Friday, May 10, 2013






Syeikh Ahmad Khatib
al-Minangkabawi
 
Syeikh Ahmad Khatib adalah seorang ulama terkenal asal Minangkabau, kelahiran Koto Tuo Balai Gurah, Kecamatan IV Angkat Candung, Kabupaten Agam. Beliau memulai dan mengakhiri kariernya sebagai ulama di Makkah Al Mukarramah, dan terkenal dengan panggilan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy. Kata “Al-Minangkabawy” menunjukkan bahwa beliau berasal dari Ranah Alam Minangkabau.

Hamka mencatat bahwa Ahmad Khatib dilahirkan tanggal 6 Zulhijjah 1276 Hijriyah (1860 M). Pada mulanya Ahmad Khatib akan memasuki Sekolah Raja di Bukittinggi, tetapi tidak jadi. Menurut Tamar Djaya, setelah Ahmad Khatib menamatkan Sekolah Rendah dikampungnya sendiri (tahun 1877 M).

Syekh Ahmad Khatib el Minangkabawy adalah turunan dari seorang hakim gerakan Padri yang benar-benar anti penjajahan Belanda. Ia dilahirkan di Bukittinggi pada tahun oleh ibu bernama Limbak Urai, saudara dari Muhammad Shaleh Datuk Bagindo, Laras, Kepala Nagari Ampek Angkek, berasal dari Koto Tuo Balaigurah, Kecamatan Ampek Angkek Candung. Ayahnya adalah Abdullatief Khatib Nagari, saudara dari Datuk Rangkayo Mangkuto, Laras, Kepala Nagari Kotogadang, Kecamatan IV Koto, di seberang ngarai Bukittinggi.

Limbak Urai itu adalah putri dari Tuanku Nan Rancak, seorang pembesar Padri yang menikah dengan Zainab binti Khatib Tuanku Bagindo. Beliau bersaudara sebanyak lima orang yaitu beliau sendiri, H. Aisyah, H. Mahmud, H. Hafsah dan H. Safiah, sedang dari ibu tirinya Kalsum di Koto Gadang, beliau mempunyai saudara yang bernama “Khailan Samsu”.

Limbak Urai dikawinkan dengan Abdullatif Khatib Nagari (anak Syeikh Jalaluddin Fakih Saghir). Dari pihak Bapak, beliau mempunyai hubungan dengan Inyiak H. Agus Salim (saudara sepupu) dan dari pihak ibu, Seikh Ahmad Khatib bersaudara ibu dengan H. Thaher Jalaluddin seorang Ulama Falak yang terkenal di tanah Melayu (Malaysia sekarang)


Hamka mencatat bahwa Ahmad Khatib berangkat ke Mekkah dalam usia 11 tahun, bersama ayahnya sendiri Khatib Nagari, untuk menunaikan Ibadah Haji dan mendalami ilmu agama dari alim ulama yang berada di Mekkah. Semenjak berangkat pertama, tidak pernah pulang ke Minangkabau, sampai beliau berpulang ke alam baqa di kota tersebut. Beliau juga menikah dan berketurunan disana. Isteri, anak-anak dan cucu-cucunya adalah semua orang Arab.

Di Mekah, Ahmad Khatib kecantol dengan Siti Khadijah seorang puteri dari Syekh Shaleh al-Kurdi, pemillik Toko Kitab di Babus Salam, dekat Masjidil Haram. Saleh Kurdi tertarik pada kesopanan, kerajinan dan kealiman Ahmad Khatib, yang diperhatikannya setiap hari, sewaktu keluar-masuk Masjidil Haram melewati Toko Kitabnya. Rupanya tidak cukup hanya seorang putri diamanahkan Saleh Kurdi untuk dikawini Ahmad Khatib, bahkan putrinya yang kedua juga dikawinkan dengan Ahmad Khatib setelah putrinya yang pertama itu meninggal dunia.

Dari isteri yang pertama itu mendapatkan seorang putra yang bernama Abdul Karim dan dari isteri yang kedua Ahmad Khatib dikurnai tiga orang anak yaitu Abdul Malik, Abdul Hamid dan Siti Khadijah. Dengan demikian Syeikh Ahmad Khatib mempunyai tiga orang putra dan seorang putri dari kedua putri yang bersaudara itu.

Perkampungan keluarga Syeikh tersebut di Mekkah bernama “Garara Kampung Syamsiyah”. Banyak dianara mereka yang menjadi Syeikh Pelayan Haji dan memeberikan banyak pertolonganya kepada jamaah haji asal Minangkabau apalagi yang punya hubungan dengan Syeikh Ahmad Khatib.

Ilmu pengetahuan utama yang didalaminya adalah Ilmu Fiqhi, disamping juga mempelajari ilmu agama lainnya dan ilmu umum seperti ilmu Falak, ilmu Hisab, ilmu Al Jabar dsb. Aliran Fiqhi yang dipelajari dan dianutnya adalah Mazhab Syafi’i. Guru-guru beliau adalah : Zaid Ahmad Zain Dahlan, Said Bakri Syatta dan Syeikh Yahya Kabli.

Ahmad Khatib termasuk murid yang rajin, tekun dan cerdas dalam menuntut pelajaran, baik diwaktu belajar dikampung halamanny, maupun setelah berada di Mekkah. Kerajinan dan kecerdesannya itulah yang menyebabkan beliau dapat menimba ilmu yang banyak dalam waktu yang relatif singkat, khususnya dalam bidang Hukum Islam. 

