandangannya pada wajah Sang Putra Mahkota – Meurah Pupok – yang digelari Sultan Muda atau Poteu Cut. Anak kesayangannya ini berwajah gagah mewarisi ketampanan wajah sang ayah. Putra Mahkota atau Poteu Cut ini memang masih belia, minim pengalaman. Saat ini sedang menanjak dewasa. Sultan merencanakan untuk memberikan beberapa tanggung jawab kepada Putra Mahkota agar ia belajar dan berpengalaman. Termasuk diantaranya tugas tempur untuk memimpin Armada Laut terbesar Kerajaan yaitu Armada Cakra Donya. Diharapkan dengan berbagai pengalaman penugasan termasuk dengan menjadi Panglima Perang pada saatnya nanti ia mampu menggantikan dirinya untuk menjadi Sultan.

Menurut sebuah riwayat Sultan Iskandar Muda memiliki dua anak, yang pertama adalah Meurah Pupok yang berasal dari istrinya seorang Putri Gayo. Yang kedua adalah wanita yang bernama Safiatuddin yang berasal dari istrinya Putri Pedir/Pidie. Meurah Pupok dikenal sebagai seorang Pangeran yang terampil menunggang kuda. Meurah Pupok menjadi harapan Sultan Iskandar Muda untuk menggantikannya.

Di tengah lamunannya Sultan terpengarah karena tiba-tiba seorang Perwira Muda Kerajaan yang sangat dikenalnya dan merupakan kepercayaannya tiba-tiba menorobos masuk dan langsung berlutut menyembah dirinya. Dengan terbata-terbata Sang Perwira menangis tersedu-sedu sambil menyebutkan bahwa Putra Mahkota Poteu Cut Meurah Pupok telah melakukan tindakan asusila dengan menodai istrinya.

Perwira tersebut langsung membunuh istrinya setelah mengetahui peristiwa tersebut. Namun, untuk Putra Mahkota ia serahkan sepenuhnya pada kebijaksanaan Sultan. Ia menuntut keadilan kepada Sultan. Selepas ia mengadukan hal tersebut kepada Sultan, Perwira tersebut langsung mencabut rencongnya dan menikam ke hulu hatinya sendiri tanpa sempat dicegah oleh Sultan dan pengawalnya. Robohlah perwira tersebut dan langsung tewas saat itu juga.

Syahdan Perwira Muda ini adalah Pelatih Angkatan Perang Aceh. Ia mengetahui peristiwa tersebut setelah melakukan pelatihan terhadap para prajurit di kawasan Blang Peurade Aceh. Ia sangat kecewa dengan peristiwa yang melibatkan istrinya tersebut. Kekecewaan tersebut ia tumpahkan dengan membunuh istrinya sendiri kemudian ia sendiri bunuh diri di hadapan Sultan.

Tercenunglah Sultan dengan wajah bergetar menahan amarah. Ia baru saja menaruh harapan terhadap Putra Mahkota, namun peristiwa yang baru terjadi bagaikan petir yang menyambar dirinya. Seorang Perwira kerajaan kepercayaan dirinya menyampaikan pengaduan yang membuat dunia ini seolah-olah runtuh. Putra Mahkota kesayangannya telah melakukan tindakan yang tidak patut.

Segera Sultan berteriak garang disaksikan orang-orang penting Kerajaan dan para pengawalnya, “Aku adalah Sultan Penguasa Aceh, Sumatera dan Malaka. Aku telah memerintah Aceh dan taklukannya dengan menegakan hukum yang seadil-adilnya. Aku pun akan menegakan hukum terhadap keluargaku sendiri. Aku pun akan menerapkan hukum kepada Putra Mahkota yang seberat-beratnya. Dengan tanganku sendiri akan kupenggal leher putraku karena telah melanggar hukum dan adat negeri ini.”

Semua pembesar kerajaan tercenung. Sultan segera memerintahkan penangkapan Putra Mahkota Meurah Pupok yang bergelar Poteu Cut atau Sultan Muda. Pengadilan segera dilakukan dan Sultan Iskandar Muda telah memutuskan bahwa ia sendirilah yang akan memancung putra kesayangannya itu. Mendung menggelayut di atas Kerajaan Aceh, prahara telah menghantam negeri perkasa ini.

Beberapa pembesar kerajaan yang peduli terhadap kelangsungan kerajaan bersepakat untuk menghadap Sultan Iskandar Muda agar membatalkan hukuman pancung tersebut. Mereka mengajukan berbagai usul seperti pengampunan atau cukup dengan mengasingkan Putra Mahkota ke negeri lain. Termasuk mencari kambing hitam, mencari seorang pemuda lain untuk menjadi pesakitan menggantikan Putra Mahkota. Semua usul tersebut ditolak oleh Sultan dan dengan berang Sultan berkata, “Akulah yang menegakan hukum di negeri ini dan kepada siapapun yang bersalah tidak terkecuali terhadap keluargaku sendiri harus dihukum. Kerajaan ini kuat karena hukum yang ditegakan dan adanya keadilan.”

Sultan kemudian menyebut dalam bahasa Aceh, “Gadoh aneuk meupat jrat, gadoh hukom ngon adat pat tamita? Hilang anak masih ada kuburan yang bisa kita lihat, tetapi jika hukum dan adat yang hilang hendak kemana kita mencarinya?”

Semua pembesar kerajaan terdiam tak kuasa membantah titah Raja Perkasa yang adil ini. Mereka mulai membayangkan bagaimana masa depan negeri ini. Bahkan Menteri Kehakiman pun yang bergelar Sri Raja Panglima Wazir berusaha membujuk tetapi Sultan tetap tidak bergeming. Sultan berketetapan hati tetap melaksanakan putusannya. Sultan sendiri dengan tegas mengatakan apabila tidak ada seorang pun yang mau melakukan hukuman ini maka ia sendiri yang akan melakukannya. Pada hari yang ditentukan dilaksanakanlah hukuman pancung tersebut yang langsung dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda terhadap Putra Mahkota kesayangannya.

Di bawah linangan air mata masyarakat yang mencintai Sultan dan Putra Mahkotanya disaksikan pembesar kerajaan yang berwajah sendu dan tertunduk tidak mampu menatap kejadian tersebut, Sultan Iskandar Muda dengan tegar melaksanakan hukuman pancung terhadap Putra Mahkota kesayangannya itu. Langit kerajaan Aceh menjadi mendung kelabu.

Rakyat kebanyakan maupun pembesar kerajaan banyak yang tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Putra Mahkota. Mereka semua menaruh harapan besar terhadap Putra Mahkota sebagai pewaris kerajaan dan turunan langsung Sultan Iskandar Muda. Tetapi hukum telah ditegakan dan Sultan langsung yang melaksanakan keputusan tersebut.

Atas keputusan Sultan Iskandar Muda pula jenazah Meurah Pupok tidak dibolehkan untuk dimakamkan dikompleks pemakaman kerajaan. Pemakaman kerajaan disebut dengan Kandang Mas yang berada dilingkungan Keraton Darul Donya. Jenajah hanya dimakamkan disuatu kompleks di luar area Keraton yaitu didekat lapangan pacuan kuda Medan Khayali.

Waktu terus berjalan, Sultan mulai memikirkan siapa penggantinya. Kemudian berkembanglah sebuah informasi bahwa Putra Mahkota Meurah Pupok yang bergelar Sultan Muda Poteu Cut, memang sengaja disingkirkan oleh sebuah konspirasi. Oleh sekelompok orang tertentu yang tidak menginginkannya menjadi Raja atau Sultan, mencoba mencari berbagai cara untuk mencegahnya menjadi Sultan. Kelompok ini tidak berani berhadapan secara langsung dengan Sultan atau melakukan tindakan gegabah. Mereka berusaha menjebak Putra Mahkota dengan berbagai cara. Dicarilah akal bulus untuk menggoda Sultan Muda yang sedang menanjak dewasa ini. Sebagai pria muda ia dianggap akan mudah tergoda dengan wanita.

Akhirnya ditemukan seorang wanita jelita yang kebetulan pula istri seorang Perwira Kerajaan dan kepercayaan Sultan Iskandar Muda. Karena istri seorang perwira kepercayaan Sultan, wanita ini dengan mudah masuk kedalam lingkungan Istana. Sehingga ia dengan mudah bergaul di istana dan mendekati Pangeran Muda yang tampan yang juga adalah seorang Putera Mahkota. Akhirnya akibat godaan sedemikian rupa Sultan Muda terjebak kedalam skenario yang dibuat oleh konspirasi jahat yang bertujuan ingin menjebak dan menyingkirkannya. Akhirnya sebagaimana diketahui bersama konspirasi jahat itu berhasil menyingkirkan Putra Mahkota Sultan Muda yang bernama asli Meurah Pupok.