Dengan usaha dan jasa mertuanya Saleh Kurdi, Ahmad Khatib dapat membuat suatu Halakah tempat ia mengajar di dalam Masjidil Haram. Dalam waktu yang singkat ia telah dikelilingi oleh beratus-ratus orang yang ingi menjadi muridnya. Sebagian besar murid itu berasal dari Indonesia dan Semenanjung Malaysia, yang dulu disebut dengan julukan “Orang Jawi”.
Di Makkah, kesadaran Ahmad Khatib tentang pentingnya persatuan Islam terbangun. Ia merasa persatuan Muslim di Indonesia harus diperkuat untuk membebaskan negara dari kolonialisme. Pemikiran tersebut diwariskan pada murid-muridnya seperti Syeikh Muhammad Djamil Djambek (1860 – 1947), Haji Abdullah Karim Amrullah (1879-1945, ayah dari Buya Hamka), Haji Abdullah Ahmad (1878 – 1933), KH Ahmad Dahlan (1868-1923) pendiri gerakan Muhammadiyah dan KH Hasyim Ansari (1875-19470 pendiri Nahdhatul Ulama.

Kemasyhurannya sebagai Mudarris (guru), meningkat menjadi Imam dan Khatib dalam Mazhab Syafi’i di Masjidil Haram. Kerajaan Istambul menggelari Ahmad Khatib dengan “Bey Tunis”, sebagai guru suatu tanda jasa yang diberikan kepada orang yang berjasa besar dalam bidang ilmu pengetahuan, Banyak Raja-raja dan Sultan-sultan di tanah Air dan di daerah Simenanjung yang meminta fatwa agama kepada beliau melalui surat-menyurat, yang selanjutnya diiringi dengan menukar tanda mata.

Diantaranya yang beliau kirimkan adalah “Bacaan Khutbah Kedua” yang disebut juga dengan Khutbah “Na’at”, dan inilah yang dibaca oleh Khatib di negeri yang berada dibawah naungan sultan yang meminta fatwa kepada Ahmad Khatib, seperti tersebut diatas.

Beliau juga banyak menulis buku-buku agama mengenai Fiqhi, Ushul Fiqhi, Tashauf dan lain-lain dalam bahasa Melayu dan Bahasa Arab. Salah satu karya beliau adalah kitab al-Nufahaat 'ala Syarh al-Warqaat. sebuah kitab dalam bidang ushul fiqh yang banyak dipelajari dikalangan pesantren di Indonesia. (catatan dari Tgk Alizar Usman).
Ia menyampaikannya dalam buku Izhharu Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bish Shadiqin yang selesai ditulisnya pada 1906, Syeikh Ahmad Khatib secara terbuka menentang Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Tak pelak, seluruh pengikut Thariqat Naqsyabandiyah dan penganut tasawuf dari berbagai thariqat lainnya marah dengan tulisan Ahmad Khatib itu. Syekh Muhammad Sa’ad Mungka, guru besar Thariqat Naqsyabandiyah yang juga sahabat Ahmad Khatib, meresponnya dengan menulis buku berjudul Irghamu Unufi Muta’annitin fi Inkarihim Rabithatil Washilin yang rampung pada 1907.

Dengan terbitnya kitab Syeikh Muhammad Sa’ad Mungka itu, Syeikh Ahmad Khathib Minangkabau menyerang lagi dengan kitabnya yang berjudul Al-Ayatul Baiyinat lil Munshifin fi Izalati Khurafati Ba’dhil Muta’ashshibin. Kitab ini disanggah pula oleh Syeikh Muhammad Sa’ad Mungka dengan karyanya berjudul Tanbihul `Awam `ala Taqrirati Ba’dhil Anam. Sesudah karya ini tidak terdapat sanggahan Syeikh Ahmad Khathib Minangkabau.

Dalam beberapa karyanya, Ahmad Khatib menegaskan barang siapa masih mematuhi lembaga-lembaga ‘kafir’, maka ia termasuk kafir dan akan masuk neraka. Selain pengikut Naqshabandiyah, banyak pula guru agama yang tidak menyetujui pendirian Ahmad Khatib yang dinilai tidak kenal damai.

Syaikh Ahmad Khatib dengan tegas menulis Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim dan Wahhabiyah yang diikuti oleh anak murid beliau [Syaikh Abdul Karim Amrullah] adalah sesat. Menurut Syaikh Ahmad Khatib, golongan tersebut sesat kerana keluar daripada fahaman Ahl as-Sunnah wa al-Jamaah dan menyalahi pegangan mazhab yang empat. Antara tulisannya ialah ‘al-Khiththah al-Mardhiyah fi Raddi fi Syubhati man qala Bid’ah at-Talaffuzh bian-Niyah’, ‘Nur al-Syam’at fi Ahkam al-Jum’ah’ dan lain-lain.

Namun demikian, perbedaan pendapat yang muncul pada masanya disebut-sebut melahirkan gerakan di Tanah Minang untuk berkembang dan maju meninggalkan keterbelakangan. Kecamannya soal harta waris, misalnya, menumbuhkan kesadaran masyarakat Minangkabau bahwa tradisi matrilineal tidak dapat disejajarkan dengan hukum agama.

Beliau meninggal hari Senin bulan Jumadil Akhir 1334 (1915 M), dalam usia 63 tahun

sumber referensi:
  • http://ajuncell.blogspot.com/2011/08/syekh-ahmad-khatib-al-minangkabawi.html
  • http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/11/03/syaikh-ahmad-khatib-al-minangkabawi/ 
  • http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/01/16/lxvtbn-syekh-ahmad-khatib-alminangkabawi-dari-minang-ke-masjidil-haram-2

PENGARUH TASAWWUF
DALAM KABA CINDUR MATO


Dari Perbendaharaan Lama
Prof. Dr. HAMKA



Orang Minangkabau yang masih asyik dengan adatnya, sangatlah dipengaruhi oleh hikayat "Cindur Mato". Dalam hikayat ini nampak pula betapa pujangga-pujangga istana mencari sumber dari dalam telaga Tasawuf sesuatu yang "keramat" yang akan dibanggakan kepada raja. Anggapan kepada Bunda Kandung bagi orang Minang, sama pula dengan anggapan orang Bugis yang mengatakan bahwa Ratu mereka yang mula-mula, Siti Malangkai adalah keturunan Ratu Bulqis dalam perkawinannya dengan Nabi Sulaiman, dan kemudiannya menurunkan Sawirigading. Dan Sawirigading dianggap sebagai Dewa.

Dalam kata pendahuluan seketika membaca "Cindur Mato" disusunlah perkataan meminta ampun kepada "Daulat Tuan Kita", sebab keadaan baginda akan diperkatakan dan kebesaran baginda akan dipaparkan.

"Ampun beribu kali ampun, ampunlah kami mengabarkan, sedang di raja perempuan, di dalam Ulak Tanjung Bungo, di dalam Koto Pagarruyung, di dalam jorong Kampung Dalam. Bukanlah raja yang meminta, bukanlah raja yang membeli, Raja berdiri sendirinya! Sama tajalli dengan alam. Timbalan raja benua Ruhum, timbalan raja benua Cina, timbalan raja di lautan."

Kemudian itu disebutkan pula bahwasanya Bunda Kandung memerintahkan kepada si "Kembang Bendahari" supaya segera membangunkan Dang Tuanku yang sedang beradu di atas anjung peranginan. Maka berdatang sembahlah si Kembang, memohon diberi ampun karena dia tidak berani membangunkan Dang Tuanku, sebab baginda itu sangat keramat.

"Kalau disebut namanya lidah menjadi kelu, kalau ditentang matanya, mata sendiri jadi buta, kalau terlintas sedang baginda tidur, kakipun lumpuh,"- demikian benarlah tuah dan keramat baginda, "niscaya Bunda juga yang akan kehilangan."

Lalu disebutkan bahwasanya tiga orang raja besar dahulunya telah datang meminang Bunda Kandung. Pertama Raja Ruhum (Rum), kedua Raja Cina, ketiga Raja Aceh. Raja Rum datang membawa hadiah hantaran kawin ialah kapal sebuah yang penuh isinya. Pinangan itu telah diterima. Tetapi setelah kapal dan isinya diterima, Raja Rum itupun mati, sehingga Bunda Kandung menjadi kaya-raya. Demikian juga Raja Cina membawa pelang seisinya. "Pelang tertanda raja mati". Raja Aceh membawa hantaran perahu gurap lengkap dengan isinya. "Gurap teranda rajapun mati". Di situ mengertilah orang bahwasanya ketiga raja yang besar-besar itu bukanlah jodoh baginda!

Maka diperintahkanlah Bujang Selamat, pesuruh istana yang sangat setia memanjat pohon kelapa yang bernama "Nyiur Gading", karena Bunda ingin benar hendak memakan buahnya. Demikian lamanya memanjat pohon kelapa itu. "Hari Khamis naik memanjat, hari Arbaa baru sampai turun ke bawah. "Buah kelapa itu hanya dua saja. Yang satu, karena sangat hausnya memanjat, telah dimakan oleh si Selamat di atas pohon itu juga. Setelah isinya habis diminum, buah itu dilemparkannya ke bawah. "Sabutnya dimakan oleh kerbau, itulah asal si Benuang!" Sebagian sabut lagi dimakan oleh seekor kuda, "itulah asal si Gumarang," dan isi kelapanya dimakan oleh seekor ayam jantan. "Itulah asal si Kinantan." Dan setelah si Selamat turun ke bawah membawa buah yang sebuah lagi, diserahkannyalah kepada Bunda Kandung, lalu baginda makan. "Itulah asal Daulat Tuan Kita, nama sanan gelarpun sanan, bernama Sutan Rumandung. "Dan air kelapa yang diminum si Selamat, itulah yang menjadi "Cinder Mato", dengan istrinya si Kembang Bendahari. Oleh sebab itu maka Dang Tuanku, Cinder Mato, Si Kinantan, (seekor ayam jantan sabungan Dang Tuanku), si Gumarang (kuda kendaraan Dang Tuanku), si Benuang (kerbau pelihara Dang Tuanku), semuanya itu datang dari satu asal, bangsa dewa! Atau Indrajati.

Tetapi sebagaimana disebutkan di atas tadi, yang Bunda Kandung sendiri bukan saja baginda dewa, bahkan lebih dari dewa, "sama tajalli dengan alam "dan "raja berdiri sendirinya".

Tentang Bunda Kandung dengan amat halus masuklah "salah satu Pokok penting dari pegangan kaum Tasawuf, yaitu tentang "Insan Kamil".

"Al Insan Al Kamil", manusia yang maha sempurna, menurut ahli Tasawuf ialah Allah Ta' ala sendiri yang menyatakan dirinya, dan itulah Nur Muhammad atau "Al Haqiqatul Muhammadiyah", "dialah permulaan ujud, tetapi dia pula kesudahan Nabi." Insan Kamil tidaklah mati, selama Dia hidup. Mungkin dia menyatakan dirinya dengan bentuk yang berlain-lain, seumpama menjadi tubuh Nabi Adam, atau Nabi Isa, atau yang lain. Tetapi kesempurnaan mazh'harnya ialah pada tubuh Nabi Muhammad s a w. Dan jika Nabi Muhammad wafat, hanya tubuh Muhammad yang wafat. Adapun Insan Kamil terus menjelma dalam tubuh yang lain. Menurut kepercayaan setengah mereka, Insan Kamil itu menjelma pada diri Sayidina Ali bin Abi Thalib. Dan menurut kepercayaan setengahnya lagi, Insan Kamil itu terus menjelma dalam tubuhnya Wali-wali (Aulia) yang tinggi martabatnya yang disebut juga Ghaust atau Quthub. Di antara Insan Kamil itu ialah Sayid Abdulkadir Jailany, "yang kakinya di atas pundak segala Wali."

Tidak perlu diragukan bahwasanya "Pelajaran" seperti ini sekali-kali tidaklah berasal daripada Islam. Dia adalah inti-filsafat Hinduisme yang bernama "Atman", yang masuk pengaruhnya ke dalam Tasawuf Islam. Dia adalah "Panteisme" yang terdapat juga dalam "Neo Platoisme" dan berpengaruh juga ke dalam Agama Kristen, yang bahkan dijadikan dasar kepercayaan agama Nasrani tentang "Ketuhanan Nabi Isa".