Informasi ini sampai ketelinga Sultan Iskandar Muda, namun semuanya telah terjadi. Ia mulai membayangkan Putra kesayangannya tersebut yang juga Putra Mahkota yang kelak diharapkan melanjutkan kepemimpinannya. Terbayang olehnya akan wajah seorang pemuda tampan namun minim pengalaman.

Di tengah usianya yang menanjak dewasa sangat mungkin ia mudah tergoda. Sultan mulai menyesali kealpaannya dalam mengawasi Putra Mahkota kesayangannya itu. Ia dirundung kesedihan mendalam. Kesedihan yang terus menerus ini membuat Sultan jatuh sakit. Sakitnya berlangsung terus dan semakin parah. Dalam beberapa waktu kemudian Sultan Iskandar Muda yang perkasa ini akhirnya mangkat tepatnya pada tanggal 27 Desember 1636.

Sulthan Iskandar Muda: the Greatest King of Aceh

Sulthan Iskandar Muda the Greatest King of Aceh



Kisah Sultan Iskandar Muda Tegakkan Had pada Putra Mahkota

A. Pendahuluan

Dengan Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511), dan juga Pase (1522), banyaklah pedagang yang mencari pangkalan baru di Aceh. Kemudian timbullah suatu kerajaan di Aceh. Aceh mewakili pusat dunia Islam di Asia Tenggara. Bahkan Aceh merupakan pintu transmisi jalur perjalanan penyebaran agama Islam ke Seluruh wilayah Asia Tenggara.

Karena itulah Aceh terkenal dengan sebutan Serambi Mekah. Pada pertengahan abad ke XII.M Kerajaan Indra Purba (Lamuri) mendapat serangan dari dari kerajaan Seudu (Cantoli) yang dipimpin oleh “Puteri Nian Nio Liang Khi” (Putroe Neng), yang memerintah masa itu adalah Maharaja Indra Sakti.

Dalam suasana peperangan inilah datang rombongan Syah Hudan (Syekh Abdullah Kan’an) yang terdiri dari 300 umat Islam yang datang bersama keluarganya, Termasuk Meurah Johan. Mereka datang dari Perlak. Pasukan Putroe Neng berhasil dikalahkan oleh mereka. Dan kemudian Maharaja Indra Sakti dan seluruh rakyat Indra Purba masuk Islam.

Maharaja Indra Sakti menikahkan putrinya dengan Meurah Johan. Sehingga setelah raja wafat kedudukannya diambil alih oleh Meurah Jauhan, dan mendirikan negara dengan nama “Kerajaan Darussalam” pada hari Jum’at bulan Ramadhan, tahun 601.H/1205.M.

Ali Mughayat Syah mempunyai pikiran untuk menyatukan kerajaan-kerajaan kecil dibawah satu kekuasaan, menjadi besar dan disegani lawan.  Oleh karenanya Dia meminta ayahnya menyerahkan jabatan pimpinan negara kepadanya. Setelah ia menjadi raja, ia berhasil mewujudkan keinginannya, dan juga berhasil mengusir Portugis dari Samudra Pasai.

Pada hari Kamis, 20 Februari 1511 diproklamirkanlah berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam. Ali Mughayat Syah meninggal pada 12 Zulhijjah 936 (17 Agustus 1530) dan di makamkan di Kandang XII, Banda Aceh.

 Kerajaan Aceh Darussalam mencapai zaman keemasannya (The Golden Year) pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Dibawah pemerintahannya Aceh menjadi sangat besar, kuat, aman, dan makmur, maju dan kaya.

Mengenai Aceh pada zaman Sultan Iskandar Muda sudah ditulis oleh beberapa ahli, diantaranya: Denys Lombard, dengan bukunya yang berjudul “Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636)”, buku ini menceritakan secara mendetail mengenai tokoh Iskandar Muda dan keadaan Sosial, ekonomi dan politik pada masa itu.

Ali Hasjmy, dengan bukunya yang berjudul “Iskandar Muda Meukuta Alam”, yang merupakan sebuah biografi Iskandar Muda. dan Rusdi Sufi dengan bukunya yang berjudul “Pahlawan Nasional Sultan Iskandar Muda”, yang menuliskan mengenai tokoh Iskandar Muda, mencakup segala hal mengnainya, dan hal-hal yang dicapainya selama memerintah, dan lain sebagainya.

1. Rumusan Masalah 

Siapakah Iskandar Muda? 
Bagaimana cara Iskandar Muda mendapatkan tahta kerajaan? 
Bagaimanakah sistem peradilan pada masa Iskandar Muda?

2. Tujuan Pembahasan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar pembaca dapat mengetahui siapa itu tokoh Iskandar Muda, benarkah cerita-cerita rakyat mengenai tokoh ini, dan untuk mengungkapkan bagaimana kehidupan Iskandar Muda semasa sebelum menjadi Sultan, latar belakang dirinya, dan juga untuk mengungkapkan bagaimana peradilan pada masa itu.

3. Argumen

Selama ini banyak cerita-cerita yang beredar luas dalam masyarakat Aceh mengenai tokoh Iskandar Muda dan kebesarannya. Banyak cerita-cerita ini mulai tidak logis dan terlalu dibesar-besarkan oleh masyarkat. Bahkan mengenai asal-usul Iskandar Muda sering dilebih-lebihkan, seperti dalam Hikayat Aceh yang menguraikan sejarah bermitos sebelum Iskandar Muda.

Pada awalnya dikatakan ada seorang pangeran dari Lamri yang bernama Munawar Syah, keturunan dari Iskandar Zulkarnain. Dari seorang putri “berdarah putih”, perikahyangan. Sultan Munawar Syah menurut Hikayat Aceh ini adalah moyangnya Sultan Iskandar Muda.

Bahkan nama Iskandar Muda sendiri bukanlah Iskandar Muda, tidak ada teks baik dari Aceh maupun dari Eropa yang menyatakan nama ini. Menurut kronik yang diterjemahkan oleh Duluaurier mengatakan bahwa sang pengeran diberi nama Iskandar Muda pada hari penobatannya.

Tampaknya mengenai gelar Iskandar Muda ini merupakan pengaruh dari mitos Iskandar Zulkarnain. Seperti yang diungkapkan oleh Lombard dalam bukunya yang berjudul Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), ia mengatakan bahwa suatu hal yang pasti¬ ¬— dan yang sudah tentu lebih penting dari hanya sekedar gelar saja — ialah pengaruh mitos Iskandar Zulkarnain.

B. Aceh Sebelum Sultan Iskandar Muda

Kerajaan Aceh Darussalam berawal dari kerajaan Lamuri, dengan raja pertamanya adalah Sultan Alaiddin Jauhan Syah. Namun nama kerajaan saat itu adalah Kerajaan Darussalam. Aceh baru menjadi Kerajaan Aceh Darussalam pada masa pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah, dialah yang mempersatukan kerajaan Aceh di bawah satu negara. Ia mempersatukan negeri Pidir, daya, dan Samudra Pasai dibawah kekuasaannya.

Kerajaan Aceh Darussalam mengukuhkan kekuatannya pada masa Sultan Alaidin Ri’ayah Syah Al-Qahar, pada masanya ia berhasil mengusir Portugis yang mendarat di Ujung Sudeuen. Dia juga Melakukan ekspansi-ekspansi ke banyak Kerajaan, seperti Barus, Batak dan Aru.

 Untuk mejaga keutuhan kerajaan ini Dia menempatkan orang-orang kepercayaannya di daerah-daerah pengaruh kesultanan Aceh. Selain itu usaha yang berhasil dilakukannya adalah mengembangkan kekuatan angkatan perang, yaitu dengan meminta bantuan dari Turki Usmani Dalam menghadapi Portugis , mengembangkan perdagangan, yaitu dengan membuka 4 pelabuhan, yakni Pantai Cermin, Daya, Pidie dan Pasai.

Dalam Bandar-bandar dan pekan-pekan didapati pedagang-pedagang asing dari pelbagai kebangsaan, seperti Arab Cina, dan Persi. Perdagangan Lada sangat maju, sehingga Sultan memperhebat penanaman Lada dengan membuka kebun-kebun Lada Selain itu, Sultan juga mengadakan hubungan internasional dengan kerajaan Islam yang ada di Timur Tengah, seperti Turki, dan Mesir.

Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya surat-surat kerajaan yang masih tersimpan di dokumen Turki, yang dapat ditemukan di rekaman Mühimme yang dikeluarkan oleh Divan-i Humayun . Sultan Aceh yang cukup terkenal selanjutnya adalah Ali Ri’ayat Syah dengan gelar Saidil Mukammil, beliau adalah kakek dari Sultan Iskandar Muda.