Rupanya pengarang Cindur Mato, tentu saja pujangga istana, mendapat "inspirasi" buat mensucikan raja atau mendewakannya, dengan memakai kepercayaan demikian terhadap kepada Raja Minangkabau.

"Insan Kamil" adalah Tasawufnya Al Hallaj, di "Filsafat" kan oleh Ibnu Arabi dan dilanjutkan oleh Abdulkadir Jailany dalam bukunya yang bernama "Al Insan Al Kamil". Abdulkarim Jailany, keturunan Sayid Abdulkadir Jailany itu meninggal pada tahun 813 Hijriyah, atau 1410 Miladiyah, di zaman mulai berdirinya Kerajaan-Islam Melayu Malaka.

Disebutkanlah dalam kitab itu bahwasanya:

"Insan Kamil adalah Khalifah daripada Allah. Padanyalah tajalli Ketuhanan. Dan di setiap zaman ada saja insan tempat Allah mentajallikan diri-Nya. Sesudah Nabi ialah Wali. Dan Wali itu bertingkat-tingkat. Adapun tingkatnya yang di atas sekali ialah Quthub." Dan disebut juga bahwasanya "Wali yang Kamil ialah Insan yang Kamil".

Oleh sebab itu dijelaskanlah pada permulaan hikayat "Cindur Mato" itu bahwasanya Raja Minangkabau itu bukanlah sembarang raja, dia "adalah berdiri sendirinya, sama tajalli dengan alam."

Kemudian diceriterakan pula bahwasanya telah terjadi peperangan di antara Raja Negeri Sungai Ngiang yang bernama "Raja Imbang Jaya" dengan Raja Minangkabau, karena memperebutkan Puteri Bungsu, sehingga negeri Minangkabau diserang oleh Sungai Ngiang. Minangkabau dibakar, rumahnya yang besar-besar dimusnahkan dengan "cermin terus". Maka di waktu yang sangat genting itu datanglah perahu Nabi Nuh dari langit, datang menjemput Bunda Kandung, Dang Tuanku dan Puteri Bungsu istri Dang Tuanku. Berhentilah perahu itu di halaman istana besar dan dipersilakanlah mereka naik ke dalamnya. Setelah naik semuanya, perahu itu terbang kembali ke udara, membawa baginda semuanya ke atas langit. Yang tinggal di antara mereka di bumi ini hanya seorang raja, yaitu Cindur Mato sendiri yang disuruh menyingkir ke Indrapura dan menjadi raja di sana.

Bertahun-tahun di belakang, setelah Cindur Mato sendiri menjadi tua, barulah datang seekor burung, turun dari langit, bernama burung "Nuri Bayan", membawa dua orang putera-puteri di dalam "keranda-kaca" yaitu Sutan Alam Dunia dan Puteri Sri Dunia, anak daripada Dang Tuanku dan Puteri Bungsu, buat menjadi Raja di Minangkabau . . . .

Di sekeliling Raja Alam Minangkabau itu ada lagi dua raja, yaitu Raja Adat di Bua dan Raja Ibadat di Sumpu Kudus. Dan ada lagi empat orang besar negara, yaitu Bendahara di Sungai Tarap, Makhudum di Sumanik, Indomo di Suruaso dan Tuan Kadhi di Padang Ganting. Dan seorang lagi orang besar di dalam peperangan, yaitu Tuan Gadang di Batipuh.

Nyata benar bahwasanya Hikayat Cindur Mato itu ditulis setelah Agama Islam masuk. Huruf yang dipakai ialah Huruf Arab bahasa Melayu, langgam cara Minangkabau.

Akan ragulah orang menolak dongeng ini, karena demikian indah susunannya, bagus khayalnya, pandai benar penyusunnya, sehingga bercampur aduklah yang benar dengan yang khayal. Sebab Raja Tiga Sela, dan Besar Empat Balai memang ada. Kubur mereka masih dapat dilihat, tetapi raja-raja yang berasal dari anak "Indra Jati", turun dari buah kelapa nyiur bali dan mengirab (mi'raj) ke langit dengan perahu Nabi Nuh, memang tidak diketahui pabila datangnya dan pabila perginya dan pabila tahunnya.

Kepercayaan Tasawuf Iran, diseludupkan ke dalam legende Minangkabau, sehingga menjadi salah satu bentuk kepercayaan Indonesia ....

Barulah kalah pengaruh ceritera atau "mithos" ini setelah pergerakan kaum Paderi, atau kaum Ulama di permulaan abad kesembilan belas, yang telah menurunkan martabat dewa atau wali itu ke dalam gelanggang kemanusiaan dan dituntut di muka mahkamah segala keturunan raja yang tidak patuh mengerjakan hukum syari' at Islam!

Wednesday, April 17, 2013

CINDUR MATO

CINDUR MATO (Cerita Rakyat Sumatra Barat)
Oleh A.A. Navis di ceritakan kembali oleh  Sita S.Priyadi