Pada masanya Belanda pertama kali datang ke Aceh yang dipimpin oleh de Houtman bersaudara. Pada kedatangan yang pertama ini mereka disambut dengan baik dengan Sultan, namun, Karena adanya kesalah pahaman terjadilah pertempuran yang menewaskan Cornelis de Houtman sedangkan saudaranya ditahan bersama dengan sisa-sisa awak kapalnya.

 Namun, Pada tahun 1602 Belanda kembali datang ke Aceh untuk berdamai, dengan membawa sepucuk Surat dari Prints Maurits. Hal ini disambut baik oleh pihak Aceh. Sultan mengirimkan 3 orang utusan ke Belanda Selanjutnya kekuasaan jatuh ke tangan Sultan Ali Ri’ayat Syah yang merebut kekuasaan dari ayahnya sendiri, akibatnya terjadilah peperangan antara ia dan Raja Hussain Syah.

Pertempuran ini menewaskan Raja Hussain Syah, dan Sultan Iskandar Muda yang membantu Raja Hussain ditawan. Keadaan Aceh sebelum naiknya Iskandar tidak terlalu baik, kerajaan Aceh pada masa sebelumnya merupakan kancah perampokan dan pembunuhan dan ketidak aturan yang sangat menyedihkan. Oleh karenanya pemerintahan berjalan dengan tidak memuaskan rakyat.

C. Tokoh Iskandar Muda

Dari pihak leluhur ibu, Iskandar keturunan Raja Darul Kamal, dan dari pihak leluhur ayah keturunan keluarga Raja Makota Alam. Aceh Darussalam sendiri adalah gabungan dari kedua kerajaan ini, sehingga Iskandar Muda berhak sepenuhnya menuntut tahta. Ayah Iskandar Muda bernama Mansyur Syah bin Abdul Djalil bin Al-Kahar. Dengan demikian, beliau termasuk dalam pertalian keluarga dengan sultan Aceh sebelumnya. Dari pihak ibunya yaitu Puteri Indra Bangsa binti Sultan ‘Alaiddin Ri’ayat Syah Saidi al-Mukammil.

Menurut Denys Lombard, Iskandar Muda lahir sekitar tahun 1583. Pernyataan ini berdasarkan pada keterangan dari Hikayat Aceh mengenai Perkawinan antara Mansyur Syah dan istrinya. Dan juga berdasarkan keterangan dari Best yang menyatakan pada tahun 1613 menyatakan bahwa umurnya 32 tahun. Sedangkan menurut A. Hasjmy, Iskandar Muda Lahir pada malam menjelang subuh tanggal 22 Rajab 1001 H/1593 M.

Ketika lahir awalnya Iskandar Muda dinamakan Raja Sulaiman. Menurut Hikayat Aceh setelah usia tiga tahun, kakeknya memberi nama kepada cucunya dengan nama Abangta Raja Munawar Syah, kemudian Tun Pangkat Darma Wangsa, kemudian dalam usia yang masih muda bermacam nama sesuai dengan kehebatannya, seperti Pancagah dan lain-lain.

Sedangkan mengenai nama Iskandar Muda menurut kronik yang diterjemahkan oleh Duluaurier mengatakan bahwa sang pengeran diberi nama Iskandar Muda pada hari penobatannya. Iskandar Muda telah menjadi piatu semenjak usianya dua tahun. Ayahnya wafat dalam pertempuran di Laut Aru antara Armada Portugis dengan Armada Aceh. Didalam pergaulan taman kanak-kanak, ia selalu bbermain bersama sesarnanya yang diperhatlikan diatas balairong dan ditempat-tempat perjamuan. Selelah selesai mengaji mereka suka mengadakan satu permainan yang dinamakan "MEURADJA RADJA" (beraja-raja).

Naskah Hikayat Aceh mengkisahkan tentang pertumbuhannya Sultan Iskandar Muda. Disebutkan bahwa ketika umurnya 4 tahun, kakeknya yang menyayanginya secara khusus, memberinya "gajah emas dan kuda untuk permainannya". Selain itu juga sebuah mainan otomatis berupa dua ekor domba yang dapat berlaga, lalu gasing dan kelereng dari emas atau dari suasa. Ketika ia berumur 5 tahun, kakeknya memberikan seekor anak gajah bernama Indra Jaya sebagai teman bermain. Pada umur 6 tahun, anak itu sudah berburu gajah Har, pada umur 8 tahun ia suka bermain perahu di sungai mengatur perang. Peperangan dengan meriam-meriaman kecil.

Pada umur 9 tahun ia membagi perang-perangan sambil membangun benteng-benteng pertanahan kecil, pada umur 12 tahun ia berburu kerbau Har waktu mencapai umur 13 tahun ia mulai bekerja dengan bimbingan Fakih Raja Indra. Si kakek menyuruh membuatkan 30 batu tulis dari logam mulai bagi cucunya dan teman-temannya. Ia juga belajar membaca Al-Qur'an. Lalu seorang guru pedang ditugaskan mengajarkan kepandaian main pedang.

Mengenai sifat Sultan Iskandar Muda banyak berita yang bertentangan satu sama lain. Misalnya sumber-sumber Aceh seperti Bustanul Salatin, memberikan pujian-pujian sifat Sultan ini. Antara lain menyebutkan: "Ialah yang Johan pahlawan lagi perkasa, dan kebijaksanan pada segala barang perkataannya, dan pada segala kelakuannya, dan telah elok sikapnya". Sebaliknya sumber-sumber Barat seperti laporan perjalanan Augustin de Beaulieu yang datang ke Aceh pada tahun 1621 menyebutkan sifat-sifat kekejaman Sultan Iskandar Muda.

D. Penobatan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Sultan Muda merebut kekuasaan dari ayahnya, yang mengakibatkan ia berperang dengan Raja Hussain. Raja Hussain wafat dalam peperangan ini dan Iskandar ditawan. Dalam masa-masa ini lagi-lagi Portugis datang menyerang Aceh pada tahun 1606. Pasukan mereka dipimpin oleh Alfonso de Castro Ketika Iskandar mendengar adanya penyerangan itu, maka ia mohon kepada Sultan agar dia diperkenankan ikut berperang melawan Portugis. Dan permohonan ini dikabulkan oleh Sultan Aceh.

Kemudian dia dan tentara Aceh melakukan penyerangan terhadap Portugis. Tentara Aceh menang dan berhasil mengusir Portugis dari Aceh. Malam itu juga si Paman dinyatakan meninggal, dan pahlawan hari itu dinyatakan sebagai Sultan menurut Bustan us-Salatin Iskandar dinyatakan sebagai Sultan pada 6 Zulhijah 1015 H (awal April 1607).

Sultan Iskandar Muda mangkat dengan tiba-tiba pada tanggal 27 Desember 1636. Mungkin kematiannya ini disebabkan karena kena racun yang diberikan oleh para wanita Makasar kepadanya atas perintah orang-orang Portugis. Hal ini dapat diketahui dari laporan Gubernur Jendral Kompeni Belanda di Batavia, yakni Antonio van Diemen. Pada tanggal 9 Desember 1636.

E. Peradilan 

Mengikuti Bustan us-Salatin Iskandar Muda telah melaksanakan undang-undang Islam di Aceh, seperti melaksanakan hukuman hudud bagi pencuri dan penzina. Juga dikatakan dia telah memerintahkan rakyat untuk mengerjakan dengan taan rukun Islam, terutama dalam bidang sembahyang dan puasa.

Dia juga mengharamkan meminum arak dan bermain judi. Undang-undang yang digunakan pada masa ini dikenal dengan nama Qanun Meukuta Alam al-Asyi yang bersumberkan Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ Ulama, dan Qiyas. Qanun ini menetapkan empat jenis hukum, yaitu:

a. Kekuasaan Hukum, yang dipegang oleh Kadil Malikul Adil.
b. kekuasaan Adat, yang dipehgang oleh Sultan Malikul Adil.
c. kekuasaan Qanun, yang dipegang oleh Majlis Mahkamah Rakyat.
d. kekuasaan Reusam, yang dipegang oleh penguasa tunggal, yaitu Sultan sebagai penguasa tertinggi waktu negara dalam keadaan perang.

Dalam Qanun Meukuta Alam ini juga disebutkan bahwa dalam memerintah kerajaan, Sultan tunduk kepada Qanun. Sedangkan kadli Malikul Adil, Mufti Empat Besar, Keurukon Katibul Muluk dan Perdana Menteri serta sekalian Menteri Kerajaan Aceh, tunduk kepada Sultan dan juga Qanun. Menurut Augustin de Bealieu pada masa ini ada empat macam lembaga pengadilan di Aceh, yitu perdata, pidana, agama, dan niaga. Pengkhususan yang begitu konkret ini menunjukkan betapa pada masa itu Aceh sudah sangat maju dalam hal peradaban.