RABU, 14 NOV. 2012 – SITA BLOG:  Adik-adik! Kali ini kakak akan bercerita tentang kisah Cindur Mato yaitu Salah satu cerita rakyat dari Sumatra Barat yang jalan ceritanya patut kita jadikan pelajaran dalam menyikapi hidup di era sekarang ini. Beginilah ceritanya!
Menurut yang empunya cerita, tersebutlah suatu kerajaan  di Minangkabau yang bernama Pagaruyung.  Tahta kerajaan itu diduduki oleh seorang wanita bergelar Bundo Kandung. Ia mempunyai anak tunggal bernama Dang Tuanku . bundo Kandung juga mempunyai seorang saudara yang menjadi raja muda di ranah Sikalawi. Untuk memelihara hubungan, Dang Tuanku ditunangkan dengan anak Raja Muda yang bernama Puti Bungsu.
Pada suatu hari, istana Pagaruyung menjadi gempar karena berita yang dibawa pedagang keliling. Berita itu berisi bahwa Puti Bungsu akan menikah dengan Imbang Jaya, anak Tiang Bungkuk, raja dari Sungai Ngiang. Di Sikalawi juga tersebar berita bahwa Dang Tuanku menderita penyakit nimbi (penyakit kulit). Penyakit itu sudah menjalar ke seluruh tubuhnya dan tidak dapat dissembuhkan lagi. Itulah sebabnya Raja Muda bersedia menjodohkan Puti Bungsu dengan Imbang Jaya. Lagi pula Imbang Jaya semartabat dengan Dang Tuanku. Mereka sama-sama anak raja. Juga tersebar berita bahwa jalan antara Pagaruyung dan Sikalawi tidak dapat dilalui. Imbang Jaya telah memerintahkan penyamun untuk berjaga-jaga di pesawangan (tempat sepi antara desa-desa), supaya tidak seorang pun dapat lewat.
Bundo Kandung marah mendengar berita itu. Ia segera memerintahkan orang untuk menabuh bedug istana untuk memanggil para pembesar kerajaan. Setelah semua para pembesar kerajaan hadir, Bundo Kandung menceritakan berita itu. Bundo Kandung sangat gusar pada perlakuan adiknya, Raja Muda. Gusar karena memutuskan pertunangan kedua anak mereka tanpa pemberitahuan. Mereka akhirnya sepakat untuk menyelidiki apa yang sesungguhnya terjadi di Sikalawi. Kata mereka,
“Mungkin berita itu hanya fitnah untuk mengadu domba Bundo Kandung dengan Raja Muda. Oleh karena itu, perlu dikirim utusan ke sana.”
“Kita memerlukan utusan khusus. Utusan itu haruslah orang yang pemberani dan cerdik,” usul salah seorang yang hadir.
Akhirnya mereka sepakat memilih Cindur Mato untuk menjadi utusan. Dialah penjaga istana yang paling setia. Cindur Mato adalah anak Lenggo Geni, dayang kesayangan Bundo Kandung. Selain setia, Cindur Mato juga berhati tulus. Ia juga teman seperguruan Dang Tuanku, pendekar yang tidak ada tandingannya. Dengan sedih Bundo Kandung melepas Cindur Mato. Bundo Kandung member berbagai nasehat sebelum Cindur Mato pergi. Pada malam sebelum kepergiannya, Cindur Mato dibisikkan sesuatu oleh Dang Tuanku. Tak seorang pun yang tahu apa yang dibisikkan kepadanya. 
Menurut yang empunya cerita, Cindur Mato pergi dengan membawa Gumarang, kuda sembrani berbulu putih. Kuda itu dapat berlari kencang dan dapat melompat tinggi. Ia juga membawa kerbau bernama Binuang. Jika kerbau itu membunyikan genta yang tergantung dilehernya, bertaburanlah lebah yang bersarang di lehernya. Lebah untuk mementak (menyengat) musuh. Dibawanya juga ayam berbulu putih bernama Kinatan. Ayam sabungan (aduan) yang mengalahkan seluruh lawannya. Ayam yang kokoknya sangat keras.
Setelah lama berjalan, siang dan malam, akhirnya Cindur Mato tiba di pesawangan menjelang Sikalawi. Ketika melewati bukit Tambun Tulang, segerombolan penyamun tiba-tiba menghadang. Perkelahian Cindur Mato melawan para penyamun yang berjumlah banyak berlangsung tidak seimbang. Lambat-laun Cindur Mato terdesak dan kehabisan tenaga. Dengan suara pelan, Cindur Mato berseru,
“Wahai Binuang, goyang-goyangkanlah gentamu.” Bagaikan mengerti, Binuang pun menggoyangkan genta yang tergantung di lehernya. Lalu, berhamburanlah lebah berbisa keluar dari telinganya. Lebah berbisa itu menyengat para penyamun sehingga mereka lari tunggang langgang. Cindur Mato kemudian melanjutkan perjalanan. Menjelang tengah malam dia sudah sampai di Sikalawi.
Tidak menunggu pagi, Cindur Mato segera mengendap-endap masuk ke dalam itana. Ia langsung membangunkan Puti Bungsu yang sedang tidur pulaas. Dengan berbisik, Cindur Mato menceritakan maksud kedatangannya. Disampaikannya juga pesan dari Dang Tuanku pada malam sebelum keberangkatannya. Katanya,
“Dang Tuanku berpesan kepadaku supaya Kak Puti kubawa ke Pagaruyung.”
“Baiklah. Kapan kita pergi?” Puti Bungsu bertanya.
“Sebaiknya sekarang juga,” jawab Cindur Mato.