Pengadilan perdata diadakan setiap pagi kecuali pada hari Jum'at di sebuah balai (Bali) besar dekat mesjid utama. Yang mengetuainya salah seorang dari orang kaya yang paling berada. Kegiatan pengadilan perdata ini misalnya dalam hal perkawinan bagaimana pengadilan telah bertindak dengan memberikan surat pengakuan. Pengadilan pidana terdapat dibalai lainnya ke arah gerbang istana. Yang menjadi ketuanya adalah sejumlah orang kaya paling penting. Mereka bergantian dalam memimpin jalannya peradilan.

Pengadilan ini menangani persengketaan yang muncul di kota seperti pembunuhan atau pencurian. Beaulieu mengungkapkan kekagumannya mengenai ketika seorang penjahat ditangkap karena berkelakuan buruk, bahkan oleh gadis muda atau anak kecil sekalipun, ia tidak berani melarikan diri melainkan tetap diam seperti patung.

Mengenai undang-undang yang diterapkan tidak diketahui apa-apa, tetapi cara-cara pemeriksaan dan hukuman yang dijatuhkan cukup keras. "Ujian Tuhan". Hukuman yang paling lazim ialah pukulan rotan yang "bisa dihindari dengan uang mas", artinya dengan membayar denda dan dengan menyogok algojo.

Jika kesalahannya lebih besar, maka orang yang dihukum akan kehilangan sebagian dari tubuhnya: mata dicungkil, hidung, telinga bahkan anggota badan dipancung atau dipenggal. Dalam hal yang belakangan ini, yang dipenggal kaki atau tangan, lalu buntungnya segera dicelupkan ke dalam air dingin dan dibalut dengan "kantung kulit" yang menghentikan perdarahan.

Ketika Bealieu sedang menunggu chappe (cap) dib alai ia melihat seorang laki-laki yang terperkara akibat mengintip istri tetangganya mandi, ia dikenakan hukuman 30 kali cambukan. Tetapi si penjahat bernegoisasi dengan si algojo, ia menawarkan 20 mas dan langsung dibayar ditempat sehingga ia hanya menerima 29 kali cambukan rotan dalam keadaan tetap berpakaian.

 Jika kejahatan dihukum mati, maka si terhukum disulakan, ini berlaku untuk orang kecil, karena orang terkemuka menjalani hukuman mati dengan cara yang lebih "sopan".

Mereka ditempatkan di ladang luas yang tertutup, diberi semacam sabit besar sebagai senjata dan dengan demikian harus membela diri seorang diri melawan segerombolan penyerang — yang pada umumnya terdiri atas sanak saudara keluarga yang dirugikan (terutama dalam hal zina). Maka mereka masih mempunyai harapan.

Dicatat bahwa keempat "merinyu atau sersan mayor" yang tugasnya menjaga ketertiban di keempat daerah kota masing-masing tidak selalu membawa si tertuduh ke pengadilan, tetapi dapat menghukum penjahat, pelaku pencurian kecil-kecilan yang tertangkap basah hingga diikat pada tiang hukuman dan dikenakan denda.

Pengadilan agama dipimpin oleh Kadi. Ia memiliki kekuasaan atas mereka yang dianggap melanggar hukum agama. Mungkin kekuasaan pengadilan itu diperkuat oleh Sultan yang ingin agar dipatuhi aturan-aturan akhlak dan perilaku keagamaan yang baik, yang menurut Bustan us-Salatin ditegakkan olehnya.

Pengadilan niaga berada di dekat pelabuhan, di “Alfandegue” ada "balai tempat diselesaikan segala perselisihan antara pedagang, baik yang asing maupun yang pribumi". Pengadilan ini diketuai "orang kaya Laksamana yang boleh dianggap sama dengan wali kota". Sejumlah besar sida-sida sibuk melaksanakan perintahnya.

Kesimpulan 


 Iskandar Muda adalah anak dari Mansyur Syah Aceh sebelumnya. Dari pihak ibunya yaitu Puteri Indra Bangsa. Ia adalah cucu dari Sultan Alaiddin Riayat Syah. Walaupun ia telah menjadi Yatim sejak usia dua tahun ia hidup bahagia dan mendapatkan keahlian yang cukup memadai bagi seorang Sultan dikarenakan ia merupakan cucu kesayangan Sultan Saydil al-Mukamil.

 Ketika berumur sekitar 24 tahun ia menjadi Sultan Aceh, dan mengantarkan Aceh ke puncak kejayaannya. Ia membuat Aceh menjadi sangat aman dan damai dengan diterapkannya Qanun meukuta Alam. Dari undang-undang yang dibuatnya dan lembaga peradilan yang ada pada masa itu telah menunjukkan kepada kita secara garis besar bagaimana majunya Aceh. Dan betapa hak setiap orang harus dihargai semasa itu.

Bahkan orang-orang barat terheran-heran bagaimana setiap orang mematuhi hukum dan tidak mencoba melarikan diri sewaktu ditangkap. Yang perlu kita ingat adalah bahwa memang benar Aceh pernah mencapai zaman keemasan, bukan hanya sekedar cerita rakyat saja. Dan tokoh Iskandar Muda merupakan raja yang sanggat cerdas sehingga mampu mengantarkan Aceh ke zaman keemasannya.

DAFTAR REFERENSI

Amin, Samsul Munir . 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah. Chaidar, Al. 1999.
Gerakan Aceh Merdeka Jihad Rakyat Aceh Mewujudkan Negara Islam. Jawa Barat: Madani Press. Djamil, M. Junus. 1968.
Tawarich Radja-Radja Keradjaan Atjeh. Banda Aceh: Adjdam-I/Iskandarmuda. Halimi, Ahmad Jelani. 2008.
Sejarah dan Tamaddun Bangsa Melayu. Kuala Lumpur: Unipress Printer SDN BHD. Hasjmy, Ali . 1975.
Iskandar Muda Meukuta Alam. Jakarta: Bulan Bintang. Kurdi, Muliadi. 2009.
Aceh di Mata Sejarawan. Banda Aceh: LKAS. Lombard, Denys. 2008.
Kerajaan Aceh Zaman Sulthan Iskandar Muda (1607-1636). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Muljana,Slamet. 2005.
Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LKIS. Poesponegoro, Marwati Djoened. 2008.
Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: Balai Pustaka. Reid, Anthony dkk. 2011.
Memetakan Masa Lalu Aceh. Bali: Pustaka Larasan. Reid, Anthony. 2010.
Sumatra Tempo Doeloe, dari Marco Polo sampai Tan Malaka. Jakarta: Komunitas Bambu. Said, Mohammad. 2009.
Aceh Sepanjang Abad. Medan: Harian Waspada Medan. Soekomo, R. 1981.
Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Yogyakarta: Kansius. Sufi, Rusdi dan Agus Budi Wibowo. 2006. Kerajaan-Kerajaan Islam di Aceh. NAD: Badan Perpustakaan Nangroe Aceh Darussalam. Sufi, Rusdi dkk. 2008.
Aceh Tanah Rencong. NAD: Pemerintah Nangroe Aceh Darussalam. Sufi, Rusdi. 1995.
Pahlawan Nasional Sultan Iskandar Muda. Jakarta: CV Dwi Jaya Karya. Zainuddin, H.M. 1957.
Singa Atjeh. Medan: Pustaka Iskandar Muda. Zainuddin, H.M. 1961.
Tarich Atjeh dan Nusantara. Medan: Pustaka Iskandar Muda.

Tuesday, April 22, 2014

Wali Songo Para Utusan Khilafah Utsmaniyyah

Wali Songo Para Utusan
Khilafah Utsmaniyyah

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIoEH4EVoOdsurQ8tSDzE6NxaISxSu83Hnx8_Wt5AUpctsYuvVhtT-ly_vOpz2Z2XKP6_3JudZrZNxDP4QPcpoaUi5g7u33bKcbBNeEWZfOq3PWysE2T1-1GRJtNiHucEjXFVE/s1600/Ilustrasi_Walisongo.jpg

Dakwah Walisongo ke timur jauh diambil dari sebuah sumber yang tersimpan di Museum Istana Turki Istanbul, dimana dicatat dalam sejarah bahwa gerakan Walisongo  dibentuk oleh Sultan Muhammad I, pada tahun 1404 M (808 H).

Berdasarkan laporan dari saudagar Gujarat, India, Sultan Muhammad I mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta untuk dikirim beberapa Ulama. Maka setelah dikumpulkan, Sultan Muhammad I mengirim 9 orang yang memiliki kemampuan di berbagai bidang dan juga memahami ilmu agama, untuk diberangkatkan kepulau Jawa pada tahun 1404 M, mereka ini dipimpin oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli tata negara, berita ini tertulis dalam kitab Kanzul ‘Hum karangan Ibn Bathuthah, yang kemudian dilanjutkan oleh Sheikh Maulana Al Maghribi (1)

Jadi, Walisongo sesungguhnya adalah para dai atau ulama yang diutus khalifah di masa Kekhilafahan Utsmani untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Dan jumlahnya ternyata tidak hanya sembilan (Songo). Ada 6 angkatan yang masing-masing jumlahnya sekitar sembilan orang. Memang awalnya dimulai oleh angkatan I yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, pada tahun 1400 an. Ia yang ahli politik dan irigasi itu menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestina yang berdakwah di Banten. Yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliudin. Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologis dan ideologis dengan Palestina.

Lalu ada Syekh Ja’far Shadiq dan Syarif Hidayatullah yang di sini lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Keduanya juga berasal dari Palestina. Sunan Kudus mendirikan sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang kemudian disebut Kudus – berasal dari kata al Quds (Jerusalem).

Dari para wali itulah kemudian Islam menyebar ke mana-mana hingga seperti yang kita lihat sekarang. Oleh karena itu, sungguh aneh kalau ada dari umat Islam sekarang yang menolak khilafah. Itu sama artinya ia menolak sejarahnya sendiri, padahal nenek moyangnya mengenal Islam tak lain dari para ulama yang diutus oleh para khalifah.

Islam masuk ke Indonesia pada abad 7M (abad 1H), jauh sebelum penjajah datang. Islam terus berkembang dan mempengaruhi situasi politik ketika itu. Berdirilah kesultanan-kesultanan Islam seperti di Sumatera setidaknya diwakili oleh institusi kesultanan Peureulak (didirikan pada 1 Muharram 225H atau 12 November tahun 839M), Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang; Ternate, Tidore dan Bacan di Maluku (Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440); Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Sintang dan Kutai di Kalimantan.

Adapun kesultanan di Jawa antara lain: kesultanan Demak, Pajang, Cirebon dan Banten. Di Sulawesi, Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Sementara di Nusa Tenggara penerapan Islam di sana dilaksanakan dalam institusi kesultanan Bima. Setelah Islam berkembang dan menjelma menjadi sebuah institusi maka hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dan sistemik dalam kesultanan-kesultanan tersebut.

Periodisasi Dakwah Wali Songo


Kita sudah mengetahui bahwa mereka adalah Maulana Malik Ibrahim ahli tata pemerintahan negara dari Turki, Maulana Ishaq dari Samarqand yang dikenal dengan nama Syekh Awwalul Islam, Maulana Ahmad Jumadil Kubra dari Mesir, Maulana Muhammad al-Maghrabi dari Maroko, Maulana Malik Israil dari Turki, Maulana Hasanuddin dari Palestina, Maulana Aliyuddin dari Palestina, dan Syekh Subakir dari Persia. Sebelum ke tanah Jawa, umumnya mereka singgah dulu di Pasai. Adalah Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah penguasa Samudra Pasai antara tahun 1349-1406 M yang mengantar Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa.

Pada periode berikutnya, antara tahun 1421-1436 M datang tiga da’i ulama ke Jawa menggantikan da’i yang wafat. Mereka adalah Sayyid Ali Rahmatullah putra Syaikh Ibrahim dari Samarkand (yang dikenal dengan Ibrahim Asmarakandi) dari ibu Putri Raja Campa-Kamboja (Sunan Ampel), Sayyid Ja’far Shadiq dari Palestina (Sunan Kudus), dan Syarif Hidayatullah dari Palestina cucu Raja Siliwangi Pajajaran (Sunan Gunung Jati).

Mulai tahun 1463M makin banyak da’i ulama keturunan Jawa yang menggantikan da’i yang wafat atau pindah tugas. Mereka adalah Raden Paku (Sunan Giri) putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu, Raja Blambangan; Raden Said (Sunan Kalijaga) putra Adipati Wilatikta Bupati Tuban; Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang); dan Raden Qasim Dua (Sunan Drajad) putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati, putri Prabu Kertabumi Raja Majapahit.

Banyaknya gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian yang berarti Tuanku di kalangan para wali, menunjukkan bahwa dakwah Islam sudah terbina dengan subur di kalangan elit penguasa Kerajaan Majapahit. Sehingga terbentuknya sebuah kesultanan tinggal tunggu waktu.

Hubungan tersebut juga nampak antara Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah. Bernard Lewis menyebutkan bahwa pada tahun 1563M, penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istambul untuk meminta bantuan melawan Portugis sambil meyakinkan bahwa sejumlah raja di kawasan tersebut telah bersedia masuk agama Islam jika kekhalifahan Utsmaniyah mau menolong mereka.

Saat itu kekhalifahan Utsmaniyah sedang disibukkan dengan berbagai masalah yang mendesak, yaitu pengepungan Malta dan Szigetvar di Hungaria, dan kematian Sultan Sulaiman Agung. Setelah tertunda selama dua bulan, mereka akhirnya membentuk sebuah armada yang terdiri dari 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya yang mengangkut persenjataan dan persediaan untuk membantu masyarakat Aceh yang terkepung.

Namun, sebagian besar kapal tersebut tidak pernah tiba di Aceh. Banyak dari kapal-kapal tersebut dialihkan untuk tugas yang lebih mendesak yaitu memulihkan dan memperluas kekuasaan Utsmaniyah di Yaman. Ada satu atau dua kapal yang tiba di Aceh. Kapal-kapal tersebut selain membawa pembuat senjata, penembak, dan teknisi juga membawa senjata dan peralatan perang lainnya, yang langsung digunakan oleh penguasa setempat untuk mengusir Portugis. Peristiwa ini dapat diketahui dalam berbagai arsip dokumen negara Turki.

Hubungan ini nampak pula dalam penganugerahan gelar-gelar kehormatan diantaranya Abdul Qadir dari Kesultanan Banten misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Mekkah saat itu. Demikian pula Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram memperoleh gelar Sultan dari Syarif Mekah tahun 1051 H (1641 M ) dengan gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami. Pada tahun 1638 M, sultan Abdul Kadir Banten berhasil mengirim utusan membawa misi menghadap syarif Zaid di Mekah.

Hasil misi ke Mekah ini sangat sukses, sehingga dapat dikatakan kesultanan Banten sejak awal memang meganggap dirinya sebagai kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. Sultan Ageng Tirtayasa mendapat gelar sultan dari Syarif mekah.

Hubungan erat ini nampak juga dalam bantuan militer yang diberikan oleh Khilafah Islamiyah. Dalam Bustanus Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri disebutkan bahwa kesultanan Aceh telah menerima bantuan militer berupa senjata disertai instruktur yang mengajari cara pemakaiannya dari Khilafah Turki Utsmani (1300-1922).

Bernard Lewis (2004) menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis. Dikirimlah 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya pengangkut persenjataan dan persediaan; sekalipun hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh.

Tahun 1652 kesultanan Aceh mengirim utusan ke Khilafah Turki Utsmani untuk meminta bantuan meriam. Khilafah Turki Utsmani mengirim 500 orang pasukan orang Turki beserta sejumlah besar alat tembak (meriam) dan amunisi. Tahun 1567, Sultan Salim II mengirim sebuah armada ke Sumatera, meski armada itu lalu dialihkan ke Yaman. Bahkan Snouck Hourgroye menyatakan, “Di Kota Makkah inilah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar ke seluruh penduduk Muslimin di Indonesia.” Bahkan pada akhir abad 20, Konsul Turki di Batavia membagi-bagikan al-Quran atas nama Sultan Turki.

Di istambul juga dicetak tafsir al-Quran berbahasa melayu karangan Abdur Rauf Sinkili yang pada halaman depannya tertera “dicetak oleh Sultan Turki, raja seluruh orang Islam”. Sultan Turki juga memberikan beasiswa kepada empat orang anak keturunan Arab di Batavia untuk bersekolah di Turki.

Pada masa itu, yang disebut-sebut Sultan Turki tidak lain adalah Khalifah, pemimpin Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Selain itu, Snouck Hurgrounye sebagaimana dikutip oleh Deliar Noer mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan pada umumnya di Indonesia, terutama mereka yang tinggal di pelosok-pelosok yang jauh di penjuru tanah air, melihat stambol (Istambul, kedudukan Khalifah Usmaniyah) masih senantiasa sebagai kedudukan seorang raja semua orang mukmin yang kekuasaannya mungkin agaknya untuk sementara berkurang oleh adanya kekuasaan orang-orang kafir, tetapi masih dan tetap [dipandang] sebagai raja dari segala raja di dunia. Mereka juga berpikir bahwa “sultan-sultan yang belum beragama mesti tunduk dan memberikan penghormatannya kepada khalifah.” Demikianlah, dapat dikatakan bahwa Islam berkembang di Indonesia dengan adanya hubungan dengan Khilafah Turki Utsmani.