Tanpa berpikir panjang, Puti Bungsu pergi mengikuti Cindur Mato menuju Pagaruyung. Pagi harinya, istana Raja Muda menjadi gempar. Dayang-dayang istana tidak menemukan Puti Bungsu di kamarnya. Telah dicari ke seluruh peloksok istana, tetapi Puti bungsu tidak ditemukan. Berita itu tersebar sampai ke luar istana. Akhirnya, berita itu didengar Imbang Jaya. Dia telah mendapat kabar dari salah seorang penyamun Bukit Tambun Tulang bahwa Cindur Mato tidak mampu mereka hadang. Imbang Jaya menjadi yakin bahwa Puti Bungsu dibawa ke Pagaruyung. Imbang jaya segera melompat ke punggung kudanya. Hulubalangnya (pengawal) mengikuti di belakang. Imbang Jaya bukan putra sembarang raja. Ia putra raja yang kebal dan kejam. Dipacunya kuda agar berlari kencang. Kemudian Imbang Jaya mengejar Cindur Mato. Pertarungan pun berlangsung dengan seru dan seimbang. Namun akhirnya, ketika desta (ikat kepala) Imbang Jaya jatuh ke tanah, kesaktiannya tiba-tiba punah. Cindur Mato segera menusukkan belatinya. Imbang Jaya jatuh ke tanah dan tewas seketika itu juga.  
Setibanya di Pagaruyung, Cindur Mato dimarahi Bundo Kandung karena ia telah melanggar perintah.  Ia kemudian diadili oleh Pembesar Empat Balai. Akan tetapi, pengadilan itu tidak menghasilkan satu keputusan pun.  Oleh karena itu, pengadilan keesokan harinya dipimpin langsung oleh Bundo Kandung. Bundo Kandung ingin menyelesaikan secepatnya.  Hal itu untuk menjaga agar jangan sampai peristiwa itu menjadi keributan.
“Persoalan yang terberat bukanlah masalah Cindur Mato menculik Puti Bungsu. Persoalannya adalah Imbang Jaya tewas dibunuh oleh Cindur Mato. Tiang Bungkuk pasti marah besar dan akan membalas.”  Bundo Kandung melanjutkan kata-katanya.
“Tiang Bungkuk bukan raja yang dapat diajak berunding. Dia akan datang ke sini untuk menuntut balas atas kematian anaknya. Itu yang pertama.  Kedua, dia merasa terhina karena tunangan anaknya diculik.  Apa pembelaan kita?”
Kemudian Badaro dari Sungai Tarab, anggota Empat Balai yang tertua, mengusulkan Cindur Mato diperintahkan meninggalkan Pagaruyung.  Meninggalkan Pagaruyung dan pergi ke Indra Pura.
“Jika Tiang Bungkuk datang, kita katakana bahwa Cindur Mato telah dibuang menurut hukum adat kita. Mengenai tewasnya Imbang Jaya, Tiang Bungkuk tidak dapat menuntut kita. Imbang Jaya tewas karena berkelahi.”  Demikian keputusan pertemuan itu.
Mendengar anaknya tewas dibunuh Cindur Mato di Bukit Tambun Tulang, Tiang Bungkuk marah bukan kepalang.  Dikerahkannya pasukan ke Pagaruyung untuk membalas dendam atas kematian anaknya.  Akan tetapi, Pagaruyung adalah kerajaan yang tidak mempunyai tentara.  Jika melawan, mereka akanmati.  Oleh karena itu, mereka kemudian lari menyelamatkan diri ke Lunang.
Pagaruyung telah menjadi kosong dan sunyi ketika Tiang Bungkuk sampai.  Orang yang ditugaskan  menanti kedatangan Tiang Bungkuk ialah Raja Dua Sila, yaitu Raja Adat dan Raja Ibadat.  Mereka bertugas untuk membujuk Tiang Bungkuk agar bersedia berdamai.  Akan tetapi, Tiang Bungkuk  belum  juga puas.  Dendam kesumat atas kematian Imbang Jaya tak juga hilang.  Pagaruyung dibakarnya habis menjadi debu.
Ketika Tiang Bungkuk kembali ke Sungai Ngiang, dia membawa serta seorang anak muda yang bertingkah -laku  seperti orang gila. Akan tetapi, pemuda itu memiliki banyak ilmu. Anak muda itu bukan lain adalah Cindur Mato yang sedang menyamar.  Jika ada orang yang patah tulang atau terkilir,  ia mampu menyembuhkannya dengan cepat dengan mengurutnya pada bagian yang terkilir.  Cindur Mato  mengurutnya sambil bernyanyi dengan suaranya yang merdu.  Tiang Bungkuk sangat menyukainya.  Jika Tiang Bungkuk sakit, dan tubuhnya merasa pegal-pegal Cindur Mato yang memijatnya.   Ia memijat sambil bernyanyi hingga Tiang  Bungkuk tertidur pulas.  Karena hubungannya dengan Tiang Bungkuk sudah semakin akrab, akhirnya Cindur Mato mengetahui rahasia kesaktian Tiang Bungkuk.  Ternyata rahasia kesaktian Tiang Bungkuk terletak pada keris pusaka saktinya yang bernama “Si Bungkuk” yang menyebabkannya selalu menang dalam perang.  Dengan demikian satu-satunya senjata yang dapat mengalahkan dan membunuh Tiang Bungkuk ialah keris bungkuk miliknya sendiri.  Akhirnya dalam satu kesempatan saat Tiang Bungkuk tertidur pulas setelah dipijat, Cindur Mato mencuri keris pusaka Tiang Bungkuk lalu ditikamkan ke tubuhnya sehingga Tiang Bungkuk tewas saat itu juga.
Menurut yang empunya cerita, Istana Pagaruyung dibangun kembali oleh Cindur Mato.  Dia kemudian diangkat menjadi raja.  Bundo Kandung dan Dang Tuanku serta Puti Bungsu tidak pernah kembali lagi dari Lunang.  Mereka meninggal dan dikuburkan di sana.  Sampai sekarang oleh masyarakat setempat, makamnya dianggap keramat. [Sita S.Priyadi]
Referensi:  A.A. Navis, “Cerita Rakyat dari Sumatra Barat”. Penerbit Grasindo. Jakarta: 1994. 