Dengan demikian, keterkaitan Nusantara sebagai bagian dari Khilafah, baik saat Khilafah Abbasiyah Mesir dan Khilafah Utsmaniyah telah nampak jelas pada pengangkatan Meurah Silu menjadi Sultan Malikussaleh di Kesultanan Samudra-Pasai Darussalam oleh Utusan Syarif Mekkah, dan pengangkatan Sultan Abdul Kadir dari Kesultanan Banten dan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram oleh Syarif Mekkah.

Dengan mengacu pada format sistem kehilafahan saat itu, Syarif Mekkah adalah Gubernur (wali) pada masa Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Utsmaniyah untuk kawasan Hijaz. Jadi, wali yang berkedudukan di Mekkah bukan semata penganugerahan gelar melainkan pengukuhannya sebagai sultan. Sebab, sultan artinya penguasa. Karenanya, penganugerahan gelar sultan oleh wali lebih merupakan pengukuhan sebagai penguasa Islam. Sementara itu, kelihatan Aceh memiliki hubungan langsung dengan pusat khilafah Utsmaniyah di Turki.

Kesimpulan


Jumlah dai yang diutus ini tidak hanya sembilan (Songo). Bahkan ada 6 angkatan yang dikirimkan, masing-masing jumlanya sekitar sembilan orang. (Versi lain mengatakan 7 bahkan 10 angkatan karena dilanjutkan oleh anak / keturunannya)

Para Wali ini datang dimulai dari Maulana Malik Ibrahim, asli Turki. Beliau ini ahli politik & irigasi, wafat di Gresik.
- Maulana Malik Ibrahim ini menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara.

- Seangkatan dengan beliau ada 2 wali dari Palestina yg berdakwah di Banten; salah satunya Maulana Hasanudin, beliau kakek Sultan Ageng Tirtayasa.

- Juga Sultan Aliyudin, beliau dari Palestina dan tinggal di Banten. Jadi masyarakat Banten punya hubungan darah & ideologi dg Palestina.

- Juga Syaikh Ja'far Shadiq & Syarif Hidayatullah; dikenal disini sebagai Sunan Kudus & Sunan Gunung Jati; mereka berdua dari Palestina.

- Maka jangan heran, Sunan Kudus mendirikan Kota dengan nama Kudus, mengambil nama Al-Quds (Jerusalem) & Masjid al-Aqsha di dalamnya.

(Sumber Muhammad Jazir, seorang budayawan & sejarawan Jawa , Pak Muhammad Jazir ini juga penasehat Sultan Hamengkubuwono X).

Ringkasan



Wali Songo periode pertama, tahun 1404 – 1435 M, terdiri dari:
1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli rukhyah.

Wali Songo periode kedua, tahun 1435 – 1463 M, terdiri dari:
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan (tahun 1419 menggantikan Maulana Malik Ibrahim)
2. Maulana Ishaq, asal Samarqand, Rusia Selatan (W. 1463)
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina (tahun 1435 menggantikan Maulana Malik Isra’il)
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina (tahun 1435 menggantikan Maulana Muhammad Ali Akbar)
7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina (W. 1462 M)
8. Maulana ‘Aliyuddin, asal Palestina (W. 1462 M)
9. Syekh Subakir, asal Persia Iran. (W. 1463 M, makamnya di Iran)

Wali Songo periode ketiga, 1463 – 1466 M, terdiri dari:
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan, Banyuwangi, Jatim (tahun 1463 menggantikan Maulana Ishaq)
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir (W. 1465 M)
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko (W.1465 M)
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim (tahun 1462 menggantikan Maulana Hasanuddin)
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim (tahun 1462 menggantikan Maulana ‘Aliyyuddin)
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim (tahun 1463 menggantikan Syaikh Subakir)

Wali Songo periode keempat, 1466 – 1513 M, terdiri dari:
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan (w.1481)
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim (w.1505)
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak (pada tahun 1465 mengganti Maulana Ahmad Jumadil Kubra)
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon (pada tahun 1465 mengganti Maulana Muhammad Al-Maghrabi)
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim (W.1513)

Wali Songo periode kelima, 1513 – 1533 M, terdiri dari:
1. Syaikh Siti Jenar, asal Persia, Iran, wafat tahun 1517 (tahun 1481 Menggantikan Sunan Ampel)
2. Raden Faqih Sunan Ampel II ( Tahun 1505 menggantikan kakak iparnya, yaitu Sunan Giri)
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak (W.1518)
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina (W.1550)
6. Sunan Gunung Jati, asal Cirebon
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim (W.1525 M)
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim (W. 1533 M)
9. Sunan Muria, Asal Gunung Muria, [tahun 1513 menggantikan ayahnya yaitu Sunan Kalijaga]

Wali Songo periode keenam, 1479 M, terdiri dari :
1. Syaikh Abdul Qahhar (Sunan Sedayu), asal Sedayu (Tahun 1517 menggantikan ayahnya, yaitu Syaikh Siti Jenar)
2. Raden Zainal Abidin Sunan Demak (Tahun 1540 menggantikan kakaknya, yaitu Raden Faqih Sunan Ampel II)
3. Sultan Trenggana (tahun 1518 menggantikan ayahnya yaitu Raden Fattah)
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon, (W.tahun 1573)
5. Sayyid Amir Hasan, asal Kudus (tahun 1550 menggantikan ayahnya, yaitu Sunan Kudus)
6. Sunan Gunung Jati, asal Cirebon (w.1569)
7. Raden Husamuddin Sunan Lamongan, asal Lamongan (Tahun 1525 menggantikan kakaknya, yaitu Sunan Bonang)
8. Sunan Pakuan, asal Surabaya, (Tahun 1533 menggantikan ayahnya, yaitu Sunan Derajat)
9. Sunan Muria, asal Gunung Muria, (w. 1551)

Sebelumnya sudah juga terjadi hubungan dari Raja Sriwijaya Jambi pada tahun 100 H (718 M) yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayyah. Sang Raja meminta dikirimi dai yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang beragama Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama Sribuza Islam.

Sumber

Thursday, April 03, 2014

Integralisasi Peradaban Teknologi



INTEGRALISASI PERADABAN TEKNOLOGI
sebuah refleksi integralisme Islam


Armahedi Mahzar (c) 2013

Alhamdulillah Tribute Lecture for Armahedi Mahzar telah berlangsung secara lancar dengan menghadirkan pembicara-pembicara muda yang telah membahas integralisme dari berbagai sisi. Tentunya saya sangat berterima kasih atas apresiasi dan kritik terhadap wawasan integralisme yang selama ini telah saya kembangkan. Setelah mendengarkan berbagai sudut pandang  terhadap wawasan integralisme tersebut, saya mencoba menekankan kembali beberapa aspek integralisme yang pada ujungnya adalah upaya integralisasi peradaban dunia yang sekarang cenderung didominasi oleh teknologi.
Integralisasi peradaban teknologi itu pada dasarnya sebuah tahap akhir dari proses tazkiyah atau pensucian. Tazkiyah adalah esensi dari rukun Islam jika ditinjau dari kehidupan di dunia. Tahap-tahap tazkiyah bermula dengan tataran diri pribadi (tazkiyah al-nafsi)  lalu tataran kelompok (tazkiyah al jama’ati), tataran masyarakat (tazkiyah al-ijtima’i), tataran bangsa (tazkiyah al-ummati) dan berakhir pada tataran ummat sedunia (tazkiyah al-madaniyati). 

Oleh karena terdapat kesejajaran antara seorang pribadi sebagai sebuah organisme dan sebuah peradaban sebagai mega-organisme, maka kita akan mengambil tahap-tahap tazkiyah al-nafsi sebagai pola untuk reintegralisasi peradaban teknologi. Namun untuk bisa lebih mudah memahaminya ada baiknya jika kita memperhatikan dinamika perkembangan peradaban teknologi dalam pandangan integralisme.

Multilektika Integralitas:
Dinamika Sistem Integral

Jadi sebenarnya sistem integral atau integralitas mempunyai prinsip dinamikanya sendiri yang saya sebut multilektika. Sayangnya saya tak pernah menuliskannya dalam buku, namun secara lisan selalu saya sampaikan dalam diskusi antarpribadi ataupu diskusi-diskusi kelompok. Neo-adaptasionisme biologis mewujud dalam pasar bebas dalam atau liberalisme ekonomi dan mewujud sebagai demokrasi dalam politik. Dalam sektor budaya ada pasar bebas gagasan yang kini disebut sebagai multi-kulturalisme. Neo-adapsionisme, liberalisme, demokrasi dan multikulturalisme adalah pewujudan dari multilektika integralitas.