http://gemahripahst06.blogspot.com/2012/11/mengupas-secuil-sejarah-minangkabau.html

Catatan

  • Bundo Kanduang adalah gelar bagi Puti Panjang Rambut II. Ia adalah putri dari Tuanku Maharaja Sakti Dewang Pandang Putrawana, sepupu Ananggawarman
  • Dang Tuanku'Sultan Remendung' adalah Raja Pagaruyung, putra Bundo Kanduang dengan Bujang Salamat alias Hyang Indera Jati dari dinasti Makhudum di Sumanik. Dia ditunangkan dengan Puti Bungsu, sepupunya, anak dari pamannya Rajo Mudo alias Sutan Saktai Gelar Rajo Jonggor, yang berkuasa di Renah Sekalawi (Lebong)kira-kira kurang lebih 40 km dari lunang sbg Raja Jang Tiang Pat ke I (petuloi Tubey)
  • Cindua Mato seperti Dang Tuanku terlahir setelah ibunya, Kembang Bendahari, sepupu dari Bundo Kandung. Karena itu dia juga dapat dipandang sebagai saudara Dang Tuanku.
  • Imbang Jayo adalah raja Sungai Ngiang, rantau Minangkabau sebelah selatan yakni di sekitar Sangir dan Kerinci. Dia berusaha merebut Puti Bungsu, yang sudah ditunangkan dengan Dang Tuanku, dengan menyebarkan desas-desus bahwa raja Pagaruyung tersebut menderita penyakit.
  • Tiang Bungkuak adalah ayah Imbang Jayo yang sakti dan kebal. Namun pada akhirnya Cindua Mato menemukan kelemahannya.