Dengan multilektika sebuah sistem integral berinteraksi melalui kompetisi dan koperasi dengan sistem-sistem lainnya membangun sistem-sistem baru yang lebih tinggi. Dalam tataran gagasan dan wawasan, setiap tesis harus melawan atau bergabung banyak altitesis untuk membangun supratesis-supratesis baru. Sebagai contoh di Eropa strukturalisme dan pos-strukturalisme bergabung menjadi plastisisme dan bentuk-bentuk dialektisisme lain, seperti misalnya strukturasionisme Anthony Giddens , dan sintesa fenomenologi dan strukturalisme oleh Pierre Bourdieu dalam sebuah praksisisme.

Itu pula yang saya lakukan ketika mengadu strukturalisme dan isme-isme Barat lainnya dengan islamisme sehingga menghasilkan wawasan integralisme yang herannya merupakan reformulasi baru dari filsafat tradisional Islam yang ternyata merupakan esensi struktural dari filsafat-filsafat tradisional lainnya baik dari Barat maupun dari timur. Perjenjangan materi-energi-informasi-nilai-sumber bukan hanya ada dalam tasauf, fiqh dan kalam Islam tetapi juga dalam konsep manusia dan alam filsafat agama-agama tradisional lainnya.

Multilektika inilah yang menjadi esensi dari proses evolusi/involusi yang berjalan dari Yang Tunggal Mutlak ke yang aneka nisbi dan dari proses devolusi/envolusi dam proses yang berjalan sebaliknya. Proses pertama itu adalah proses konstruksi dan proses kedua adalah proses dekonstruksi. Proses konstruksi/dekonstruksi itu berjalan terus menerus tanpa hentinya sehingga akhir zaman. Pada tataran terkecil materi itu adalah proses kreasi/anihilasi partikel elementer. Pada tataran pribadi proses itu adalah proses kelahiran/kematian dan pada tataran peradaban, proses itu berjalan sebagai kebangkitan/kejatuhan.

Koevolusi Sosio-Teknologi:
Perkembangan Peradaban Teknologi

Sebagai dampak dinamika mutilektik itu dalam perjalanan sejarah, teknologi dan peradaban berkembang beriringan. Misalnya, Lewis Mumford pada tahun 1930 melihat sejarah pada Technic and Civilization bahwa masayarakat berkembang dari masa Eoteknik  (kira-kira 1000 sampai dengan 1800) tang diawali oleh penemuan jam dan berujung pada penemuan mesin uap.

Kemudian berkembang memasuki masa paleoteknik (1700-1900) di mana kehidupan dibentuk oleh pabrik-pabrik berisikan mesin-mesin uap berbasis batubara yang dijalankan oleh buruh-buruh tak berketrampilan. Masa ini lalu diikuti oleh masa neoteknik (1900-1930 dan seterusnya)  ketika listrik ditemukan sehingga pabrik-pabrik terbebaskan dari dari batu-bara sehingga bisa didirikan jauh dari pegunungan lokasi tambang batu bara.

Belakangan pada tahun 1970 dalam bukunya The Myth of the Machine Vol II: The Pentagon of Power, Mumford mengamati bahwa teknologi mencapai tahap megateknik di mana produksi barang-barang dikendalikan oleh pasar konsumen yang seleranya dibentuk oleh iklan-iklan di media massa koran, majalah terutama radio dan televisi.

Saya memperlengkap pentahapan sejarah teknologi oleh Lewis Mumford itu menjadi 8 tahap memundurkan fase eoteknik menjadi masa ketika ditemukannya pesawat pada setelah revolusi perkotaan dan menambahkan satu masa arkeoteknik (ditemukannya  mesin cetak Gutenberg yang mendorong Renaissance dan revolusi sains) yang mendahului masa paleoteknik (ditemukannya mesin Watt yang melahirkan revolusi industri) dan mencirikan neotelnik dengan ditemukannya generator listrik oleh Faraday).

Saya  menganggap masa megateknik lahir dengan ditemukannya telegraf oleh Marconi dan dan diperkokoh  ditemukannya telefon, radio, film dan televisi. Penemuan Marconi inilah yang saya sebut sebagai revolusi komunikasi yang mendahului revolusi informasi yang berawal dengan ditemukannya komputer elektronik yang kemudian saling terjaring secara global melalui satelit satu sama lainnya dan dengan telepon genggam pintar. Masa akhir inilah yang saya sebut sebagai masa metateknik.

Masyarakat dan teknologi, keduanya mengalami evolusi bersamaan atau koevolusi. Koevolusi itu berkembang dengan cara bertahap yang menunjukkan perubahan karakteristik teknologi yang berkaitan secara umpan balik positip dengan tujuh perubahan revolusiner peradaban menuju suatu keseimbangan baru. Dari peradaban prateknik terdapat tujuh revolusi sosial yang didorong oleh diciptakannya jenis-jenis teknologi dengan karakteristik yang baru. Kedelapan fase perkembangan peradaban teknologi itu ditampilkan pada tabel berikut ini.

Koevolusi Peradaban Teknologi

KARAKTER
TEKNOLOGI
PERADABAN


            
Material
ORGANIK
(tangan)
PRATEKNIK
(perburuan paleolitik)
SUBORGANIK
(perkakas)
PROTOTEKNIK
(revolusi pertanian)
PARAORGANIK
(pesawat)
EOTEKNIK
(revolusi perkotaan)



Energetik
EKSTRAORGANIK
(kincir)
PALEOTEKNIK
(revolusi Gutenberg)
SEMIORGANIK
(mesin  uap)
ARKEOTEKNIK
(revolusi Watt)
SUPERORGANIK
(motor listrik)
NEOTEKNIK
(revolusi Faraday)


Informatik


MEGAORGANIK
(media elektronik)
MEGATEKNIK
(revolusi Marconi)
METAORGANIK
(jaringan telematik)
METATEKNIK
(revolusi Von Neuman)

Kalau kita mengikuti Francois Lyotard, maka era metateknik sekarang adalah era pos-modern yang dicirikan oleh budaya serba pecah (fragmentarisme), serba nisbi (relativisme), serba campur (sinkretisme) dan serba sementara (temporerisme). Di era posmodern ini perubahan-perubahan teknologi berlangsung serba cepat yang dipercepat (akseleratif) sesuai dengan hukum Moore yang berujung pada singularitas teknologi di mana kecerdasan mesin mengatasi kecerdasan manusia.

Singularitas teknologi untuk sementara orang dianggap sebagai krisis lahirnya peradaban baru teknologi di mana manusia akan menjadi abdi-abdi teknologi. Untuk yang lain peristiwa ini adalah kejang-kejang lahirnya makhluk baru di mana semua manusia melebur dengan mesin-mesin dalam satu mega-pribadi transhumanis. 

Tampaknya, tumbuh-kembang peradaban manusia menuju kelahiran mega-pribadi ini mengikuti pola tumbuh-kembang organisme manusia sebagai individu yang mengulangi pola evolusioner biosfera secara keseluruhan. Pada mulanya manusia hidup sebagai makhluk satu sel yang terus memperbanyak diri menjadi janin multiseluler dengan teknologi penyerapan pangan didalam rahim sebagai lingkungannya. Ini adalah tahap pertama tumbuh kembang yang bersifat materi.

Kemudian dia lahir sebagai bayi, mulailah tahap kedua tumbuh kembang seorang anak yang bersifat energetik. Dalam tahap ini si anak yang mengembangkan kemampuan organ luarnya, yaitu kaki dan tangan, sebagai teknologi penyaluran energi internalnya menjadi gerak terkoordinasi. Lalu pada tahap ketiga, yaitu tahap informatik, dia tumbuh sebagai anak-anak yang belajar berbicara dan kemudian bersekolah. Berbicara adalah teknologi komunikasi natural, yaitu bahasa lisan, dan menulis adalah teknologi informasi kultural.

Akhirnya, pada tahap keempat dan terakhir yaitu tahap normatif, manusia menjadi individu dewasa belajar mengembangkan pola-pola koordinasi kerja-sama dalam bentuk asimilasi nilai-nilai kelompok-kelompok sosial multi-organismik secara berjenjang dari keluarga, sekolah, kantor, pasar, negara dan dunia manusia beradab menyeluruh yang meliputi seluruh muka bumi. 

Dengan demikian tampak jelas bahwa manusia secara individu berkembang dari fase material janin, melalui fase energetik anak-anak dan fase informatik remaja sesudahnya menuju fase normatif di masa dewasa. Keempat fase itu menunjukan perkembangan integral di mana hasil dari fase yang terdahulu menjadi bagian penting bagi perkembangan fase yang terkemudian.

Dilihat dari sisi ini etika keluarga, peraturan sekolah, kode etik profesional, hukum dan undang-undang negara serta hukum internasional dan agama dapat dilihat sebagai bagian dari teknologi normatif kolektif yang dimiliki manusia melengkapi teknologi informatik kultural yang dikembangkan manusia sebagai sel-sel peradaban.