Tuesday, April 16, 2013

Raja-raja Minang di Nusantara

Raja-raja Minang di Nusantara

Sedikit sekali orang yang mengetahui kejayaan Minangkabau di masa lampau. Dalam blog ini, kita akan melihat sepak terjang raja-raja asal Minangkabau, yang memerintah di banyak negeri seantero Nusantara.

Dapunta Hyang Sri Jayanasa, dipercaya sebagai pendiri imperium besar Sriwijaya. Menurut tambo alam Minangkabau, Dapunta Hyang berasal dari lereng Gunung Merapi, yang kemudian melakukan migrasi bersama sejumlah penduduk setempat. Dengan mengaliri Sungai Kampar dari pedalaman Minangkabau, Dapunta Hyang beserta rombongannya tiba di bibir pantai Selat Malaka. Mereka terus melanjutkan perjalanan ke selatan hingga bertemu muara Sungai Musi. Dari sini mereka mencoba memudiki Sungai Musi dan berjumpa lereng Gunung Dempo. Dari lereng gunung inilah kemudian Dapunta Hyang beserta rombongannya membangun sebuah kedatuan yang berpusat di tepian Sungai Musi.

Prasasti Kedukan Bukit
Kisah perjalanan Dapunta Hyang dari tanah Minang, terukir jelas dalam Prasasti Kedukan Bukit. Prasati itu bercerita tentang rombongan Dapunta Hyang yang selamat melakukan perjalanan dan penyerangan dari Minanga, bersama serombongan pasukan yang melewati darat maupun laut. Hingga saat ini, penafsiran isi prasasti tersebut masih simpang siur. Poerbatjaraka berpendapat bahwa Minanga (atau Minanga Tamwar) merupakan hulu pertemuan dua sungai Kampar, yang berada di luhak Lima Puluh Koto. Dan Minanga Tamwar diprediksi sebagai asal usul nama Minangkabau. Sedangkan para ahli lainnya seperti George Coedes dan Slamet Muljana, justru berteori bahwa Minanga merupakan kerajaan taklukan Dapunta Hyang yang terletak di hulu Batanghari. E.S Ito dalam novelnya “Negara Kelima”, juga menyinggung mengenai migrasi Dapunta Hyang dari Minangkabau ke Palembang. Dikatakannya bahwa Dapunta Hyang telah menghiliri Sungai Batanghari sampai ke muara Jambi, dan kemudian melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki hingga ke tepian Sungai Musi. Menurutnya Dapunta Hyang adalah salah seorang pembesar Minangkabau, yang ingin mengembalikan kejayaan imperium Atlantis.
Putra Minangkabau lainnya yang duduk di tampuk kekuasaan adalah Kalagamet. Dia merupakan raja Majapahit kedua yang memerintah pada tahun 1309-1328. Kalagamet yang bergelar Sri Jayanagara , beribukan Dara Petak seorang permaisuri yang berasal dari Kerajaan Dharmasraya. Pada masa berkuasa, dia mengangkat saudara sepupunya yang juga keturunan Minangkabau, Adityawarman, sebagai duta untuk negeri Tiongkok. Adityawarman adalah putra Dara Jingga, permaisuri Dharmasraya lainnya yang bersuamikan Adwayawarman. Di masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi, Adityawarman naik jabatan sebagai wreddhamantri atau perdana menteri kerajaan. Dalam posisi strategis itu, dia membangkang kepada Tribhuwana dan melecehkan Majapahit. Pada tahun 1347, dia pulang kampung ke Sumatra dan mendirikan Kerajaan Pagaruyung. Kerajaan ini merupakan penerus wangsa Mauli yang telah berkuasa di Sumatra selama hampir satu setengah abad. Pada abad ke-14, Kerajaan Pagaruyung memiliki daerah taklukan ke hampir seluruh wilayah Sumatra dan Semenanjung Malaysia. Kekuasaannya atas Nusantara barat, merupakan balance of power bagi Majapahit yang berkuasa di bagian tengah kepulauan.
Selain Jayanagara dan Adityawarman, tokoh Majapahit lainnya yang dipercaya berasal dari Minangkabau adalah Gajah Mada . Namanya mengikuti genre jago silat Minang lainnya seperti Harimau Campa, Gajah Tongga, atau Anjing Mualim. Sebagian orang memperkirakan, Gajah Mada merupakan putra seorang pendekar Minangkabau yang ikut mengantarkan Dara Petak dan Dara Jingga ke Majapahit. Namun Ridjaluddin Shar dalam novelnya “Maharaja Diraja Aditya­warman: Matahari di Khatulis­tiwa”, malah berpendapat sebaliknya. Menurutnya Gajah Mada adalah anak dari salah seorang pasukan Pamalayu yang menikahi gadis Minangkabau. Asal usul Gajah Mada memang penuh misteri dan tanda tanya. Hingga saat ini belum ada sejarawan yang berhasil mengungkap kelahiran dan kematian tokoh besar tersebut, kecuali hanya dugaan-dugaan awal saja. Yang jelas, Gajah Mada merupakan simbol kebesaran Majapahit dan persatuan Indonesia. Ketika ia ditunjuk sebagai perdana menteri pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, dalam Sumpah Palapa ia bernazar akan menaklukkan seluruh Nusantara di bawah panji Majapahit. Namun janjinya tersebut tak sempat terwujud, sampai akhirnya kerajaan itu runtuh pada awal abad ke-16.
Muhammad Yamin , seorang pakar hukum, ahli sejarah, budayawan, dan salah satu founding fathers Indonesia, merupakan pengagum berat sosok Gajah Mada. Kekagumannya mungkin juga dikarenakan pertalian darah yang sama sebagai putra Minangkabau. Usahanya dalam merekonstruksi peran Gajah Mada dalam buku setebal 112 halaman, merupakan salah satu bentuk kegandrungannya. Impian Gajah Mada mempersatukan Nusantara, telah mengilhaminya untuk menggabungkan seluruh jajahan Hindia-Belanda dalam satu kesatuan wilayah politik. Pada bulan Oktober 1928, cita-citanya itu benar-benar terwujud. Dalam sebuah ikrar bersama yang kelak dikenal dengan Sumpah Pemuda, Yamin berhasil menyatukan seluruh komponen rakyat Hindia-Belanda, dalam satu bangsa, bahasa, dan tanah air.
Pada tahun 1390, seorang pengelana Minangkabau yang kemudian berjuluk Raja Bagindo, mendirikan Kesultanan Sulu . Tak banyak riwayat mengenai raja yang satu ini, kecuali para keturunannya yang menjadi pelaut ulung. Kabarnya mereka sangat ditakuti oleh pedagang-pedagang Eropa yang acap melintasi perairan utara Nusantara. Mohd. Jamil al-Sufri dalam bukunya “Tarsilah Brunei: The Early History of Brunei up to 1432 AD” menyebutkan, bahwa dari silsilah raja-raja Brunei Darussalam , diketahui bahwa pendiri kerajaan ini : Awang Alak Betatar atau yang bergelar Sultan Muhammad Shah, berasal dari Minangkabau. Selain itu raja-raja Serawak di Kalimantan Utara, juga banyak yang berasal dari Minangkabau. Hal ini berdasarkan informasi para bangsawan Serawak, yang ditemui Hamka pada tahun 1960. Kamardi Rais Dt. Panjang Simulie dalam bukunya “Mesin Ketik Tua” juga memerikan berita bahwa ketika James Brook dirajakan di Serawak , yang melantiknya adalah datuk-datuk asal Minangkabau.
Sultan Buyong, anak dari raja Indrapura yang bertahta di Pesisir Selatan, pernah berkuasa di Kesultanan Aceh pada tahun 1586-1596. Buyong (Buyung ?) naik menjadi raja, berkat pengaruh dan kekuatan para pedagang Minang yang berniaga di Kutaraja. Sebelum itu kakak ipar Buyong, Sultan Sri Alam, juga sempat bertahta di Kesultanan Aceh (1575-1576). Sri Alam berkuasa melalui kudeta berdarah hulubalang Minangkabau, yang disebut-sebut telah berkomplot dalam pembunuhan Sultan Muda. Untuk menyingkirkan pengaruh Minangkabau dari Kerajaan Aceh, sekaligus membalaskan dendam kematian Sultan Muda, pada tahun 1596 ulama-ulama Aceh melakukan pembunuhan berencana terhadap Buyong. Dengan terbunuhnya Buyong maka berakhirlah pengaruh Indrapura di tanah rencong. Kesultanan Indrapura yang beribu kota di Indrapura (selatan Painan), merupakan pecahan dari Kerajaan Pagaruyung. Pada paruh kedua abad ke-16, kesultanan ini memiliki pengaruh yang cukup luas di pesisir barat Sumatra. Wilayahnya menjangkau daratan Aceh di utara hingga Bengkulu di selatan.
Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah I atau yang dikenal dengan Raja Kecil adalah salah seorang putra Pagaruyung pendiri Kesultanan Siak Sri Indrapura. Sebelum mendirikan Kesultanan Siak pada tahun 1723, Raja Kecil sempat bertahta di Kesultanan Johor (1717-1722). Namun kekuasaannya tak bertahan lama, karena aksi kudeta yang dilancarkan Bendahara Abdul Jalil dan pasukan Bugis. Di masa pemerintahannya, Kesultanan Siak melakukan perluasan teritori hingga ke wilayah Rokan, dan berhasil membangun pertahanan armada laut di Bintan. Pada tahun 1740-1745, Siak menaklukkan beberapa kawasan di Semenanjung Malaysia. Dan 40 tahun kemudian, wilayah kekuasaannya telah meliputi Sumatra Timur, Kedah, hingga Sambas di pantai barat Kalimantan.
Di Semenanjung Malaysia, Raja Melewar yang merupakan utusan Pagaruyung, menjadi raja bagi masyarakat setempat. Pada tahun 1773, konfederasi sembilan nagari di Semenanjung Melayu, membentuk sebuah kerajaan yang diberi nama Negeri Sembilan . Kerajaan ini terbentuk pasca derasnya arus migrasi Minangkabau ke wilayah tersebut. Seperti halnya masyarakat di Sumatra Barat, rakyat Negeri Sembilan juga menggunakan hukum waris matrilineal serta model adat Datuk Perpatih. Pada tahun 1957, Tuanku Abdul Rahman yang merupakan keturunan Raja Melewar, menjadi Yang Dipertuan Agung Malaysia pertama.
Di Tapanuli, Sisingamangaraja yang dipercaya sebagai Raja Batak, juga berasal dari Minangkabau. Hal ini berdasarkan keterangan Thomas Stamford Raffles yang menemui para pemimpin Batak di pedalaman Tapanuli. Mereka menjelaskan bahwa Sisingamangaraja adalah seorang keturunan Minangkabau yang ditempatkan oleh Kerajaan Pagaruyung sebagai raja bawahan (vassal) mereka. Hingga awal abad ke-20, keturunan Sisingamangaraja masih mengirimkan upeti secara teratur kepada pemimpin Minangkabau melalui perantaraan Tuanku Barus.
http://afandriadya.com/2011/06/21/raja-minang-di-nusantara/