Transformasi Religio-Kultural:
 Integralisasi Peradaban Teknologi

Kalau kita perhatikan perkembangan peradaban manusia juga mengikuti fase-fase yang sama. Tiga fase pertama, yaitu fase-fase prateknik, prototeknik dan eoteknik mengembangkan teknologi material. Tiga fase berikutnya, yaitu fase-fase eoteknik, arkeoteknik, paleoteknik dan neoteknik mengembangkan teknologi-teknologi energi. Sedangkan dua fase terakhir megateknik dan meta teknik adalah pengembangan teknologi informasi.  Tampaknya fase informatik ini harus dilengkapi dengan fase normatif yang menyangkut nilai-nilai. Fase inilah yang saya sebut sebagai fase integralisasi.
Mengingat teknologi itu ibarat nafs dari peradaban sebagai mega-organisme, maka proses integralisasi peradaban itu bisa diibaratkan sebagai proses reunifikasi individu manusia terhadap Tuhan penciptanya, maka tahap-tahap proses itu akan mengulangi tahap-tahap reunifikasi individu berupa transformasi psiko-spiritual yang biasanya disebut sebagai pencerahan mistis. Mistisisme dalam Islam disebut tasawuf yang esensinya adalah tazkiyatul nafs. Oleh karena itu proses integralisasi peradaban itu saya sebut sebagai tazkiyatul madaniyah.

Karena perkembangan peradaban teknologi itu mengulangi tumbuh-kembang peribadi manusia, maka sudah selayaknya tahap-tahap tazkiyatul madaniyati meniru tahap-tahap tazkiyatul nafs dalam thariqah. Salah satu model untuk tazkiyatul nafs adalah tahap-tahap spiritual yang diajukan oleh Imam al-Ghazali dalam bukunya: Ihya Ulumuddin alias Revitalisasi Ilmu-ilmu Agama.

Tahap awal dari thariqah adalah taubat (reorientasi) dan tahap akhirnya adalah ridha (akseptasi). Tahap pertama adalah reorientasi tujuan peradaban dari eksploitasi alam menjadi harmonisasi antara alam dan manusia dalam perdamaian yang tunduk pada Yang Maha Pencipta.

Tahap-tahap lainnya adalah shabr/syukr (tabah/terima-kasih) yang menyangkut kondisi dan situasi diri, faqr/zuhd (miskin/prihatin) yang menyikapi lingkungan material,  tauhid/tawakkal (pengesaan/pasrah) yang menyikapi kondisi dan situasi eksternal masa kini, khauf/raja' (takut/harap) yang menyikapi masa depan dan berujung pada ridha/ikhlas dalam menyikapi keseluruhan hidup sebagai anugrah Ilahi.

Shabr dalam hal peradaban adalah reorientasi peradaban dengan menerima keterbatasan sumber daya alam dan syukr dalam peradaban berarti mempertahankan semangat inovasi dalam rangka memakmurkan bumi dengan cara mengangkat alam menjadi bermanfaat bagi kemanusiaan. Faqr peradaban berarti tidak melakukan konsumsi sumber daya alam secara berlebihan dan zuhd peradaban adalah meningkatkan efisiensi dan efektivitas teknologi.

Tauhid peradaban berarti memandang semua sumber-daya alam, manusia dan teknologi sebagai amanat yang diberikan Yang Maha Pencipta sebagai karunia yang harus dimanfaatkan demi pelaksanaan perintah-perintahNya dan menghindari larangan-laranganNya. Tawakkal peradaban adalah semua keadaan mulai dari sukses tenologi hingga bencana alam adalah ujian dan cobaan dari Yang Maha Pencipta agar kita selalu serasi dengan KehendakNya. Khauf peradaban berarti bahwa kita harus selalu waspada akan dampak-dampak samping negatif dari teknologi di masa depan dan Raja' peradaban berarti bahwa kita harus selalu optimis akan kemampuan manusia untuk mengendalikan dampak-dampak negatif teknologi.

Tahap terakhir ridha peradaban berarti kita harus selalu memandang peradaban teknologi sebagai anugerahNya yang senantiasa dan sebagai sarana untuk melaksanakan perintah-perintahNya dan menghindari larangan-laranganNya mencari keridhaanNya. Dengan demikian kita meletakkan peradaban teknologi sebagai perantara antara Yang Maha Pencipta dan alam CiptaanNya sebagai sarana kita untuk memuji dan mengabdi Dia sebagai satu-satunya Pencipta dan Penguasa sekalian alam. Landasan bagi seluruh tahap reintegralisasi peradaban itu adalah Tauhid Wahdatiyah.

Tauhid Wahdatiyah:
Landasan Integralisasi Peradaban

Tauhid Wahdatiyah mempunyai  susunan seperti yang terlukis dalam gambar berikut ini: landasan Din al-Islam adalah Tauhid Diniyah. Tauhid ini adalah landasan bagi peradaban Tauhid adalah Tauhid Madaniyah. Kedua Tauhid itu terintegrasi dengan Tauhid Uluhiah sebagai landasan terdasar dari keseluruhan Tauhid yang juga meliputi Tauhid Rububiyah sebagai dasar semua ilmu dan Tauhid Mu’amalah sebagai pengamalan ilmu.



Tauhid Wahdatiyah


Sebenarnya, kelima aspek Tauhid itu berkaitan dengan kelima nama dan sifat Tuhan yang tercantum dalam tiga ayat pertama dari surat pertama Al-Quran Al-Karim: Allah, Al Rabb, Al-Rahman, Al-Rahim dan Al-Malik.

Keterkaitannya adalah sebagai berikut

1.      Asma ALLAH berkaitan dengan  Tauhid Uluhiyah sebagai kesaksian atau tasyahhud akan keesaan Allah subhana wa ta’ala yang diwujudkan dalam pengabdian atau ta’abbud yang kita laksanakan seumur hidup kita secara sepenuhnya dalam perjalanan kembali menuju haribaanNya

2.       Asma Al-RABB berkaitan dengan  Tauhid Rububiyah sebagi kesaksian bahwa Dzat Allah yang transenden sebagai pencipta seluruh alam-alam nyata dan gaib dalam bentuk pelimpahan Sifat-sifatNya melalui Perintah-perintahNya berupa hukum-hukum alam yang ditaati oleh semua perbuatanNya berupa gejala-gejala alam yang menghasilkan semua ciptaanNya berupa benda-benda alami dari yang terkecil hingga yang terbesar

3.       Asma AL-RAHMAN  berkaitan dengan  Tauhid Mu’amalah sebagai kesaksian bahwa Cinta Allah mewujud dalam kehidupan seluruh makhluk hidup yang bersifat individual dan sosial yang harus direalisasi manusia melalui tazkiyah al-nafsi atau pembersihan diri mencapai nafs al-muthma’innah atau jiwa yang tenang dan melalui tazkiyah al-ijtima’i atau pembersihan masyarakat mencapai qawm al-marhamah yaitu masyarakat yang dikasihi Allah

4.       Asma AL-RAHIM berkaitan dengan  Tauhid Madaniyah sebagai kesaksian bahwa Allah menyayangi manusia yang merealisasikan tugasnya sebagai khalifah Allah atau wakilNya di muka bumi melalui ta’allum atau pencarian ilmu dalam bentuk sains dan budaya yang diikuti dengan tasyakkur atau berterima kasih dalam bentuk pengembangan teknologi dan seni sebagai komponen-komponen peradaban yang Islami dalam rangka memakmurkan bumi melalui peradaban. 

5.       Asma AL-MALIK berkaitan dengan  Tauhid Diniyah sebagai kesaksian bahwa Allah adalah pemilik al-dunya dan al-akhirat yang harus kita jalani sebagai ‘Abd Allah atau abdiNya melalui Din al-Islam yang terdiri dari ‘Aqidah fondasional, Syari’ah kolektif dan Thariqah individual

Akhirul Kalam

Integralisasi peradaban adalah sebuah keharusan di masa kini, karena dia telah sampai pada tahap informatik global. Oleh karena itu hal itu bisa dilaksanakan jika dilaksanakan secara global pula. Untuk itu kita harus dapat menguasai kemudian memproduksi teknologi informasi alternatif  mulai dari piranti lunak protokol internet hingga piranti keras prosesor yang menjadi jantung komputer-komputer yang menjadi simpul-simpul internet alternatif. 

Untuk penguasaan teknologi itu, untuk pertama kalinya adalah memanfaatkan perkuliahan massal online yang sedang mulai menjamur dewasa ini, serta memanfaatkan internet untuk pembentukan jaringan belajar untuk berbagai disiplin ilmu sehingga menjadi simpul-simpul peningkatan pengetahuan, kemampuan dan kesadaran ummat Islam sehingga sanggup membangkitkan kembali peradaban Islam yang integral untuk yang ketiga kalinya. Semoga Allah meridhai usaha kita bersama ini. Amin ya Rabbal ‘alamin.